368 research outputs found
Complex entanglements: Moving from policy to public sociology in the Arab world
In this article, the author surveys his own career to illustrate some of the dilemmas of research, especially when it assumes a critical and public face. He shows how his work on Palestinian refugees, their socioeconomic rights, their right of return and their camps evolved toward complex forms of traditional and organic public sociology. The article concludes with reflections on one of the major dilemmas researchers face: conducting public research without losing its critical edge, even toward the deprived groups it seeks to protect. The moral of the story: good scientists are not always popular. © The Author(s) 2014.Adorno T, 1980, ADORNO READER, P239; Burawoy M, 2005, AM SOCIOL REV, V70, P4; Government of Lebanon, 2008, COMM CHALL SHAR RESP; Hale CR, 2006, CULT ANTHROPOL, V21, P96, DOI 10.1525-can.2006.21.1.96; Hanafi S, 2012, IDAFAT, V20-21, P4; Hanafi S, 2011, CURR SOCIOL, V59, P291, DOI 10.1177-0011392111400782; Wolff KH, 1992, RENAISSANCE SOCIOLOG, P2010
Studi analisis pendapat Mazhab Hanafi tentang wakaf oleh orang safih
Wakaf ialah menghentikan (menahan) perpindahan milik suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama, sehingga manfaat harta itu dapat digunakan untuk mencari keridhaan Allah SWT. Yang menjadi masalah adalah apa latar belakang pendapat mazhab Hanafi tentang wakaf oleh orang safih? Bagaimana istinbat hukum mazhab Hanafi tentang kebolehan wakaf oleh orang safih?
Dalam menyusun skripsi ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dengan jalan melakukan penelitian terhadap sumber-sumber tertulis, maka penelitian ini bersifat kualitatif. Sumber utamanya yaitu Kitab al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah karya Abdurrrahmân al-Jazirî. Adapun sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data-data ini diperoleh dari kitab-kitab bacaan dan literatur-literatur lain yang membahas wakaf oleh orang safih. Untuk menganalisis data penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut: metode hermeneutic menjelaskan isi sebuah teks keagamaan kepada masyarakat yang hidup dalam tempat dan kurun waktu yang jauh berbeda dari si empunya, metode deskriptif analitis yaitu cara penulisan dengan mengutamakan pengamatan terhadap gejala, peristiwa dan kondisi aktual di masa sekarang, historis yaitu sebuah proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha untuk memahami kenyataan-kenyataan sejarah.
Hasil pembahasan menunjukkan bahwa menurut Mazhab Hanafi, seorang safih sah mewasiatkan 1/3 dari hartanya bila dia punya ahli waris. Dengan syarat dia berwasiat agar dipergunakan dalam berbagai hal kebaikan seperti untuk memberi nafkah fakir miskin, untuk membangun sanatorium, jembatan, masjid dan lain sebagainya. Akan halnya bila dia berwasiat untuk tempat permainan, club dan lain sebagainya, maka wasiatnya batal; tidak lulus". Pendapat mazhab Hanafi tersebut mengisyaratkan, seorang safih dibolehkan mewakafkan hartanya dengan ketentuan: pertama, benda yang hendak diwakafkan tidak boleh melebihi dari satu pertiga keseluruhan harta yang dimiliki; kedua, benda yang diwakafkan itu dimaksudkan untuk hal-hal yang sifatnya mendatangkan kebaikan yaitu tidak bertentangan dengan ketentuan al-Qur'an dan hadis. Dengan demikian, apabila orang safih mewakafkan harta diperuntukkan bagi jalan kemaksiatan maka wakafnya batal. Secara umum, istinbat hukum mazhab Hanafi yaitu (1) al-Qur'an; (2) Sunnah Rasulullah; (3) Fatwa-fatwa dari para sahabat; (4) Kias; (5) Istihsan; (6) Ijmak; (7) Urf. Sedangkan istinbat hukum secara khusus yang berkaitan dengan wakaf oleh orang safih yaitu (a) Sumber/dalil pokok adalah firman Allah Swt dalam al-Qur'an surat an-Nisa ayat 6. (b) Qiyas
Explaining spacio-cide in the Palestinian territory: Colonization, separation, and state of exception
