9,529 research outputs found
M-Library: the library in your pocket
Khan,
Imran. (2012). M-Library: the library in your pocket. Journal of Library Management
1(1-2): pp. 9-23 (ISSN: 2278-5523)
PENGARUH DIMENSI SOSIAL TERHADAP PEMIKIRAN TAFSIR M. BAISUNI IMRAN
Tesis ini akan mengkaji tentang pengaruh dimensi sosial terhadap pemikiran tafsir M. Baisuni Imran. Berangkat dari perdebatan soal kemurnian tafsir yang mendapatkan repon dari berbagai kalangan. Kelompok pertama meyakini bahwa tafsir itu murni seperti pendapatnya imam as-Suyuti. Sedangkan di sisi lain tokoh-tokoh kontemporer seperti Fazlur Rahman, dan ‘Abd ‘Azi>z al-Tha’a>labi menekankan bahwa tafsir adalah produk kepentingan. Karenanya menarik melihat perdebatan ini dalam satu kajian akademis. Dalam hal ini peneliti menggangkat obyek materilnya adalah tokoh tafsir Sambas M. Baisuni Imran. Kajian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis kepustakaan (library research). Pemaparannya menggunakan analisis deskripsi. Data primer bersumber dari kitab-kitab M. Baisuni Imran; 1) Tafsīr Tūjuh Sūrah; 2) Tafsīr Āyāt aṣ-Ṣiyām, 3) Kitab al-Ibanatoe wal Inshafoe fil Masaailiddiniah. 4) Irsyād al-Ghilmān: fi Adābi Tilāwah al-Qurān. 5) Terjemahan al-Umm Imam asy-Syafi’i; 6) Tażkīr: Sabīlunnajāh fî Tārikh aṣ-Ṣalāh 7) Risalah Cahaya Suluh: Pada Mendirikan Jum’at Kurang daripada Empat Puluh dan 8) Manuskrip-manuskrip yang disinyalir merupakan peninggalan dari M. Baisuni Imran. Sedangkan data sekundernya adalah jurnal, buku, ensiklopedia dan sumber-sumber lainnya yang mendukung terhadap tema ini. Terakhir pendekatan yang digunakan adalah teori sosiologi pengetahuannya Kalr Manheim yang didiskusikan dengan asumsi-asumsi teori P. Berger dan Luckman.
Hasil kajian ini; Pertama menunjukkan bahwa ada faktor-faktor yang mempengaruhi pemikiran tafsir M. Baisuni Imran antara lain; 1) Latar belakang pendidikannya, 2) Bahasa dan budaya, 3) Politik, 4) Kondisi kehidupan sosialnya. Kedua, berkaitan dengan aplikasi teori sosilogi pengetahuan bahwa; Dari sisi 1) Objective reality menunjukkan bahwa M. Baisuni Imran dihadapkan kepada tiga realita dimensi sosial yang mempengaruhi pemikirannya yakni, a) Islam di Timur Tengah, b) Perselisihan di internal umat Islam, c) Kultur sosial masyarakat Sambas. Sedang dari sisi 2) Subjektive Reality menunjukkan bahwa ada proses internaliasi dari tiga realita tersebut menjadi produk gagasan yakni, a) Menuju persatuan umat Islam, b) Kembali kepada kemurnian syariat Islam, c) Serta pengajaran kepada umat Islam. 3) Kemudian informasi diatas dapat di lihat dalam tema-tema tertentu dalam penafsirannya. Antara lain di dalam a) Q.S Ali Imran [3] ayat 104 tentang persatuan umat Islam dalam. b) Q.S al-Maidah [5]: 44 tentang berhukum kepada kemurnian syariat Islam, c) Tafsīr Tūjuh Sūrah; 2) Tafsīr Āyāt aṣ-Ṣiyām dalam motifasinya untuk memberikan pengajaran kepada umat Islam. Terkahir analisa relasionisme menunjukkan kepada dua motif; 1) Motif ideologis 2) Motif lokalitas
MODEL PEMBAHARUAN PENDIDIKAN DASAR ISLAM MENURUT H. M. BASIUNI IMRAN DI KESULTANAN SAMBAS
H. M. Basiuni Imran merupakan salah satu Ulama besar yang dimiliki Kalimantan Barat,
