1,720,980 research outputs found

    Pengaruh Pematahan Dormansi Terhadap Kemampuan Perkecambahan Benih Angsana (Pterocarpus Indicus Will)

    Get PDF
    INTRODUCTION. So far, Seedling production of Angsana (Pterocarpus indicus Will) is done by stem cutting. Seedling propagation by seeds is not done widely, as well as its silvicultural system is still not known yet. Seed germination percentage is affected strongly by seed quality (physic, genetic and physiology). The main problem of seed germination of Angsana seeds is seed coat dormancy; therefore it is important to study the breaking dormancy techniques of Angsana seeds. The aim of this research was to study the effects of breaking dormancy treatment to the germination capacity of Angsana seeds. MATERIAL AND METHOD. This research was done from 30 June to 28 Agust 2008 at Green House, the Laboratory of Silviculture, Faculty of Forestry, Bogor Agricultural University. The material and equipment used in this experiment consisted of Angsana seeds, hot water, H2SO4, KNO3, water from fermented bamboo shoots (Gigantochloa apus Kurz), rice hull charcoal, subsoil, germination boxes, soaking bath, watering equipment, analytical balance, stationary, ruler, calliper, and digital camera. The research procedures consisted of several steps; those were seed extraction and selection, seed water content measurement, breaking dormancy treatments, germination, maintenance, observation, and data collection and analysis. The experimental design in this research was completely randomised design which consisted of 6 soaking treatments, those were soaking in hot water for 30 minutes followed by soaking in cold water for 12 hours (B0), soaking in the fermented bamboo shoot liquid for 12 hours (B1), soaking in H2SO4 1% for 10 minutes (B2), soaking in H2SO4 1 % for 15 minutes (B3), soaking in KNO3 1 % for 12 hours (B4) and soaking in KNO3 for 24 hours (B5). Each experiment unit was replicated in three replicates. The observed parameters consisted of germination capacity, germination value, speed of germination, germination rate, germination time at 80%, high and diameter of transplanted seedlings. The collected data was analysed using F test followed by Duncan Multiple Range Test (DMRT). RESULTS AND CONCLUSSION. Angsana seeds had embryonic and seed coat dormancies. Based the results of F test and Duncan test showed that soaking in H2SO4 1% for 10 minutes and in KNO3 1 % for 24 hours could break those dormancies. It was indicated by it high germination percentage (100 %), and other values such as germination value (1,13% to 1.05% normal germinants/day2), germination speed (1, 41 %/day), germination rate (19,32 – 18,59 day), germination time at 80% (25 day), seedlings height (1,53 cm) , and diameter growth (1,06 mm to 1,1 mm) respectively. Key word: Angsana, Pterocarpus indicus Will, Dormancy

    KINERJA PENGELOLAAN HUTAN TANAMAN RAKYAT AIR TEBANGKA DITINJAU DARI ASPEK EKOLOGI, SOSIAL DAN EKONOMI

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja Hutan Tanaman Rakyat Air Tebangka ditinjau dari Aspek Ekologi, Aspek Ekonomi dan Aspek Sosial. Penelitian telah dilaksanakan di kawasan Hutan Tanaman Rakyat Air Tebangka, dimana pada kawasan ini sudah keluar izin prinsip dari Menteri Kehutanan sebagai areal cadangan Hutan Tanaman Rakyat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan November 2013. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Pendekatan kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode kuisioner, pengamatan dan pengukuran data lapangan. Pendekatan kualitatif dilakukan dengan menggunakan studi pustaka. Hasil penelitian Hutan Tanaman Rakyat Air Tebangka memiliki kondisi vegetasi yang cukup baik, dengan indikator Indeks Nilai Penting jenis tanaman yang cukup tinggi terdapat pada pohon penghasil buah dan getah. Hutan Tanaman Rakyat Air Tebangka memiliki status lahan sebagai lahan hak milik yang dimiliki oleh satu keluarga. Hutan Tanaman Rakyat Air Tebangka memberikan kontribusi pendapatan yang cukup besar bagi masyarakat (81%)