This article argues that the Israeli colonial project is 'spacio-cidal' (as opposed to genocidal) in that it targets land for the purpose of rendering inevitable the 'voluntary' transfer of the Palestinian population primarily by targeting the space upon which the Palestinian people live. The spacio-cide is a deliberate ideology with unified rational, albeit dynamic process because it is in constant interaction with the emerging context and the actions of the Palestinian resistance. By describing and questioning different aspects of the military-judicial-civil apparatuses, this article examines how the realization of the spacio-cidal project becomes possible through a regime that deploys three principles, namely: the principle of colonization, the principle of separation, and the state of exception that mediates between these two seemingly contradictory principles. © The Author(s) 2012.Abu-Saba C, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P413; Agamben G, 1998, HOMOSACER SOVEREIGN; Ajzenstadt M, 2008, 1 ISA FORUM SOCIOLOG; Arendt Hannah, 1985, ORIGINS TOTALITARIAN; Azoulay Ariella, 2008, REGIME WHICH IS NOT; Bogdanovic B, 1993, NEW YORK REV BOOKS, VXL; Coward M, 2007, THEORY EVENT, V10, P234; Dayan H, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P281; Farsakh L, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P379; Foucault M., 1995, DISCIPLINE PUNISH BI; Funk M, 2010, VICTIMS RIGHTS ADVOC; Gordon N, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P239; Graham Stephen, 2004, CITY, V8, P165, DOI 10.1080-1360481042000242148; Haggerty K.D., 2006, NEW POLITICS SURVEIL; Hanafi Sari, 2009, CONT ARAB AFFAIRS, V2, P106; HEWITT K, 1983, ANN ASSOC AM GEOGR, V73, P257, DOI 10.1111-j.1467-8306.1983.tb01412.x; Monterescu D, 2009, PUBLIC CULTURE, V21, P403, DOI 10.1215-08992363-2008-034; Ophir Adi, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P15; Pandolfi M., 2002, ANTHR SOC, V26, P29, DOI 10.7202-000701ar; Pappe Ilan, 2006, ETHNIC CLEANSING PAL; Parizot C, 2001, THESIS EHESS PARIS; Peace Now, 2006, BREAK LAW W BANK PRI; Ran G, 2009, ISRAELI REGIME SEA R; ROY S, 1987, J PALESTINE STUD, V17, P56, DOI 10.1525-jps.1987.17.1.00p0144f; Shamir R, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P587; Weizman Eyal, 2007, HOLLOW LAND ISRAELS; Yehouda Shenhav, 2009, POWER INCLUSIVE EXCL, P337; Yiftachel O, 2006, ETHNOCRACY: LAND AND IDENTITY POLITICS IN ISRAEL-PALESTINE, P121
Hukum mengubur jenazah memakai Peti yang tidak menghadap ke kiblat perspektif madzhab syafi'i dan madzhab Hanafi
Dunia telah di gemparkan dengan kejadian hal seperti ini di awal Tahun 2020 dengan tercemarnya virus baru yakni Corona Virus Disease 2019 atau biasa disebut COVID-19. Seseorang yang terinveksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau gejala berat yang seseorang alami. Gejala utama tetap muncul seperti demam dan batuk yang mengakibatkan nyeri di bagian tenggorokan hingga sakit kepala dan nyeri pada otot.� Akibat dari itu maka seseorang yang terinveksi virus corona ini mesti ada perawatan yang khusus terhadap seseorang yang terinveksi. Bahkan jika tidak ditangangi dengan serius, bisa menyebabkan seseorang kehilangan jiwa. Dengan kehilangan jiwa, seseorang yang terinveksi virus corona ini akan dikembalikan kepada keluarga, bahkan pihak rumah sakit yang menangani pengurusan apabila seseorang yang meninggal karena terinveksi virus corona ini.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui hukum menguburkan jenazah yang tidak menghadap ke kiblat karena covid-19. (2) mengetahui Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi tentang menguburkan mayit yang tidak mengahadap ke arah kiblat karena terkena covid-19. (3) untuk mengetahui perbedaan pandangan Syafi’i dan Imam Abu Hanifah terhadap jenazah yang tidak menghadap ke arah kiblat karena covid-19.
