682 research outputs found

    Lucretius edited by William A. Merill

    No full text
    C. L. Lucretius edited by William A. Merill. In: Journal des savants. 16ᵉ année, Mai-juin 1918. p. 159

    Lucretius edited by William A. Merill

    No full text
    C. L. Lucretius edited by William A. Merill. In: Journal des savants. 16ᵉ année, Mai-juin 1918. p. 159

    PENGARUH PEMUPUKAN NITROGEN DAN FOSFOR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI, SERTA MUTU FISIOLOGI BENIH KEDELAI (GLYCINE MAX (L) MERILL.)

    No full text
    ABSTRAKKedelai (Glycine Max (L) Merill.) komoditas pangan utama yang dikenal sebagai sumber protein nabati yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai industri pangan dan non pangan (Fitriesa,2011). Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh pemupukan nitrogen dan fosfor terhadap pertumbuhan dan produksi serta mutu fisiologi benih kedelai (Glycine Max (L) Merill.) dan untuk mengetahui apakah terdapat interaksi antara perlakuan nitogen dan fosfor terhadap pertumbuhan dan produksi serta mutu fisiologi benih kedelai (Glycine Max (L) Merill.). penelitian ini dilakukan dengan percobaan non faktorial dalam rancangan acak kelompok faktor pertama adalah dosis pupuk nitrogen yang terdiri dari kontrol, 0.25 g polibag-1, 0.38 g polibag-1, dan 0.50 g polibag-1. Faktor kedua adalah dosis pupuk fosfor yang terdiri dari kontrol, 0.38 g polibag-1, 0.50 g polibag-1, dan 0.63 g polibag-1. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dosis pupuk nitrogen sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi serta mutu fisiologi benih kedelai (Glycine Max (L) Merill.). Sedangkan dosis pupuk fosfor tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi serta mutu fisiologi benih kedelai (Glycine Max (L) Merill.). Terdapat interaksi antara dosis pupuk nitrogen dan fosfor terhadap pertumbuhan tanaman kedelai (Glycine Max (L) Merill.). Kata Kunci: Nitrogen, Fosfor, Pertumbuhan, Produksi, Fisiologi, Kedela

    KARAKTERISTIK CAMPURAN LIMBAH CAIR KALSIT DAN BIOCHAR (CLKB) SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI KEDELAI (Glycine max (L.) Merill) PADA ULTISOL

    No full text
    KARAKTERISTIK CAMPURAN LIMBAH CAIR KALSIT DAN BIOCHAR (CLKB) SERTA PENGARUHNYA TERHADAP PRODUKSI KEDELAI (Glycine max (L.) Merill) PADA ULTISO

    PENGARUH BEBERAPA VARIETAS DAN WAKTU PENGGENANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN KEDELAI (Glycine max L. Merill)

    No full text
    Kedelai (Glycine max L. Merill) merupakan salah satu tanaman polong-polongan yang dapat diolah menjadi berbagai kebutuhan. Peningkatan kebutuhan kedelai tidak diimbangi dengan peningkatan produksi kedelai nasional. Salah satu penyebab rendahnya produksi kedelai yaitu adanya cekaman genangan. Toleransi atau kemampuan tanaman untuk mempertahankan hasil optimum pada kondisi tergenang dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu di antaranya jenis tanah, varietas, fase pertumbuhan dan lamanya tergenang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan waktu penggenangan yang memberikan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai terbaik pada setiap varietas, dan juga untuk mengetahui interaksi beberapa varietas dan waktu penggenangan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max L. Merill). Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial dengan faktor pertama yaitu v1 (varietas Grobogan), v2 (varietas Anjasmoro) dan v3 (varietas NS), sedangkan faktor kedua yaitu w0 (tanpa penggenangan), w1 (waktu penggenangan 15 – 35 hst), dan w2 (waktu penggenangan 30 – 45 hst) diulang sebanyak 3 kali, sehingga terdapat 27 plot percobaan. Hasil penelitian ini yaitu menunjukan bahwa terdapat interaksi pada tinggi tanaman umur 50 hst. Hasil jumlah polong, bobot biji per tanaman dan bobot 100 biji menunjukan bahwa faktor mandiri varietas berbeda nyata. Perlakuan tanpa penggenangan (w0) memberikan hasil tinggi tanaman kedelai (Glycine max L. Merill) umur 50 hst tertinggi pada varietas Grobogan (v2) yaitu 135,97 cm

    Efektivitas Susu Kedelai Murni (Glycine max (L.) Merill) Sebagai Alternatif Bahan Remineralisasi Gigi

