197 research outputs found
Perubahan Sosial Ekonomi Industri Tape DI Desa Sumber Tengah Kecamatan Binakal Kabupaten Bondowoso Tahun 2008 – 2018
Industri kecil merupakan salah satu cara untuk pemerataan dan kesempatan kerja bagi masyarakat serta dapat menekan angka pengangguran. Potensi tersebut meliputi potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dapat mendukung peningkatan ekonomi dan menunjang keberlangsungan kegiatan industri kecil atau home industry. Tape merupakan produk unggulan Kabupaten Bondowoso terutama di bidang industri kreatif rumah tangga (home industri) menjadikan aset penting yang harus dikembangkan sehingga mampu bersaing dengan industri besar yang dapat memberikan kontribusi dalam kehidupan ekonomi daerah. Industri tape telah mampu menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di lingkungan sekitarnya dan penggerak perekonomian di Kabupaten Bondowoso. Banyak masyarakat Bondowoso yang menjadikan profesinya dalam kegiatan ekonomi industri tape baik sebagai produsen maupun pekerja. Hal ini menjadi peluang yang terus-menerus dimanfaatkan masyarakat Bondowoso dalam melakukan kegiatan ekonomi sehari-hari, khususnya bagi daerah penghasil tape terbesar di Bondowoso adalah Kecamatan Wringin dan Kecamatan Binakal, desa Sumber tengah kecamatan Binakal kabupaten Bondowoso yang menjadi salah satu tempat sentra industri tape terbesar di Bondowoso
KETRAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA SMA BERDASARKAN TAHAPAN WALLAS DALAM MEMECAHKAN MASALAH PROGRAM LINEAR DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT (AQ)
Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan keterampilan berpikir kreatif siswa dalam memecahkan masalah ditinjau dari Adversity Quotient (AQ) siswa kelas XI IPS tahun pelajaran 2017/2018. Penelitian ini mengunakan penelitian deskriptif dengan  pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan datanya dilakukan dengan pemberian angket dan tes yang berupa soal penyelesaian masalah. Hasil  menunjukan bahwa siswa IPS yang memiliki tingkat AQ tinggi dan AQ sedang cenderung tidak putus semangat dalam menyelesaikan masalah dan terus mencoba dengan beberapa cara yang dia miliki, sedangkan untuk siswa yang memiliki AQ rendah cenderung malas dan kurang mampu untuk menyelesaikan masalah sedang dalam kekreatifan yang dimiliki oleh ketiganya adalah hampir sama, namun perbedaan yang sangat menonjol adalah letak usaha yang dimiliki oleh ketiga siswa tersebut. Oleh karena itu diperlukan upaya guru untuk memberikan soal berbasis masalah dan menganjurkan kepada siswa untuk selalu berusaha dalam menyelesaikannya
Pengembangan Soal Literasi Matematis untuk Mendukung Matematisasi Mahasiswa Calon Guru
Mathematisation ability of prospective teachers that was low in solving mathematical literacy problems needs serious attention. Therefore, to help prospective teachers do mathematization, they were employed by giving mathematical literacy problems. This study aims to produce mathematical literacy problems that were valid, practical, and have potential effects on the mathematization ability of prospective teacher students. The study was conducted using a design research type development study. Thirty students of prospective teachers in a private university in Sidoarjo became the subjects. Mathematical literacy problems’ qualities from this research should support prospective mathematics teachers in categorizing horizontal and verticalization activities. In addition, the problems were designed using the Program for International Student Assessment (PISA) framework with the Indonesian context. The results suggested that the developed mathematical literacy problems could be categorized valid based on validators’ evaluation, practically based on the small group phase results, and have the potential effects were assessed from the results of student tests handed in field test phase using mathematical literacy problems. The test results showed that 78% of prospective mathematics teachers were in the good category of mathematization ability after using the developed problems. The developed mathematical literacy problem has a potential effect so that it can be used as an alternative question in lecturing higher education activities to support the mathematics of prospective teacher students
