18,947 research outputs found

    Abstrak Penelitian 06

    No full text
    KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MENGHAYATI UNSUR-UNSUR INTRINSIK KARYA SASTRA DENGAN KEMAMPUAN MENGAPRESIASIKAN KARYA SENI MAHASISWA ISI DENPASAR 1. Oleh : ( Drs. I Wayan Mardana, Jurusan Pedalangan, FSP, DIPA, 2006) Penghayatan karya sastra apresiasi seni adalah mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Tjuan penelitian ini adalah untuk mengetahui korelasi antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denpasar. Proses Penelitian ini terlebih dahulu melakukan dengan pengumpulan data dari nilai penghayatan karya sastra dan nilai apresiasi seni ISI Denpasar. Data dari 50 orang tersebut merupakan sampel penelitian yang mewakili seluruh mahasiswa ISI Denpasar sebagai populasi penelitian. Selanjutnya nilai penghayatan sastra sebagai variabel bebas dan apresiasi karya seni sebagai variabel terikat, dianalisis menggunakan analisis statistik. Teknik uji hipotesis dalam statistik yang digunakan adalah koefisien korelasi produk momen pearson. Koefisien korelasi dalam perhitungan keduanya lebih besar, berarti hipotesis penelitian yang berupa alternatif adalah signifikan. Sebagai kesimpulan penelitian bahwa ada korelasi yang positif antara kemampuan menghayati unsur-unsur intristik karya sastra dengan kemampuan mengapresiasikan karya seni mahasiswa ISI Denmpasar. Kata kunci : korelasi, kemampuan penghayatan karya sastra dan kemampuan apresiasi seni. SASTRA KLASIK BALI : STUDI TENTANG KARYA SASTRA SEBAGAI SUMBER GAGASAN DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI MAHASISWA SENI PERTUNJUKAN ISI DENPASAR 2. Oleh : ( I Gusti Lanang Oka Ardhika, SST. ,Jurusan Tari, FSP, DIPA 2006) Sastra klasik Bali menyimpan kekayaan rohani yang sangat berharga bagi generasi muda dewasa ini. Karya seni itu menduduki posisi yang cukup penting di tengah kehidupan seni pertunjukan. Dari beragam karya sastra klasik itu yang paling banyak dijadikanm sumber ide untuk menggarap karya seni pertunjukan adalah : 40 % Mahabrata, 28 % cerita rakyat, 123 % Babad, 6 % Ramayana dan 8 % lain-lain. Tema-tema yang diangkat ke dalam seni pertunjukan adalah 52 % memilih tema pendidikan, 22 % tema kepahlawanan, 18 % tema kesetiaan, 12 % tema percintaan. Kata Kunci : karya sastra klasik Bali dan tema seni pertunjukan. PROFIL PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN DALAM MEWUJUDKAN PERKULIAHAN YANG KONDUSIF PADA FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR 3. Oleh : (Drs. I Nengah Sarwa, Jurusan Karawitan, FSP, DIPA 2006) Tantangan berat pendidikan nasional dewasa ini antara lain berkaitan dengan peningkatan kualitas dan relevansi. Berdasarkan konsep bahwa makin nyata pengalaman yang diperoleh peserta didik akan makin mudah untuk diingat, dipelajari dan ditirukan. Begitu pula makin banyak indra yang terlibat, informasi pengetahuan atau pengalaman makin mudah untuk diingat, maka salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas keluaran adalah dengan meningkatkan proses pembelajaran melalui pemanfaatan media pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap (1) jenis media pembelajaran yang digunakan dalam perkuliahan, (2) relevansi pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan, (3) kuantitas pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan, (4) kualitas p[emanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar. Penetian ini merupakan jenis penelitian Deskriptif. Sebagai populasi adalah penggunaan media pembelajaran dalam perkuliahan baik teori maupun praktek program S1 Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar pada semester ganjil tahun 2006/2007. Sampel diambil secara purposif random sampling yang berada pada tiga jurusan/program studi. Kegiatan penelitian dilakukan dengan langkah-langkah (1) penyusunan instrumen penelitian berupa angket melalui proses validasi sejawat sesuai dengan jenis data yang digali, (2) menggali data dari sumber data yaitu mahasiswa dengan menggunakan angket yang telah disusun, dan (3) melakukan tabulasi, analisis data dan pemaknaan hasil analisis data. Hasil penelitian menunjukan beberapa kesimpulan seperti berikut ini Pertama, jenis media yang digunakan dalam pengajaran oleh dosen berturut-turut OHP adalah yang paling sering digunakan, disusul pemanfaatan jenis media diktat (buku khusus), media alat peraga dan LCD. Kedua, relevansi, pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Seni Indonesia Denpasar, masuk pada katagori baik. Ketiga, dilihat berdasarkan kuantitas, pemanfatan media pembelajaran dalam perkuliahan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Insitut Seni Indonesia Denpasar masuk pada kategori baik. Keempat, kualitas pemanfaatan media pembelajaran dalam perkuliahaan oleh dosen di Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia Denpasar, masuk pada kategori sedang. TOPENG MODERN KARYA I WAYAN SUKARYA 4. Oleh : (Drs. I Ketut Muka P., M.Si., Jurusan Kriya, FSRD, DIPA 2006) Penelian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang topeng modern yang ada di Bali, khususnya di Kabupaten Gianyar, karena tidak banyak seniman, perajin, kriyawan di Bali berkarya dujalur topeng modern. Hal ini penting karena karya-karya modern selama ini lebih akrab terkait dengan karya-karya seni lukis. Namun faktanya hal ini dapat juga terjadi pada karya topeng. Maka dari itu kami menetapkan karya Bapak I Wayan Sukarya sebagai sumber kajian dalam penelitian ini. Alasan penetapan ini adalah karya-karya I Wayan Sukarya adalah karya-karya topeng modern dengan kualitas baik karena proses pengerjaannya sama dengan proses pembuatan topeng tradisional Bali mulai dari proses pembentukan sampai pada pewarnaan / pengecatan. Alasan lain adalah ingin mendokomentasikan karya-karya I Wayan Sukarya, karena selama ini karya-karyanya banyak yang tidak terdokumentasikan dengan baik, sehingga sulit melacak karya-karya sebelumnya walaupun hanya dalam bentuk foto. Penelitian ini dilakukan dengan model diskriptif, mencoba menjelaskan tentang bentuk, ide penciptaan, proses perwujudan, pewarnaan, penjualan serta makna yang terkandung dalam masing-masing karya topeng modern karya I Wayan Sukarya. Sumber data diambil semua karena jumlahnya terhitung sekitar 25 sumber data karya-karya 2006 ditambah sebagaian kecil karya-karya 2005. I Wayan Sukarya, lahir di Banjar Mukti Desa Singapadu Gianyar, seorang pembuat topeng dan juga melukis, sebagai Dosen Jurusan Seni,Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Beliau menamatkan pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar dan ISI Jogyakarta. Keahlian membuat topeng didapat dari orang tuanya yaitu Bapak I Wayan Tangguh, tahun 2006 ini berusia sekitar delapanpuluhan, salah satu pembuat topeng tradisi berkualitas tinggi yang masih aktif sampai saat ini. Topeng-topeng yang dibuat lebih banyak untuk keperluan pementasan budaya dan seni terkait dengan Hindu di Bali. Latar belakang pendidikan diakuinya sebagai dasar pemikiran I Wayan Sukarya berkarya pada jalur topeng-topeng modern. Dalam berkarya ia mengolah gambar/ desain pemesan dipadukan dengan idenya sendiri. Gambar-gambar topeng kemudian dikaji dan dipikirkan bagaimana bentuk tiga dimensinya, bahannya, proses perwujudannyapemesan tidak tahu wujud akhirnya, karena desain yang diberikan kepada pembuatanya ini kurang sempurna, tidak sesuai dengan bahan dan teknik pembentukan topeng. Pemesan biasanya lebih memfokuskan pada makna yang harus disampaiakan pada karya tersebut. Pesanan yang diterima sering hanya berupa pernyataan makna namun tidak ada desainnya. Disinilah diperlukan kepintaran seorang seniman dalam menterjemahkan makna tersebut. Dapat dikatakan 50 % lebih proses perwujudan karya tersebut merupakan hasil ide kreatifnya sendiri. Jadi bukan total merupakan ide pemesan. Secara umum karya-karya I Wayan Sukarya, menggambarkan prilaku manusia di masyarakat. Sifat dasar manusia yang sering muncul dalam karya-karyanya adalah sifat baik dan buruk, perwujudannya tercermin dalam berbagai tindakan manusia. Makna-makna yang mncul