Dalam penelitian ini menggunakan Metode Itidlal (pengambilan dalil). Istidlal secara umum berarti pengambilan dalil, baik dalil al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas.
Penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif, metode kualitatif adalah sebuah metode yang mengedepankan analisis data pustaka sehingga peneliti harus menggunakan maksimal mungkin data agar penelitian yang dihasilkan lebih berkualitas dan komprehensif.
Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: menurut madzhab Syafi’i, Syafi’i mengatakan Hukum mengubur jenazah memakai peti yang tidak menghadap ke kiblat, ada beberapa kondisi tertentu yang memperbolehkan penggunaan peti untuk menguburkan jenazah. Salah satunya, ketika kondisi tanah makam gembur atau basah. Selain itu, hal ini juga berlaku bagi jenazah yang hangus terbakar sehingga tidak memungkinkan hanya menggunakan kain kafan saja sebagai penutupnya. Atau jenazah yang meninggal tenggelah di tengah laut. Maksudnya, kondisi di mana jenazah baru ditemukan dan daratan masih terbilang jauh hingga dikhawatirkan keadaan jenazah akan berubah. Menurut madzhab Hanafi, hukum nya di perboleh, karena menghadap kiblat hukumnya sunnah tidak wajib
Ketentuan Masa ‘Iddah Wanita Hamil Yang Diceraikan Qobla Dukhul Menurut Mazhab Hanafi dan Syafi’i
This study aims to protect and prevent the author, especially Muslims in general, from falling into the practices prohibited by Islam and to be able to understand the \u27iddah regulations for divorced pregnant women to find out when the qobla dukhul occurred, which in this case the author is from the Hanafi school From the perspective of Shafiyi. The reason why the author only gives the views of the Hanafi and Shafi’i schools is that only these two schools believe that women who become pregnant through adultery can marry without waiting for the birth of a child. Her fetus. The research method used in this work is a qualitative method, which belongs to the type of library research (library research). Research analysis shows that Islam is a perfect religion and Allah has ordained everything that is good for the servant. An example in this case is how Islam strictly forbids adultery among its people, this is for the protection of Maqasid Sharia, one of which is to protect future generations. Also, the period of \u27iddah for a pregnant woman divorced from Qobla Dukhul is determined according to the Hanafi and Syafi\u27i schools, so in this case the two schools of thought differ in the meaning of Qobla Dukhul, which may have legal implications. Therefore, the two schools of thought hardly differ in their determination.Keywords: The period of \u27Iddah; Qobla Dukhul; Hanafi; Shafi\u27i AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menjaga dan mencegah diri penulis secara khusus dan kaum muslimin secara umum agar tidak terjatuh pada perbuatan yang diharamkan oleh Islam serta dapat mengetahui ketentuan ‘iddah wanita hamil yang diceraikan apabila terjadi qobla dukhul, yang dalam hal ini penulis ambil dari perspektif mazhab Hanafi dan Syafi’i. Adapun alasan penulis hanya mencukupkan perspektif mazhab Hanafi dan Syafi’i adalah karena hanya kedua mazhab inilah yang memandang bahwa wanita yang hamil karena sebab zina maka ia boleh dinikahi tanpa harus menunggu lahirnya janin yang ia kandung. Metode penelitian yang digunakan dalam skripsi ini adalah metode Kualitatif, dengan jenis penelitian kepustakaan (Library Research). Analisa penelitian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, sehingga segala hal yang merupakan hal baik bagi seoang hamba menurut Allah telah diatur dengan sedemikian rupa. Sebagai contoh dalam hal ini adalah bagaimana Islam itu melarang keras ummatnya melakukan zina, hal ini untuk menjaga maqashid syari’ah yang mana salah satunya adalah untuk menjaga keturunan. Begitu pula tentang penentuan masa ‘iddah wanita hamil yang diceraikan qobla dukhul menurut mazhab Hanafi dan Syafi’i, maka dalam hal ini kedua mazhab tersebut berbeda pandangan dalam maksud dari qobla dukhul yang dapat berimplikasi hukum, sehingga dalam penentuannya ada sedikit perbedaan pandangan antara kedua mazhab tersebut.Kata kunci: Masa ‘Iddah; Qobla Dukhul; Hanafi; Syafi’
University systems in the Arab East: Publish globally and perish locally vs publish locally and perish globally
This article attempts to demonstrate how the university system and the system of social knowledge production greatly influence elite formation in the Arab East (in Egypt, Syria, the Palestinian territory, Jordan and Lebanon) by focusing on three intertwined factors: compartmentalization of scholarly activities, the demise of the university as a public sphere and the criteria for publication that count towards promotion. Universities have often produced compartmentalized elites inside each nation-state and they don’t communicate with one another: they are either elite that publish globally and perish locally or elite that publish locally and perish globally. The article pays special attention to elite universities.</jats:p
HERMENEUTIKA AL-QURAN HASSAN HANAFI: IMPLIKASI TAFSIR TRANSFORMATIF DALAM KONTEKS KEKINIAN
The purpose of this research is to find out the urgency of al-Quran hermeneutics which was initiated by Hassan Hanafi as a solution to revitalize religious understanding in the era of globalization. In addition, to determine the ability of hermeneutics in reflecting texts on social realities that occur in the current era. Through the interpretation of liberation, Hasan Hanafi tries to position the Koran so that it can describe humans according to their human capacities in terms of relationships between fellow humans, tasks while in the world, as well as analyzing experiences within themselves that lead to the meaning of the text and even the existing reality. The interpretation of liberation initiated by Hassan Hanafi goes through three phases of analysis, namely historical criticism, eidetic criticism, and practical criticism. In essence, Hassan Hanafi seeks to understand the original meaning of a text without forgetting the past context. This research was conducted using library research methods and using descriptive analysis methods. The sources used by the author come from research journals, articles, and books related to the discussion. And from this research it can be concluded that Hassan Hanafi uses hermeneutics to reflect on a text that comes from the past so that it can be understood and applied according to the present context
Tafsir ayat-ayat kewirausahaan perspektif teologi humanisme Hassan Hanafi
Penelitian ini bermaksud menelusuri lebih mendalam penafsiran tentang ayat-ayat kewirausahaan dalam al-Qur’an perspektif teologi humanisme Hassan Hanafi. Problem akademik dalam penelitian ini adalah terjadinya gap antara penafsiran para ulama klasik dan modern dalam memahami ayat-ayat kewirausahaan tersebut. Peneltian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan teologi humanisme Hassan Hanafi. Penulis menemukan bahwa ada perbedaan yang terlihat sekali dalam menjelaskan istilah-istilah yang menjadi kata kunci ayat-ayat kewirausahaan dalam al-Qur’an. Perbedaan itu bisa dianalisa secara kritis dengan teologi humanisme Hassan Hanafi yang memiliki empat dasar pijakan dalam memahami al-Qur’an yang berhubungan dengan isu-isu sosial yaitu dialektik, fenomenologi, hermeneutik dan eklektik. Penelitian ini memberikan kontribusi baru sebagai tafsir modern berbasis teologi humanisme Hassan Hanafi, yang digunakan untuk mencari relevansi makna ayat-ayat kewirausahaan dalam al-Qur’an dalam konteks kekinian.
ABSTRACT:
This research will be explore more deeply the interpretation of entrepreneurial verses in the AlQuran. The academic problem in this research is that there is a gap between the classical interpretations and modern interpretive scholars in understanding these entrepreneurial verses. This research is qualitative and uses Hassan Hanafi's theory of theology of humanism approach. The author found that there is a very visible difference in explaining the terms that are the keywords for the entrepreneurial verses in the Qur'an. This difference can be analyzed critically with Hassan Hanafi's theology of humanism, which has four bases in understanding the Koran which deals with social issues, namely dialectics, phenomenology, hermeneutics and eclectics. This research provides a new contribution as a contemporary interpretation based on the theology of humanism, which is used to find the relevance of the meaning of entrepreneurial verses in the Qur'an in the contemporary context
- …