Respon Siswa terhadap Soal Matematika Mirip PISA dengan Konteks Berintegrasi Nilai Islam
PISA problems are based on real life context. It can be also enriched with Islamic value integration. The aim of this reseacrh is understanding the effect of posing PISA-like problems to students. The research was carried out qualitatively. The problems which are designed with context of Islamic value integration was posed to students. Then, the students filled in a questionare and have been interviewed about their responses on the problems. The results show that all subject being more motivated in doing a good deed suit on Islamic values. They told that they gained new understanding upon Islamic values from the context presented in the problems. They became aware that they will get reward when they practice an Islamic teaching. Some of them think that the problems are quite difficult and even unfamiliar for them. In the other hand, they feel happy because they finally know that the practice of Islamic teaching their doing so far will be rewarded
SISTEM PENGENDALIAN GENERATOR SET SECARA WIRELESS BERBASIS ARDUINO DENGAN MODBUS TCP DAN LOGIKA FUZZY
Sistem pengendalian generator set secara wireless berbasis arduino dengan logika fuzzy adalah alat yang mempunyai sistem dengan kemampuan untuk mengontrol dan memonitor generator set dari lokal maupun dari jarak jauh melalui jaringan wifi dengan protokol modbus TCP. Kemampuan lain yang dimiliki alat tersebut adalah dapat menstabilkan putaran mesin penggerak dan tegangan keluaran generator yang berbasiskan kontroler logika fuzzy, sebagai generator set protection sistem dan sebagai back-up power sistem jika jaringan listrik mati. Sistem kontrol tersebut dirancang dari Arduino Mega 2560, arduino nano, GLCD 128X64, optocoupler, modul step down LM 2596. Dan wifi router TL-MR 2030. Tenaga yang dihasilkan maksimum 800 watt dengan tegangan 220 Volt AC ± 5% dengan frekuensi 50Hz ± 5%, dan dapat dikendalikan dari jarak maksimum 20 meter menggunakan jaringan wifi
PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING TERINTEGRASI NILAI KEMANDIRIAN PADA MATERI POLA BILANGAN
Kualitas generasi abad 21 ditentukan dari cara berpikir, cara untuk bekerja, alat untuk bekerja, dan cara untuk hidup. Salah satu aspek dari cara bepikir adalah pemecahan masalah yang dapat diupayakan dengan penggunaan metode pembelajaran yang sesuai yaitu Problem Based Learning (PBL). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan penerapan PBL terintegrasi nilai kemandirian pada materi pola bilangan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan mixed-methods dengan desain konvergen. Subjek penelitian ini adalah 18 peserta didik kelas VIII SMP Al-Maahira IIBS Malang. Teknik pengumpulan data penelitian dilakukan melalui observasi keterlaksanaan PBL, angket respon peserta didik terhadap kemandirian, dan tes hasil belajar. Hasil observasi menunjukkan bahwa rata-rata penerapan PBL terintegrasi nilai kemandirian terlaksana dengan sangat baik, dengan nilai rata-rata observasi mencapai 100%. Selain itu, hasil angket kemandirian peserta didik dalam memecahkan masalah matematika menunjukan bahwa rata-rata tingkat kemandirian peserta didik dalam semua aspek sebesar 64,13%. Hal ini menunjukkan pembelajaran ini dapat menunjang kemandirian peserta didik. Dalam tes hasil belajar peserta didik, sebanyak 4 dari 18 peserta didik memperoleh skor 100, 13 dari 18 peserta didik memperoleh skor 98, dan 1 dari 18 peserta didik memperoleh skor 95. Hal ini menunjukkan bahwa semua peserta didik memiliki nilai di atas Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP). Berdasarkan data tersebut, dapat disimpulkan bahwa penerapan Problem Based Learning terintegrasi nilai kemandirian pada materi pola bilangan efektif dalam meningkatkan kemandirian belajar peserta didik dan pemahaman konsep pola bilangan
Sistem Pengendalian Generator Set secara Wireless Berbasis Arduino dengan Modbus Tcp dan Logika Fuzzy