dalam karya topeng tersebut banyak yang sulit untuk diresapi, maka dari itu perlu penjelasan dari pembuat makna topeng tersebut. Ada beberapa unsur-unsur rupa dalam topeng mudah dibaca namun sulit diresapi maknanya secara utuh. I Wayan Sukarya telah menyelesaikan banyak karya topeng, namun jumlahnya tidak tercatat. Permintaan datang tiap tahun dengan jumlah sekitar 10-15 biji dengan ukuran bervariasi, tinggi 50-70cm dan lebar 40-60cm. Harga yang dipasang juga bervariasi mulai dari Rp. 3.000.000. sampai Rp. 6.000.000. Pemesan topengnya lebih banyakdatang dari luar negeri terutama dari Itali. STUDI TOPENG TRADISIONAL KARYA I WAYAN TANGGUH DI BANJAR MUKTI SINGAPADU-KABUPATEN GIANYAR 5. Oleh : (Drs. I Nyoman Parnamaricor, Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2006) Perajin di Bali menyebut warna Bali untuk pembuatan cat warna tradisional yang menggunakan bahan baku alam. Pembuatan khusus untuk warna topeng saat ini masih ada di Singapadu yaitu pada Bapak I Wayan Tangguh. Belum ditemukan literatur meyakinkan tentang kapan pembuatan dan penerapannya pada kerajinan topeng dimulai. Warna Bali juga dipergunakan pada pembuatan lukisan oleh Bapak I Nyoman Mandra, pelukis tradisi khas Kamasan di Desa Kamasan-Klungkung. Jenis bahan alam yang dipergunakan untuk membuat warna Bali adalah : kincu untuk memproleh warna merah, tulang babi untuk warna putih, jelaga untuk warna hitam, atal untuk warna kuning, muruh leked untuk warna biru, pere dan deluga untuk warna coklat. Bahan perekat dan lapisan penghapus pada proses finishing dipergunakan ancur yang didatangkan dari Surabaya, kincu dari Cina, deluga dari Eropa yang dapat dibeli di Denpasar, yang lainnya adalah bahan lokal (Bali). Ancur sebagai bahan perekat diperlukan dalam cetiap pembuatan warna. Ada anggapan yang keliru bahwa warna Bali, pembuatannya semua menggunakan bahan-bahan lokal (Bali). Pemberian nama warna Bali untuk cat buatan perajin ini lebih tepat karena proses tradisi Balinya, bukan karena bahannya. Peralatan untuk pembuat terdiri dari seperangkat alat penghalus yaitu cawan/piring terbuat dari keramik dengan batu pengahlus. Untuk penerapannya dipakai kuas lukis. Kualitas hasil penerapan sangat tergantung dari lamanya proses penghalusan (penguyegan) dan ketrampilan perajin. Beberapa perajin topeng mulai meninggalkan penggunaan warna Bali. Warna pengganti yang digunakan adalah warna jadi buatan pabrik seperti aclyric yang dapat dibeli di toko-toko cat. Pertimbangannya lebih efisien karena mudah didapat, tidak memerlukan proses tambahan, tuntutan waktu konsumen yang tepat. Tetapi kualitas akhiur yamg didapatkan tidak sebaik warna Bali. Menurut Bapak I Wayan Tangguh, warna Bali mempunyai kekhasan yaitu tampilannya lebih “hidup” sesuai dengan karakter peran yang diwakili topeng. Maka dari itu konsumen asing dan lokal yang tahu tentang perbedaan kualitias ini masih tetap mencari topeng yang menggunakan cat warna Bali, walupun harganya lebih mahal. Konsumen lokal bianya menggunakan sebagai perlengkapan pementasan. Pemerintah sudah saatnya melakukan inisiatif pelestarian terhadap warna Bali dengan cara : a. mendekumentasikan dalam bentuk buku, slide, atau film. B. menyertakan perajin pembat warna tersebut dengan memberikan subsidi sebagai penghargaan, bukan penghargaan berupa kertas piagam. C. Perlu dipikirkan sentuhan teknologi yang lebih maju dalam proses pembuatannya, sehingga hasil yang didapat lebih baik dan efisien. EKSISTENSI TARI SUTRI DI PURA SAMUANTIGA DESA BEDULU KABUPATEN GIANYAR 6. Oleh : (Ni Made Bambang Rai Kasumari,SST.,M.Si, Jurusan Tari, FSP, DIPA 2006) Bali memiliki berbagai macam warisan budaya yang memiliki keunikan dan kekhasan tersendiri. Salah satu warisan budaya Bali masa lampau adalah pura Samuantiga. Pura ini terletak di Desa Badulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Dalam pelaksanaan upacara piodalan di pura Samiantiga yang dilaksanakan setiap 210 hari sekali (pujawali balian) dan setahun sekali pada purnama kedasa (ngusaba), dilaksanakan sebuah tari upacara (wali) yang unik dan khas yang oleh masyarakat setempat disebut dengan Tari Sutri. Keunikan dan kekhasan tarian ini terletak pada proses dan sarana yang dibawa. Keunikan lainnya, tarian ini diiringi oleh dua barung gamelan secara bersamaan yaitu gamelan Gong Kebyar dan gamelan Angklung. Keberadaan tarian ini diperkirakan sejaman dengan dibangunnya Pura Samuantiga yaitu pada jaman pemerintahan raja Ganapriya Dharmapatni/Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali pada sekitar tahun 988-1011 masehi. Di jaman globalisasi masysrakat mengalami perubaha yang disebabkan oleh perkembangan jaman terutama perkembangan dan ekonomi. Seperti beberapa tari-tarian wali, pada mulanya sebagai tari sakral kemudian bergeser fungsi menjadi tari sekuler atau memiliki fungsi ganda. Demikian pula dengan benntuk penyajiannya yang semula sangan sederhana kemudian ditata lebih artistik. Hal tersebut tidak terjadi pada Tari Sutri di Pura Samuantiga, tarian ini tetap eksis seperti semula, tidak banyak mengalami perubahan, perubahan terjadi pada jumlah penari yang kadang-kadang bertambah dan kadang-kadang berkurang. Hal tersbut disebabkan oleh perlakuan masyarakat yang melihat Tari Sutri sebagai tarian yang sangat disucikan sehingga mereka cenderung takut untuk merubahnya. Tari Sutri dibawakan oleh sekelompok penari wanita disebut dengan permas. Mereka adalah orang-orang yang berkomitmen dalam hidupnya untuk menjado pengayah setiap upacara piodalan berlangsung. Tidak sembarang orang yang bisa menjadi permas, mereka adalah orang-orang yang menjadi pewaris (keturunan) yang pada mulanya adalah orang-orang yang pernah terkena musibah (sakit) dan orang-orang tersebut memang sudah dikehendaki oleh Bhatara-Bhatari yang berstana di Pura Samuantiga. Orang-orang yang akan menjadi penari ini harusmenjalani suatu proses yaitu harus melakukan pawintenan (disucikan secara sekala dan niskala), menghaturkan bamnten pejati dan banten pamiak kala. Tari Sutri merupakan tarian skral atau suci yang dilaksanakan dalam upacara piodalan di Pura Samuantiga sebagai tari pengucian dalam rangkaian Ida Bhatara akantedun, dari Pengaruman Ageng. Di samping itu tarian ini juga merupakan ungkapan rasa syukur kehadapan Ida Bhatara yang berstana di Pura Samuantiga atas karunia yang telah dilimpahkan kepada masyarakat, sehinmgga masyarakat didak berani tidak melaksanakan tarian ini. Berdasarkan tulisan-tulisan yang pernah dibaca serta dari beberapa keterangan informan, tulisan mengenai eksistensi tari Sutri di Pura Samuantiga Bedulu Gianyar, belum ada yang menulisnya. Maka penelitian ini merupakan hasil tulisan yang belum ada sebelumnya. Hal ini menunjukan originalitas dari subyek penelitian. Beberapa hal diatas menjadi ketertarikan untuk menulis materi tersebut, maka ada beberapa masalah yang diangkat : bagaimana bentuk pertnjukna tari Sutri dalam upacara piodalan dan mengapa tari ini tetap eksis dipertunjukan di Pura Samuantiga, Dari penelitian ini diharapka ada manfaat yang dapat diambil yaitu dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan dan dapat menambah khasanah pengetahuan,serta dapat dipakai sebagai sumbangan pemikiran terhadap penentu kebijakan dalam berkesenian di daerah Gianyar dan Bali umumnya. Sumber data penelitian diperoleh dari informan dan dari kajian literatur. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data dilakukan analisis deskriptif kualitatif. Bentuk pelaksanaan Tari Sutri didukung oleh beberapa elemen dan sajian pertunjukan. Elemen-elemen yang mendukung terbentuknya Tari Sutri antara lain penari, gerak tari, rias dan busana, musik iringan, tempat pementasan, dan sesaji. Tari Sutri ini tetap eksis dipertunjukan di Pura Samuantiga karena memilik beberapa fungsi yaitu fungsi ritual, fungsi sosial, funsi pelestarian, dan fungsi pengobatan serta mengandung makna religius (kesembuhan, kedamaian, kerukunan kesejahteraan bagi masyarakat pendukungnya), soloidaritas. Dari berbagai fungsi yang terdapat dalampelaksanaan Tari Siat Sampian dalam upcara piodalan (ngusaba) di

