1,720,999 research outputs found

    STUDI PERILAK-U TORSI MURNI BALOK TINGGI-T HYBRID BETON NORMAL DAN RINGAN DENGAN BUKAAN PADA BADAN

    No full text
    Dalam pembangunan gedung bertingkat beton bertulang, biasanya janngan utilitas dan pemipaan dilewatkan ruangan tak terpakai di atas langit-langit atau plafon. Oleh karena lasan untuk menghemat ruangan antar tingkat, seringkali dibutuhkan bukaan melintang pada balok untuk melewatkan jaringan utilitas dan pemipaan. Penghematan tersebut akan meminimalkan tinggi kolom, sehingga pads akhirnya akan menghasilkan penghematan biaya bahan dan konstruksi. Pada daerah rawan gempa, gedung-gedung bertingkat harus dirancang terhadap beban gempa. Salah satu pilihan untuk mereduksi pengaruh gempa terhadap gedung adalah dengan mereduksi massa gedung. Selama gaya-gaya gempa yang bekerja pada gedung adalah gaya-gaya inersia, maka pengurangan massa gedung juga akan mengurangi intensitasnya. Dengan demikian, bahan yang lebih ringan lebih disukai untuk bahan konstruksi gedung. Biasanya, lantai merupakan prioritas pertama yang bahannya diganti dari beton normal menjadi beton ringan. Dalam praktek, lantai dicor langsung di atas balok. sehingga membentuk balok-T hybrid dimana sayapnya terbuat dari beton ringan dan badannya terbuat dari beton normal. Dengan demikian penampang hybrid beton ringan dan normal hares diperhitungkan dalam perancangan balok. Penelitian ini inempelajari perilaku torsi murni balok tinggi-T hybrid beton normal dan ringan dengan bukaan pada badan. Penelitian tersebut terdiri atas pengujian secara eksperimental, studi analisis serta studi numerik. Studi eksperimental telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh lokasi dan dimensi bukaan terhadap perilaku torsi balok tinggi-T hybrid beton normal dan ringan. Sembilan spesimen balok telah diuji terhadap beban torsi murni. Hasilnya menunjukkan bahwa lokasi bukaan tidak mempengaruhi perilaku torsi murni balok, selama diameter bukaan lebih kecil atau sama dengan 0,4h dimana h adalah tinggi balok. Hasil eksperimental juga menunjukkan bahwa dimensi bukaan secara signifikan akan berpengaruh terhadap sudut kemiringan retak dan kapasitas torsi balok, apabila diameter bukaannya lebih besar dari 0,2h. Studi analisis dilakukan untuk memprediksi perilaku torsi balok tinggi-T hybrid beton normal dan ringan dengan bukaan pada badan. Studi ini terdiri dari dua bagian. Pertama, memodifikasi persamaan yang sudah ada di pustaka untuk memprediksi torsi retak dan sudut puntir balok pada saat retak pertama. Kedua, menambahkan beberapa persamaan kedalam Softened Truss Model untuk memprediksi kapasitas torsi dan sudut puntir selama riwayat pembebanan. Berdasarkan Softened Truss Model dan teori Bredt, telah diperoleh persainaan yang menggambarkan hubungan antara strut tekan beton ringan dan normal. Berdasarkan sudut kemiringan retak hasil eksperimen dan persamaan kurvatur beton ringan dan nonnal, telah pula diperoleh persamaan yang menunjukkan hubungan diagram regangan pada beton ringan dan normal. Hasil analisis menunjukkan bahwa prediksi kapasitas torsi pada saat retak pertama dan ultimate mendekati hasil eksperimen, terkecuali untuk balok dengan diameter bukaan 300 mm oleh karena prediksi sudut puntimya dua kali lebih besar dari hasil eksperimen. Dengan demikian, hasil studi analisis ini tidak direkomendasikan untuk balok dengan diameter bukaan lebih besar dari 0,4h. Studi numerik dengan menggunakan metoda elemen hingga juga dilakukan dalam penelitian ini. Dua subroutine telah dibuat dan ditambahkan pads Finite Element Analysis Program (FEAP) untuk memodelkan nonlinearitas material beton. Subroutine yang pertama adalah UCONST.F yang berfungsi sebagai interface serta pemasukan data parameter konstitutifnya. Subroutine yang kedua adalah UMODEL.F yang berfungsi sebagai model konstitutifnya. Elemen hexahedral delapan titik simpul dan elemen rangka batang ruang digunakan dalam studi ini. Smeared crack dan perfect bond diasumsikan dalam pemodelannya. Hasilnya menunjukkan bahwa prediksi kurva torsi-sudut puntirnya lebih kaku dari pada hasil eksperimen. Hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh asumsi perfect bond antara tulangan dan beton. Namun setelah memasukkan adanya Faktor Penyesuai Kekakuan (Stiffness Adjustment Factor) didalam perhitungannya, maka prediksi kurva torsi-sudut puntirnya memberikan hasil yang baik, karena mendekati dengan hasil eksperimen

