1,721,015 research outputs found

    Berita Penelitian Arkeologi No. 19 : Situs Dan Objek Arkeologi Di Kabupaten Aceh Tengah,Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

    Full text link
    Penelitian arkeologi di Kabupaten Aceh Tengah , Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam adalah pelaksanaan program kegiatan Balai Arkeologi Medan melalui dana tahun anggaran 2007. Kegiatan ini merupakan upaya pengenalan potensi sumberdaya arkeologi di sebagian wilayah Nanggroe Aceh Darussalam, dalam rangkaian studi pengungkapan berbagai aspek kehidupan masyarakatnya dari masa k e masa. Hasil yang diharapkan adalah peta sebaran kepurbakalaan daerah tersebut yang kelak menjadi acuan bagi penelitian selanjutnya, maupun kepentingan lain yang lebih luas. Begitu pula dengan pemahaman mengenai aspek kehidupan masyarakatnya di masa lal

    Berita Penelitian Arkeologi No.33 2018

    No full text
    Etnis Batak pada umumnya memiliki tradisi megalitik pada tanda kuburnya menggunakan materialbatu atau kayu. Salah satu tradisi tersebut dijumpai di Padang Lawas Utara,Provinsi Sumatera Utara. Dalam konteks ini tepatnya berada di kompleks makam Sutan Nasinok Harahap yang merupakan leluhur marga Harahap. Penelitian arkeologi di kompleks ini pernah dilakukan pada rentang 2016--2017, berupa deskripsi, pemetaan, dan pendokumentasian sebaran makam. Adapunpermasalahan yang diajukan adalah bagaimana sebaran makam-makam kuna di kompleks makam Sutan Nasinok Harahap dan bagaimana sistem pemakamannya? Tujuan penelitian ini adalahmengetahui sebaran makam kuna di kompleks tersebut beserta sistem pemakaman yang dikenal oleh sub-etnis Batak Angkola khususnya marga Harahap yang tinggal di wilayah Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan bersifat eksploratifdeskriptif menggunakan alur penalaran induktif. Hasil penelitian menunjukkan teknik penguburannya dengan cara meletakkan jenazah kemudian menimbun dengan tanah menjadi gundukan yang dibatasi pagar batu bermotif atau polos. Denah gundukan makam berbentuk bujur sangkar atau persegi panjang, digunakan sebagai makam individu atau komuna

    Jejak pangan dalam arkeologi

    No full text
    Buku ini berisikan penelitian-penelitian yang berkaitan dengan topik tentang berbagai upaya manusia dalam bernutrisi, pemenuhan gizi agar tubuh kuat dan sehat sehingga mampu mengisi hidup kesehariannya

    Arkeologi dan karakter bangsa

    No full text
    iv, 122 hal.; ilus

    SANGHIANG TARAJE, TINGGALAN TRADISI MEGALITIK DI GUNUNG TAMPOMAS

    No full text
    Ketika kekacauan melanda Pakwan Pajajaran akibat adanya gempuran pasukan Banten yang sedang mengibarkan panji-panji Islam, Prabu Siliwangi sebagai penguasa Sunda kala itu segera mendatangi salah satu vasalnya yakni Sumedang Larang. Empat orang patihnya, di antaranya Sayang Hawu atau lebih dikenal dengan sebutan Embah Jayaperkosa, diperintahkan untuk menyerahkan sebuah pusaka kraton berupa mahkota emas kepada Prabu Geusan Ulun, penguasa Sumedang Larang. Kejadian yang dapat diartikan sebagai penyerahan tahta kerajaan Sunda itu diikuti dengan keberangkatan Prabu Siliwangi menuju puncak gunung Tampomas

    Megalithic traditions in Nias island

    No full text
    77hlm.;bib.;ill

    Situs Kota Rebah Di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau: Pertapakan Istana Atau Bangunan Lain

    Full text link
    An excavation at the site of Kota Rebah (also known as Kota Lama) in the city of Tanjung Pinang, Kepulauan Riau (Riau Islands) Province in October 2014, which was carried out by the Cultural Office of Kepulauan Riau Province, in cooperation with the Medan Archaeological Centre and the Cultural Heritage Conservation Office of Batusangkar, is an attempt to explore remains of the cultural history of Kepulauan Riau community, including to understand about their types and functions. This is in relation to the site and remains of a building that is believed by some local inhabitants to be a site and remains of the palace of the Melayu kings in the past. The data collected using survey and excavation method indicate that the site and building remains are more likely to be remains of a loji (fort with warehouses) than the site and remains of a palace