terkhusunya Sambas. Jabatannya sebagai seorang Maharaja Imam di Kesultanan Sambas
membuat dirinya mempunyai kekuasaan dalam melakukan pembaharuan dengan tujuan
memajukan dan mengembangkan kehidupan masyarakat muslim saat itu. Pembaharuan yang
H. M. Basiuni Imran lakukan dianggap sebagai kemajuan dalam sistem pendidikan Islam,
terutama pendidikan dasar di Sambas, Kalimantan Barat. Salah satu usaha dalam
memperbaiki sistem pendidikan Islam di Sambas adalah dengan memperbaharui Madrasah
As-Sulthaniyah menjadi sebuah lembaga pendidikan Tarbitoel Islam.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian studi tokoh yang bersifat kualitatif dengan
menggunakan pendekatan eksploratif dan otobiografi. Ekploratif digunakan guna mengkaji
sesuatu yang belum diketahui, belum difahami dan belum dikenal dengan baik, Sedangkan
autobiografi dilakukan guna memahami tokoh H. M. Basiuni Imran berdasarkan tokoh lain
yang memiliki disiplin ilmu yang sama maupun berbeda. Adapun sumber data penelitian ini
terdiri dari sumber primer dan sumber sekunder. Data primer diperoleh dari arsip milik
Kesultanan Sambas dan arsip pribadi dari keluarga besar Basiuni Imran. Selain itu buku-buku
beliau yang telah dicetak dan didapat di daerah Sambas dan sekitarnya. Sedangkan data
sekunder penelitian ini adalah karya tulis lain tentang H. M. Basiuni Imran.
Hasil analisis data menunjukkan bahwa pembaharuan pendidikan yang dilakukan H. M.
Basiuni Imran saat menjadi Maharaja Imam dilatar belakangi oleh situasi dan kondisi sosialkeagamaan
dan
sosial-politik yang ada di daerah Kesultanan Sambas saat itu. Pembaharuan
yang dilakukan oleh H. M. Basiuni Imran dinilai fleksibel dan elastis serta unik, hal ini dapat
kita kenali karena pengembangan pendidikan yang dilakukan oleh beliau merupakan pola
sintesis, yakni mempertemukan corak pendidikan pondok (Islam) dengan corak pendidikan
kolonial atau barat. Pola pembaharuan yang beliau gunakan tergantung dengan kondisi sosial
politik saat itu. Pola pembaharuan yang dilakukan oleh H. M. Basiuni Imran bersifat tidak
kaku dan dapat disesuaikan dengan kondisi di Kesultanan Sambas saat itu.Pembaharuan yang
dilakukan H. M. Basiuni Imran terfokus pada komponen pendidikan Islam seperti tujuan
pendidikan, metode pendidikan, pendidik, peserta didik dan yang paling tampak adalah dalam
aspek kurikulum yang berupa mata pelajaran atau materi pelajaran
M. M. Ayoub. The Qur'an and its Interpreters, vol. II : The House of `Imran
Monnot Guy. M. M. Ayoub. The Qur'an and its Interpreters, vol. II : The House of `Imran. In: Revue de l'histoire des religions, tome 210, n°2, 1993. pp. 223-224
PEMBARUAN PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM MUHAMMAD BASIUNI IMRAN (1906-1976 M)
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembaruan pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Basiuni Imran tahun 1906 sampai 1976. Tahun 1906 adalah tahun ia mulai mengajar di sekolah Sultaniyah. Tahun 1909 ia melanjutkan pendidikan ke Mesir dengan tujuan al-Azhar. Pada saat itulah ia mengenal pembaruan pemikiran pendidikan Islam Muhammad Rasyid Rida. Tahun 1913 ia pulang ke Sambas dan dilantik menjadi Maharaja Imam. Tahun 1916 menjadi guru di Madrasah al-Sultaniyah. Tahun 1918 