84 research outputs found
MODEL INTERNALISASI NILAI DZIKIR PADA IKHWAN THARIQAT TIJANIYAH :Studi pada Ikhwan Thariqat Tijaniyah di Pondok Pesantren Darussalam Jati Barang Brebes Jawa Tengah
Penelitian ini di latar belakangi oleh banyaknya bermunculan gejala kemerosotan akhlak. Kebenaran, kejujuran, keadilan, persaudaraan dan kasih sayang sudah tertutup oleh kebatilan, penipuan, penindasan dan penyelewengan. Di sana sini banyak terjadi korupsi, kolusi dan manipulasi. Gejala kemerosotan akhlak tersebut, dewasa ini bukan saja menimpa kalangan dewasa, melainkan juga telah menimpa kalangan pelajar. Orang tua, pendidik, tokoh agama dan masyarakat banyak mengeluhkan sebagian pelajar yang berperilaku nakal, keras kepala, mabuk-mabukan, tawuran, dan sebagainya. Itu semua terjadi karena mereka tidak dzikir pada Allah. Karena itu nilai dzikir perlu diinternalisasikan.
Nilai dzikir adalah suatu konsep dimana seseorang selalu dalam kondisi ingat pada Allah. Metode yang ditempuh agar orang selalu dalam keadaan dzikir dimiliki oleh banyak madzhab dalam tasawwuf, salah satunya adalah Thariqat Tijaniyah. Karena thariqat ini mengajarkan bagaimana nilai dzikir tersebut diinternalisasikan. Penelitian ini bertujuan menemukan model internalisasi nilai dzikir pada Ikhwan Thariqat Tijaniyah di Pondok Pesantren Darussalam Jati Barang Brebes.
Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan Metode deskriptif analitis. Di samping juga menggunakan strategi grounded research. Untuk menghimpun data atau keterangan, baik yang berkatagori primer maupun sekunder dilakukan dengan menggunakan: 1) Teknik Observasi, 2) Teknik Wawancara, 3) Teknik Dokumentasi, 4) Teknik Studi Pustaka, dan 5) Triangulasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses internalisasi nilai dzikir terhadap Ikhwan Tijani di Pesantren Darussalam dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut: 1) Mempersiapkan Seorang Ikhwan untuk Talqin Thariqat Tijaniyah, 2) Talqin Thariqat Tijaniyah, 3) Menjalani Kewajiban sebagai Ikhwan Tijani, 4) Tarbiyah, dan 5) Mengikuti Kegiatan (Tradisi-tradisi Tijaniyah) seperti: a) Tradisi Ritual Dzikir Wajibah, b) Tradisi : Ijtima” Hailallah”, c) Tradisi Dzikir Ikhtiyari, d) Tradisi Manaqiban, e) Tradisi Haul Akbar, f) Idul Khotmi, dan g) Tradisi Haul Syekh Ahmad al-Tijani.
This study is based on the emergence of the decline of attitude and behavior. Truth, honesty, fairness, fraternity, and loving care have been overshadowed by evil, deception, oppression and deviation. Corruption, collusion, and manipulation occur everywhere. This decline of attitude and behavior does not only occur amid adults, but also amid students. Parents, teachers, religion leaders, and the society have been quite complaining the attitude and the behavior of some students who act naughty, being stubborn, enjoy getting drunk, being rebellion, etc. These all happen because they do not Dzikr to Allah. Due to that, the values of Dzikir need to be internalized.
The values of Dzikir is a concept in which someone is always remembering Allah. Method to be taken so that someone will always remembering Allah is applied by many Madzhab in Tasawwuf, one of it is the Thariqat Tijaniyah because this thariqat teaches how to internalize the values of the Dzikir. This present study is aimed at figuring out the internalization model of the values of Dzikir in Thariqat Tijaniyah in Pondok Pesantren Darussalam, Jati Barang Brebes.
This study is a qualitative research by making use the analytical and descriptive method. Besides that, it also makes use the grounded research strategy. The primary and secondary data and information are compiled by: 1. Observation technique, 2. Interview Technique, 3. Document Analysis, 4. Literary Research, 5. Triangulation.
