4 research outputs found
Epistemological Study of Ḥasan Baṣrī\u27s Qirā\u27ah: Methodology and its Implications in Qur\u27anic Interpretation
The science of qirā’at is one of the important elements in reciting the Al-Qur\u27an. The author takes one of the lines of qirā\u27at narrators, namely Ḥasan Baṣrī, a famous qirā\u27at imam. This research uses a descriptive analysis method with data processing using the library method. The result of this research is an explanation of the meaning of qirā\u27ah syāżah which does not fulfill the pillars of qirā\u27ah mutawātir. The qirā\u27ah syāżah attributed to Ḥasan Baṣrī with several examples does not show much change in meaning in the interpretation of the Qur\u27an, but the differences in reading are caused by the specificity of each tribe or region which cannot pronounce certain letters or words. So, Qirā\u27at ṣāḍḍah Ḥasan Baṣrī is a reading of the Qur’an that should not be practiced as daily reading. This Qirā’at can only be studied to ensure that this knowledge does not get swallowed up by time
Kajian Semantik Al-Qur’an: Implementasi Teori Sīyāq al-Qur’ān Syekh al-Šhahrānī dalam Analisis Kata Rīḥ dan Rīyāḥ
Pembahasan mengenai pemaknaan kata rīh dan riyāh dalam al-Qur’an menjadi sorotan perbincangan dalam dunia akademik yaitu adanya sebuah penelitian yang menggeneralisir makna kata rīh sebagai angin negatif sedangkan riyāh bermakna angin positif. Hadirnya teori siyāq al-Qur’ān perspektif Syekh Al-Šhahrānī yang ditulis dalam karyanya al-Siyāq al-Qurʼānī wa Atharuhu Fī Tafsīr al-Madrasah al-ʻaqlīyah al-Ḥadīthah menawarkan kepada segenap peneliti al-Qur’an kontemporer untuk lebih berhati-hati sekaligus menghindari kesalahan analisa yang disebabkan oleh penelitian yang kurang objektif dalam melihat konteks sebuah ayat. Maka tujuan daripada penelitian ini adalah mengimplementasikan teori siyāq al-Qur’ān perspektif Syekh al-Šhahrānī dalam menganalisa kata rīh dan riyāh dalam al-Qur’an. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah tafsir tematik dengan fokus membahas tentang metode penafsiran sebuah tokoh yang akan diimplementasikan dalam pembahasan kata rīh dan riyāh dalam al-Qur'an. Kajian ini mengulas persoalan semantik dengan menggunakan teknik pengumpulan data dan sumbernya dari buku-buku literatur (library research). Penelitian ini menunjukkan bahwa makna kata rīh tidak selalu negatif dan riyāh tidak selalu positif, bergantung pada konteks internal dan eksternal yang mempengaruhi interpretasi ayat-ayat Qur'an tersebut. Penggunaan kata-kata tersebut dengan mengikuti konteks dalam (Sīyāq al-Dākẖlī) dan konteks luar (Sīyāq al-Kẖārijī) nash al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi dalam menambah wawasan kajian kebahasaan untuk tidak menggenelarisir makna sebuah kata kemudian dapat di aplikasikan kepada penelitian setelahnya untuk membahas makna kata pada kajian semantik al-Qur’an melalui konteks internal dan eksternal ayat
Kajian Semantik Al-Qur’an: Implementasi Teori Sīyāq al-Qur’ān Syekh al-Šhahrānī dalam Analisis Kata Rīḥ dan Rīyāḥ
Pembahasan mengenai pemaknaan kata rīh dan riyāh dalam al-Qur’an menjadi sorotan perbincangan dalam dunia akademik yaitu adanya sebuah penelitian yang menggeneralisir makna kata rīh sebagai angin negatif sedangkan riyāh bermakna angin positif. Hadirnya teori siyāq al-Qur’ān perspektif Syekh Al-Šhahrānī yang ditulis dalam karyanya al-Siyāq al-Qurʼānī wa Atharuhu Fī Tafsīr al-Madrasah al-ʻaqlīyah al-Ḥadīthah menawarkan kepada segenap peneliti al-Qur’an kontemporer untuk lebih berhati-hati sekaligus menghindari kesalahan analisa yang disebabkan oleh penelitian yang kurang objektif dalam melihat konteks sebuah ayat. Maka tujuan daripada penelitian ini adalah mengimplementasikan teori siyāq al-Qur’ān perspektif Syekh al-Šhahrānī dalam menganalisa kata rīh dan riyāh dalam al-Qur’an. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah tafsir tematik dengan fokus membahas tentang metode penafsiran sebuah tokoh yang akan diimplementasikan dalam pembahasan kata rīh dan riyāh dalam al-Qur\u27an. Kajian ini mengulas persoalan semantik dengan menggunakan teknik pengumpulan data dan sumbernya dari buku-buku literatur (library research). Penelitian ini menunjukkan bahwa makna kata rīh tidak selalu negatif dan riyāh tidak selalu positif, bergantung pada konteks internal dan eksternal yang mempengaruhi interpretasi ayat-ayat Qur\u27an tersebut. Penggunaan kata-kata tersebut dengan mengikuti konteks dalam (Sīyāq al-Dākẖlī) dan konteks luar (Sīyāq al-Kẖārijī) nash al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi dalam menambah wawasan kajian kebahasaan untuk tidak menggenelarisir makna sebuah kata kemudian dapat di aplikasikan kepada penelitian setelahnya untuk membahas makna kata pada kajian semantik al-Qur’an melalui konteks internal dan eksternal ayat.Pembahasan mengenai pemaknaan kata rīh dan riyāh dalam al-Qur’an menjadi sorotan perbincangan dalam dunia akademik yaitu adanya sebuah penelitian yang menggeneralisir makna kata rīh sebagai angin negatif sedangkan riyāh bermakna angin positif. Hadirnya teori siyāq al-Qur’ān perspektif Syekh Al-Šhahrānī yang ditulis dalam karyanya al-Siyāq al-Qurʼānī wa Atharuhu Fī Tafsīr al-Madrasah al-ʻaqlīyah al-Ḥadīthah menawarkan kepada segenap peneliti al-Qur’an kontemporer untuk lebih berhati-hati sekaligus menghindari kesalahan analisa yang disebabkan oleh penelitian yang kurang objektif dalam melihat konteks sebuah ayat. Maka tujuan daripada penelitian ini adalah mengimplementasikan teori siyāq al-Qur’ān perspektif Syekh al-Šhahrānī dalam menganalisa kata rīh dan riyāh dalam al-Qur’an. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah tafsir tematik dengan fokus membahas tentang metode penafsiran sebuah tokoh yang akan diimplementasikan dalam pembahasan kata rīh dan riyāh dalam al-Qur\u27an. Kajian ini mengulas persoalan semantik dengan menggunakan teknik pengumpulan data dan sumbernya dari buku-buku literatur (library research). Penelitian ini menunjukkan bahwa makna kata rīh tidak selalu negatif dan riyāh tidak selalu positif, bergantung pada konteks internal dan eksternal yang mempengaruhi interpretasi ayat-ayat Qur\u27an tersebut. Penggunaan kata-kata tersebut dengan mengikuti konteks dalam (Sīyāq al-Dākẖlī) dan konteks luar (Sīyāq al-Kẖārijī) nash al-Qur’an. Penelitian ini berkontribusi dalam menambah wawasan kajian kebahasaan untuk tidak menggenelarisir makna sebuah kata kemudian dapat di aplikasikan kepada penelitian setelahnya untuk membahas makna kata pada kajian semantik al-Qur’an melalui konteks internal dan eksternal ayat
Dirosatu at-tanash fii qishoh qoshiroh "kanzu asy-syamardal" li kamil kilani wa hikayat "Jaudar bin 'Umar at-Tajir ma'a Akhowaihi" fii alfi lailah wa lailatin
Intertextual studies are efforts made to find certain aspects contained in the previous works and the works that follow. The similarities in some of these literary works are not part of plagiarism because the author develops their works in style. This research focuses on the intrinsic elements in the short story "The Syamardal Treasure" by Kamel Kilani and the story of "Jodar bin Omar, The Merchant with His Two Brothers" in The Thousand and One Night, and intertextual form between the two. The methods used in this research are a qualitative descriptive method, reading and note-taking techniques to collect data, data reduction, data display, and conclusion drawing for analyzing data. The results of this study reveal that the intrinsic elements in the short story "The Syamardal Treasure" by Kamel Kilani and the story of "Jodar bin Omar, The Merchant with His Two Brothers" in The Thousand and One Night are in the form of themes, storylines, characters and characteristics, settings, point of view, and mandate. In addition, there are also many general similarities and differences found in its intrinsic elements, such as similarities in storylines, characters and characteristics, settings, point of view, and mandate; differences in themes and titles
