1,720,970 research outputs found
Pembelajaran Menghafal Al-Qur’an dengan Metode Wafa di SDIT Dhia El Widad
Menghafal Al-Qur‟an saat ini merupakan kegiatan yang banyak
diterapkan dalam lembaga pendidikan. SDIT Dhia El Widad merupakan sekolah
formal yang menerapkan pembelajaran menghafal Al-Qur‟an menggunakan
metode Wafa. Sebelum penerapan metode Wafa, awalnya pihak sekolah
menggunakan metode Iqra‟. Pergantian metode pembelajaran tersebut karena
metode sebelumnya tidak ada penggunaan gerakan dalam hafalan, tidak
dikenalkan bacaan tajwid, dan tidak menggunakan media pembelajaran. Oleh
sebab itu diterapkan metode Wafa dalam pembelajaran menghafal Al-Qur‟an.
Penelitian ini bertujuan untuk 1. Mengetahui perencanaan pembelajaran
menghafal Al-Qur‟an menggunakan metode Wafa di SDIT Dhia El Widad. 2.
Mengetahui pelaksanaan pembelajaran menghafal Al-Qur‟an menggunakan
metode Wafa di SDIT Dhia El Widad. 3. Mengetahui bagaimana evaluasi
pembelajaran menghafal Al-Qur‟an menggunakan metode Wafa di SDIT Dhia El
Widad.
Jenis pendekatan yang dilakukan oleh penulis adalah penelitian
lapangan (field research). Metode penelitian yang digunakan ialah metode
kualitatif. Teknik pengumpulan data penulis menggunakan teknik observasi,
wawancara, dan dokumentasi. Teknik pengolahan data yang digunakan yaitu
koleksi data, editing, klasifikasi, dan interpretasi data.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan
pembelajaran sesuai dengan pedoman buku Wafa dengan adanya periapan RPP,
materi, media dan sumber belajar, serta perencanaan evaluasi. Pada pelaksanaan
pembelajaran peserta didik juga terlihat antusias dengan adanya apersepsi dari
guru, penggunaan nada hijaz yang merupakan ciri dari metode Wafa, sehingga
mudah ditirukan oleh peserta didik, dan penggunaan alat peraga yang membuat
peserta didik semangat dalam menghafal dan tidak cepat bosan. Adapun pada
evaluasi terdapat 4 penilaian yaitu penilaian harian, penilaian perminggu,
penilaian kenaikan jilid, dan penilaian ujian akhir (munaqasyah) yang dilakukan
secara lisan
Efektivitas Penerapan Apresiasi Cerpen Terhadap Keterampilan Berbahasa Lisan Peserta didik kelas V MI Muhammadiyah Pannampu Makassar
Hasil analisis deskriptif menunjukkan pada kategori sangat tinggi terdapat 28 % peserta didik yang sebelumnya hanya terdapat 8%. Pada kategori tinggi terdapat 64 %
yang sebelumnya 12 %. Pada kategori sedang terdapat 8% yang sebelumnya 13% dan 0% peserta didik pada kategori rendah dan sangat rendah yang sebelumnya terdapat 20% peserta didik pada kategori rendah dan 8% peserta didik pada kategori sangat rendah. Artinya ada pengaruh yang signifikan penerapan apresiasi cerpen terhadap keterampilan berbahasa lisan peserta didik kelas V MI pannampu makassar
Sendratari Putri Tujuh
Sendratari Putri Tujuh merupakan transformasi dari teks sastra lisan Putri Tujuh. Teks lain Putri Tujuh adalah salah satu jenis cerita rakyat yang tumbuh dan berkembang di daerah Dumai kabupaten Bengkalis, Riau.Teks lisan Putri Tujuh atau mitos Putri Tujuh mengisahkan tentang kejadian atau peristiwa di daerah Dumai pada masa lampau, yaitu peperangan di Kerajaan Bunga Tanjung
Penerapan Perbandingan Distributed Lag Untuk Memodelkan Nilai Ekspor Indonesia Terhadap Jepang Dengan Menggunakan Transformasi Koyck Dan Almon
Model dinamis merupakan model yang menggambarkan variabel rspon yang dipengaruhi nilai dari masa lalu, kelebihan pada model ini adalah membuat teori statis menjadi dinamis. Terdapat dua jenis model dinamis distributed lag yaitu model Infinite Lag dan model Finite Lag. Terdapat beberapa transformasi dalam menentukan persamaan distributed lag dugaan, yaitu transformasi Koyck dan transformasi Almon. Penelitian ini bertujuan untuk memodelkan pengaruh laju pertumbuhan nilai tukar rupiah terhadap US$, terhadap laju pertumbuhan nilai ekspor Indonesia ke Jepang menggunakan model dinamis distributed lag dengan menggunakan transformasi Koyck dan Almon serta menentukan model efek jangka panjang berdasarkan hasil pendugaan dari kedua transformasi tersebut. Dari keduanya dipilih transformasi Almon sebagai transformasi yang lebih tepat. Serta, model efek jangka panjang yang dihasilkan adalah
Alasan Sebagian Korban Terdampak Bencana Banjir Lahar Dingin Gunung Marapi Menolak Untuk Direlokasi (Studi Di Nagari Bukik Batabuah Kecamatan Canduang Kabupaten Agam)
Salah satu upaya yang dilakukan oleh pemerintah untuk menangani bencana banjir lahar dingin adalah relokasi, pemerintah menyediakan fasilitas untuk masyarakat yang terdampak bencana banjir lahar dingin jika ingin direlokasi. Meskipun pemerintah telah berusaha merelokasi masyarakat ke lokasi yang lebih aman, dan menyediakan fasilitas untuk korban, masih ada beberapa keluarga yang menolak untuk pindah. Penolakan ini mencerminkan kompleksitas masalah yang tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga aspek sosial budaya, dan sosial ekonomi. Pertanyaan penelitian ini adalah apa alasan korban terdampak bencana banjir lahar dingin menolak melakukan relokasi. Tujuannya untuk mendeskripsikan latar belakang sosial, budaya dan ekonomi kehidupan korban yang terdampak bencana serta mendeskripsikan alasan korban terdampak bencana banjir lahar dingin menolak melakukan relokasi kolektif dan relokasi mandiri.