    KONTRIBUSI AGROFORESTI REPONG DAMAR TERHADAP PENDAPATAN MASYARAKAT

    Get PDF
    Sumberdaya hutan mempunyai fungsi terhadap kehidupan manusia, baik secara langsung, maupun secara tidak langsung. Salah satu cara untuk mengurangi kerusakan hutan adalah diikutsertakan masyarakat dalam memelihara hutan misalnya dengan sistem agroforestri. Sistem agroforestri selalu ada interaksi ekologi, sosial dan ekonomi. Salah satu contoh agroforestri tersebut adalah Repong Damar di Pesisir Krui Lampung yang menghasilkan produk getah damar (Shorea javanica). Penelitian dilakukan di Desa Penengahan, Kabupaten Pesisir Barat, Provinsi Lampung selama 2 bulan. Populasi penelitian adalah masyarakat (petani damar) dengan jumlah responden sebesar 35 KK. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Parameter pendapatan masyarakat yang diukur adalah pendapatan dari usaha mengelola Repong Damar (dalam Rp. per tahun), pendapatan di luar usaha mengelola Repong Damar (dalam Rp. per tahun), dan pendapatan per kapita (dalam Rp. per tahun). Petani Repong Damar di Desa Penengahan memiliki rata-rata pendapatan dari Repong Damar sebesar Rp. 16.120.000/KK/tahun, Pendapatan di luar Repong Damar berkisar antara Rp. 4.200.000/KK/tahun sampai dengan Rp. 24.000.000/KK/tahun dan rata-rata pendapatan per kapita masyarakat di Desa Penengahan adalah sebesar Rp.5.169.200/orang/tahun atau Rp. 430.800/orang/bulan. Faktor yang mempengaruhi aspek pendapatan masyarakat tersebut adalah jumlah anggota rumah tangga, luas lahan Repong Damar, dan sumber pendapatan masyarakat yang berbeda-beda

    TINGKAT PEMAHAMAN MASYARAKAT TERHADAP KEBERADAAN RTH JAKABARING SPORT CITY PALEMBANG

    Get PDF
    Ruang Terbuka Hijau (RTH) perkotaan berperanan dalam menjaga keseimbangan ekologis kota tetapi dalam aktifitas pembangunan kota RTH sering kali terjadi alih fungsi lahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap ruang terbuka hijau (RTH) Jakabring Sport City. Penelitian ini dilakukan di Stadion Jakabring Sport City Kecamatan Jakabaring Kota Palembang Provinsi Suamtera. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey dengan pendekatan kualitatif pengambilan sampel dengan menggunakan metode purposive sampling kemudian data dianalisa dengan menggunakan skala likert. Dari hasil penelitian ini diketahui bahwa masyarakat sekitar memiliki tingkat pemahaman yang tinggi terhadap Ruang terbuka hijau RTH Jakabaring Sport City ditinjau dari aspek ekologi, sosial, dan ekonomi dengan tingkat pemahaman sebesar 73,18%, menunjukkan bahwa masyarakat paham dan mengerti keberadaan kawasan RTH yang berkaitan dengan fungsi-fungsi dari aspek-aspek lingkungan, masyarakat juga paham bahwa RTH Jakabaring Sport City dapat dijadikan sebagai kegiatan pertemuan antar negara dalam kegiatan olahraga dan wisata serta kawasan ini juga dapat dijadikan tempat usaha masyarakat sebagai pedagang kecil

    PENGARUH DOSIS URINE SAPI TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT TREMBESI (Samanea saman)

