1,720,978 research outputs found

    Manajemen pendidikan tinggi

    Full text link
    Berbicara tentang manajemen pendidikan (educational management atau management of education), pada dasarnya tidak bisa dile paskan dari pembahasan tentang pengertian dasar dari dua kata yang membentuknya, yakni manajemen (management) dan pendidikan (education). Karena itu, meskipun dalam perkembangannya terdapat perbedaan konseptual antara manajemen dalam pengertian luasnya dan dengan manajemen dalam konteks pendidikan

    Ilmu Pendidikan Islam

    Full text link
    Buku Ilmu Pendidikan Islam, merupakan salah satu referensi bacaan, baik untuk mahasiswa maupun dosen dalam melaksanakan perkuliahan yang aktif dan efektif pada Mata Kuliah Ilmu Pendidikan Islam. Disamping itu, sub bab yang disajikan merupakan bagian yang harus disampaikan untuk mempertajam, mengembangkan dan meningkatkan kualitas keilmuan dalam bidang ilmu pendidikan Islam

    THE UNIQUENESS OF ISLAMIC EDUCATION IN INDONESIA

    No full text
    Islamic education, the oldest education system in Indonesia which is admitted and appreciated for its contribution to the nation building, emerged together with the arrival of Islam to Indonesia, even before the Dutch’s occupation. Afterward, it took its own path, independent of government, clung to its own way and opened to change in that tradition. Islamic religious education institutions called pesantren Initially used the Arabic language as teaching media. When the desire to develop a system of public education for all people at the turn of the 20th century grew, several prominents thougth to look for possibilities to engage in the development of Islamic education. Among the prominent Muslim scholars are K.H. Ahmad Dahlan and K.H. Hashim Asy\u27ari who initiated to establish Islamic modern schools called madrasahs in many areas. Education in Islamic Schools has become a tool of struggle to achieve independence and freedom in Indonesia. Pesantren which is a model of Islamic education indoctrinated his students to believe that colonialism was a wrong and and they are created diffrently not to invade one another but to live in harmony. That’s why Dutch colonial government refused to subsidize the model of Islamic education in schools because it was considered of no use and will threaten the authority and dignity of the Dutch government.Key Words: Uniqueness Of Islamic, Indonesia

    Potret Konstruksi Pendidikan Karakter: Kajian pada Lembaga Pendidikan di Jawa Barat

    No full text
    Madrasah dalam khazanah peradaban Islam pada awalnya menitikberatkan pada peningkatan kualitas keimanan-keislaman. Hal ini ditujukan sebagai bentuk dari keinginan untuk mempertahankan Islam, dan itu berimbas pada tipologi madrasah di Indonesia. Keberadaan madrasah yang berfungsi untuk meneruskan, mempertahankan, dan mengembangkan kebudayaan suatu masyarakat melalui pembentukan karakter agar menjadi manusia dewasa yang mampu berdiri sendiri di dalam kebudayaan dan masyarakat di sekitarnya. Terminolog pesantren dan madrasah mendapatkan posisi yang berbarengan. Untuk itu, akan dipaparkan lembaga pendidikan Islam di Jawa Barat yang secara konsisten menanamkan karakter – dalam konteks Indonesia- pada santrinya. Pendidikan di Pesantren menandakan bahwa perilaku atau tingkah laku yang diimplementasikan para ulama lebih menarik bagi para calon santri, atau bahkan ekpektasi untuk menjadi seperti mereka adalah asa yang tinggi di dalam diri calon santri. Artinya pembentukan akhlak atau karakter memang dimulai dari figur atau pimpinan lembaga pendidikan. Melalui lembaga pendidikan Islam (pesantren, madrasah) di Indonesia, Jawa Barat khususnya, niat untuk menggulirkan gagasan tersebut bukan hanya kamuflase survival semata tetapi menjiwai seluk beluk yang berkaitan dengan pembinaan karakter (akhlak). Kata Kunci: Potret, Konstruksi, Karakter, Pesantren, Madrasa