The findings show that the internalization process of the values of Dzikir in Pesantren Darussalam is taken in the following steps: 1. Preparing an ikhwan to do Talqin Thariqat Tijaniyah, 2. Talqin Thariqat Tijaniyah, 3. Doing an obligation as an ikhwan Tijani, 4. Tarbiyah, 5. Conducting activities (Tijaniyah traditions) such as: a. The tradition of Wajimah Dzikir Ritual, b. The Tradition of Ijtima’ Hailallah’, c. The tradition of Ikhtiyari Dzikir, d. The Tradition of Manaqiban, e. The tradition of Haul Akbar, f. Idul Khotmi, and g. The tradition of Haul Syekh Ahmad al-Tijani
Metode Tafsir Tahlili Dalam Pengembangan Tafsir Tarbawi
Al-Qur’an merupakan pedoman umat Islam yang selalu relevan sepanjang masa. Al-Qur’an berkaitan erat dengan pendidikan. Pendidikan sendiri mempunyai tempat yang strategis dalam membentuk budaya dan peradaban manusia. Nilai sastra yang tinggi di dalamnya, membuat Al-Qur’an harus dipahami dengan ilmu yang mumpuni. Metode tafsir tahlili merupakan salah satu metode tafsir yang analitis dan komprehensif. Dalam pengembangannya dengan tafsir tarbawi, seorang mufasir harus lebih bisa menangkap setiap pesan ayat yang dikandungnya dan memahami suatu pendidikan yang sedang diberikan oleh Allah kepada umat-Nya pada setiap ayat Al-Qur’an tersebut
IMPLEMENTASI PENDIDIKAN KARAKTER PEDULI SOSIAL PADA MASYARAKAT PLURALISME DI CIGUGUR KUNINGAN
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pendidikan karakter peduli sosial di masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif analitis yang mengambil setting masyarakat pluralisme di Cigugur Kuningan. Subjek penelitiannya adalah perwakilan masyarakat yang beragama Islam, Katolik, dan ADS (Agama Djawa Sunda). Pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode penanaman karakter peduli sosial di lingkungan masyarakat Cigugur Kuningan adalah melalui keteladanan dan pembiasaan. Keteladanan karakter peduli sosial melalui pemuka agama Islam, Katolik, dan ADS. Sedangkan pembiasaan karakter peduli sosial melalui kegiatan-kegiatan di masyarakat yaitu gotong royong membangun tempat ibadah dan rumah warga, pembuatan jalan dan parit, serta saling membantu saat ada warga masyarakat yang terkena musibah
ANALISIS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2016 TENTANG STANDAR PROSES PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH SERTA IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN PAI DI SEKOLAH
Learning process, as one of the core activities in education, is very prominent in realizing national education goals. However, in reality, despite the standard education process has been formulated, the learning process in Indonesia is still poorly developed. The purpose of this discussion is to analyze the regulations of the Minister of Education and Culture of the Republic of Indonesia Number 22 Year 2016 regarding process standards in Primary and Secondary Education and their implications on Islamic Religious Education (PAI) learning in schools. This study uses a qualitative approach and analytical method. Based on the results of the discussion, the primary and secondary education process standards listed in the regulation Number 22 Year 2016 are reliable and comprehensive. The learning principle with a scientific approach has implications on the wholeness of PAI learning process, as the subject is required to be understood comprehensively, not partially. To accomplish this, PAI teachers must use approaches, strategies, methods, techniques, tactics and learning models that are in harmony with the learning material that is delivered, so that an effective and efficient learning process will be achieved
The Integration of Sharī‘Ah, Ṭarīqah, and Haqīqah: A Study of Sayyid Ḥaydar Āmulī’s Thought
Muslims' understanding of Islamic teaching is diverse. Jurists, for the instance, emphasize the aspect of the outer of the Sharī‘ah while Sufis focus on the aspect of that inner. In history, the tension between them is apparently seen. The first even accuses the second group as a deviant, a heretic, and an unbeliever. Regarding this phenomenon, the study will explore underlying terms in Sufism namely Sharī‘ah, Ṭarīqah, and Ḥaqīqah and explain the relation of these terms based on the library research and descriptive analysis of the three words in the two books, i.e. Asrār al-Sharī‘ah and Jāmi‘ al-Asrār wa Manba’ al-Anwār of Sayyid Ḥaydar Āmulī. Whether the terms are self-sufficient or interdependent? This study concludes that the three terms are an integral unity that cannot be separated from one another since those three terms refer to the one essence, the one Truth. Those are Divine law brought by Prophet Muhammad.