    Drama Tari Gagar Mayang ISI Surakarta (Limaran)

    No full text
    Sulit untuk memaksakan cinta. Cinta tidak semata-mata hadir begitu saja. Cinta hanya menimbulkan rasa sakit dan amarah. Amarah yang tak dapat dibendung hanya akan menimbulkan sengsara. Harapan akan cinta yang tulus kini telah sirna. Merupakan sajian drama tari dari ujian koreografi semester 6 pada Jurusan Tari ISI Surakarta. Terdiri dari DEWI LIMARAN: Adian Isnatika Inabela, RAJA MALING KENTIRI: Aran Ditio Fathoni, JOKO LINTANG: Fajar Tri Asmoko, PASUKAN KIDANG: Eka Putri Ananda, Brigitha Marselia, Siti Khasanah, Tia Tri Utami, Rosita Anggun, Handika May C. P., Tri Saraswati, Anestri Sulanjari, PEMBURU: Oktavian Kusuma D.,Erica Nityananda Sonya, Fadilla Febry Erawati, Dina Rosita, Lenni Wulandari, Wilujeng Dyah Ayu Arimbi, Wakhidatul Nur Utami, Dini Putri Nur M., Paras Tri Utami, Elsa Kurnia Murti, PENANGGUNG JAWAB MUSIK: Asep Susanto, GENDER & KENDANG: Asep Susanto, DEMUNG & GAMBANG: Rano Prasetyo, SAXOPHONE & SARON: Nanang Sulistyo, VOKAL: Ardi Gunawan, Yenny Arama, KEMPUL: Renzia Fitra, BONANG: Yudha, SARON: Angger Widiasmara, BIOLA: Julio

    Decision-Feedback Equalisation Using Multiple-Hyperplane Partitioning for Detecting ISI-Corrupted MM-ary PAM Signals

    No full text
    A novel decision feedback equaliser (DFE) scheme is derived based on multiple-hyperplane partitioning of signal space for detecting MM-ary PAM symbols transmitted through an intersymbol interference (ISI) and noisy channel. The proposed scheme is based on the observation that the optimal Bayesian decision boundary separating any two neighbouring signal classes is asymptotically piecewise linear and consists of several hyperplanes, when the signal to noise ratio (SNR) tends to infinity. An algorithm is developed to determine these hyperplanes, which are then used to partition the observation signal space. The resulting detector can closely approximate the optimal Bayesian detector and, in the asymptotic case of large SNR, achieves the full Bayesian DFE performance, at an advantage of considerably reduced detector complexity. Index Terms—Asymptotic decision boundary, Bayesian decision-feedback equalizer, multiple-hyperplane detector, signal space partitioning

    Google Scholar as a source for citation and impact analysis for a non-ISI indexed medical journal