    Nonlinear finite element analysis of torsional R/C hybrid deep T-beam with opening

    Full text link
    A nonlinear finite element analysis of R/C hybrid deep T-beam with web opening subjected to pure torsion is presented. Hexahedral 8-nodes and space truss element were used for modeling concrete and reinforcement. The reinforcement was assumed perfectly bonded to the corresponding nodes of the concrete element. The constitutive relations for concrete and reinforcement are based on the modified field theory and elastic perfectly plastic. The smear crack approach was adopted for modeling the crack. The torque-twist angle relationship curve based on the finite element analysis was compared to the experimental results. The comparison shows that the curve of torque-twist angle predicted by the nonlinear finite element analysis is linear before cracking and close to the experimental result. After cracking, the curve becomes nonlinear and stiffer compared to the experimental result

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    EXPERIMENTAL AND NUMERICAL STUDY RETROFITTING BEAM WITH EXPANSION IN THE SUPPORT AREA

    Full text link
    Retrofitting is one way to strengthen a building to withstand earthquakes and is often called an earthquake-resistant structure. Retrofitting beams will increase strength, stiffness, and ductility so that the structure is still stable when experiencing large earthquake forces. In addition to experimental methods, numerical methods are also used by researchers in developing a study of the behavior of building structures. Numerical methods using finite element software can examine the behavior of strength, stiffness, and ductility in beams. With this background, the author conducted a study of the retrofitting behavior of beams that were widened in the support area using numerical methods and theoretical analysis. The purpose of this study has been achieved so that a conclusion can be given that retrofitting with widening in the beam support area can increase the beam capacity quite significantly. Based on numerical research, with wide expansion reinforcement in the cross-sectional dimensions, the beam strength is increased by almost 45% and the beam stiffness is increased by 13-40% while ductility does not show a significant difference. These results are also expected to show the same behavior in experimental testing so that it will strengthen this reinforcement method. Experimental and numerical testing will be conducted in this study so that it will maintain the results and it is hoped that they can be accepted and practiced in the world of building construction

    PENGARUH EPOXY TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON DENGAN BAHAN TAMBAH KACA SEBAGAI SUBSTITUSI AGREGAT HALUS

    Full text link
    Bahan susun beton pada umumnya terdiri dari semen, air, pasir dan kerikil. Untuk meningkatkan daya lekat bahan susun beton, salah satunya dengan menambahkan epoxy dalam beton. Sedangkan untuk membuat beton kedap air, salah satunya adalah dengan menambahkan serbuk kaca yang diharapkan dapat mengisi rongga udara dalam beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya rekat epoxy terhadap kaca dengan agregat dalam campuran beton. Substitusi agregat halus dengan kaca sebesar 50 % dan penggunaan epoxy sebanyak 10% dari berat semen. Benda uji berupa silinder berukuran (150 × 300) mm. Dibuat pula benda uji berukuran (500 × 100 × 100) mm. Pengujian dilakukan pada umur beton 14 dan 28 hari. Dibuat tiga variasi, yaitu beton normal, beton dengan serbuk kaca, dan beton dengan serbuk kaca ditambah epoxy. Hasil pengujian menunjukkan bahwa substitusi serbuk kaca dapat meningkatkan sifat mekanik beton, sedangkan penambahan epoxy tidak berpengaruh secara signifikan terhadap sifat mekanik beton yang diberi serbuk kaca

