14 research outputs found

    TARI SARASWATI

    No full text
    Tari Saraswati diciptakan sebagai simbolisasi misi dan visi ISI Yogyakarta yang tersirat maupun tersurat pada Logo ISI Yogyakarta dan penjabarannya. Tarian ini diciptakan pada tahun 2009 dan pertama kali dipergelarkan dalam peristiwa Dies Natalis ISI Yogyakarta yang berlangsung tanggal 30 Mei 2009. Awal diciptakan tari Saraswati diprakarsai oleh Rektor ISI Yogyakarta pada kala itu Prof. Dr. Soeprapto Soedjono, M.FA yang dibantu oleh Pembatu Rektor I yakni Prof. Dr. A.M Hermien Kusmayati, S.ST, SU dan Pembantu Rektor II yakni Drs. Siswadi, M.Hum, sebagai penasehat artistik. Tari Saraswati merupakan tari berbentuk bedhayan yang didukung oleh tujuh orang penari putri. Tarian ini diciptakan oleh Dra. Sri Hastuti, M.Hum dan Dr. Darmawan D., M.Sn. Iringan dari sajian tari Saraswati disusun oleh Drs. Sunyata, M.Sn. Dalam bidang tata rias tari Saraswati ditangani oleh Legiman, S.Sn untuk mendesain rias yang selaras dengan karakter Dewi Saraswati. Di samping itu, tata busana dirancang oleh Dra. M.G Sugiarti, M.Hum. Pada tahun 2010 terjadi pengalihan tanggung jawab mengenai tata rias yang diserahkan kepada Dra. Erlina Pantja S.,M. Hum. Latar Belakang Ide Penciptaan adalah Visualisasi dari sosok Dewi Saraswati dengan tubuh tinggi semampai dan kecantikan yang sempurna melengkapi citra dari sosok dewi pengetahuan dan seni. Melalui citra tersebut sosok Dewi Saraswati ditafsirkan oleh koreografer sebagai simbolisasi dari kesempurnaan dan keindahanmakhluk swargaloka sebagai manifestasi alam spiritual, sumber etika, sumber ilham, ide, dan kreatvitas. Di sisi lain nilai-nilai dan makna yang tertuang pada jabaran lambang ISI Yogyakarta divisualisasikan dengan wujud Saraswati yang berdiri dengan anggun, disangga angsa dengan bulu-bulu sayap yang mengembang dan menaungi dari substansi lambang ISI Yogyakarta. Lambang itu menyiratkan keseimbangan antara intelektualitas dan estetika, cita-cita yang mulia dengan berpijak pada budi pekerti yang luhur. Bersandar pada latar belakang itu, tercetus ide penciptaan yang menggiring kreativitas koreografer untuk menetapkan tema Tari Saraswati. Garis besar dari divisualisasikannyatari Saraswati sebagai manifestasi spiritualitas anugerah Tuhan yang dikaruniakan kepada manusia dalam bentuk ilham. Ilham yangdianugrahkan oleh Tuhan kepada manusia itulah yangmenjadikan manusia dapat menciptakan karya-karya seni. Namun, sebagai manusia biasa tentu tidak terlepas dari rintangan dan konflik senantiasa melingkupi dirinya, baik konflik dengan dirinya maupun dengan lingkungannya. Pada akhirnya, dirinya sebagai insan yang telah dikarunia talenta dalam bidang seni menemukan jati dirinya dan ia berkiprah secara penuh dibidangnya masing-masing. Tari Saraswati dikoreografikan menyiratkan empat hal, dimanifestasikan dalam bagian. Bagian pertama menggambarkan Saraswati sebagai simbolisasi alam spiritual, alam inspirasi, alam hikmah, dan alam ilham. Bagian kedua disebut adegan mangu-mangu menggambarkan alam manusia yang mempunyai cita-cita, mempunyai keinginan berkarya, namun tidak terlepas konflik dengan diridan lingkungannya yang akhirnya dapat diatasi.Pada bagian ketiga disebut makarya golong gilig, menggambarkan insan-insan seni sedang berkarya dalam kapasitasnya masing-masing dalam naungan keluarga besar ISI Yogyakarta yang mengakomodasi keragaman maupun kebhinekaan dengan tetap bersandar pada budi pekerti yang luhur. Bagian keempat adalah adegan kapang-kapang golong gilig, menggambarkan keyakinan diri menuju cita-cita dengan melangkah secara pasti mengemban sebagai insan seni

