1,723,008 research outputs found

    Tafsir Al-Jailani 1: Syekh Abdul Qadir Al-Jailani 1077 M/470 H - 1165 M/561 H

    No full text
    Dalam kitab ini, Syekh al-Jailani tidak sekadar menafsirkan Al-Qur’an dengan pola tafsir yang semata-mata mengandalkan ilmu dan pemahaman seperti yang lazim terdapat dalam pelbagai kitab tafsir lain. Tafsir ini lebih banyak bertumpu pada pemaparan berbagai sugesti yang menghidupkan ruh serta dapat menumbuhkan ketakwaan di satu sisi, dan di sisi lain, mampu mengikat murid dengan gurunya, sehingga guru dapat terus meningkatkan kualitas murid hingga mencapai derajat setinggi mungkin. Syekh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Jailani al-Hasani“Saya datang ke Bagdad pada 561 H. Saat itu Syekh Abdul Qadir berada di puncak karier keilmuan, pengamalan ilmu, posisi, dan fatwa. Banyaknya ilmu yang dikuasai, membuat seorang pelajar tidak ingin belajar di tempat lain. Ini juga didukung kesabaran dan lapang dada Syekh dalam melayani banyaknya orang yang ingin belajar. Saya belum pernah melihat orang yang diagungkan karena ilmu agama melebihi Syekh ini.”Ibn Qudamah al-Maqdisi, Penulis al-Mughn

    Penafsiran dzikir menurut Abdul Qadir Jailani dalam tafsir Al-Jailani

    Full text link
    Banyak orang mengetahui bahwa berdzikir itu adalah suatu perintah Allah. Dan banyak pula orang yang mengetahui bahwa ketenangan hati akan datang jika sering melakukan dzikir kepda Allah Swt. Namun di zaman sekarang banyak orang yang tidak melakukan dzikir, adapun ada orang yang berdzikir tetapi hatinya tidak mengingat Allah, ataupun orang-orang yang berdzikir namun tetap saja merasakan kegelisahan dalam kehidupannya. Disinilah peran tasawuf sangat dibutuhkan agar memberikan motifasi dan pengarahan kepada semua orang yang sedang terbelenggu dan mementingkan kehidupan duniawi agar kembali lagi kejalan yang di ridhai oleh Allah dengan cara mengingat-Nya setiap saat. Salah satu orang yang teramat terkenal dalam bidang tasawuf adalah Abdul Qadir al-Jailani yang terkenal sampai sekarang. Ia mempunyai sebuah karya besar yaitu tafsir al-Jailani yang sempat dinyatakan hilang dan akhirnya ditemukan oleh cucu Abdul Qadir yang ke 25. Penelitian ini akan merumuskan masalah dzikir menurut Abdul Qadir Al-Jailani dalam rumusan : 1) Bagaimana Makna Dzikir menurut Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Tafsir Al-Jailani ? 2) Bagaimana cara berdzikir menurut Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Tafsir Al-Jailani? 3) Bagaimana manfaat dari berdzikir menurut Abdul Qadir al-Jailani dalam kitab Tafsir Al-Jailani? Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pelajaran bagi seluruh umat muslim tentang makna,cara dan manfaat dzikir menurut Abdul Qadir sehingga semua manusia dapat melakukan dzikir di setiap saat dan tidak terbelenggu lagi kepada urusan duniawi. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan teknik analisis deskriptif dan menguraikan gambaran khusus tentang dzikir menurut Abdul Qadir. Data primer dalam penelitian ini dalah tafsir al-Jailani, dan data sekundernya adalah semua informasi yang berkaitan dengan dzikir dan Abdul Qadir al-Jailani. Penelitian ini menghasilkan yaitu 1). Makna dzikir menurut Abdul Qadir yang mempunyai perbedaan tersendiri dengan makna yang diutarakan oleh ulama-ulama lain, yaitu mengingat Allah setiap saat dan menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang Allah dan dengan melakukan itu semua akhirnya ia sampai sampai ke ke tingkatan fana’ (hilangnya kesadaran karena nikmatnya perasaan bersama Allah dengan selalu megingat-Nya) 2). Cara berdzikir menurut Abdul Qadir Jailani, dimana caranya ada dua bagian yaitu dengan lisan dan dengan qalb, untuk dengan lisan yaitu dengan cara mengucapkan lafadz laa ilaha illaallah sedangkan dengan qalb harus dilaksanakan dengan : a). Mengosonkan hati selain nama Allah b). Biasakan membaca tasbih setiap saat c). Tidak memojokan diri ke dalam urusan duniawi karena selalu mengingat Allah d). Berusaha menikmati dzikir tesebut sehingga benar-benar nikmat dan merasakan ke-fanaan dalam kehidupannya. 3). Manfaat dzikir menurut Abdul Qadir yaitu : a). Diingat pula oleh Allah, b). Diampuni dosanya, c). Sampai kepada kefana’an d). Masuk ketingkatan ma’rifaullah e). Tanang hatinya f). Bertemu dengan Allah g). Di ijabahnya Do