DOI: http://dx.doi.org/10.20414/ujis.v20i2.80
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM TENTANG PARADIGMA DAN RESOLUSI MASTURBASI SEBAGAI ALTERNATIF MENGHINDARI ZINA DI KALANGAN REMAJA
Today, many teenagers think that masturbation is better than adultery. They prefer to masturbate rather than commit adultery which is considered a bigger sin. This thought seems to be a reason for teenagers to still be able to masturbate as a channel for their sexual desire. The thing that underlies this research is because this problem is a taboo issue when discussed in society, many teenagers think so, and if there is no education about masturbation, then this will be taken for granted, even though in reality it is not justified. Departing from the Malikiyyah, Syafiiyah, and Zaidiyyah schools, masturbation is absolutely forbidden for anyone and under any circumstances. However, in the Hanafi school, masturbation is still unlawful, but if a person is in a situation that allows him to commit adultery then masturbation is permissible in order to prevent him from a greater sin. The approach used in this research is a qualitative approach with a semi-structured interview method. By conducting semi-structured interviews, the information, data, and facts obtained are the true experience of the informants. That way, the information obtained will be more in-depth. The findings that have been obtained from this study are an understanding of how Islam views masturbation, how Islam views thoughts that consider masturbation to be better than adultery and what is the right solution to avoid adultery.Keywords: Islamic education, masturbation, adultery Abstrak Dewasa ini banyak remaja beranggapan bahwa masturbasi lebih baik daripada zina. Mereka lebih memilih masturbasi daripada melakukan zina yang dianggap dosa besar. Pemikiran ini rupanya menjadi alasan bagi remaja untuk tetap bisa melakukan masturbasi sebagai saluran hasrat seksualnya. Hal yang melatarbelakangi penelitian ini adalah karena masalah ini merupakan masalah yang tabu jika diperbincangkan di masyarakat, banyak remaja yang beranggapan demikian, dan jika tidak ada pendidikan tentang masturbasi maka hal ini akan dianggap biasa saja, walaupun pada kenyataannya tidak dibenarkan. Berangkat dari mazhab Malikiyyah, Syafiiyah, dan Zaidiyyah, masturbasi mutlak dilarang bagi siapa pun dan dalam keadaan apa pun. Akan tetapi, dalam mazhab Hanafi masturbasi tetap diharamkan, tetapi jika seseorang berada dalam keadaan yang memungkinkan untuk melakukan zina maka masturbasi dibolehkan untuk mencegahnya dari dosa yang lebih besar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode wawancara semi terstruktur. Dengan melakukan wawancara semi terstruktur, maka informasi, data, dan fakta yang diperoleh merupakan pengalaman sebenarnya dari para informan. Dengan begitu, informasi yang didapat akan lebih mendalam. Temuan yang diperoleh dari penelitian ini adalah pemahaman tentang bagaimana Islam memandang masturbasi, bagaimana Islam memandang pemikiran yang menganggap masturbasi lebih baik daripada zina dan apa solusi yang tepat untuk menghindari zina.Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam, Mastrubasi, ZinaÂ
PENERAPAN KARAKTER TOLERANSI BERAGAMA PADA MASYARAKAT CIGUGUR YANG PLURALISME
Abstrak: Toleransi merupakan modal utama dalam membangun harmoni antarumat beragama, terutama di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana penerapan karakter toleransi beragama dalam kehidupan masyarakat Cigugur yang pluralis. Penelitian di lakukan di Desa Cisantana dan Desa Cigugur, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi dan wawancara. Analisis data dilakukan dengan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Cigugur yang memiliki keberagaman dalam memeluk agama dapat hidup berdampingan secara damai. Adapun faktor pemersatu masyarakat Cigugur yaitu adanya saling menghargai karena memiliki ikatan darah yang kuat. Selain itu, pemimpin masing-masing agama dan aliran kepercayaan sangat berperan dalam terbentuknya toleransi beragama. Hari Raya Idul Fitri, Upacara Seren Taun, dan Perayaan Natal adalah saat-saat mereka bekerja sama tanpa mengganggu kegiatan beribadah. Kegiatan-kegiatan tersebut merupakan pembelajaran bagi para remaja dan anak-anak karena mereka adalah generasi penerus yang harus mempertahankan toleransi beragama di daerah di mana mereka dilahirkan.Kata Kunci: karakter, toleransi beragama, dan masyarakat pluralisAPPLICATION OF CHARACTER OF RELIGIOUS TOLERANCE IN PLURALIST COMMUNITIY OF CIGUGUR KUNINGAN Abstract: Tolerance is the main capital in building harmony among religious believers, especially in Indonesia. This research was conducted to find out how the application of the character of religious tolerance in the life of the pluralist Cigugur community. The research was conducted in the villages of Cisantana and Cigugur, Cigugur Subdistrict, Kuningan District, West Java. Data collection in this study uses observation and interview techniques. Data analysis was performed using qualitative descriptive analysis techniques. The results of the study show that the Cigugur people who have diversity in embracing religion can coexist peacefully. The unifying factor of the Cigugur community is mutual respect because it has strong blood ties. In addition, the leaders of each religion and the flow of beliefs play an important role in the formation of religious tolerance. Eid al-Fitr, Seren Taun Ceremony, and Christmas Celebration are times when they work together without interfering with worship activities. These activities are learning for young people and children because they are the next generation who must maintain religious tolerance in the area where they are born.Keywords: character, religious tolerance, pluralist society
