86 research outputs found

    Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Penggunaan Modulasi 64QAM Pada Jaringan Long-Term Evolution Dengan Menggunakan Metode Random Forest

    Full text link
    Saat ini pengguna internet/data jaringan telekomunikasi seluler meningkat dengan sangat pesat. Performansi jaringan seluler LTE (Long-Term Evolution) yang bagus merupakan hal yang sangat penting bagi setiap operator telekomunikasi untuk menjaga kepuasan pelanggannya. Performansi jaringan yang buruk juga dapat mengakibatkan pelanggan berpindah ke operator lain. Salah satu variabel indikator dalam mengamati kualitas radio jaringan seluler 4G/LTE adalah Penetrasi penggunaan Modulasi 64QAM. Modulasi 64QAM dapat mengirimkan bitrate yang lebih tinggi dengan penggunaan daya yang lebih rendah. Modulasi 64QAM akan digunakan jika kondisi Channel Quality Index (CQI) sangat bagus yakni nilai CQI≥10. Peningkatan kualitas jaringan dapat di lakukan dengan menambah BTS baru atau mengoptimalkan BTS yang sudah ada. Penambahan BTS baru akan meningkatkan coverage, quality, dan capacity, akan tetapi CAPEX dan OPEX yang dikeluarkan cukup besar dan dibutuhkan waktu yang lama dalam membangun BTS. Peningkatan kualitas jaringan dengan cara mengoptimalkan BTS bisa dilakukan dengan melakukan pembelian fitur-fitur LTE dan biaya yang dikeluarkan masih tergolong rendah. Peningkatan penetrasi penggunaan modulasi 64QAM membutuhkan analisis terhadap variabel-variabel jaringan Long-Term Evolution (LTE). Prosedur yang digunakan saat ini masih menggunakan cara yang kurang efisien dari segi waktu, tenaga dan juga membutuhkan seorang yang ahli dan profesional dalam bidangnya akan tetapi sering kali tidak akurat. Untuk mengatasi masalah ini, digunakan metode machine learning random forest untuk menganalisis hubungan antara variabel-variabel KPI. Dengan mengetahui variabel-variabel yang berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas jaringan, maka biaya modal yang dikeluarkan operator seluler untuk peningkatan kualitas jaringan akan menjadi lebih efektif dan efisien karena biaya modal yang diinvestasikan hanya berfokus terhadap variabel-variabel yang berpengaruh. Dari hasil penelitian didapatkan ketepatan klasifikasi yang sangat baik yaitu nilai akurasi 92,23% dan nilai AUC 0,981. Pengujian performansi berdasarkan k-fold stratified sampling didapatkan nilai rata-rata akurasi 91,28% dan nilai rata-rata AUC 0,976. Pada penelitian ini disusun rekomendasi untuk meningkatkan penetrasi pengguna modulasi 64QAM yaitu dibuat diagram alir peningkatan nilai CQI berdasarkan delapan variabel yang mempunyai nilai gini importance tertinggi. Delapan variabel yang mempunyai nilai gini importance tertinggi yaitu MIMO, PDCCH_CCE_Agg_8, SE_3, sinr_pusch, sinr_pucch, _125__PL__130_, _130__PL__135_, DL_PRB_Utilization

    ANALISIS KONTRASTIF ABREVIASI DALAM BAHASA JEPANG DAN BAHASA INDONESIA 日本語とインドネシア語の略語の対象分析

    Full text link
    ABSTRACT Bilal, Mochammad. 2017. “Contrastive Analysis of Abbreviation in Japanese Language and Indonesian Language”. Undergraduate Japanese Literature thesis. University of Diponegoro. The first thesis supervisor is Drs. Surono, S.U. The second thesis supervisor is Lina Rosliana, S.S, M.Hum. This thesis discusses “Contrastive Analysis of abbreviation in Japanese Language and Indonesian Language”. The reason behind the choose of title by the author is due to lack of discussion about the comparasion between Japanese and Indonesian language. Furthermore, author had interested to discuss the form of abbreviation in bahasa Indonesia and Japanese language. The data in this research are attained from written sources, such as; internet articles from asahi.com and kompas.com. Whilst the method used in the analysis is “bagi unsur langsung”, later the data are analyzed by contrastive method to compared the data which are divide into two steps, those are description and and comparasion of the results of data analysis. Abbreviation of Japanese and Indonesian booth have 8 similarities, namely on booth have abbreviation who is not be read in its entirety, abbreviation who spell entirety, abbreviation who take 2, 3 or 4 first letters, abbreviation who take first letter from every syllables, abbreviation who had partial deletion, abbreviation who combine with foreign word, abbreviation with combination of syllables, and abbreviation who had changes in written form. The diffrences in meanwhile, abbreviation who are not found in Japanese language has 25 forms and abbreviation who are not found in Indonesian language has 2 forms. . Keywords: contrastive, abbreviation, Indonesian Language, Japanese Language