    SEJARAH DAN ARKEOLOGI MADURA·BARAT ABAD XIV-XVIII: SEBUAH PENGENALAN TENTANG PENGUASANYA

    No full text
    One interesting aspect related to the archaeological remains on the island of Madura is the relationship of the characters behind them with the historical journey that colored them. By regulating the views on the existence of various "legacies" of the past in West Madura, it is hoped that incentives will emerge to better recognize the various things they contain, namely the relationship between Madura and Java

    Sekilas Tentang Pengelolaan Objek Arkeologis Bagi Upaya Pelestarian Warisan Budaya

    No full text
    AbstractThe current conditions of development in the country should encourage upgrade of Indonesian archaeological resource management. The present-day management vision that still focuses on the cultural heritage management for the country must be reformed and be integrated into the society through communal arcaheological resource management. Such reformation shall bring a new mindset to the government apparatus involved in the management of archaeological resource to prioritize the public interest. Future challenges along with their complexities will need archaeological resource management, especially by the local government directly responsible for the public interest, backed up with professional human resources. Furthermore, the socialization of archaeological information through cultural fairs, youth museum and cultural visits as well as the use of the internet must be enhanced. The management of arhaeological resources is closely related to the use of archaeological resources for the public welfare improvement efforts.AbstrakMengingat berbagai kondisi yang ada sekarang, berkenaan dengan pembangunan dan perkembangan, sudah saatnya pengelolaan sumber daya arkeologi di Indonesia lebih ditingkatkan. Visi pengelolaan yang masih tertuju pada pengelolaan warisan budaya untuk negara mesti dirubah dan didekatkan dengan masyarakat melalui pengelolaan sumber daya arkeologi untuk masyarakat. Konsekuensinya, dalam kebijakan yang baru, aparatur negara atau pemerintah yang terlibat dalam pengelolaan sumber daya arkeologi harus lebih mengedepankan kepentingan masyarakat. Menghadapi tantangan di masa depan dengan kompleksitas permasalahannya itu diperlukan manajemen pengelolaan sumber daya arkeologi, khususnya pihak Pemerintah Daerah yang dalam tugasnya berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat, yang didukung tenaga kerja yang profesional. Begitupun dengan kegiatan penyebaran informasi kearkeologian lewat pameran budaya, kunjungan generasi muda ke museum dan objek budaya, dan pemanfaatan media internet bagi pengenalan kepada masyarakat luas. Pengelolaan sumber daya arkeologi juga amat terkait dengan pemanfaatan sumber daya arkeologi bagi berbagai bentuk upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat

    Gajah, Fauna Sumatera dalam Kisah Sejarah dan Arkeologi

    Full text link
    AbstractElephants recently have suffered from an extreme population decrease due to palm plantation expansion that claimed elephants travel route. Economic interests seem to cause ecosystem destructions. Some historical and archaeological data have also suggested the presence of elephants, especially in Sumatra. This research is aimed at exposing facts of the great and long-lasting interests on elephants at historical and archaeological perspectives. Thus, the inductive reasoning in a descriptive-comparative review-type is used to investigate how elephants were seen and treated to prevent from a complete destruction of the elephant ecosystem in the future.AbstrakPopulasi gajah belakangan ini semakin berkurang dan salah satu alasannya berkenaan dengan pembukaan lahan - yang sebelumnya merupakan ruang jelajah gajah – untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit. Kepentingan ekonomi terlihat akan merusak tatanan lingkungan hidup. Adapun data arkeologis dan historis juga banyak berkenaan dengan keberadaan gajah, di Sumatera khususnya. Tujuannya adalah membahas tentang gajah melalui sudut pandang arkeologis dan historis untuk menunjukkan gajah sebagai makhluk hidup juga telah mendapat perhatian yang besar sejak dahulu. Untuk itu digunakan alur penalaran induktif dalam tipe kajian deskriptif komparatif. Hasilnya adalah pengenalan tentang bagaimana gajah dipandang dan diperlakukan sejak dahulu, sehingga diharapkan dapat membantu upaya penanggulangan ancaman kemusnahannya kelak
    corecore