PERAN KOMUNITAS AGAMA ISLAM DALAM MEMBANGUN TOLERANSI DAN MENUNTASKAN KONFLIK AGAMA DI INDONESIA
Indonesia adalah negara multikultural yang terdiri dari berbagai macam budaya, suku, ras, agama dan golongan yang beragam. Indonesia mengakui 6 agama secara sah yakni Islam, Kristen (Katolik dan Protestan), Hindu, Buddha, dan Konghuchu. Keberagaman ini tidak jarang menimbulkan konflik antar umat beragama. Komunitas agama menjadi salah satu cara untuk membangun toleransi dan menyelesaikan konflik agama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apa saja yang melatarbelakangi terjadinya konflik agama dan bagaimana peran komunitas agama dalam membantu membangun dan menyelesaikan konflik agama di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang melatarbelakangi konflik agama ini disebabkan oleh perbedaan doktrin dan sikap mental, perbedaan suku dan ras penganut agama, perbedaan tingkat kebudayaan, serta isu mayoritas dan minoritas. Peran komunitas agama yakni dengan membangun kesadaran masyarakat tentang toleransi, membuka dialog antar umat beragama, dan pembinaan sikap
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN TARGHIB WA TARHIB DALAM MATA PELAJARAN PAI DAN BUDI PEKERTI UNTUK MENINGKATKAN AKHLAK PESERTA DIDIK : Studi Quasi Eksperimen Di SD Negeri Cimahi Mandiri 5
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena pembelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolah yang cenderung monoton dan menggunakan model yang tidak berlandaskan al-Quran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran targhib wa tarhib terhadap peningkatan akhlak peserta didik pada mata pelajaran PAI dan budi pekerti di SD Negeri Cimahi Mandiri 5. Model pembelajaran targhib wa tarhib dipilih sebagai inovasi baru dalam pembelajaran PAI pada materi akhlak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi eksperimen. Adapun jenis desain eksperimen semua yang dipilih adalah Non Equivalent Control Group Design. Sampel pada penelitian ini adalah peserta didik 5B sebagai kelas eksperimen dan kelas 5 A sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan adalah tes sikap model skala likert dengan jumlah total 41 item. Sedangkan untuk analisis data meliputi analisis uji normalitas, uji homogenitas, perhitungan gain ternormalisasi, dan uji t-test berupa statistik parametrik yaitu uji paired sample test dan uji independent sample test. Hasil penelitian menunjukkan model pembelajaran targhib wa tarhib efektif digunakan dalam mata pelajaran PAI dan budi pekerti untuk meningkatkan akhlak peserta didik. Hal ini berdasarkan hasil pengolahan data dengan menggunakan uji independent sample test pada data pascates kelas eksperimen dan kelas kontrol yang menunjukkan sig. (2-tailed) sebesar 0,002 <0,05, maka terdapat perbedaan yang signifikan antara peserta yang melakukan pembelajaran dengan model targhib wa tarhib dengan peserta didik yang menggunakan model pembelajaran nontarghib wa tarhib. Selain itu nilai gain akhlak terhadap orang tua kelas eksperimen yaitu 0,411 lebih besar dibandingkan dengan nilai gain kelas kontrol yaitu 0,148.
Kata kunci: efektivitas, model targhib wna tarhib, PAI, Akhlak peserta didik
This research is motivated by the phenomenon of Islamic Religious Education learning in schools which tends to be monotonous and uses models that are not based on the Quran. The aim of this research is to determine the effectiveness of the targhib wa tarhib learning model in improving students' morals in PAI and character subjects at SD Negeri Cimahi Mandiri 5. This research uses a quantitative approach with a quasi-experimental method. The type of experimental design chosen is Non Equivalent Control Group Design. In the same research, students 5B as the experimental class and class 5A as the control class. The instrument used was a Likert scale model attitude test with a total of 41 items. Meanwhile, data analysis includes normality test analysis, homogeneity test, normalized gain calculation, and t-test in the form of parametric statistics, namely the paired sample test and the independent sample test. The results of the research show that the targhib wa tarhib learning model is effectively used in PAI and character subjects to improve students' morals. This is based on the results of data processing using an independent sample test on post-test data for the experimental class and control class which shows sig. (2-tailed) is 0.002 < 0.05, so there is a significant difference between participants who learn using the targhib wa tarhib model and students who use the non-targhib wa tarhib learning model. Apart from that, the moral gain value for parents in the experimental class is 0.411, which is greater than the gain value for the control class, namely 0.148.
Keywords: effectiveness, targhib wa tarhib model, PAI, students' moral
- …