    Get PDF
    The purpose of the study were: 1 ) to determine the best dose of cow urine is used as a liquid organic fertilizer in the seedling growth Trembesi ( Samanea saman ) in poly bags. This research was conducted in the area of land home page . On the road. Manuscript Km 7 , District No. Sukarami . 23 . The timing of the start in April to July 2013. Methods of observation in this study using a randomized block design (RBD) Non Factorial with cow urine fertilizer treatments consisting of D0 = 0 ml (control) , D1 = 25 ml cow urine / 500 ml of water / plant , D2 = 50 ml cow urine /500 ml of water / plant , D3 = 75 ml cow urine / 500 ml of water / plant , and D4=100 ml of cow urine / 500 ml of water / plant . The results showed that treatment of cow urine fertilizer very significant effect on plant height , diameter , number of leaves , number of branches and root length of seedlings Trembesi . Conclusions based on the results of the study that a dose of 75 ml of cow urine / 500 ml of water/plant gives best results on seedling growth Trembesi , relating to the cultivation of plants Trembesi maintained its sustainability

    PENGARUH SEBARAN VEGETASI TERHADAP SUHU DAN KELEMBABAN PADA TAMAN WISATA ALAM (TWA) PUNTI KAYU KOTA PALEMBANG

    Get PDF
    Taman Wisata (TWA) Punti Kayu mempunyai peranan yang penting dalam menjaga keseimbangan iklim Kota Palembang melalui kemampuan dalam menyerap dan menyimpan karbon. Keberadaan dari vegetasi di TWA dapat mempengaruhi kondisi iklim setempat, mampu merubah suhu dan kelembaban udara.   Tujuan penelitian ini  untuk mengetahui pengaruh sebaran vegetasi terhadap suhu dan kelembaban  yang  ada di TWA Punti  Kayu dilakukan dengan menggunakan metode survey dengan teknik purposive sampling dari luas Hutan wisata Alam Punti Kayu. Data yang diambil meliputi jenis data vegetasi, suhu udara dan kelembaban udara. selanjutnya akan dihitung nilai INP dan suhu serta kelembabannya. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa Taman Wisata Alam (TWA) memiliki 18 jenis vegetasi pohon yaitu Pinus (Pinus mercusii), Talok (Muntingia calabura), Mahoni (Swietenia macrophylla), Akasia (Acacia mangium, Jarak (Jatropha curcas), Sungkai (Peronema canescen), Kelapa (Cocos nucifera), Angsana (Pterocarpus indicus), Jambu Eropa (Syzygium sp), Ketapang (Terminalia catappa), Salam (Syzygium polyanthum), Sonokeling (Dalbergia latifolia), Pulai (Alstonia scholaris), Bengkal (Albizia procera), Balam (Palaquiun qutta), Aren (Arenga pinnata), Sengon (Albizia chinensis ) dan Bungur (Lagerstroemia speciosa),. Taman Wisata Alam Punti Kayu terdapat tiga zona yaitu Zona Pemanfaatan, Zona Perlindungan, Zona Rawa, Zona perlindungan dengan luas 4,5 ha memiliki sebaran vegetasi yang lebih beragam dibanding zona pengelolaan lainnya, ditemukan 12 jenis pohon yang di dominasi oleh bungur (Lagerstroemia Sp) dan pinus (pinus mercusii) dengan kerapan relatif tertinggi pinus mencapai kelembaban yang lebih tinggi ( 85,50% ) dengan suhu paling rendah ( 28,60OC) dibandingkan dengan Zona pengelolaan lainnya. Pada Zona pemanfaatan dengan luas 39,90 Ha memiliki sebaran vegetasi didominasi jenis pinus, mahoni dan akasia yang sudah tertata dan banyak ditemukan obyek wisata dan wahana permainan memiliki kelembaban rata-rata 74,7% dengan suhu rata-rata 30,62 OC. Sedangkan zona rawa dengan luas 5,60 Ha memiliki kelembaban paling rendah dan suhu paling tinggi dibanding dua zona lainnya (53,33% dan 33,28OC), hal ini dikarenakan pada zona rawa banyak ditemukan lahan terbuka dengan vegetasi yang sedikit dan didaminasi oleh rerumputan