    Menjadi Muslim realistis

    Full text link
    Dalam rumusan abad pencerahan yang momentumnya diletakkan oleh sejumlah pemikir modern, petualangan manusia di dunia bukanlah sekadar “viator mundi”, manusia yang menziarahi atau sekadar numpang lewat. Manusia sejatinya adalah “faber mundi”, sosok yang mencari dan mencipta hal-hal baru. Sosok yang harus bersedia merumuskan tugas dan fungsi kesejarahannya.Mengkhidmati penegasan bahwa manusia sebagai “faber mundi”, penulis memberanikan diri menghadirkan buku ini. Catatan-catatan yang ada di dalamnya lahir dari pertemuan penulis dengan berbagai fakta yang kemudian membawa perspektif baru pada berbagai hal. Pada hidup yang harus terus ditumbuhkan dan dikembangkan. Pada keyakinan yang harus dikukuhi dan dipertahankan. Pada ilmu dan pengetahuan yang harus terus dipupuk dan dikembangkan. Apa yang tertulis pada buku-buku semacam metamorfosis penulis menjadi “manusia baru” yang merevisi anggapan lama yang mungkin juga keliru. Perjumpaan dengan banyak orang di berbagai tempat dan melakukan refleksi atas berbagai hal. Bahkan tak jarang berpapasan dengan hal-hal yang di luar nalar, bahkan di luar dugaan telah melahirkan perenungan untuk menghadirkan argumentasi-argumentasi yang lebih realistis. Akhirnya, term menjadi Muslim—yang—Realistis menjadi pilihan untuk buku ini. Buku ini mungkin tidak ada dalam bagian silabus perkuliahan, seolah menyimpang dari diktat yang menghadirkan argumen yang ketat. Atau mungkin juga bukan bagian dari perbincangan di pasar-pasar, yang berarti bukan pula sebagai obrolan “warung kopi”. Tapi penulis yakin, setiap diri kita harus Memosisikan diri sebagai diri yang realistis. Oleh karena sejatinya, kita tidak harus berada di level teratas atau terbawah, dan juga di kanan atau di kiri. Diksi realistis dipilih karena penulis ingin menghadirkan frasa yang familiar di telinga. Realistis dimaknai sebagai menjadi apa adanya secara terukur, apakah ini sikap fatalis? Tentu bukan. Realistis bukan berarti pasrah atas apa yang dialami atau dimiliki. Akan tetapi, daya upaya yang dilakukan harus dapat diukur,sehingga ketercapaian dan ketidaktercapain atas apa yang diharapkan dapat diprediksi. Sebagai contoh, tidak boleh usaha kita hilang untuk mendorong kedamaian di muka bumi. Akan tetapi, usaha itu harus diikuti dengan keyakinan bahwa selalu saja ada orang atau kelompok orang yang ingin menguasai entitas orang lain, dengan beragam cara dan banyak ragam. Demikian halnya saat kita selalu menggaungkan keadilan. Maka, pada saat yang sama akan muncul ketidakadilan baru—dan kemungkinan juga hadir dari lingkungan terkecil kita. Untuk itu, dibutuhkan kesadaran realistis bahwa cita-cita tinggi tetap harus dikibarkan, dengan selalu membuat target-target alternatif sebagai sekoci. Di tengah keberbedaan dan ketidaksamaan atas seluruh fakta itu, penting untuk memberikan apresiasi kepada entitas yang dapat mempertahankan eksistensinya dalam bidang apa pun di tengah dinamika hidup dan kehidupan. Bukan hal yang mudah bagi sebuah kelompok dalam masyarakat untuk bertahan lebih dari satu abad, atau menjadi juara dalam sebuah kompetisi level internasional secara berurutan. Misalnya, Michael Phelps perenang asal Amerika Serikat, yang mengoleksi 28 medali (23 emas) olimpiade sejak 2004 s.d. 2016, pencapaian itu adalah buah dari konsistensi istikamah dalam bidang olahraga renang. Tapi Phelps realistis, setelah Olimpiade 2016, ia tidak ikut lagi dalam pencapaian medali. Dan itu berlaku bagi semua entitas dalam kehidupan.Menjadi muslim yang realistis, adalah pilihan. Muslim yang ideal rasanya akan tidak pernah bisa diwujudkan. Maka, di beberapa literatur kita menemukan frasa Islam rasional-nya Harun Nasution, Islam Aktual-nya Kang Jalal, Islam inklusif-nya Alwi Shihab, atau Islam Santai karya Acep Zamzam Noor. Menurut pandangan penulis, interpretasi atas Islam yang dimaknai oleh masing-masing diri, menghasilkan term-nya. Melampaui apa yang sudah dikatakan di atas, buku ini merupakan jejak dan saksi atas hidup yang Penulis libati.Keseluruhan catatan yang ada dalam buku ini adalah ikhtiar untuk menggenapkan pernyataan Pramudya Ananta Toer bahwa menulis adalah “perjalanan menuju keabadian”. Apa yang dihadirkan di buku ini mudah-mudahan bisa memberikan pelajaran bagi siapa pun, untuk siapa pun, dalam waktu dan ruang yang mana pun. Inilah makna menuju keabadian itu. Wallahu a’la

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
    corecore