1,722,196 research outputs found
Sebuah Karya Terakhir Kuntowijoyo: Maklumat Sastra Profetik
Di antara gagasan tentang sastra keagamaan yang paling vital di Indonesia ialah tatkala Kuntowijoyo melontarkan tentang perlunya sastra transendental pada dekade awal 1980-an. Di belahan lain, sebelumnya, kita mengenal tentang humanisme universal yang diusung oleh Chairil Anwar, eksistensialisme oleh Sitor Situmorang, marxisme dalam sastra Pramoedya Ananta Toer. Bersamaan dengan gagasan Kuntowijoyo itu, disambut dengan bersemangat oleh Abdul Hadi W.M. melalui sufisme dalam sastra Indonesia. Perlunya sastra transendental itu, bagi Kuntowijoyo, sebagai bagian dari upaya penyelamatan dari keterikatan yang wadag, daging, sehingga tercerabut keruhanian kita dari kehidupan ini. Ada dimensi yang hilang dari religi, yang tidak lain dan tidak bukan ialah dimensi religiositas, yang mengkoneksikan antara badan dengan ruh, manusia dengan Tuhannya. Akan tetapi, gagasan sastra transendental yang seakan hanya berurusan dengan “Yang jauh di Atas Sana” itu oleh Kuntowijoyo kemudian lebih di bumikan lagi dengan penjelasan perlunya sentuhan profetik di dalam ilmu sosial, di samping di dalam kesusastraan. Dengan seruan perlunya sastra profetik ini, sesungguhnya Kuntowijoyo ingin mengajak kembali ingat terhadap tugas-tugas kemanusiaan kita yang tidak sebatas di kehidupan yang terbatasi oleh dimensi ruang dan waktu ini, melainkan menyambung kepada kehidupan ruhani, kehidupan akhirat, yang hal tersebut penting selaku insan yang memiliki keimanan terhadap Tuha
KUNTOWIJOYO DAN KEBUDAYAAN PROFETIK
Kuntowijoyo as a historian, Muslim scholar, and author, is undeniable about his abilities. The most phenomenal from Kuntowijoyo's literary work, as a cultural work is his idea on prophetic literature. Prophetic literature is Kuntowijoyo's original work based on three edicts, they are: structural transendental epistemology, humanization and interrelation among awareness ended in liberation. His formulation on the three edicts of prophetic literature that made Kuntowijoyo to be an author, not only an author who created literary and cultural works as culture, but also as worship. All cultural activities are worships, because they are forms of subjecting to the Creator and faith to Allah. In Kuntowijoyo's view, in order to be in advance, Muslim community must leave the myth and ideology world toward the knowledge world, therefore, Islamic knowledge is necessary, not Islamization of knowledge
Penjelasan sejarah (Historical Explanation)
Materi buku ini bertumpu pada dua bahasan mendasar dalam ilmu sejarah, yaitu: hakikat ilmu sejarah dan cara memahami jenis-jenis penjelasan sejarah. Bagi Kuntowijoyo ilmu sejarah tidak lain merupakan serangkaian upaya untuk menafsirkan, memahami dan mengerti, karenanya ilmu sejarah merupakan ilmu yang mandiri, dalam arti memiliki filsafat ilmu tersendiri, persoalan sendiri serta pemnnjelasan sendiri. Dalam buku ini Kuntowijoyo mengajak pembaca untuk mengamati bagaimana sejarawan bekerja melalui review konkrit terhadap 60 sumber bacaan terseleksi
PARADIGMA PROFETIK KUNTOWIJOYO
Penelitian tesis ini berfokus pada paradigma profetik Kuntowijoyo. Paradigma tersebut berangkat dari pandangan Kuntowijoyo tentang kekhawatirannya terhadap ilmu-ilmu sekuler yang menghendaki adanya pemisahan antara ilmu dan agama. Hal tersebut, menurut Kuntowijoyo, tentu bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang universal. Untuk itulah Kuntowijoyo menghendaki adanya paradigma baru, yaitu Paradigma Profetik. Oleh sebab itu, penelitian tesis ini berusaha membuktikan dan menjelaskan secara detail paradigma profetik Kuntowijoyo sebagai paradigma baru. Termasuk untuk melihat bagaimana bentuk kepentingan dalam paradigma baru tersebut. Penelitian ini pun dianggap penting dilakukan untuk memberi kontribusi dalam menguraikan secara detail pergeseran paradigma, serta bentuk kepentingan paradigma profetik Kuntowijoyo.
Penelitian yang berjenis studi pustaka (library research) ini dilakukan dengan menggunakan dua kerangka teoretis, yakni teori revolusi sains Thomas S. Kuhn yang menyoroti aspek normal sains, anomali, krisis, dan paradigma baru. Sementara teori kedua ialah teori kritis Jürgen Habermas yang menyoroti tentang pertautan antara pengetahuan dan kepentingan manusia, yakni kepentingan teknik, intersubjektif, dan emansipatif. Secara garis besar, penelitian ini dilakukan dengan dua tahapan, yaitu tahap pengumpulan data dan tahap pengolahan data dengan menggunakan metode analisis data yang terdiri dari reduksi data, pengelompokan data, serta interpretasi dan pengambilan kesimpulan.
Hasil penelitian tesis ini adalah sebagai berikut: Pertama, paradigma profetik yang dikembangkan oleh Kuntowijoyo mencakup ilmu-ilmu sosial dan teologi. Sehingga paradigma profetik dapat diartikan sebagai sebuah kerangka pemikiran baru, perspektif baru, yang dapat menjadi perspektif alternatif untuk diterapkan, ketika paradigma yang sudah ada tidak lagi mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. Kedua, proses shifting paradigm dalam Paradigma Profetik Kuntowijoyo yaitu normal sains yang berarti ilmu-ilmu sekuler yang dikritik, anomali yang berarti ketidakmampuan ilmu-ilmu sekuler dalam menyediakan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tertentu, krisis yang berarti keinginan akan ilmu-ilmu sosial dan teologi yang lebih tanggap, serta munculnya tawaran-tawaran baru terhadap paradigma lama yang dianggap tidak relevan lagi, dan paradigma baru yang berarti Paradigma Profetik yang menjadi model problem solving bagi kalangan aktivis tertentu. Ketiga, bentuk kepentingan yang terdapat dalam pemikiran Kuntowijoyo adalah emansipatoris yang bersifat transendensi
Pelajaran Pertama bagi Calon Politisi
Kumpulan 15 cerita pendek (cerpen) Kuntowijoyo, salah seorang sastrawan Indonesia paling menonjol dari masa akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21. Bukan sekadar rangkuman karya, tapi sebuah antologi mahakarya, masterpieces, yang beberapa di antaranya sempat dimahkotai penghargaan sastra dari dalam dan luar negeri. Seperti yang juga bisa ditemukan dalam novel-novelnya, salah satu kekhasan sekaligus kekuatan cerpen-cerpen Kuntowijoyo terletak pada kerapnya digunakan bahasa percakapan, colloquialism, yang sekaligus menunjukkan posisi etnisitasnya sebagai orang Jawa yang tetap njawani dalam berbahasa Indonesia.Cerpen-cerpen yang pernah muncul di harian Kompas antara pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an ini merupakan karya-karya Kuntowijoyo yang abadi, yang akan selalu layak dibaca dan dinikmati sepanjang masa.xvii+150hlm.;13x19c
- …