    Analisis keandalan-struktur

    No full text
    vi, 99 p. : il.; 23 c

    PENGARUH PENAMBAHAN KAPUR PADAM TERHADAP KUAT TEKAN DAN MODULUS ELASTISITAS BETON GEOPOLYMER

    Full text link
    Dalam proses produksi semen menghasilkan karbon dioksida yang dapat menyebabkan pemanasan global. Ada beberapa alternatif untuk mengurangi pemanasan global, salah satunya adalah dengan mengembangkan adalah dengan mengembangkan beton geopolymer. Sebagai alternatif pengganti semen, beton jenis ini menggunakan bahan limbah residu pembakaran batu bara (fly ash) sebagai bindernya. Dalam riset ini akan dilakukan studi tentang pengaruh penambahan kapur padam terhadap sifat mekanik beton geopolymer. Dibuat benda uji silinder beton dengan diameter 150mm dan tinggi 300mm. Binder pengganti semen yang digunakan adalah fly ashkelas C dan kapur padam. Kadar fly ash:kapur dan water/binder (w/b) ratio yang digunakan adalah 25%:75% (w/b=0,58 dan 0,41), 40%:60% (w/b=0,53 dan 0,51), 50%:50% (w/b=0,48 dan 0,46), 60%:40% (w/b=0,40 dan 0,39), dan 75%:25% (w/b=0,37 dan 0,35). Perbandingan binder : agregat kasar : agregat halus yang digunakan adalah 1:1:1. Selain itu larutan alkali yang digunakan adalah larutan NaOH 14M dan larutan sodium hidroksida. Kedua larutan ini digunakan sebanyak 5% dari berat binder. Sifat karakteristik beton yang diuji adalah kuat tekan dan modulus elastisitas pada umur 7, 14, 28, dan 56 hari. Jumlah keseluruhan sampel adalah 172 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan maksimum sampel pada umur 28 hari dengan kadar fly ash:kapur, yaitu 75%:25% dan w/b ratio 0,35 mencapai 20,63 Mpa dan pada umur 56 hari mencapai 21,38 Mpa. Dari hasil uji modulus elastisitas beton variasi ini mencapai 14676.533 Mpa pada umur 28 hari dan 18535.788 MPa pada umur 56 hari. Dengan demikian proporsi yang ptimum yang diperoleh dalam penelitian adalah beton geopolymer dengan variasi 75%:25% dan w/b ratio 0,35

    PENGARUH PENAMBAHAN SERAT POLYPROPHYLENE TERHADAP SIFAT MEKANIK BETON EXPANDED POLYSTYRENE

    Full text link
    Beton expanded polystyrene (EPS) mempunyai berat jenis lebih ringan dibanding beton normal. Beton EPS banyak diminati untuk bahan dasar pembuatan elemen non struktural suatu bangunan, misalnya partisi pracetak. Penambahan serat polyprophylene pada beton diharapkan dapat memperbaiki ikatan dan daya lekat pada bahan penyusunnya, sehingga mencegah terjadinya retak dan menambah daktilitas pada komponen beton ringan. Pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas, kuat tarik belah, serta kuat lentur mengacu pada ASTM C330-09 tentang Standar Specification for Lightweight Aggregates for Structural Concrete. Benda uji berupa silinder beton dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm yang akan diuji saat usia beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Pada pengujian kuat tekan dan modulus elastisitas, serta kuat tarik belah digunakan sekurang-kurangnya 3 silinder untuk tiap variasi pengujian, sementara pengujian kuat lentur digunakan sekurang-kurangnya 2 balok dengan dimensi 200x200x700mm. Hasil penelitian menunjukkan kuat teksn rata-rata menurun berturut-turut 14%, -35%, -6%, dan -19% saat usia beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya kebutuhan air untuk melarutkan serat polyprophylene. Hasil pengujian kuat tarik belah meningkat berturut-turut -26%, -16%, 15%, dan 33% saat usia beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari. Penggunaan serat polyprophylene pada silinder beton meningkatkan kuat tarik belah beton EPS sebesar 33% saat usia beton 28 hari dibandingkan dengan beton non serat. Peningkatan nilai kuat lentur (MOR) beton serat berturut-turut sebesar 22%, 38%, -11%, dan 28% saat usia beton 7 hari, 14 hari, 21 hari, dan 28 hari terhadap beton non serat.

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore