1,720,986 research outputs found
Menguak Makna Tak Terkatakan:Sebuah Upaya Pemaknaan Simbol Kekuasaan dalam Iluminasi Manuskrip Jawa dalam Iluminasi Manuskrip Jawa Serta Relevansinya dengan Pendidikan Karakter
Manuskrip Jawa memuat karya-karya sastra Jawa yang merupakan warisan budaya masa lampau. Manuskrip berisi berbagai segi kehidupan pada masa karya tersebut ditulis. Selain berisi teks, manuskrip juga memuat ragam hias yang sering dikenal dengan istilah iluminasi. Berdasarkan tata ungkap gambar dalam iluminasi, didapatkan konsepsi pesan tersirat berupa simbol-simbol yang memiliki arti. Pesan-pesan tersirat tersebut merupakan ekspresi simbolik dari suatu komunitas masyarakat. Salah satu simbol yang sering ditemukan dalam manuskrip Jawa adalah simbol-simbol yang berkaitan dengan kekuasaan seperti raja, pelindung, dan Tuhan. Simbol-simbol ini tidak hanya semata-mata merupakan simbol kekuasan, tetapi juga merupakan pesan terselubung yang memuat ajaran-ajaran kepemimpinan dan kebijaksanaan. Terkait dengan hal tersebut di atas, makalah ini akan memaparkan lebih lanjut mengenai simbol-simbol kekuasaan pada manuskrip Jawa beriluminasi, koleksi perpustakaan museum Sonobudoyo Yogyakarta dan Balai Bahasa Yogyakarta. Beberapa simbol kekuasaan yang ditemukan antara lain: (1) mahkota, (2) payung emas, (3) naga, (4) istana, (5) simbol raja dan kerajaan misalnya pada lambang kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat, (6) burung merak, (7) burung garuda, (8) umbul-umbul, (9) pagar, (10) gunung, (11) berbagai persenjataan perang, (12) singgasana raja, (13) lampu kandhil, (14) bulan, (15) bintang, dan lain-lain. Simbol- simbol tersebut akan diuraikan secara kontekstual berdasarkan penafsiran teks sebagai konten suatu manuskrip. Berdasarkan pembacaan teks dan analisis, didapatkan hasil bahwa di dalam iluminasi ditemukan karakter-karakter ideal sebagai seorang pemimpin antara lain: jujur, bersifat melindungi, berwibawa, gagah berani, mulia, agung, bersifat sebagai penerang, keluhuran budi, mampu memberi pencerahan, memiliki kesucian hati, mampu mengendalikan hawa nafsu, dan lain-lain
NALAR DALAM MITOS BURUNG TITIRAN JADI ULAR
Penelitian ini bertujuan adalah untuk mengetahui makna apa atau pesan apa yang ada dalam mitos
burung titiran jadi ular yang dipahami oleh masyarakat Kaur sebagai tanda terjadinya bencana. Permasalahan
yang akan dibahas adalah bagaimana memaknai tanda-tanda yang ada dalam mitos Burung Titiran jadi Ular.
Metode yang digunakan untuk membedah tanda-tanda dalam mitos tersebut adalah semiotik. Mitos Burung
Titiran jadi Ular merupakan mitos masyarakat Kaur yang sampai sekarang masih ada dalam masyarakat.
Kaur merupakan salah satu kabupaten pemekaran dari Bengkulu Selatan, Propinsi Bengkulu. Mitos ini
menceritakan burung titiran berubah menjadi ular namun dalam suaranya tetap seperti suara burung. Hasil
yang ditemukan ikon sebagai berikut bapak Subri, burung, bunyi, ular, tuo-tuo, alim ulama, cerdik pandai,
tokoh pemuda, diskusi, naga, sungai dan danau, dan banjir. Indeks yang ditemukan adalah petikan tangan,
suara siulan, dan perubahan burung titiran. Simbolnya adalah burung titiran dimakan ular dan burung titiran
berubah jadi ular. Tanda yang diberikan burung titiran berdasarkan pemahaman masyarakat pendukungnya
adalah gejala alam untuk memberi tanda sebagai peringatan
TRADISI NANDAI: SASTRA DAERAH SERAWAI, BENGKULU
Permasalahan sastra nusantara sekarang ini adatah banyaknya sastra yang ada di masyarakat NKRI mengalami pergeseran dan bahkan punah. Tulisan ini merupakan pendahuluan dari penelusuran penulis di terhadap tradisi dan sastra lisan di masyarakat suku Serawai, Bengkulu. Suku Serawai memiliki tradisi lisan yang sangat kaya akin nilai-nilai dalam masyarakatnya. Suku Serawai hidup di daerah ietatan Provinsi Bengkulu dengan menggunakan bahasa Serawai. Nandai merupakan tradisi lisan yang menggunakan bahasa Serawai dan mampu untuk mengumpulkan masyarakat secara noiefuly aaUil waktu tertentu. Pertuniukan nandai ini memiliki keunikan baik dalam dari tukang iandai, pertunjukan dan respon masyarakat dalam melihat pertunjukan. Pertunjukan nandai tidak memerlukan persyaratan yang rumit- Alat yang dibutuhkan hanyalah sebuah gerigiak yang terbuat dari
baytbu. Dalam pemahaman isi, sekarang ini penonton harus dapat menterjemahkannya dalam bahasa Serawai generasi sekarang atau dalam bahasa Indonesia, karena bahasa yang
digunakan dalam teks cerita merupakan bahasa Serawai yang sekarang ini kata-katanya sudil tidak dikenal oleh masyarakat Serawai itu sendiri. Kisai ying diceriiakan dalam peitunjukan nandai berupa kisah seseorang yang memiliki kesahian dan dihubungkan dengan dewa-dewa.
Tulisan ini merupakan upaya untuk merevitalisasi tradisi tisan yang ada di suku Serawai, Bengkulu yang sekarang ini sudah terputus regenerasi
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