    Pengaturan Suhu, Kelembaban Udara, dan Pupuk Otomatis pada Green House Berbasis Smart Relay

    No full text
    ABSTRAK   Dewasa kini dunia industri, sistem otomatis masih dan sangat diminati karena menjamin kualitas produk yang dihasilkan, memperpendek waktu produksi dan mengurangi biaya untuk tenaga kerja manusia. Salah satu pengendali yang baru – baru ini populer adalah Smart Relay. Perkembangan teknologi yang awalanya relay hanyalah kontak on-off saja, sekarang bisa diaplikasikan dalam pengendalian tak berbeda dengan PLC(Programable Logic Control). Seiring berkembangnya kendali yakni khususnya smart relay, orang mulai berpikir untuk menggunakan smart relay sebagai alat yang digunakan untuk membantu memudahkan manusia dalam menyelesaikan masalah yang ada. Salah satunya adalah penggunakan smart relay untuk pengendalian pada green house. Pembuatan green house berbasis smart relay ini bertujuan untuk memudahkan manusia dalam pengendalian manual dalam hal penyiraman dan pemupukan menjadi otomatis. Penyiraman otomatis berdasarkan informasi data suhu dan kelembaban dari sensor HSM-20G yang kemudian dihubungakan ke smart relay berupa analog input, untuk diolah di dalam program. Didalam program, untuk menjaga kondisi suhu dan kelembaban terdapat instruksi-instruksi analog comparator, dimana sensor telah dikalibrasi ketika suhu 25oC maka tegangan keluaran suhu 0,2V dan ketika suhu mencapai 28oC maka tegangan keluaran 0,6V, untuk kelembaban pada 60%RH maka tegangan keluaran 2,0V dan 70%RH maka tegangan keluaran 2,4V. Dari pengkalibrasian diatas maka program yang didalamnya terdapat persamaan logika kurang dari dan lebih dari, yakni analog komparator, maka akan mengkondisikan kapan berlogika 1 dan 0, sehingga koil pada output smart relay dapat bekerja. Sedangkan untuk pupuk otomatis terdapat perintah RTC pada program. Dari pembuatan miniatur green house dengan pengaturan suhu, kelembaban udara dan pupuk otomatis berbasis smart relay tersebut dapat disimpulkan bahwa alat ini berjalan sesuai dengan rencana pembuatan, pengaturan suhu dan kelembaban udara serta pupuk otomatis berjalan. Disarankan dalam perancangan smart relay ini hendaknya dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu dalam pemakaian komponen keseluruhan.Dalam pelaksanaan pembuatan alat dan program smart relay harus dipantau terus kemajuan pekerjaan apakah sesuai dengan rencana atau tidak, karena hal ini berpengaruh dalam waktu penyelesaian pembuatan alat tersebut

    PENGUJIAN ELEKTRIK MOTOR INDUKSI 3 PHASE ROTOR SANGKAR 75 KW DI PT MESINDO TEKNINESIA

    Full text link
    In the schematic of the electric motor repair procedure, it can be explained that the repair process can be divided into four handling parts, which include operations, quality control, mechanical and electrical. induction before and after repair. The data taken is the data of the 380V cage induction motor belonging to PLTU Indramayu. In the testing process both before and after the repair there are several measurements, namely: Insulation Resistance Test, Resistance Test, Winding Wave Test Running test. In the insulation resistance test, the results obtained are an average of 2000 M? or above 100 M? so that the stator after being repaired is in good condition, as well as the results of the resistance test, the result is that the deviation balance between the coils is not more than 5%. The results of the Surge test after the repair also showed that there was no noise and good, for the results of the motor rotation test, vibration and temperature, all of them were in accordance with the 2015 EASA AR100 standard. Inspection of the motor before repairing (electrical test before repairing) must be more thorough because the inspection become the basis for determining what process will be carried out nextABSTRAK:Pada skema prosedur perbaikan motor listrik dapat dijelaskan bahwa proses perbaikan dapat di bagi menjadi empat bagian penanganan yaitu meliputi operasional, quality control, mechanical dan electrical Penelitian dilaksanakan di PT Mesindo Tekninesia departemen QC (Quality Control) yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung tentang pengujian elektrik motor induksi sebelum perbaikan dan setelah perbaikan. Data yang diambil adalah data motor induksi sangkar 380V milik PLTU Indramayu. Dalam proses pengujian baik sebelum maupun sesudah perbaikan terdapat beberapa pengukuran yaitu:Tes Tahanan Isolasi,Tes Resistansi ,Tes Gelombang Belitan Running test. Pada pengujian insulation resistance hasil yang didapat rata-rata 2000 M? atau berada diatas 100 M? sehingga stator setelah diperbaiki dalam keadaan bagus, begitupun pada hasil resistance Test hasilnya yaitu balance deviasi antar coil tidak lebih dari 5%. Hasil Surge test setelah perbaikan pun menunjukkan bahwa tidak ada noise dan baik, untuk hasil dari pengujian putaran motor, getaran dan suhu semuanya sudah sesuai dengan standar EASA AR100 2015. Pemerikasaan motor sebelum diperbaiki (electrical test before repairing) harus lebih teliti lagi karena pemeriksaan tersebut menjadi dasar penentu untuk proses apa yang akan dilakukan selanjutny