Teori yang digunakan tindakan sosial dengan tipe tindakan rasional instrumental Max Weber yang berorientasi pada tindakan yang memiliki arti, tujuan dan motif aktor. Penggunaan teori ini dikarenakan setiap individu memiliki tujuan dan maksud tertentu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Informan penelitian dipilih dengan teknik purposive dan pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara mendalam dan pengumpulan dokumen.
Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa alasan korban menolak melakukan relokasi kolektif dan relokasi mandiri yaitu: (1) Khawatir akan kehilangan kepemilikan aset, tanah dan lahan yang sudah dimiliki jika harus pindah ke daerah yang baru. (2) Kehilangan hubungan sosial yang erat antar sesama dan rasa kebersamaan yang tinggi dengan lingkungan sekitar. (3) Merupakan penduduk asli Nagari Bukik Batabuah dan sudah terikat secara emosional dengan kampung halaman, rumah dan makam leluhur dan tidak ingin meninggalkan tempat yang dianggap bersejarah tersebut. (4) Kekhawatiran tentang menjalin hubungan sosial dengan masyarakat dan lingkungan yang baru. (5) Kekhawatiran tentang kehidupan ekonomi karena pekerjaan korban yang bergantung dengan lokasi tempat tinggal sekarang. (6) Khawatir tentang pendidikan anak mereka dan bagaimana fasilitas kesehatan di tempat yang baru. (7) Masih memiliki keraguan terkait fasilitas dan masa depan ekonomi di tempat relokasi, meskipun masyarakat sudah diberikan sosialisasi dan penawaran tertentu
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Kebebasan Beragama dalam Konteks Sosial Perspektif Al-Qur’an
The use of religious identity to create a negative view of other religious groups if not limited by tolerance will greatly affect the social attitude between religious communities, because claims can damage social relations. Misunderstandings in interpreting religious texts exist in every religion, including Islam. So it is important for Muslims to understand the meaning of the Qur'an as a reference for their religion. This research focuses on several verses of the Qur'an that are considered closest to discussion the freedom of religion in a social context. The purpose of this study is to understand the meaning of religious freedom in the Qur'an through classical and contemporary interpretations, reveal how the Qur'an builds interfaith social dialogue, and tolerance of religious freedom based on the Qur'an. This type of research is library research, with qualitative methods and analytical descriptive data analysis techniques. The results of this study indicate that QS. Al-An'am (6):108 prohibits insulting the gods of polytheists as a reflection of manners in Islam, QS. Al-Mumtahanah (60):8 allows doing good to non-Muslims who do not fight Islam with a variety of interpretations by the mufasir, and QS. Al-Kafirun (109):6 emphasizes the uncompromising separation of beliefs, with different mufasir focuses. Dialogue in the Qur'ān includes deep interaction between creatures and God, fellow human beings and nature, promoting wisdom, respect, justice and equality. Tolerance in the Qur'an includes religious freedom, recognition of diversity, peace, cooperation in goodness, protection for minorities, and viewing differences as sunnatullah that support harmony in the life of the nation and state.
ABSTRAK
Penggunaan identitas agama untuk menciptakan pandangan negatif terhadap kelompok agama lain jika tidak dibatasi dengan toleransi akan sangat berpengaruh kepada sikap bersosial antar umat beragama, karena klaim tertentu dapat merusak hubungan sosial. Kesalahpahaman dalam memaknai nash-nash agama hampir ada di setiap agama termasuk agama Islam. Maka umat muslim penting untuk memahami dengan baik maksud Al-Qur’an sebagai rujukan agamnya. Penelitian ini fokus pada beberapa ayat Al-Qur’an yang dianggap paling dekat dengan pembahasan kebebasan beragama dalam konteks sosial. Tujuan penelitian ini untuk memahami maksud kebebasan beragama dalam Al-Qur’an melalui tafsir klasik dan kontemporer, mengungkap cara Al-Qur’an membangun dialog dan toleransi antaragama berdasarkan Al-Qur’an. Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan (library research), dengan metode kualitatif dan teknik analisis data deskriptif analitis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa QS. Al-An’am (6):108 melarang menghina Tuhan kaum musyrik sebagai cerminan adab dalam Islam, QS. Al-Mumtahanah (60):8 membolehkan berbuat baik kepada non-Muslim yang tidak memerangi islam dengan variasi tafsir oleh para mufasir, dan QS. Al-Kafirun (109):6 menegaskan pemisahan akidah tanpa kompromi, dengan fokus mufasir yang berbeda-beda. Dialog dalam Al-Qur’an mencakup interaksi mendalam antara makhluk dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, mengedepankan hikmah, penghormatan, keadilan, dan kesetaraan. Toleransi dalam Al-Qur’an mencakup kebebasan beragama, pengakuan keberagaman, perdamaian, kerja sama dalam kebaikan, perlindungan bagi minoritas, dan memandang perbedaan sebagai sunnatullah yang mendukung harmoni dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