Sistem pengendalian generator set secara wireless berbasis arduino dengan logika fuzzy adalah alat yang mempunyai sistem dengan kemampuan untuk mengontrol dan memonitor generator set dari lokal maupun dari jarak jauh melalui jaringan wifi dengan protokol modbus TCP. Kemampuan lain yang dimiliki alat tersebut adalah dapat menstabilkan putaran mesin penggerak dan tegangan keluaran generator yang berbasiskan kontroler logika fuzzy, sebagai generator set protection sistem dan sebagai back-up power sistem jika jaringan listrik mati. Sistem kontrol tersebut dirancang dari Arduino Mega 2560, arduino nano, GLCD 128X64, optocoupler, modul step down LM 2596. Dan wifi router TL-MR 2030. Tenaga yang dihasilkan maksimum 800 watt dengan tegangan 220 Volt AC ± 5% dengan frekuensi 50Hz ± 5%, dan dapat dikendalikan dari jarak maksimum 20 meter menggunakan jaringan wifi
Analisis Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa Ditinjau dari Kemampuan Matematika Siswa
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematis siswa yang memiliki kemampuan matematika dari tinggi sampai rendah. Selain itu, akan ditelaah capaian kemampuan siswa pada setiap karakteristik yang muncul. Jenis penelitian ini adalah deskripsi kualitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTsN di kota Jombang dengan ukuran sampel yaitu siswa yang berkemampuan rendah yang diambil dari nilai matematika siswa pada bab SPLDV. Variabel dalam penelitian ini adalah kemampuan komunikasi siswa. Data diperoleh dengan proses pengerjaan soal dan wawancara per individu. Hasil analisis data menunjukkan bahwa adanya perbedaan antara komunikasi matematis lisan dan tulisan. Komunikasi matematis dalam bentuk lisan digolongkan berdasarkan keakuratan, kelengkapan, dan kelancaran penjelasan jawaban. Sedangkan kemammpuan komunikasi dalam bentuk tulisan digolongkan berdasarkan keakuratan, kelengkapan, dan kesistematisan jawaban. Terungkap bahwa dari masing-masing subjek menunjukkan capaian yang berbeda tiap karakteristik baik lisan maupun tulisan. Subyek penelitian menunjukkan adanya perbedaan dalam kemampuan komunikasi matematika saat berkomunikasi
Students' Quantitative Literacy in Solving PISA Problem Based on Gender Differences
Quantitative literacy is an important skill needed by individuals in solving problems with quantitative situations in daily life. Thus, this paper aimed to identify quantitative literacy in solving the PISA problem based on gender differences. This study used descriptive research with a qualitative approach. Research subjects in this study were two tenth-grade students in middle school. They were one male student and one female student who have the similar mathematical ability. Data were collected by giving the Program for International Student Assessment (PISA) problem, especially mathematical literacy, and using the interview method. The research results showed that the quantitative literacy of male student in solving PISA problems is by using fewless symbols to represent time and incomplete algorithms and procedures. In comparison, the quantitative literacy of female student in solving PISA problems is by using a more detailed description, more mathematical operations, and solving the problem according to algorithms and procedures. Furthermore, both students have quantitative literacy aspects, including interpretation, calculation, representation, assumption, analysis, and communication skills. Therefore, the quantitative literacy ability of students can be used as a reference for teachers to determine the modeling activities conducted by students in solving the PISA problem
The Analysis of Students’ Affective Through Learning with Problem Posing Approach
Affective need to be considered by the teacher because it makes learning more effective. Therefore, the aim of this research is to analyse students’ affective through learning with problem posing approach. The present research employs qualitative study. The subject of the research involved 39 students of science class 3 on grade X of Wachid Hasyim 2 Senior High School in Taman, Sidoarjo. The instruments to analyse students’ affective consists of observation note, questionnaires and interview guide. The data is analysed throughout descriptive qualitative. Implementation of the research emphasised composing and problem posing aspects which was done by the students on linear equation system of three variables. The result of the analysis shows that the students’ affective could be identified through receiving, responding, valuing, organizing and characterizing by a value. The subjects with high affective had completely met the aspects of affective and tended to likely be more active during the learning process.
- …
