1,720,970 research outputs found
Figure 12 in Metal-Age Maritime Culture at Jareng Bori Rockshelter, Pantar Island, Eastern Indonesia
Figure 12. Slipped sherds by spit at Jareng Bori.Published as part of Hawkins, Stuart, Arumdhati, Fayeza Shasliz, Litster, Mirani, Lim, Tse Siang, Basile, Gina, Leclerc, Mathieu, Reepmeyer, Christian, Maloney, Tim Ryan, Boulanger, Clara, Louys, Julien, Mahirta, Clark, Geoff, Keling, Gendro, Willan, Richard C., Yuwono, Pratiwi, O, Sue & Connor, 2020, Metal-Age Maritime Culture at Jareng Bori Rockshelter, Pantar Island, Eastern Indonesia, pp. 237-262 in Records of the Australian Museum 72 (5) on page 252, DOI: 10.3853/j.2201-4349.72.2020.1726, http://zenodo.org/record/794607
Figure 14 in Metal-Age Maritime Culture at Jareng Bori Rockshelter, Pantar Island, Eastern Indonesia
Figure 14. Total number of lithic (chert and obsidian) artefacts by excavation unit (5 cm spit) at Jareng Bori.Published as part of Hawkins, Stuart, Arumdhati, Fayeza Shasliz, Litster, Mirani, Lim, Tse Siang, Basile, Gina, Leclerc, Mathieu, Reepmeyer, Christian, Maloney, Tim Ryan, Boulanger, Clara, Louys, Julien, Mahirta, Clark, Geoff, Keling, Gendro, Willan, Richard C., Yuwono, Pratiwi, O, Sue & Connor, 2020, Metal-Age Maritime Culture at Jareng Bori Rockshelter, Pantar Island, Eastern Indonesia, pp. 237-262 in Records of the Australian Museum 72 (5) on page 254, DOI: 10.3853/j.2201-4349.72.2020.1726, http://zenodo.org/record/794607
MAKAM KUNO SITUS GELITING, KABUPATEN MAUMERE, NUSA TENGGARA TIMUR
The aim of the research is to identify the form and typology of ancient tombs that lie on Geliting cemetery in Sikka Regency, East Nusa Tenggara. Islam spread to Nusantara through various ways, trade is one of them. One of the Islams trade route is the region surrounding Mallucas archipelago perpetrated by Islamic merchants from Bugis. Fields data shows that Islam also went into the region of Sikka. To answer the problems, methods of data collection used which are observation, interview and completed with study of literature. After the data were collected then analyzed using architectural analysis, comparison, and style analysis. From observation, it was found two ancient Islamic Tomb groups with different forms and types. Group I consists of three ancient tombs with various types of tombs and headstone forms. Group II consists of nine ancient tombs with various types of tombs and headstone. From the analysis it was found that these tombs are Bugiss grave with several types and variants that spread from South Sulawesi to some trade ports in Nusantara, one of them in Maumere district, Sikka regency. The form and decoration of the tombs similar to the ornate and Bugis Tomb forms in general.Tujuan penelitian ini yaitu mengindentifikasi bentuk dan tipologi makam kuno yang berada di kompleks makam Geliting, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Islam menyebar ke Nusantara melalui berbagai cara, salah satunya adalah perdagangan. Salah satu jalur yang digunakan dalam pelayaran dagang Islam adalah wilayah kepuluan Maluku dan sekitarnya yang dilakukan oleh pedagang Islam dari Bugis. Bukti dilapangan menunjukkan bahwa Islam ternyata juga masuk ke wilayah Kabupaten Sikka. Untuk menjawab permasalahan, digunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan kemudian dilengkapi dengan studi pustaka. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis, analisis yang digunakan yaitu arsiktektural, komparasi, dan analisis gaya. Dari hasil pengamatan dilapangan ditemukan dua buah kelompok makam Islam kuno dengan berbagai bentuk dan tipe. Kelompok I terdiri dari tiga buah makam kuno dengan berbagai tipe makam dan bentuk nisan. Kelompok II terdiri dari sembilan makam kuno dengan berbagai tipe bentuk makam dan nisan. Dari hasil analisis ditemukan bahwa makammakam ini merupakan makam Bugis dengan beberapa tipe dan variannya yang menyebar dari Sulawesi Selatan ke beberapa pusat pelabuhan dagang di Nusantara, salah satunya di Kecamatan Maumere, Kabupaten Sikka. Bentuk dan hiasan yang terdapat pada makam makam mirip dengan hiasan dan bentuk-bentuk makam Bugis pada umumnya
ARKEOLOGI LANSKAP: IDENTIFIKASI KAWASAN TAMBLINGAN SEBAGAI PERMUKIMAN : [Landscape Archaeology: Identification of The Tamblingan Area as A Settlement]
Tamblingan site is one of the sites in Bali that located at an altitude of 1,350 above sea level. Tamblingan site contains a high cultural layer, especially Ancient Bali remains. The problem that would revealed is how the landscape at Tamblingan Site is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life.
Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari.Tamblingan is an area in Bali which is located at an altitude of 1,350 meters above sea level. Tamblingan also known as an archaeological site because it holds many archaeological remains, especially during the ancient Balines era.The problem that would revealed and solved are how the landscape at Tamblingan is ideal as a settlement, supported by archaeological evidence to strengthen it. The purpose of this study is to identify the landscape in the Tamblingan area so that this area was chosen as a settlement in the past. Data collection is done by literature study, both search for internet sources and e-journals that focusing discuss of Tamblingan Site. Tamblingan area is a fertile plateau, its morphology is in the form of a mountain range with Lake Tamblingan as an old caldera containing rainwater. the topography also varies and allows it to be used as a settlement. From the results of the study conducted it was proven that the Tamblingan area is a fertile land area, besides that also the forest and Lake Tamblingan provide various needs to support daily life.
Tamblingan merupakan satu wilayah di Bali yang berada di ketinggian 1.350 meter di atas permukaan laut. Tamblingan juga dikenal sebagai situs arkeologi karena menyimpan banyak tinggalan arkeologi terutama dimasa Bali Kuno. Dalam penelitian ini permasalahan yang ingin diungkap dan dipecahkan adalah bagaimana bentanglahan atau lanskap kawasan Tamblingan sehingga daerah ini ideal untuk dijadikan sebagai lokasi hunian atau permukiman, ditunjang dengan bukti-bukti arkeologis untuk menguatkannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lanskap di wilayah Tamblingan sehingga daerah ini dipilih sebagai kawasan hunian dimasa lalu. Metode Pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, baik itu penelusuran sumber internet maupun beberapa jurnal cetak dan online yang mengulas mengenai Situs Tamblingan. Kawasan Tamblingan adalah dataran tinggi yang subur, morfologinya berupa deretan pegunungan dengan Danau Tamblingan sebagai kaldera tua yang berisi air hujan. topografinya juga bervariasi dan memungkinkan untuk digunakan sebagai permukiman. Dari hasil studi yang dilakukan terbukti bahwa kawasan Tamblingan merupakan wilayah yang memiliki lahan yang subur, selain itu juga hutan dan Danau Tamblingan menyediakan berbagai keperluan untuk menunjang kehidupan sehari-hari
Makam kuno Situs Geliting, Kabupaten Maumere, Nusa Tenggara Timur
Tujuan penelitian ini yaitu mengindentifikasi bentuk dan tipologi makam kuno yang berada di kompleks makam Geliting, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Islam menyebar ke Nusantara melalui berbagai cara, salah satunya adalah perdagangan. Salah satu jalur yang digunakan dalam pelayaran dagang Islam adalah wilayah kepuluan Maluku dan sekitarnya yang dilakukan oleh pedagang Islam dari Bugis. Bukti dilapangan menunjukkan bahwa Islam ternyata juga masuk ke wilayah Kabupaten Sikka. Untuk menjawab permasalahan, digunakan beberapa metode pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan kemudian dilengkapi dengan studi pustaka. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis, analisis yang digunakan yaitu arsiktektural, komparasi, dan analisis gaya. Dari hasil pengamatan dilapangan ditemukan dua buah kelompok makam Islam kuno dengan berbagai bentuk dan tipe. Kelompok I terdiri dari tiga buah makam kuno dengan berbagai tipe makam dan bentuk nisan. Kelompok II terdiri dari sembilan makam kuno dengan berbagai tipe bentuk makam dan nisan. Dari hasil analisis ditemukan bahwa makammakam ini merupakan makam Bugis dengan beberapa tipe dan variannya yang menyebar dari Sulawesi Selatan ke beberapa pusat pelabuhan dagang di Nusantara, salah satunya di Kecamatan Maumere, Kabupaten Sikka. Bentuk dan hiasan yang terdapat pada makam makam mirip dengan hiasan dan bentuk-bentuk makam Bugis pada umumny
LATAR BELAKANG ALIH FUNGSI STASIUN KERETA API WILLEM I MENJADI MUSEUM KERETA API AMBARAWA
MAKAM KUNO DI SITUS ANGGAREKSA, KECAMATAN LOMBOK TIMUR, KABUPATEN LOMBOK: BUKTI PENGARUH AWAL ISLAM DI LOMBOK
Islam masuk dan berkembang di Nusantara melalui wilayah pesisir. Demikian juga perkembangan Islam di Lombok, dimulai dari wilayah pesisir menuju ke pedalaman. Penelitian ini berusaha mengidentifikasi makam di Situs Anggareksa sebagai salah satu bukti awal berkembangnya Islam di melalui pesisir Lombok Timur. Dari beberapa teori mengenai masuknya Islam di Lombok, Situs Makam Anggareksa menjadi salah satu bukti pengaruh Islam dari Sulawesi Selatan yang masuk melalui Lombok Timur. Metode yang digunakan untuk membedah permasalahan adalah observasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang sudah terkumpul kemudian dianalisis, dengan arsiktektural, komparasi, dan analisis gaya. Penelitian di lapangan didapatkan data komplek makam di Situs Anggareksa terdapat 13 makam, 5 diantaranya menunjukkan karakterisktik makam kuno, dan sisanya adalah makam umum. Setelah dianalisis didapatkan kesimpulan bahwa makam-makam kuno ini adalah type makam bugis. Hal ini menjadi salah satu bukti pengaruh Islam yang menyebar di wilayah timur Lombok adalah dari Sulawesi Selata
