31 research outputs found
BEDIUZZAMAN SAID NURSI AND THE SUFI TRADITION
Berbicara tentang pribadi dan pemikiran Bediuzzaman Said Nursi, artikel ini dimaksudkan untuk mengungkap jati diri tokoh sufi modern dari Turki ini. Analisis diawali dengan melihat ajaran dasar sang tokoh bahwa sufisme di satu sisi masih merupakan sesuatu yang penting bagi seorang muslim, tetapi di sisi lain juga sangat mudah menjadikan keimanan seseorang mengarah pada titik yang salah. Meskipun tidak semuanya, ada beberapa praktek dan tradisi sufisme yang tidak benar dan tidak lagi cocok untuk diamalkan pada masa Said Nursi hidup, bahkan mungkin juga pada masa sekarang. Terkait dengan hal ini, Nursi menawarkan satu alternatif yang menurutnya didasarkan pada al-Qur’an dalam meniti jalan sufisme, tanpa menafikan adanya cara-cara yang lainnya. Alternatif yang disebutnya sebagai haqiqa, cara a la Risalat al-Nur ini terdiri dari empat langkah, bukan tujuh atau pun sepuluh langkah sebagaimana umumnya dalam ajaran sufisme: al-‘ajz, al-faqr, al-shafaqa, dan al-tafakkur. Di samping itu bagi Nursi, Sufisme harus dipraktekkan dalam bingkai dan tanpa meninggalkan shari’a karena shari‘a bukanlah sisi luar dari Islam, tetapi merupakan satu system utuh yang mencakup inner dan sekaligus outer aspect dari Islam. Artikel ini juga melihat jejak-jejak pengaruh pemikiran tokoh-tokoh besar sufi dalam pemikiran Nursi, seperti Abu Hamid al-Ghazali, ‘Abd al-Qadir al-Jilani, dan Ahmad Rabbani al-Sirhindi.</span
From social to religious conflict in Ambon. An analysis of the origins of religiously inspired violence
Item does not contain fulltex
Kerja Sama Antar Umat Beragama: Pilihan Masyarakat Majemuk
Religion is a way of life by which God give to the mankind in order to make them aware their humanity and their duty to worship God. But we are facing the condition in which in the name of God and religion, people kill each other due to their pity and narrow mind in understanding their religion. Religion decreasing in its meaning to merely a tradition of the religion and few religious leaders take benefit from this situation to maintain his domination in society. Religious followers shouldn't have perception that people from different religions are their enemy as long as they do not make any hurts towards their belief and activities, and again, people should not force their belief to people of different religions. Interfaith relation should be based on the duty that people must respect each other and working together in the field of human relation very homogen society without loosing their belief, as the meaning of religion is to bring people to humanity and peace
Dakwah and mission. Muslim - Christian encounters in Indonesia
Item does not contain fulltex
Regulation on Houses of Worship. A threat to Social Cohesion?
Item does not contain fulltex
Epistemologi ‘Abd Al-Jabbār Bin Ahmad al-Hamadzānī
Epistemologi (dari bahasa Yunani Kuna, episteme = pengetahuan dan logos = teori) didifinisikan, antara lain, sebagai cabang filsafat yang menyelidiki asal, struktur, metode-melode dan keabsahan pengetahuan. Dengan demikian judul di atas mengandung pengertian konsep 'Abd al-Jabbār mengenai hal-hal yang berkenaan dengan teori pengetahuan itu. Akan tetapi tulisan ini tidak membicarakan semua masalah itu. Ini dilakukan selain karena keterbatasan ruang dan waktu, juga karena kenyataan bahwa 'Abd al-Jabbār tidak menulis teorinya tentang pengetahuan secara lengkap dengan maksud khusus untuk menjelaskan konsepnya tentang pengetahuan. Memang ia menulis satu buku penuh dengan masalah pokok penalaran dan pengetahuan, yakni juz XII dari al-Mughnī fī Abwāb al-Tawhīd wa al-‘ad-l yang diberi anak judul al-Nadhar wa al-Ma'ārif, namun buku itu ditulis sebagai satu bahagian dari pembicaraannya tentang masalah teologi. Buku itu dimaksudkan sebagai landasan bagi konsepnya tentang kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia. (taklīf). Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini hanyalah konsep 'Abd al-Jabbār tentang pengetahuan, kriteria-kriteria pengetahuan yang benar macam-macam pengetahuan dan penalaran sebagai alat untuk mencapai pengetahuan yangbenar. Bagaimana pengetahuan diungkapkan dalam bentuk yang bisa ditangkap orang lain dan sumber-sumber pengetahuan, tidak akan dibahas dalam tulisan ini