    No full text
    It is difficult to determine the influence and impact of journals which are not covered by the ISI databases and Journal Citation Report. However, with the availability of databases such as MyAIS (Malaysian Abstracting and Indexing System), which offers sufficient information to support bibliometric analysis as well as being indexed by Google Scholar which provides citation information, it has become possible to obtain productivity, citation and impact information for non-ISI indexed journals. The bibliometric tool Harzing's Publish and Perish was used to collate citation information from Google scholar. The study examines article productivity, the citations obtained by articles and calculates the impact factor of Medical Journal of Malaysia (MJM) published between 2004 and 2008. MJM is the oldest medical journal in Malaysia and the unit of analysis is 580 articles. The results indicate that once a journal is covered by MyAIS it becomes visible and accessible on the Web because Google Scholarindexes MyAIS. The results show that contributors to MJM were mainly Malaysian (91) and the number of Malaysian-Foreign collaborated papers were very small (28 articles, 4.8). However, citation information from Google scholar indicates that out of the 580 articles, 76.8 (446) have been cited over the 5-year period. The citations were received from both mainstrean foreign as well as Malaysian journals and the top three citors were from China, Malaysia and the United States. In general more citations were received from East Asian countries, Europe, and Southeast Asia. The 2-yearly impact factor calculated for MJM is 0.378 in 2009, 0.367 in 2008, 0.616 in 2007 and 0.456 in 2006. The 5-year impact factor is calculated as 0.577. The results show that although MJM is a Malaysian journal and not ISI indexed its contents have some international significance based on the citations and impact score it receives, indicating the importance of being visible especially in Google scholar

    Great Expectatrics: Great Papers, Great Journals, Great Econometrics

    No full text
    The paper discusses alternative Research Assessment Measures (RAM), with an emphasis on the Thomson Reuters ISI Web of Science database (hereafter ISI). The various ISI RAM that are calculated annually or updated daily are defined and analysed, including the classic 2-year impact factor (2YIF), 5-year impact factor (5YIF), Immediacy (or zero-year impact factor (0YIF)), Eigenfactor score, Article Influence, C3PO (Citation Performance Per Paper Online), h-index, Zinfluence, and PI-BETA (Papers Ignored - By Even The Authors). The ISI RAM data are analysed for 8 leading econometrics journals and 4 leading statistics journals. The application to econometrics can be used as a template for other areas in economics, for other scientific disciplines, and as a benchmark for newer journals in a range of disciplines. In addition to evaluating high quality research in leading econometrics journals, the paper also compares econometrics and statistics, alternative RAM, highlights the similarities and differences in alternative RAM criteria, finds that several ISI RAM capture similar performance characteristics for the leading econometrics and statistics journals while the new PI-BETA criterion is not highly correlated with any of the other ISI RAM, and hence conveys additional information regarding ISI RAM, highlights major research areas in leading journals in econometrics, and discusses some likely future uses of RAM.Research assessment measures, impact factors, Immediacy, Eigenfactor score, Article influence, h-index, C3PO, Zinfluence, PI-BETA

    Great Expectatrics: Great Papers, Great Journals, Great Econometrics

    No full text
    The paper discusses alternative Research Assessment Measures (RAM), with an emphasis on the Thomson Reuters ISI Web of Science database (hereafter ISI). The various ISI RAM that are calculated annually or updated daily are defined and analysed, including the classic 2-year impact factor (2YIF), 5-year impact factor (5YIF), Immediacy (or zero-year impact factor (0YIF)), Eigenfactor score, Article Influence, C3PO (Citation Performance Per Paper Online), h-index, Zinfluence, and PI-BETA (Papers Ignored - By Even The Authors). The ISI RAM data are analysed for 8 leading econometrics journals and 4 leading statistics journals. The application to econometrics can be used as a template for other areas in economics, for other scientific disciplines, and as a benchmark for newer journals in a range of disciplines. In addition to evaluating high quality research in leading econometrics journals, the paper also compares econometrics and statistics, alternative RAM, highlights the similarities and differences in alternative RAM criteria, finds that several ISI RAM capture similar performance characteristics for the leading econometrics and statistics journals while the new PI-BETA criterion is not highly correlated with any of the other ISI RAM, and hence conveys additional information regarding ISI RAM, highlights major research areas in leading journals in econometrics, and discusses some likely future uses of RAM.Research assessment measures; impact factors; Immediacy; Eigenfactor score; Article influence; h-index; C3PO; Zinfluence; PI-BETA

