1,722,397 research outputs found

    Kearifan lokal dalam pengelolaan Sumber SDA : Kekayaan Nagari Menatap Masa Depan

    No full text
    xi,332 hal.;ill.;24 cm

    Kearifan Lokal Dalam Pengelolaan SDA:Kekayaan Nagari Menatap Masa Depan

    No full text
    xi, 332 hal; 18 c

    Kearifan lokal dalam Pengelolaan SDA

    No full text
    xi.332 ha.;ill.;21 c

    Gambaran Kepuasan Kerja Advokat yang Bekerja di LBH dan yang Tidak Bekerja di LBH

    No full text
    Law is a substantial aspect of  social life which is able to protect the duty and rights of human that emerges sense of justice and peace.One of the law officers is a lawyer. A lawyer is one who can give legal service to people in need of it commercially as well as free of charge. Lawyers who work for Law Support Institutions (Lembaga Bantuan Hukum / LBH) are those who give free of charged legal service, while those who work for commercial  law firms charge their services.Psychological aspect measured in this observation is the work satisfaction of lawyers who work for LBH and who do not. The subjects of the observation are four, divided into two parts: two from those who work for LBH and two others work for non-LBH firms. The interviews to the four subjects started in September 10th,2010 and ended in March 15th, 2011. The result of the observation shows  that both pairs of lawyers have their satisfaction and justice or balance between what they give (input) and what they get from their work (outcome). They enjoy working either for LBH or present non-LBH firms(comparison person)

    Perancangan Ulang Identitas Visual Lbh Elang Maut Indonesia Melalui Logo

    No full text
    Lembaga bantuan hukum atau LBH adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk melakukan bantuan hukum, sebagaimana terkandung dalam pasal 1 angka 3 UU 16/2011. LBH Elang Maut Indonesia adalah lembaga bantuan hukumyang didirikan di tahun 2020, bertujuan untuk memberi bantuan hukum bagi orang tidak mampu, serta mengedukasi masyarakat secara gratis tentang dunia hukum. Hasil data menunjukkan bahwa LBH memiliki suatu brand value pada identitas terdahulu, yaitu berupa maskot hewan elang sebagai representasi visual yang mewakili karateristik LBH di mata masyarakat. Namun dengan hal itu saja, identitas tersebut tidak mampu menjelaskan siapa LBH, hal apa yang LBH kerjakan, dan bagaimana LBH bekerja. Maka dengan permasalahan tersebut, solusi yang diberikan adalah dengan merancang ulang identitas visual yang sesuai dengan visi-misi, tujuan, dan karateristik LBH, beserta data dari hasil analisis SWOT, melalui media utama berupa buku panduan logo, dan media pendukung berupa sejumlah media promosi, stationeri, atribut pekerja, dan souvernir, dengan tujuan untuk mengkomunikasikan perihal identitas visual LBH yang baru, serta diharapkan dapat memperkuat identitas visual LBH, sehingga LBH dapat menjangkau masyarakat lebih luas yang membutuhkan bantuan hukum dan edukasi hukum

    PELAKSANAAN PEMBERIAN BANTUAN HUKUM OLEH LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) BAGI ANAK YANG BERKONFLIK DENGAN HUKUM (Studi di LBH Padang)

    No full text
    ABSTRAK Anak yang berkonflik dengan hukum menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Pasal 1 ayat (3) mengatakan, anak yang berkonflik dengan hukum yang selanjutnya disebut anak yang berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana. Anak yang berkonflik dengan hukum berhak mendapatkan bantuan hukum. Bantuan hukum menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum merupakan jasa hukum yang diberikan oleh pemberi bantuan hukum secara cuma-cuma kepada penerima bantuan hukum. Pemberi bantuan hukum adalah Lembaga Bantuan Hukum (LBH) atau organisasi kemasyarakatan yang memberi layanan bantuan berdasarkan Undang-Undang tentang Bantuan Hukum. Berdasarkan uraian tersebut, rumusan masalah yang hendak dibahas adalah 1. Bagaimanakah pelaksanaan pemberian bantuan hukum oleh Lembaga Bantuan Hukum kepada anak yang berkonflik dengan hukum? 2. Kendala apa sajakah yang dihadapi oleh Lembaga Bantuan Hukum dalam pemberian bantuan hukum terhadap anak yang berkonflik dengan hukum? 3. Bagaimana upaya yang dilakukan oleh Lembaga Bantuan Hukum dalam mengatasi kendala yang dihadapi? Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis sosiologis yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LBH berperan dalam memberikan bantuan hukum terhadap anak yang berkonflik dengan hukum. Bantuan hukum yang diberikan oleh LBH terhadap anak yang berkonflik dengan hukum berupa bantuan hukum secara litigasi dan beberapa kasus yang didampingi secara diversi. Pemberian bantuan hukum dilakukan dengan beberapa proses mulai dari pengajuan permohonan oleh orang tua si anak ke LBH, dan ditindaklanjuti dengan pendampingan pada proses penyidikan sampai ke sidang pengadilan. Dalam pemberian bantuan hukum LBH mengalami kendala seperti sulitnya mengupayakan proses diversi karena adanya penolakan dari pihak korban, ukuran keadilan yang berbeda-beda, serta kurangnya jumlah advokat yang dimiliki. Adapun upaya-upaya yang dilakukan oleh LBH dalam mengatasi kendala-kendala tersebut berupa LBH melakukan pendekatan kepada korban dan keluaganya, LBH akan memperhatikan keinginan dari korban dan keluarganya, LBH memilih kasus yang akan didamping mengingat jumlah advokat yang terbatas