    No full text
    Objective: to determine the effectiveness of pure soy milk (Glycine max (L.) Merill) as an alternative tooth remineralization material. Methods: by collecting and reviewing various journals, literature reviews, and books on soy milk, calcium, remineralization, and demineralization of teeth. Literature review is done by looking for similarities, dissimilarities, providing views, comparing, and concluding from the journals obtained. Results: Remineralization can occur due to the presence of sufficient Ca2+ and PO4 3- ions so that these ions can diffuse into the tooth surface and rebuilding of soluble hydroxyapatite crystals occurs so that it can increase the hardness of the tooth surface. Conclusion: calcium and phosphorus contained in soy milk (Glycine max (L.) Merill) are effective for increasing tooth remineralization with an indicator of an increase in the surface hardness of tooth enamel

    Pemanfaatan kompos gedebok pisang untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine Max (L.) Merill) di media ultisol

    No full text
    Produktivitas kedelai mengalami penurunan karena rendahnya kesuburan tanah. Upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah dengan memanfaatkan kompos gedebok pisang agar dapat meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kompos gedebok pisang terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merill) di media ultisol. Penelitian dilakukan di kebun Percobaan dan Penelitian (KP2), Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas Bangka Belitung. Metode penelitian yang digunakan dengan Rancangan Acak Kelompok faktor tunggal dengan 6 taraf perlakuan yaitu: KO (pupuk NPK), K1 (125 g/polybag), K2 (250 g/polybag), K3 (375 g/polybag), K4 (500 g/polybag), dan K5 (625 g/polybag). Hasil penelitian ini menunjukkan penggunaan kompos gedebok pisang memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai. Pemberian kompos gedebok pisang 500 g/polybag merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai (Glycine max (L.) Merill) di media ultisol

    Respon Kerusakan dan Hasil Tanaman Kedelai Edamame (Glycine Max, L Merill) terhadap Waktu Aplikasi dan Konsentrasi Pestisida Nabati Gadung

    No full text
    Penelitian ini bertujuan (1) Untuk mengetahui waktu aplikasi pestisida nabati yang tepat dalam menurunkan kerusakan dan meningkatkan hasil kedele edamame (Glycine max, L Merill). (2) Untuk mengetahui konsentrasi pestisida nabati yang tepat dalam menurunkan kerusakan dan meningkatkan hasil kedele edamame (Glycine max, L Merill). (3) Untuk mengetahui interaksi efektifitas waktu aplikasi dan konsentrasi pestisida nabati dalam menurunkan kerusakan dan meningkatkan hasil kedele edamame (Glycine max, L Merill).Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Jember yang bertempat di Jalan. Karimata, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Dimulai pada tanggal 02 Juni 2015 sampai 11 Agustus 2015 dengan ketinggian tempat ±89 meter di atas permukaan laut (dpl). Penelitian dilakukan secara faktorial (4 x 3) dengan pola dasar Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor pertama waktu aplikasi yaitu : W1 : (7 hari ), W2 : (7, 14 hari), W3 : (7, 14, 21 hari), W4 : (7, 14, 21 dan 28 hari ) dan faktor kedua Kosentrasi pestisida nabati gadung yaitu :, K1 : 10 ml/L, K2 : 15 ml/L, K3 : 20 ml/L. Yang masing-masing perlakuan diulang 3 kali. Hasil Penelitian menunjukan bahwa perlakuan waktu aplikasi pestisida nabati gadung memberikan respon terhadap kerusakan dan hasil tanaman kedele edamame. Waktu aplikasi pestisida nabati gadung tiga kali yaitu 7, 14, dan 21 hari setelah tanama, memberikan hasil terbaik terhadap kerusakan pada variabel intensitas polong rusak yaitu 10,99 % dan pada intensitas daun terserang 31,67 %. Perlakuan konsentrasi pestisida nabati gadung memberikan respon terhadap kerusakan dengan respon terbaik pada konsentrasi pestisida nabati gadung 20 ml/ L. pada variabel prosentase polong rusak yaiu 9,88 % dan pada intensits daun terserang 30,84 %, sedangkan pada perlakuan waktu aplikasi tidak berpengaruh nyata terhadap hasil kedele edamame. Tidak terdapat interaksi waktu aplikasi dan konsentrasi pestisida nabati gadung terhadap kerusakan dan hasil tanaman kedele edamame. Kecuali pada variabel prosentase polong sehat dengan respon terbaik waktu aplikasi pestisida nabati dua kali yaitu 7, 14 hari setelah tanama dan konsentrasi pestisia nabati gadung 20 ml/ L, yaitu 88,29 %

