197,517 research outputs found
Alat pemisah kotoran lada kering menggunakan variasi kecepatan udara
Penelitian ini tentang pemisahan lada kering dengan kotoran lada yang berupa serbuk-serbuk lada, kadar biji yang kosong, kadar benda asing ataupun debu-debu serta material lainnya yang lebih ringan dari lada. Pengujian menggunakan blower dengan dimensi alat 120 cm x 55 cm x 55 cm dengan menggunakan 3 variasi kecepatan udara konstan yang berasal dari blower yaitu 3,51 m/s, 3,78 m/s dan 3, 98 m/s yang didapat dari pengukuran langsung menggunakan anemometer.Bahan penelitian menggunakan lada putih bersih sebanyak 5000 gram yang dicampur dengan kotoran lada sebanyak 100 gram dengan menggunakan metode hembusan angin dari blower sehingga lada jatuh dan kotoran ladaakan melayang jauh atau terbuang. Sistem ini dilakukan seperti halnya cara manual, yaitu dengan meletakkan lada yang belum bersih ke dalam wadah saringan kemudian digerakkan dengan kedua tangan mengikuti ayunan arah naik turun dan kiri kanan secara berulang, sehingga kotoran lada terpisah dari lada. Pengujian ini dilakukan di Desa Belilik Kecamatan Namang, masing-masing 3 kali uji untuk setiap kecepatan udara. Penelitian dengan kecepatan udara 3,98 m/s mampu memisahkan kotoran lada paling banyak yaitu sebesar92,33gram dan memiliki paling banyaklada yang ikut terbawa bersama kotoran lada sebesar 6,33 gram. Dari hasil pengujian ini didapatkan kapasitasinput lada sebanyak 221,73 kg/jam
Increased spontaneous CCL2 (MCP-1) and CCL5 (RANTES) secretion in vitro in LADA compared to type 1 diabetes and type 2 diabetes: Action LADA 14.
AIMS: Immune-mediated type 1 diabetes (T1D) in adulthood and latent autoimmune diabetes in adults (LADA) share similar pathological mechanisms but differ clinically in disease progression. The aim of this study was to acquire insights into spontaneous and stimulated chemokine secretion of immune cells in different diabetes types. MATERIALS AND METHODS: We investigated in vitro spontaneous, mitogen (PI) and antigen (HSP60, p277, pGAD, pIA2) stimulated chemokine secretion of leucocytes from patients with T1D (n=32), LADA (n=22), type 2 diabetes (T2D) (n=49), and glucose-tolerant individuals (n=13). Chemokine concentration in supernatants was measured for CCL2 (MCP-1), CXCL10 (IP10) and CCL5 (RANTES) using a multiplex bead array assay. RESULTS: Spontaneous secretion of CCL2 and CCL5 were higher in LADA compared to T1D and T2D (all p<0.05) while CXCL10 was similar in the groups. Mitogen stimulated secretion of CCL2 in LADA was lower compared to T1D and T2D (all p<0.05) while CXCL10 and CCL5 were similar in all groups. Upon stimulation with pIA2 the secretion of CCL2 in LADA was lower compared to T2D (p<0.05). Spontaneous CXCL10 secretion in LADA was positively associated with BMI (r2 =0.35; p=0.0035) and C-peptide (r2 =0.30; p=0.009). CONCLUSIONS: In conclusion, chemokine secretion is altered between different diabetes types. Increased spontaneous secretion of CCL2 and CCL5 and decreased secretion of CCL2, upon stimulation with PI and pIA2, in LADA compared to T1D and T2D could reflect altered immune responsiveness in LADA patients in association with their slower clinical progression compared to insulin dependence. This article is protected by copyright. All rights reserved
Pengaruh Salinitas Terhadap Pertumbuhan Tanaman Lada
Untuk mengetahui pengaruh salinitas pada tanaman lada telah dilakukan percobaan di kamar kaca Sub Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Natar pada bulan Agustus 1991 sampai dengan bulan November 1991. Perlakuan yang diuji adalah empat tingkat salinitas, yaitu a) 1.00 ds/m + 0.06 ds/m (kontrol); b) 3.50 ds/m + 0.16 ds/m; c) 6.00 ds/m + 0.27 ds/m; dan d) 8.50 ds/m + 0.38 ds/m terhadap pertumbuhan 3 varietas lada masing-masing Belatung, Lampung Daun Lebar (LDL), dan Jambi. Percobaan disusun secara factorial menggunakan rancanngan acak kelompok, 3 ulangan dan 6 tanaman tiap perlakuan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa salinitas mulai berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman lada pada taraf 6.00 ds/m + 0.27 ds/m. dari tiga varietas yang diuji LDL dan Jambi memperlihatkan sifat-sifat toleran yang paling tinggi
Interaksi Meloidogyne Incognita dan Fusarium Solani pada Penyakit Kuning Lada
Pepper yellowing disease is one of the most important disease of pepper causing the decrease of pepper production. This research was conducted in the screen house and laboratory to determine the major causal agent of leaf yellowing disease of pepper. Meloidogyne incognita and Fusarium solani were isolated from pepper plantation in West Kalimantan. Pepper seedlings Natar 1 cultivars were planted in sterilized soil collected from pepper plantation in Bengkayang, West Kalimantan. Five months-old seedling were inoculated with M. incognita (1000 larvae of 2nd stadium/plant) and F. solani (50 ml of spore suspension with spore density of 106 spore/ml) in several combinations of time inoculation, i.e., F. solani and then M. incognita, M. incognita and then F. solani, M. incognita together with F. solani, M. incognita only, and F. solani only. The parameters observed were the development of leaf yellowing disease every weeks for five months. The number of gall, and population M. incognita were observed at the end of the observation. The result showed that when M. incognita was inoculated to the roots followed by F. solani, the disease severity and the percentage of plant diseases were higher than those which were infected with F. solani or M. incognita alone. The higher population densities of M. incognita and a number of root gall, had observed on plants inoculated by M. incognita combined with F. solani than plants inoculated by M. incognita and F. solani alone. Interaction between M. incognita and F. solani as caused of leaf yellowing disease of pepper was synergistic reaction. IntisariPenyakit kuning lada merupakan salah satu penyakit penting pada lada yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi lada di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Meloidogyne incognita dan Fusarium solani sebagai penyebab penyakit kuning lada. Penelitian yang dilakukan rumah kasa dan laboratorium. Meloidogyne incognita dan Fusarium solani diisolasi dari pertanaman lada di Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan bibit lada kultivar Natar 1 berumur 5 bulan, dan diinokulasi dengan M. incognita sebanyak 1000 larva stadium 2 dan 50 ml suspensi mikrokonidium F. solani dengan kerapatan 106/ml. Perkembangan gejala penyakit diamati setiap minggu selama 5 bulan, dan pada akhir pengamatan dilakukan penghitungan jumlah puru dan populasi M. incognita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila M. incognita menginfeksi akar dan selanjutnya diikuti dengan infeksi oleh F. solani, tingkat keparahan penyakit dan persentase tanaman sakit lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi oleh F. solani atau M. incognita secara terpisah. Populasi M. incognita dan jumlah puru akar pada tanaman yang diinokulasi dengan M. incognita bersama-sama dengan F. solani lebih tinggi dibandingkan pada tanaman yang diinokulasi dengan M. incognita atau F. solani secara terpisah. Interaksi antara M. incognita dan F. solani dalam menyebabkan penyakit kuning lada adalah bersifat sinergis
Façana de l'església de la Guàrdia Lada
Església de la Guàrdia Lada, poble del municipi de Montoliu de Segarra, situat a l'E del cap del municipi, al peu d'un turó (780 m alt) coronat per les ruïnes de l'antic castell de la Guàrdia Lada, esmentat el 1075, que pertanyia a la línia troncal dels Cervera
Creu i vista de la Guàrdia Lada
Vista de la Guàrdia Lada, poble del municipi de Montoliu de Segarra, situat a l'E del cap del municipi, al peu d'un turó (780 m alt) coronat per les ruïnes de l'antic castell de la Guàrdia Lada, esmentat el 1075, que pertanyia a la línia troncal dels Cervera
UNGKAPAN LADA DALAM HIKAYAT BANJAR SEBUAH ANALISIS SEMIOTIK
Lada merupakan tanaman yang berpengaruh dalam perkembangan sejarah kebudayaan masyarakat Banjar di Kalimantan bagian selatan. Tanaman ini disebut-sebut dalam Hikayat Banjar sebagai tanaman yang diwasiatkan oleh raja-raja yang memerintah pada periode pra Kesultanan Banjar. Telaah ini mengusung permasalahan makna dan proses simbolis lada dalam Hikayat Banjar. Tujuannya untuk memahami makna lada dalam kebudayaan masyarakat Banjar. Melalui analisis semiotika dan interpretasi proses simbolis telah diperoleh simpulan bahwa makna lada telah berkembang dari tanaman botanis menjadi tanaman bermakna ekonomis dan politis. Dapat disimpulkan pula bahwa ungkapan lada dalam Hikayat Banjar merujuk pada sejarah penanaman lada di Kesultanan Banjar pada pertengahan abad ke-18 M. Pada periode tersebut telah terjadi persaingan dagang yang berujung konflik fisik di lingkungan internal kesultanan yang melibatkan pihak luar. Peristiwa ini telah menginspirasi penulis hikayat untuk menciptakan lada sebagai simbol budaya. Tujuannya untuk mengingatkan generasi penerus tentang dampak kapitalisme terhadap keberlanjutan kebudayaan Banjar
Interaksi Meloidogyne incognita dan Fusarium solani pada Penyakit Kuning Lada
Pepper yellowing disease is one of the most important disease of pepper causing the decrease of pepper production. This research was conducted in the screen house and laboratory to determine the major causal agent of leaf yellowing disease of pepper. Meloidogyne incognita and Fusarium solani were isolated from pepper plantation in West Kalimantan. Pepper seedlings Natar 1 cultivars were planted in sterilized soil collected from pepper plantation in Bengkayang, West Kalimantan. Five months-old seedling were inoculated with M. incognita (1000 larvae of 2nd stadium/plant) and F. solani (50 ml of spore suspension with spore density of 106 spore/ml) in several combinations of time inoculation, i.e., F. solani and then M. incognita, M. incognita and then F. solani, M. incognita together with F. solani, M. incognita only, and F. solani only. The parameters observed were the development of leaf yellowing disease every weeks for five months. The number of gall, and population M. incognita were observed at the end of the observation. The result showed that when M. incognita was inoculated to the roots followed by F. solani, the disease severity and the percentage of plant diseases were higher than those which were infected with F. solani or M. incognita alone. The higher population densities of M. incognita and a number of root gall, had observed on plants inoculated by M. incognita combined with F. solani than plants inoculated by M. incognita and F. solani alone. Interaction between M. incognita and F. solani as caused of leaf yellowing disease of pepper was synergistic reaction. IntisariPenyakit kuning lada merupakan salah satu penyakit penting pada lada yang mengakibatkan terjadinya penurunan produksi lada di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran Meloidogyne incognita dan Fusarium solani sebagai penyebab penyakit kuning lada. Penelitian yang dilakukan rumah kasa dan laboratorium. Meloidogyne incognita dan Fusarium solani diisolasi dari pertanaman lada di Kalimantan Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan bibit lada kultivar Natar 1 berumur 5 bulan, dan diinokulasi dengan M. incognita sebanyak 1000 larva stadium 2 dan 50 ml suspensi mikrokonidium F. solani dengan kerapatan 106/ml. Perkembangan gejala penyakit diamati setiap minggu selama 5 bulan, dan pada akhir pengamatan dilakukan penghitungan jumlah puru dan populasi M. incognita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa apabila M. incognita menginfeksi akar dan selanjutnya diikuti dengan infeksi oleh F. solani, tingkat keparahan penyakit dan persentase tanaman sakit lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi oleh F. solani atau M. incognita secara terpisah. Populasi M. incognita dan jumlah puru akar pada tanaman yang diinokulasi dengan M. incognita bersama-sama dengan F. solani lebih tinggi dibandingkan pada tanaman yang diinokulasi dengan M. incognita atau F. solani secara terpisah. Interaksi antara M. incognita dan F. solani dalam menyebabkan penyakit kuning lada adalah bersifat sinergis.</jats:p
2MASS wide field extinction maps. I. The pipe nebula
Aims. We present a 8 degrees x 6 degrees, high resolution extinction map of the Pipe nebula using 4.5 million stars from the Two Micron All Sky Survey (2MASS) point source catalog. Methods. The use of NICER (Lombardi & Alves 2001, A& A, 377, 1023), a robust and optimal technique to map the dust column density, allows us to detect a A(V)= 0.5 mag extinction at a 3-sigma level with a 1 arcmin resolution. Results. (i) We find for the Pipe nebula a normal reddening law, E(J-H)= (1.85 +/- 0.15)E(H-K). (ii) We measure the cloud distance using Hipparchos and Tycho parallaxes, and obtain 130(-58)(+24) pc. This, together with the total estimated mass, 10(4) M-circle dot, makes the Pipe the closest massive cloud complex to Earth. (iii) We compare the NICER extinction map to the NANTEN (CO)-C-12 observations and derive with unprecedented accuracy the relationship between the near-infrared extinction and the (CO)-C-12 column density and hence (indirectly) the (CO)-C-12 X-factor, that we estimate to be 2.91 x 10(20) cm(-2) K-1 km(-1) s in the range AV. [0.9, 5.4] mag. (iv) We identify approximately 1500 OH/IR stars located within the Galactic bulge in the direction of the Pipe field. This represents a significant increase of the known numbers of such stars in the Galaxy. Conclusions. Our analysis confirms the power and simplicity of the color excess technique to study molecular clouds. The comparison with the NANTEN 12CO data corroborates the insensitivity of CO observations to low column densities (up to approximately 2 mag in AV), and shows also an irreducible uncertainty in the dust-CO correlation of about 1 mag of visual extinction
Perbedaan Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Lada Hitam (Piper Nigrum L.) dengan Ekstrak Etanol Lada Putih (Piper Nigrum L.) terhadap Streptococcus Mutans secara In Vitro
Lada putih (Piper nigrum L.) mengandung fenol dan alkaloid lebih banyak daripada lada hitam (Piper nigrum L.). Streptococcus mutans merupakan bakteri rongga mulut yang menghasilkan zat asam dan menyebabkan karies gigi. Tujuan: untuk mengetahui perbedaan efek antibakteri ekstrak etanol lada hitam dan lada putih terhadap Streptococcus mutans secara in vitro. Metode: eksperimental laboratorik dengan metode difusi agar sumuran untuk mendapatkan zona hambat. Konsentrasi ekstrak etanol lada hitam dan lada putih yang digunakan adalah 0%, 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100%. Hasil: zona hambat pada lada hitam terbentuk pada konsentrasi 100%, zona hambat pada lada putih terbentuk pada konsentrasi 12,5%, 25%, 50%, dan 100%. Analisis data One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan signifikan pada perubahan konsentrasi ekstrak etanol lada hitam dan lada putih terhadap zona hambat Streptococcus mutans (p<0,05). Uji korelasi Pearson menunjukkan hubungan kuat dan berbanding lurus antara konsentrasi ekstrak etanol lada hitam (0,882) dan lada putih (0,812) dengan zona hambat Streptococcus mutans. Hasil uji regresi efek ekstrak etanol lada hitam 77,8% (R2=0,778) dan ekstrak etanol lada putih 65,9% (R2=0,659). Uji post hoc Tukey menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara ekstrak etanol lada hitam konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, 100% dengan ekstrak etanol lada putih konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, 100% terhadap zona hambat Streptococcus mutans. Kesimpulan: terdapat perbedaan efek antibakteri antara ekstrak etanol lada hitam dengan ekstrak etanol Lada putih terhadap zona hambat Streptococcus mutans secara in vitro.
Kata Kunci : Streptococcus Mutans, Lada Hitam, Lada Putih, Zona Hamba
- …