Undestanding the Qur’an with Logical Arguments Discussion on ‘abd al-Jabbār’s Reasoning
Mu'tazilah terkenal sebagai aliran pemikiran logis dalam sejarah pemikiran Islam. Mereka selalu berusaha untuk membangun paham keagamaan atas dasar kerja logis akal. Dalam melakukan kerja itu mereka mau tidak mau bertemu dengan kesulitan memahami Al-qur’an yang dalam banyak tempat memberikan keterangan yang secara sepintas terasa tidak logis. Misalnya, bacaan-bacaan yang memberikan pengertian kebebasan manusia dalam menentukan perbuatannya sendiri, ketika dihadapkan dengan ketentuan-ketentuan Allah yang tidak dapat diubah manusia Keberadaan al-Qur'an sebagai dasar ajaran Islam bagi kaum Sunni tidak diragukan sama sekali, namun bagi kaum Mu'tazilah terdapat beberapa catatan. Kalau al-Qur'an itu firman Allah, apakah beritanya dapat dipakai untuk menjadi bukti keberadaan-Nya. Secara nalar, memang pertanyaan ini tidak dijawab dengan positif. Kandungan berita tidak dapat menerangkan keberadaan pemilik berita, karena itu berarti akan terjadi lingkaran syetan: kandungan berita hanya dapat dianggap benar jika pemilik berita tidak berbohong, sementara keberadaan pemilik berita itu sendiri diterangkan oleh kandungan berita. Dengan demikian al-Qur'an tidak dapat memberikan keterangan pertama tentang Allah sendiri, kata 'Abd al-]abbar yang terkenal dengan sebutan al-Qādlī atau Qādlī al-Qudlāh (320/932-415/1025), seorang tokoh Mu'tazilah pada kebangkitannya setelah dijatuhkan dari lingkaran kekuasaan politik oleh Khalifah al-Mutawakkil (847-86I). Lalu bagaimana kitab ini dapat merupakan dalil bagi pemikiran teologis Islam? Tulisan ini membahas pemikiran 'Abd al-Jabbdr mengenai hal-hal itu dan yang berkaitan dengannya. Kesimpulannya adalah bahwa menurut tokoh ini orang mesti menggunakan penalaran logis dalam mendudukkan al-Qur'an dalam struktur pemikiran teologis dan dalam memahami keseluruhan bacaan-bacaannva
Ad-Qādi Ábd al-Jabbār dan Ayat-ayat Mutasyābihāt dalamal-Qur’ān (Pembahasan tentang kitab Mutasyābih al-Qur’ān)
Al-Qur' an, sebagaimana dinyatakannya sendiri dalam surat 3/ aI-lmron:7, terdiri dari dua macam ayat: ayat-ayat yang jelas dan tegas (muḥkamat) yang merupakan bahagian terbesar darinya, dan ayat-ayat yang mengandung ambiguitas (mutasyābihāt). Timbul banyak persoalan sekitar ayat-ayat yang mengandung ambiguitas. Misalnya, berapa jumlah ayat-ayat yang mengandung ambiguitas. Misalnya, berapa jumlah ayat-ayat yang mengandung ambiguitas itu, ayat-ayat apa saja yang termasuk di dalamnya, dapatkah kita memahaminya dan bagaimana -kalau dapat- kita memahaminya. Banyak aliran dalam Islam mempergunakan ayat-ayat al-Qur’an untuk mendukung pendapat mereka. Ayat-ayat yang secara lahiriah memberikan pengertian yang mendukung pendapat mereka, mereka anggap sebagai mutasyābihhāt dan karenanya mereka pakai ayat-ayat itu sesuai dengan pengertian lahiriahnya, sementara ayat-ayat yang secara lahiriah bertentangan dengan pendapat mereka, mereka anggap sebagai mutasyābihāt dan mereka menakwilkannya sehinggga memberi pengertian yang sesuai dengan pendapat mereka. Jadilah, karena itu, ayat-ayat tertentu mutasyābihāt bagi suatu aliran namun mutasyābihāt bagi aliran lain dan sebaliknya, ayat-ayat tertentu mutasyābihāt bagi aliran itu, namun mutasyābihāt bagi aliran lain. AI-Qādī 'Abd al-Jabbar, seorang tokoh penting dalam sejarah aliran Mu'tazilah, telah mendiktekan sebuah buku yang diberi judul Mutasyābih al-Qur’ān atau Bayān al-mutasyābih fi al-Qur 'ān, yang berusaha untuk memberikan penjelasan tentang ayat-ayat yang dianggap mengandung ambiguitas oleh kaum Mu'tazilah dan dipakai sacara salah oleh lawan-lawan mereka
Pendahuluan [Etika Islam dan Problematika Sosial di Indonesia]
Tidak mudah berpikir tentang etik dalam Islam. Selain ada
perdebatan di masa lampau tentang hakekat baik dan buruk, nalar Islam
sulit sekali membebaskan diri dari kungkungan metode berpikir yang
berangkat dari firman yang terbentuk dalam lafaz dan contoh-contoh
penyelesaian masalah individual. Kaum Sunni berpendapat bahwa baik
dan buruk suatu perbuatan mesti didasarkan pada komunike Allah,
sementara bagi kaum Mu’tazilah manusia dapat menangkap sendiri halhal
yang baik dan yang buruk berdasarkan penalaran