    Zebrafish Lbh-like Is Required for Otx2-mediated Photoreceptor Differentiation

    No full text
    The homeobox transcription factor orthodenticle homolog 2 (otx2) is supposed as an organizer that orchestrates a transcription factor network during photoreceptor development. However, its regulation in the process remains unclear. In this study, we have identified a zebrafish limb bud and heart-like gene (lbh-like), which is expressed initially at 30 hours post fertilization (hpf) in the developing brain and eyes. Lbh-like knockdown by morpholinos specifically inhibits expression of multiple photoreceptor-specific genes, such as opsins, gnat1, gnat2 and irbp. Interestingly, otx2 expression in the morphants is not significantly reduced until 32 hpf when lbh-like begins to express, but its expression level in 72 hpf morphants is higher than that in wild type embryos. Co-injection of otx2 and its downstream target neuroD mRNAs can rescue the faults in eyes of Lbh-like morphants. Combined with the results of promoter-reporter assay, we suggest that lbh-like is a new regulator of photoreceptor differentiation directly through affecting otx2 expression in zebrafish. Furthermore, knockdown of lbh-like increases the activity of Notch pathway and perturbs the balance among proliferation, differentiation and survival of photoreceptor precursors.</p

    RASIONALITAS DALAM MENENTUKAN PILIHAN SEBAGAI ANGGOTA LBH JAKARTA

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data mengenai rasionalitas dalam menentukan pilihan menjadi anggota LBH Jakarta.Pemahaman makna, faktor pendorong, dan tindakan secara rasional sebagai dasar tindakan individu dalam menentukan pilihan dan mengambil keputusan sebagai anggota LBH Jakarta. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dan menggunakan metode deskriptif.Untuk mendapatkan data, dilakukan melalui metode wawancara, dokumentasi, dan pengamatan secara langsung.Subyek penelitian terdiri dari dua alumni LBH Jakarta dan tiga anggota LBH Jakarta sebagai Asisten Pengacara Publik dan 1 anggota sebagai Pengacara Publik. Hasil penelitian menunjukan bahwa rasionalitas seseorang dalam memilih menjadi anggota disebabkan adanya rasionalitas instrumental, karena tindakan yang dilakukan telah memperhitungkan efektivitas dan efisiensi untuk meraih masing-masing tujuannya.seseorang akan mendapatkan pengalaman bekerja minimal satu tahun sehingga memudahkan dalam mencari pekerjaan khususnya di bidang advokat karena anggota LBH Jakarta terbiasa kerja bersih tanpa berorientasi pada uang. Selanjutnya terdapat rasionalitas nilai dimana adanya latar belakang yang mengutamakan tujuannya berdasarkan hubungan nilai yang absolut juga nilai akhir. Mahasiswa merasakan adanya nilai sosial dimana anggota LBH Jakarta dapat membantu mereka yang buta dan lemah hukum serta dapat menjadi aktor perubahan dalam ketidakadilan hukum

    KLASIFIKASI ARSIP LEMBAGA BANTUAN HUKUM (LBH) SURABAYA

    No full text
    Pola klasifikasi arsip dibuat untuk dijadikan sebagai pedoman dalam pengelolaan arsip yang dimiliki suatu organisasi, sehingga dapat mengelompokkan satu berkas dengan subyek yang sama, untuk mengatur arsip secara logis dan sistematis, dan menciptakan proses temu kembali arsip secara efektif dan efisien. Tujuan dari pembuatan Produk Tugas Akhir berupa klasifikasi arsip ini adalah karena belum adanya pola klasifikasi arsip yang digunakan sebagai pedoman dalam pengelolaan arsip pada Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya. Metode pembuatan produk ini meliputi observasi dan pengamatan langsung pada lokasi penyimpanan arsip LBH Surabaya, dokumentasi, dan wawancara langsung terkait pengambilan data yang dibutuhkan. Tahap yang diperlukan antara lain pengumpulan sebanyak kurang lebih 400 surat yang tercipta dalam kurun waktu 5 tahun, penjabaran tugas dan fungsi masing-masing bagian pada struktur organisasi, penentuan fungsi substantif dan fasilitatif, identifikasi jenis arsip, penentuan subyek serta pembuatan kode yang digunakan dalam penyusunan pola klasifikasi. Dalam perancangannya, pola klasifikasi arsip ini berpedoman pada Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2012 Tentang Pola Klasifikasi Arsip Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Pola Klasifikasi Arsip LBH Surabaya ini menggunakan sistem subyek dan kode dengan kombinasi huruf dan angka untuk membedakan arsip yang satu dengan lainnya yang disesuaikan dengan kebutuhan organisasi. Dalam implementasinya, klasifikasi arsip ini masih memungkinkan untuk ditambah dengan subyek baru sesuai dengan perkembangan arsip yang dimiliki oleh LBH Surabaya
    corecore