    ANALISIS PENINGKATAN REMINERALISASI ENAMEL GIGI SETELAH DIRENDAM DALAM SUSU KEDELAI MURNI (Glycine max (L.) Merill) MENGGUNAKAN SCANNING ELECTRON MICROSCOPE (SEM)

    No full text
    Pada penelitian ini sampel dibagi menjadi dua kelompok yang masing-masing terdiri dari empat enamel gigi. Kelompok sampel yaitu kelompok kontrol (enamel gigi dietsa dan direndam dalam saliva buatan) dan kelompok perlakuan (enamel gigi dietsa dan direndam dalam susu kedelai murni). Penelitian ini dilakukan selama 14 hari, dimana kedua kelompok kontrol yang direndam dalam saliva buatan diganti setiap 24 jam sekali dan kelompok perlakuan susu kedelai murni diganti setiap 8 jam sekali. Semua sampel dianalisis mikroporositas enamelnya menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) untuk mengetahui remineralisasi enamel gigi yang terjadi. Data hasil penelitian yang diperoleh dilakukan analisis data, berdasarkan hasil uji Kolmogorov-Smirnov dan uji Levene Statistic, data terdistribusi normal dan homogen maka selanjutnya dilakukan uji Independent T-Test. Hasil analisa data menunjukkan hasil yang bermakna (p<0.05), dari hasil uji ini dapat diketahui bahwa ada perbedaan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan. Hasil data kelompok kontrol terjadi mikroporositas dengan rata-rata kedalaman 29,125 μm. Kelompok perlakuan susu kedelai memiliki rata-rata kedalaman mikroporositas sebesar 26 μm. Jika dibandingkan dengan kelompok kontrol, kelompok perlakuan memiliki kedalaman mikroporositas yang lebih kecil. Hal ini menunjukkan bahwa mineral yang masuk ke dalam mikroporositas enamel kelompok perlakuan rendaman susu kedelai murni (Glycine max (L.) Merill) lebih besar dibandingkan dengan kelompok kontrol. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah remineralisasi enamel gigi yang direndam dalam susu kedelai murni (Glycine max (L.) Merill) lebih besar daripada enamel yang tidak direndam dalam susu kedelai murni (Glycine max (L.) Merill)

    EFEKTIVITAS SUSU KEDELAI MURNI (Glycine max (L.) Merill) SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN REMINERALISASI GIGI

    No full text
    Lesi karies dan lesi non karies merupakan salah satu bentuk kerusakan pada jaringan keras gigi. Erosi gigi merupakan salah satu lesi non karies yang dapat disebabkan oleh minuman ringan (softdrink). Lesi karies dan erosi gigi terjadi karena adanya proses demineralisasi. Demineralisasi menyebabkan mineral yang terdapat pada struktur gigi larut dan jika keadaan ini terjadi secara berkelanjutan tanpa adanya proses remineralisasi akan menyebabkan mikroporositas pada permukaan gigi dan menurunnya kekerasan permukaan email gigi. Upaya untuk mencegah terjadinya kerusakan yang berlanjut pada struktur gigi dapat dilakukan dengan memberikan bahan yang berpotensi untuk membantu terjadinya proses remineralisasi gigi. Salah satu bahan yang dapat membantu terjadinya remineralisasi gigi yaitu susu kedelai (Glycine max (L.) Merill). Susu kedelai merupakan salah satu bentuk olahan dari kacang kedelai yang memiliki protein cukup tinggi dan harga relatif murah. Kandungan utama dari susu kedelai yaitu kalsium dan fosfor. Tujuan penulisan literatur riview ini adalah untuk mengetahui efektivitas susu kedelai murni (Glycine max (L.) Merill) sebagai alternatif bahan remineralisasi gigi. Metode studi dilakukan dengan cara mengumpulkan dan menelaah berbagai jurnal, literatur riview, dan buku mengenai susu kedelai, kalsium, remineralisasi, dan demineralisasi gigi. Literatur riview dilakukan dengan mencari kesamaan, ketidaksamaan, memberikan pandangan, membandingkan, dan menyimpulkan dari jurnal yang didapatkan. Remineralisasi salah satunya dapat terjadi karena adanya ion Ca2+ dan PO43- yang cukup sehingga ion ini dapat berdifusi kedalam permukaan gigi dan terjadi rebuilding kristal hidroksiapatit yang larut sehingga dapat meningkatkan kekerasan permukaan gigi. Kesimpulan dari skripsi ini yaitu kalsium dan fosfor yang terdapat pada susu kedelai (Glycine max (L.) Merill) efektif untuk meningkatkan remineralisasi gigi dengan indikator terjadinya peningkatan kekerasan permukaan email gigi
    corecore