    EFEKTIFITAS SELF ASSESMENT SYSTEM OLEH WAJIB PAJAK PENSIUNAN PADA PELAPORAN PAJAK PENGHASILAN PASAL 21 MELALUI E-FILING

    No full text
    Mochammad Reza Ananda, Dr. Shinta Hadiyantina,SH.,M.H., Agus Yulianto, SH.,M.H. Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Email : [email protected]  ABSTRAK Pada skripsi ini mengangkat tentang permasalahan tentang efektifitas dari kegiatan self-assesment  oleh wajib pajak terutama pensiunan pada pelaporan pajak penghasilan 21 melalui E-filing. Hal ini dilatarbelakangi oleh adanya keluhan maupun kenyataan di lapangan bahwa pensiunan disini banyak yang lebih memilih melapor langsung daripada secara online. Berdasarkan hal tersebut , skripsi ini mengangkat satu rumusan masalah yaitu, 1) Apakah efektifitas Self Assessment System  yang dilakukan oleh wajib pajak pada proses kegiatan e-Filing pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 sudah berjalan efektif. Jenis Penelitian yang digunakan adalah Penelitian Hukum Yuridis-Empiris. Peneliti memilih jenis penelitian ini karena dilatar belakangi dengan adanya suatu kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan teori dan harapan para pembuat peraturan perundang – undangan, penelitian juga didasari karena adanya perilaku yang nyata terjadi di masyarakat karena disebabkan oleh berlakunya hukum normatif. Dari hasil penelitian penulis memperolehjawaban dari rumusan masalah yaitu,  kegiatan e-filing ini dirasa belum berjalan secara maksimal dikarenakan tidak semua wajib pajak yang sudah pensiun ini tahu cara melaporkan dengan menggunakan aplikasi yang disediakan oleh pihak perpajakan dan juga  kurangnya pengetahuan mengenai cara mengubah status menjadi non-efektif, yang bertujuan untuk menon-aktifkan NPWP dari piak yang terkait serta menggugurkan kewajiban untuk melapor SPT Tahunan. Kata Kunci: Pensiunan, Pajak Penghasilan, Self Assesment, E-filing ABSTRACT This thesis discusses about a problem related to the effectiveness of tax report through e-filing by retired taxpayers. It was motivated by complaints and reality in the field that many pensioners preferred to report directly rather than through online. Based on that, this thesis raised a question, namely: 1) whether the effectiveness of self assesment system by retired taxpayers in the process of e-Filing related to the report of income tax Article 21 has been implemented effectively. The type of research used empirical legal research. The researcher chose this type of research because it was motivated by the fact in the field which was not appropriate with theory and expectation from legislators. From the result of the research, the author found the answer that this e-filing activity seems not run maximally because not all retired tax payers. Keyword: Retired taxpayer, Income tax, Self assessment, E-filingÂ

    STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN TAMU PADA CAFÉ 88 DI HOTEL 88 EMBONG MALANG SURABAYA

    Full text link
    The purpose of this Final Project is to find out the Standard Operating Procedure for Guest Services at Café 88 at 88 Hotel Embong Malang Surabaya. The author made observations and did the work as a waiter in the restaurant Café 88 at Hotel 88 Embong Malang Surabaya. The author can draw the conclusion that the Standard Operating Procedures for guest services at the 88th Hotel 88 Embong Malang Surabaya in accordance with the Standard Operating Procedure F&B Service Department with FBS code 101-116 which includes, greeting guests, delivering guests, giving guests, giving menus, writing guest orders, up selling, serving drinks, preparing food equipment, serving food, checking guest satisfaction, how to take dirty dishes, clean leftovers on the table, clean tables, offer dessert, serve coffee or tea, how to give bills. Keywords: Restaurants, Standard Operating Procedure Service
    corecore