    THE POTENTIAL OF TRIGONA CULTIVATION IN IMPROVING THE ECONOMY OF THE MUARO BATUAK JAYA FOREST FARMERS GROUP COMMUNITY

    Get PDF
    cultivated products, except wood originating from forests. One example is the cultivation of Trigona Itama honey bees (Heterotrigona itama). Trigona honey bees have long been cultivated by the community, both for personal consumption and as a product that can improve the community's economy. The Muaro Batuak Jaya Forest Farmers Group (KTH) was founded on March 1 2021, with the chairmanship of Mr. Megi Wijaya with 18 members and 15 active members. KTH Muaro Batuak Jaya has potential in Galo-galo Trigona itama Honey. This research aims to analyze the potential of Trigona cultivation in improving the economy of the KTH Muaro Batuak Jaya community. This research uses interview and observation methods. The galo-galo bee (Trigona Sp) is a stingless bee which is one of the NTFPs which is rich in benefits and has a high market value. The process of cultivating Galo-Galo Trigona Itama (Heterotrigona itama) Honey is carried out in various stages starting from harvesting techniques to processing by selecting good colonies, making stup using durable wood. Maintenance involves maintaining cleanliness and checking the colony once every 2 weeks, selecting the cultivation location by keeping it away from ants and smoke and close to honey-producing plants, and harvesting is done by vacuuming, the first harvest takes 6 months. After harvesting, the honey that is ready to be harvested is filtered first to be put into packaging and ready to be marketed. At KTH Muaro Batuak Jaya, 250 ml packaging is available with a selling price of IDR 100,000,- from 80 setups giving a turnover of IDR. 8,000,000,- per month

    EFFEKTIFITAS ZAT PERANGSANG TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN STEK BATANG BALIK ANGIN (Mollotus paniculatus)

    Get PDF
    Potensi sumber energi kita yang ada di negara Indonesia semakin hari semakin menipis yang disebabkan diambil secara terus menerus. Sumber energi yang berasal dari fosil ini jika kita ambil secara terus-menerus akan habis dan tidak bisa terbaharukan.  Oleh karena itu perlu adanya altarnatif sumber energi yang bisa diperbaharui, salah satunya energi yang bisa diperbaharui untuk menggantikan energi fosil, adalah biomasa kayu. Salah satu Kayu yang bisa di jadikan sumber energi yang bisa diperbaharui adalah kayu Balik Angin (Mollotus paniculatus). Balik Angin (Mollotus paniculatus) merupakan jenis pohon teduhan yang dapat tumbuh di hutan gugur dan hijau sepanjang tahun. Permasalahan yang ada pada perbanyakan tanaman secara generatif untuk tanaman Balik Angin adalah benih hanya bisa didapat pada musim-musim tertentu saja, sehingga perlu adanya dilakukan penelitian perbanyakan tanaman secara vegetatif salah satunya stek batang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat efektifitas keberhasilan pertumbuhan stek batang Balik Angin (Mollotus paniculatus) dengan menggunakan berbagai konsentrasi zat pengatur tumbuh (Rootone F). Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan melakukan berbagai eksperimen perlakuan terhadap stek batang Balik Angin yaitu tidak diberi perlakuan   S0K Tanpa perlakuan (0 ppm) S1K Perlakuan mengunakan hormon Rootone-f dengan konsentrasi  (100 ppm), S2K Perlakuan mengunakan hormon Rootone-f dengan  konsentrasi  (200 ppm). Untuk tingkat pertumbuhan rata-rata pertumbuhan. Jumlah tunas perlakuan SOA (tanpa perlakuan)  1 tunas, S1A (100 ppm) 1 tunas S2A (200 ppm) 1 tunas. Panjang tunas perlakuan S0A (tanpa perlakuan) 2,83 cm, S1A (100 ppm) 1,72 cm, S2A(200 ppm) 0,23 cm. Jumlah jumlah perlakuan S0A (tanpa perlakuan) 2 helai,S1A (100 ppm) 1 helai, S2A (200 ppm) 1 helai. Presentase hidup perlakuan S0A ( tanpa perlakuan) 11,1 %, S1A (100 ppm) 25,5 % S2A (200 ppm) 4,44 %, panjang akar  perlakuan S0A (tanpa perlakuan  )0,421 cm, S1A (100ppm) 1,07 cm, S2A (200 ppm) 0,18 cm

    Memotivasi Masyarakat untuk Menanam Pohon dalam Mendukung Terbentuknya Kota Hijau di Kelurahan Sukamulya Kecamatan Sematang Borang Kota Palembang

    Get PDF
    Peningkatan laju pembangunan kota dan peningkatan juumlah penduduk menyebabkan berbagai aktifitas perkotaan juga meningkat seperti aktifitas pabrik dan kendaraan bermotor yang mengeluarkan gas CO2 yang merupakan salah satu gas rumah kaca penyumbang terbesar peningkatan pemanasan global. Untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satu diantaranya adalah penanaman pohon sebagai RTH kota baik RTH publik maupun RTH private.  Pengembangan RTH akan mendukung program pembangunan kota hijau.  Maka diperlukan penyuluhan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan hutan dalam mengurangi polusi udara kota sehingga akan tumbuh minar masyarakat untuk menanam pohon di sekitar rumah atau lingkungan mereka

    Perhitungan Simpanan Karbon Atas Permukaan di Hutan Lindung KPHP Meranti untuk Mendukung Program Redd+

    Get PDF
    The Red River Protected Forest is close residential areas, resulting in intensive interactions between communities and protected forest. Directed on the management, extracting forest products not wood and services environment. One management services environments that are going to a business and can be administered in the forest are participating in the scheme incentives services mechanism store and carbon spare. When management will follow the incentives stock and absorb carbon REDD+, so then calculation carbon stock early to important and necessary. This study aims to calculate the amount of savings mobilized carbon the upper surface of the in a protected forest the red river KPHP Meranti. The value of the amount of savings mobilized carbon the above ground of them in the long term, can be used as a baseline to participate in the program REDD+. The data stands in the form of a stake through the stake, with a pole and trees in every type veils and the diameters of tree height measurement (DBH) taken from secondary data the results of previous studies that will be used as a means of calculation stands biomass. The result of this research is saving through the largest carbon in the field were in the protected land cover of secondary 259.3474 Ton/C, second largest carbon savings are covered land shrub with the saving of carbon stock 21.8023 T/c and the smallest carbon stock is in plantations by land cover the carbon stock of 6.2881 Ton/C.The Red River Protected Forest is close residential areas, resulting in intensive interactions between communities and protected forest. Directed on the management, extracting forest products not wood and services environment. One management services environments that are going to a business and can be administered in the forest are participating in the scheme incentives services mechanism store and carbon spare. When management will follow the incentives stock and absorb carbon REDD+, so then calculation carbon stock early to important and necessary. This study aims to calculate the amount of savings mobilized carbon the upper surface of the in a protected forest the red river KPHP Meranti. The value of the amount of savings mobilized carbon the above ground of them in the long term, can be used as a baseline to participate in the program REDD+. The data stands in the form of a stake through the stake, with a pole and trees in every type veils and the diameters of tree height measurement (DBH) taken from secondary data the results of previous studies that will be used as a means of calculation stands biomass. The result of this research is saving through the largest carbon in the field were in the protected land cover of secondary 259.3474 Ton/C, second largest carbon savings are covered land shrub with the saving of carbon stock 21.8023 T/c and the smallest carbon stock is in plantations by land cover the carbon stock of 6.2881 Ton/C
    corecore