    Analisis Kebutuhan Pompa Air Baku Head Tinggi Untuk Kebutuhan Air Industri Smelter

    No full text
    Kebutuhan air baku sangat penting untuk keberlangsungan industri pengolahan bijih nikel (Smelter). Umumnya, pengaliran air secara grafitasi atau dengan pompa head rendah menjadi prioritas utama. Kenyataannya, pengaliran tersebut tidak selalu dapat dilakukan di lapangan karena kondisi teknis dan lingkungan. Tingginya perbedaan elevasi antara sumber air (+5 m) dan pabrik Smelter (+185 m) di lokasi penelitian, serta besarnya debit air (610 l/d) yang akan di supply, memaksa penggunaan pompa air head tinggi. Fenomena seperti ini masih jarang dikaji dalam berbagai studi pompa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebutuhan perpompaan yang sesuai dan effisien untuk head tinggi dari Sungai Tamboli menuju smelter yang terletak di Kecamatan Wolo Kabupaten Kolaka. Penelitian dimulai dengan mengkaji kebutuhan pipa yang digunakan dengan Software EPANET 2.2. Panjang total pipa adalah 10,965 km. Berdasarkan hasil analisis, jumlah pompa yang dibutuhkan sebanyak delapan (8) buah dengan kebutuhan dimensi pipa tranmisi adalah 20 inch. Masing-masing pompa mempunyai kapasitas 0,101 m3/s dengan kebutuhan head sebesar 340,04 m. Tipe impeller pompa yang digunakan berjenis impeller francis dengan putaran spesifik 2950 rpm dan kebutuhan daya penggerak pompa sebesar 597,01 kW. Jenis pompa dibutuhkan adalah pompa sentrifugal radial bertingkat banyak (centrifugal multistage pump)

    Comparison of CNN’s Architecture GoogleNet, AlexNet, VGG-16, Lenet -5, Resnet-50 in Arabic Handwriting Pattern Recognition

    Full text link
    The Arabic script is written from right to left and consists of 28 characters, with no capital or lowercase letters. The Arabic script has several orthographic and morphological properties that make handwriting recognition of the Arabic script challenging. In addition, one of the biggest challenges in recognizing Arabic script patterns is the different handwriting styles and characters of each person's writing. The authors propose a study to compare the accuracy of handwriting pattern recognition in Arabic script which has been done previously by comparing five CNN architectures, namely GoogleNet, AlexNet, VGG-16, LeNet-5, and ResNet-50. Considering that previous research has not obtained excellent accuracy. The number of datasets used is 8400 image data and the most optimal comparison of testing and training data is 80:20. Based on the research that has been done, there are several things that the author can conclude. The model is made using 64 filters for each convolution layer because the optimal size is used for 5 architectures, kernel size is 3x3, neurons is 128, dropout weight is 50% to reduce overfitting, learning rate is 0.001, image size is 64x64, the normalization method with the ReLU activation function, and 1-dimensional input image (grayscale), and with a comparison of testing and training data of 80:20. The VGG-16 architectural model is the architecture that gets the highest score, namely 83.99%. This can have good potential to be developed as a medium for learning Arabic script

    Pengaruh Kompensasi Dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt. Midi Utama Indonesia Tbk

    No full text
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Pengaruh Kompensasi dan Motivasi terhadap Kinerja Karyawan. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif. Jumlah sampel dalam penelitian ini dengan menggunakan rumus slovin adalah 70 responden yang merupakan karyawan PT. Midi Utama Indonesia Tbk. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, wawancara dan obeservasi. Teknik analisis data yang digunakan dalam peneltian ini adalah uji validitas dan reliable, analisis regresi linear berganda, uji asumsi klasik, uji t dan uji f. Hasil peneltian setelah data diolah dengan menggunakan SPSS.23 menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang positif antara kompensasi (X1) dan motivasi (X2) terhadap variable kinerja karyawan (Y) yang dapat disimpulkan melalui hasil uji t yaitu variable X1 memiliki t-hitung sebesar 2,175 > 1,996 (t- tabel) dan nilai sig. sebesar 0,005 1,996 (t-tabel) dan nilai sig. sebesar 0,032 < 0,05. Kata Kunci: Kompensasi,Motivasi Kerja,Kinerja Karyawa

    Pemberdayaan Usaha Ekonomi Produktif bagi Masyarakat di Kelurahan Allepolea, Kecamatan Lau Kabupaten Maros

    Full text link
    Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan penyuluhan dan pelatihan tentang kewirausahaan dan pengolahan luaran yang menghasilkan produk bernilai ekonomis yaitu sabun dan deterjen, serta mengetahui metode pemasarannya. Sasaran peserta dari kegiatan ini adalah warga kelurahan Allepolea Kecamatan Lau di Kabupaten Maros. Secara umum, peserta sangat antusias mengikuti pelatihan yang ditunjukkan dari ketekunan dan kedisiplinan dalam mengikuti setiap tahapan dalam kegiatan. Selain itu setiap peserta ikut berpartisipasi dalam menentukan materi pelatihan terkait dengan pelaksanaan tugas yang dijalankan sehari-hari. Setiap peserta mampu menghasilkan produk bernilai ekonomis dan juga mampu memasarkan produk tersebut baik melalui mekanisme penjualan offline maupun online. Melalui kegiatan ini setiap peserta merasakan manfaat dari kegiatan pemberdayaan usaha ekonomi produktif melalui kegiatan dan mengharapkan kegiatan seperti ini dapat diberikan secara rutin dan juga membawa khazanah baru bagi pengetahuan dan keterampilan mereka sehingga akan meningkatkan taraf kehidupan warga secara ekonomi

    EDUKASI PENGENDALIAN NYAMUK SEBAGAI VEKTOR PENYAKIT KEPADA SISWA SMAN 2 PALANGKA RAYA

    Full text link
    Diseases transmitted by mosquitoes always cause serious health problems in people. The problems it causes are getting wider because mosquito-borne diseases can increase from time to time. Reducing dengue cases in Palangka Raya City requires everyone\u27s attention, including the role of high school students in helping control both at home, school and in the environment. Students\u27 knowledge is low on the potential for mosquitoes to transmit diseases to humans, so education is needed for students to improve their understanding of mosquito control as a vector of disease. The purpose of this activity is that students can understand how to control mosquitoes to prevent the spread of disease. The success of this activity requires partners, namely SMAN 2 Palangka Raya which is one of the efforts to drive mosquito control at home, school and environment. The method used is morphological education of mosquito larvae, adult mosquitoes, and integrated control methods and therapy for mosquito-transmitted diseases. The knowledge of SMAN 2 students in controlling disease-carrying vectors can be judged successful by increasing students\u27 understanding.  ---  Penyakit yang ditularkan nyamuk selalu membuat permasalahan kesehatan yang sangat serius dalam masyarakat. Permasalahan yang dapat ditimbulkannya semakin menjadi meluas dan serius karena penyaklit tersebut selalu meningkat dari waktu ke waktu. Menurunkan kasus DBD di Kota Palangka Raya maka perlu perhatian semua orang termasuk peran Siswa SMA dalam membantu pengandalian baik di rumah, sekolah ataupun di lingkungan. Kurangnya pemahaman siswa terhadap potensi nyamuk menularkan penyakit pada manusia maka diperlukan edukasi kepada siswa untuk peningkatan pemahaman pengendalian nyamuk sebagai vektor penyakit. Tujuan kegiatan ini siswa dapat memahami cara mengendaikan nyamuk untuk mencegah penyebaran penyakit. Mensukseskan kegiatan ini perlu mitra yaitu SMAN 2 Palangka Raya sebagai upaya penggerak pengendalian nyamuk di Rumah, sekolah dan lingkungan. Metode yang dilakukan yaitu edukasi morfologi larva nyamuk, nyamuk dewasa dan cara pengendalian secara terpadu serta terapi penyakit yang ditransmisikan nyamuk. Pengetahuan siswa SMAN 2 dalam upaya pengendalian vektor pembawa penyakit dapat dinilai berhasil dengan adanya peningkatan pemahaman siswa
    corecore