Tipologi bangunan kolonial Belanda di Singaraja
Keberadaan arsitektur, baik tradisional maupun kolonial, memiliki nilai historis dan arkeologis dan dapat dianggap sebagai identitas suatu kota. Namun, modernisasi seringkali tidak menyisakan tempat untuk bangunan tua atau bersejarah yang sebenarnya memiliki peran penting dalam pembentukan karakteristik suatu tempat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipologi atau tipe-tipe bangunan-bangunan peninggalan kolonial di Singaraja beserta karakteristik arsitekturnya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara. Analisis dilakukan melalui pengelompokan berdasarkan kesamaan tipe, bentuk, struktur, dan karakter bangunan. Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa gaya arsitektur yang ada di Singaraja antara lain gaya art deco, landhuis, dan gothic. Secara umum, tipologi bangunan kolonial di Singaraja antara lain, gedung pemerintahan, rumah tinggal, sarana umum, dan lain-lain dengan karakteristik bentuk yang relatif kecil, dan sangat adaptif terhadap iklim dan kondisi alam di Indonesia, khususnya Singaraja
GEREJA KATHOLIK HATI KUDUS YESUS PALASARI KABUPATEN JEMBRANA: SEBUAH AKULTURASI BUDAYA
Gothic architecture style flourished in Europe around the XII - XVI century. Catholic Church of Hati Kudus Yesus is an example of the development form of Catholicism and Gothic architecture in Indonesia, and Bali in particular. Local Genius at Catholic Church of Hati Kudus Yesus blends European and local concept of Hinduism in Bali. This study tries to reveal how the acculturation of European Gothic architecture with traditional Balinese architecture and the meaning of acculturation itself for Catholics in Bali in the modern era. The methods of data collections are observation, interviews, and library research. The data was analyzed qualitatively in order to obtain descriptive explanatory data. Based on the observations, it showed that pointed shape, looming, the dominance of arch form and other Gothic ornaments are aligned with the concept of Tri Hita Karana which produce a work of art building with unique flavor.Abstrak Manusia tidak bisa dipisahkan dengan kebudayaannya. Salah satu hasil kebudayaan manusia adalah berupa seni bangun atau disebut arsitektur. Seni gaya arsitektur yang berkembang luas di Eropa adalah gaya Gothic yang berkembang sekitar abad XII-XVI. Gereja Katholik Hati Kudus Yesus merupakan salah satu contoh bentuk perkembangan agama Katholik dan arsitektur Gothic di Indonesia, dan di Bali khususnya. Lokal Genius yang tampak pada bangunan gereja Katholik Hati Kudus Yesus yang memadukan kebudayaan Eropa dan konsep lokal agama Hindu di Bali. Penelitian ini mencoba untuk mengungkapkan bagaimana akulturasi arsitektur Gothic dari Eropa dengan arsitektur tradisional Bali dan makna akulturasi itu sendiri bagi umat Katholik di Bali di era modern. Dengan menggunakan metode pengumpulan data antara lain, observasi, wawancara, dan studi kepustakaan, serta melakukan analisis kualitiatif guna memperoleh data yang bersifat deskriptif eksplanatif. Dari hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bentuk runcing, menjulang, dominasi bentuk lengkung serta ornamen khas Gothic lainnya diselaraskan dengan konsep Tri Hita Karana menghasilkan suatu karya seni bangunan yang bercita rasa unik
Figure 13 in Metal-Age Maritime Culture at Jareng Bori Rockshelter, Pantar Island, Eastern Indonesia
Figure 13. Rim sherds illustrating the range of straight, incurving, and out-curving rims at Jareng Bori. With the exception of the incurving notched pie-crust lip (844), out-curving rims (Surface) with wide flat lips (824, 2691) and inverted rims (841, 828), the fragmentary nature of the assemblage prevents further identification of vessel forms.Published as part of Hawkins, Stuart, Arumdhati, Fayeza Shasliz, Litster, Mirani, Lim, Tse Siang, Basile, Gina, Leclerc, Mathieu, Reepmeyer, Christian, Maloney, Tim Ryan, Boulanger, Clara, Louys, Julien, Mahirta, Clark, Geoff, Keling, Gendro, Willan, Richard C., Yuwono, Pratiwi, O, Sue & Connor, 2020, Metal-Age Maritime Culture at Jareng Bori Rockshelter, Pantar Island, Eastern Indonesia, pp. 237-262 in Records of the Australian Museum 72 (5) on page 253, DOI: 10.3853/j.2201-4349.72.2020.1726, http://zenodo.org/record/794607
- …