ditunjuk menjadi pengawas pada sekolah yang sama. Tahun 1936 mendirikan sekolah Tarbiyatul Islam. Tahun 1963 mendirikan sekolah Kulliyatul Muballighin. Penelitian ini menggunakan metode s}ejarah dengan pendekatan sosiologi, antropologi, prosopografi dan sejarah intelektual. Teori yang digunakan adalah teori pembaruan dan perubahan sosial. Penelitian ini juga menggunakan dua kajian yaitu pustaka dan lapangan. Kajian pustaka untuk melacak pemikiran pembaruan melalui karya-karyanya yang banyak. Sementara kajian lapangan melihat praktek pembaruan yang dilakukan Muhammad Basiuni Imran. Penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 1906 Muhammad Basiuni Imran memotivasi para siswa akan pentingnya pendidikan. Pendidikan bagi Muhammad Basiuni Imran adalah kunci utama untuk meraih kemajuan. Tahun 1916 ketika ia diangkat menjadi guru pada Madrasah al-Sultaniyah, ia berhasil mengintegrasikan kurikulum agama dan umum secara bertahap dan perlahan dan berlanjut pada sekolah Tarbiyatul Islam tahun 1936. Pada sekolah yang kedua yaitu sekolah Tarbiyatul Islam ia juga berhasil mengenalkan sekaligus menerapkan ko-edukasi dan manajemen sekolah berbasis administrasi. Upaya yang dilakukannya tersebut melawan arus
CORAK PENAFSIRAN TASAWUF QS. AL-FATIHAH DALAM MANUSKRIP TAFSIRKARYA M. BASUNI IMRAN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT
M. Basiuni Imran (Sambas), Kalimantan Barat adalah mufassir yang hidup di abad 20 M, dan dia pernah belajar ilmu keislaman ke Timur Tengah. Secara interes keilmuan, M.Basiuni Imran kurang bertendensi dengan ilmu tasawuf. Tetapi kenyataannya, dalam penafsiran surat al-fatihah, M.Basiuni Imran memvisualisasikan tafsir esoteris. Berdasarkan kontestasi tersebut maka peneliti tertarik mengkaji tema ini lebih jauh. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan teori relasi kuasa dan jejaring aktor. Kesimpulan artikel ini adalah : Pertama, Sajian Tafsir Esoteris Qs. Al-Fatihah oleh Basiuni Imran menafsirkan secara literal-tekstualis, lalu kemudian menafsirkan secara esoteris-teosofis. Kedua, Makna Interpretasi Qs. Al-Fatihah ; Basiuni Imran memahami dan manafsirkan bahwa secara general-tekstual Qs. al-Fatihah mengandungmakna esoteris. Ketiga, Faktor Munculnya Visualisasi Tafsir Esoteris dalam Qs. Al-Fatihah : 1) Relasi intelektual antar guru dan murid yang menjadi basis regulasi dan normalisasi pemikiran penafsir ; 2) Historisitas dan antropik-sosial yang berkembang pra dan masa ketika tafsir ditulis ; dan 3) Relasi dan tendensi literatur tasawuf atau tarekat yang berkembang dalam realitas masyarakat, sehingga menghegemoni dan membentuk pemikiran tafsir esoteris
Memilih Bihtonah Dengan Non-Muslim Dalam Surat Ali-Imran Ayat 118 Menurut M. Quraish Shihab
Pembahasan skripsi ini mengenai Memilih Biṭanah dengan Non-Muslim
dalam Surat Ali-Imran ayat 118 Menurut M. Quraish Shihab. Manusia adalah
makhluk sosial yang membutuhkan kehadiran orang lain bagi kehidupannya,
namun dalam pergaulan manusia memiliki beberapa batasan yang harus diikuti
untuk menciptakan kehidupan yang baik dalam interaksi sosial. Maka Islam
mengajarkan manusia bagaimana bersikap dan memilih biṭanah yang baik
baginya agar hidupnya damai.