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    No full text
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    IFI and ISI premitigation for block-code-modulated noncoherent UWB impulse radio: A code optimization approach

    No full text
    Codeword matching and signal aggregation (CMSA) is a recently proposed low-complexity noncoherent receiver for block code modulated UWB Impulse Radio (UWB-IR) systems. As the frame/symbol duration is shortened to boost data rate, inter-frame interference (IFI) or inter-symbol interference (ISI) occurs and degrades detection performance of CMSA. In this paper, an effective IFI/ISI pre-mitigation scheme is proposed for CMSA by means of a code optimization approach. By employing a tailored interference model that highlights the codeword properties, the system performance in the presence of moderate IFI/ISI is evaluated and an average collected channel gain (CCG) is introduced as the metric for code optimization. With the primary focus on binary modulation, two IFI/ISI-robust code properties are generalized as Shifted-Orthogonality and Shifted-Repetition. Based on these properties, the optimal code is constructed. It is observed that, when the optimal code occurs, the leaked signal energy or the interference can be partially used to enhance the detection performance of CMSA in the presence of IFI/ISI. Unlike most of the existing IFI/ISI mitigation schemes for noncoherent UWB-IR that focus mainly on signal processing after the nonlinear detector, the optimized code is exploited to aggregate leaked signal energy along with the linear pre-detection operation already involved in CMSA receiver. Both analysis and simulation show that a distinct performance improvement is achieved

    ASPEK ERGONOMI UNDAKAN PADA TAMAN FAK. SENI RUPA DAN DESAIN ISI DENPASAR

    No full text
    Stair represent one of element getting attention in landscape, especially for landscape more than high rise. How many people to saw stair made off hand because reason of room for limited stair or with beautiful design regardless of its user uncomfortable as its user. Formula of stair according to expert is: 2T + L = 63 cm, if for example us wish highly tread of stair 19 cm hence width 2x19+L=63cm or L=25 cm. If is wide our stair make 29 cm hence is high stair is 17 cm or is high our stair wish lower for example 11 cm hence width is 41 cm. All expert suggest inclination of stair 25 - 35º and is high of stair 17 wide cm and also 29 cm. If do not enable shall use high 19 cm and lower inclination from 25º, high of child of stair about 11 cm. most efficient stair with consumption of energy ( 10 cal / m kg)at or doorstep of stair with inclination 25 - 350, with deepness 29 cm and high 17 cm. Evaluated from aspect of ergonomic landscape stair Fine Arts and Design Faculty Arts Institute Indonesian of Denpasar yet applied aspect of ergonomic that is with: inclination 45º, high every tread of stair 25 width and cm 30 cm. Effort repair of landscape stair Fine Arts and Design Faculty Arts Institute Indonesian of Denpasar adapted for aspect of ergonomic that is with redesign inclination become 30º, high each of step stair 16,54 width and cm 29 cm so that user become balmy and for the efficiency of usage of consumption of energy minimum ( 10 cal / m kg). Constraint met related to effort repair of landscape stair Fine Arts and Design Faculty Arts Institute Indonesian of Denpasar, from technical facet will bother activity fluctuate stair because structure of stair have to be arranged to repeat, requirement of area for stair will increase so that garden growing narrow and need is also re-arranged especially trees stair around. Key word: ergonomic, stair, landscap

    Author Co-Citation Analysis (ACA): a powerful tool for representing implicit knowledge of scholar knowledge workers

    No full text
    In the last decade, knowledge has emerged as one of the most important and valuable organizational assets. Gradually this importance caused to emergence of new discipline entitled ―knowledge management‖. However one of the major challenges of knowledge management is conversion implicit or tacit knowledge to explicit knowledge. Thus Making knowledge visible so that it can be better accessed, discussed, valued or generally managed is a long-standing objective in knowledge management. Accordingly in this paper author co- citation analysis (ACA) will be proposed as an efficient technique of knowledge visualization in academia (Scholar knowledge workers)
    corecore