Permasalahan yang harus dijawab adalah Bagaimana makna biṭanah
dalam Alquran di surat Ali-Imran, indetitas surah, makna biṭanah secara
bahasa dan umum. Dan bagaimana sikap dan pandangan M. Quraish Shihab
tentang memilih biṭanah dengan non – muslim.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode tafsir tahlili (analitik)
metode menguraikan makna yang terkandung dalam Alquran, ayat demi ayat yang ada
dalam mushaf Alquran. Pendekatan yang digunakan adalah kepustakaan (Library
Researh) yang menggunakan buku, kitab tafsir, dan sumber yang berkaitan
dengan memilih biṭanah dengan non-muslim dengan jenis penelitian kualitatif.
Adapun metode pengumpulan datanya adalah dengan metode dokumentasi,
observasi, dan wawancara, data primer Alquran dan tafsir Al-Misbah,
sedangkan data sekunder berupa buku dan kitab tafsir yang berkaitan dengan
memilih biṭanah dengan non-muslim.
Hasil dari penelitian ini adalah biṭanah merupakan orang yang paling
mengetahui segala sisi kita, baik itu masalah kecil maupun (tersembunyi).
Menurut M. Quraish Shihab biṭanah dengan non-muslim itu bisa saja asalkan
tidak mencelakai, menipu dan mengusir umat muslim dari tempat tinggalnya
PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD BASUNI IMRAN
Basuni Muhammad Imran (1883-1976) was a Indonesian reformer who live in Sambas, West Kalimantan, it has brought this area to reach the peak of science and modernity. The main patterns of Muhammad Basuni Imran thought is traditionalism, inklusifism and flexible in medium but strong in thawabit. This study revealed substantial contributions of Muhammad Basuni Imran in Islamic legal thought especially in purposes in Islamic laws (maqasid shari’ah) and Islamic politic (siyasah shar’iyyah), through the implementation of the concept tadarruj, Maslahah mursalah, al-Tahaluf al-Siyasi, and local wisdom of jurisprudence in adopting the opinion of the validity prayers Friday at least 40 people
PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD BASUNI IMRAN
Basuni Muhammad Imran (1883-1976) was a Indonesian reformer who live in Sambas, West Kalimantan, it has brought this area to reach the peak of science and modernity. The main patterns of Muhammad Basuni Imran thought is traditionalism, inklusifism and flexible in medium but strong in thawabit. This study revealed substantial contributions of Muhammad Basuni Imran in Islamic legal thought especially in purposes in Islamic laws (maqasid shari’ah) and Islamic politic (siyasah shar’iyyah), through the implementation of the concept tadarruj, Maslahah mursalah, al-Tahaluf al-Siyasi, and local wisdom of jurisprudence in adopting the opinion of the validity prayers Friday at least 40 people.</jats:p
PEMIKIRAN KEAGAMAAN MUHAMMAD BASUNI IMRAN
Basuni Muhammad Imran (1883-1976) was a Indonesian reformer who live in Sambas, West Kalimantan, it has brought this area to reach the peak of science and modernity. The main patterns of Muhammad Basuni Imran thought is traditionalism, inklusifism and flexible in medium but strong in thawabit. This study revealed substantial contributions of Muhammad Basuni Imran in Islamic legal thought especially in purposes in Islamic laws (maqasid shari’ah) and Islamic politic (siyasah shar’iyyah), through the implementation of the concept tadarruj, Maslahah mursalah, al-Tahaluf al-Siyasi, and local wisdom of jurisprudence in adopting the opinion of the validity prayers Friday at least 40 people
- …