    The Problem of the Attribution of Tafsir al-Jailani to Abdulqadir Jailani

    No full text
    Bu makalenin gâyesi Abdülkadir Geylânî'ye nispet edilerek Tefsîru'l-Ceylânî adı altında 2009 senesinde İstanbul ve Beyrut'ta iki farklı yayınevi ve iki farklı muhakkik tarafından neşri yapılan eserin Abdülkadir Geylânî'ye (ö. 561/1166) âit olup olmadığını tespit etmektir. Adı geçen tefsirin üslup ve muhtevâsı, Geylânî'ye âidiyeti konusunda şüpheler uyandırmıştır. Bunun üzerine yapılan incelemede, eserin ilk sayfalarında müellifin bu tefsire el-Fevâtihu'l-ilâhiyye ve'l-mefâtihu'l-gaybiyye ismini verdiği görülmüştür. Bu isimdeki tefsirin de Baba Ni'metullah Nahçıvânî'ye (ö. 920/1514) âit olduğu, Kâtib Çelebi'den (ö. 1067/1657) itibaren konunun uzmanları tarafından bilinmektedir. Geylânî'ye nisbet edilen bu tefsirde İbnü'l-Arabî'nin Fusûsu'l-hikem isimli eserinden bazı nakiller yapılmış olması da eserin Geylânî'ye âidiyetini imkânsız hâle getirmektedir. Çünkü İbnü'l-Arabî, Geylânî'den sonra yaşamıştır. Her şeyden önemlisi, asıl adı el-Fevâtihu'l-ilâhiyye olan bu Arapça tefsirin, Topkapı Sarayı Müzesi Kütüphanesi'ndeki müellifin kendi el yazısıyla olan 901 (1496) tarihli orijinal nüshasının sonunda müellif kendi adını Ni'metullah b. Mahmud en-Nahcıvânî olarak açıkça zikretmiştir. Yapılan araştırmalar sonunda Tefsîru'l-Ceylânî adıyla basılan bu eserin Abdülkadir Geylânî'ye değil, Baba Ni'metullah Nahçıvânî'ye âit olduğu anlaşılmıştırThe object of this article is to find out whether or not the book known as Tafsir al-Jailani which is attributed to Abdulqadir Jailani (d. 561/1166) and published in 2009 by two different publishing houses in Istanbul and Beirut really belongs to him. The literary style and the contents of the aforementioned book exegesis raise some question marks about its attribution to Jailani. Upon its examination, it is seen that the author named his book as al-Fawatih al-Ilahiyya wa al-Mafatih al-Ghaybiyya. It is also known by the expert of the field since Haji Khalifa (d. 1067/1657) that an exegesis under this title belongs to Baba Ni'matullah Nahchiwani (d. 920/1514). Moreover, the existence of quotations from Ibn al-Arabi's Fusus al-Hikam in this exegesis makes it impossible to attribute it to Jailani, because Ibn al-Arabi lived after Jailani. Most importantly, at the end of the original author copy of this Arabic exegesis with the title alFawatih al-Ilahiyya dated 901 (1496), the author clearly mentioned his name as Ni'matullah b. Mahmud Nahchiwani. As a result of the researches, it is concluded that this book published by the title Tafsir al-Jailani does not belong to Abdulqadir Jailani, but to Baba Ni'matullah Nahchiwan

    Penafsiran ayat-ayat Self Healing menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tafsir Al-Jailani

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi dengan fenomena yang sedang terjadi di masa kini tentang masalah kekerasan dalam suatu hubungan. Pada zaman sekarang ini masalah tersebut diistilahkan dengan abusive relationship, banyak sekali berita tentang kasus-kasus kekerasan yang dilakukan oleh pasangan dalam suatu hubungan. Salah satunya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), kekerasan yang dialami oleh seseorang menyebabkan trauma yang berkepanjangan. Dalam ilmu psikologi, permasalahan tersebut bisa diatasi dengan self healing. Self healing merupakan proses penyembuhan diri yang dilakukan oleh diri sendiri dari gangguan psikologis seperti trauma, cemas, takut, emosi tidak stabil, depresi, dan gangguan mental lainnya untuk mencapai ketenangan dalam hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang penafsiran ayat-ayat self healing menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tafsir al-Jailani, relevansi self healing dalam tafsir al-Jailani dengan self healing dalam psikologi dan manfaat self healing menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tafsir al-Jailani. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif analisis deskriptif. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi pustaka (library research).Teknik analisis datanya menggunakan content analysis. Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa penafsiran ayat-ayat self healing menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tafsir al-Jailani menekankan pada aktivitas spiritual. Aktivitas-aktivitas spiritual tersebut diantaranya; dzikir, sabar, syukur, taubat, shalat dengan khusyu’, tawakal, dan husnuzan. Relevansi self healing menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tafsir al-Jailani dengan self healing dalam psikologi yaitu; 1) Dzikir dengan mindfulness; 2)Shalat khusyuk dengan mindfulness; 3) Syukur dengan gratitude; 4) Sabar dengan self compassion; 5) Tawakal dengan self compassion; 6) Taubat dengan forgiveness; dan 7) Husnuzan dengan self management. Adapun manfaat self healing menurut Syekh Abdul Qadir Jailani dalam tafsir al-Jailani memberikan dampak positif terhadap kondisi mental, diantaranya: 1)Meningkatkan ketenangan dan ketentraman hati; 2)Memiliki rasa optimis dalam menghadapi segala cobaan; 3)Mampu mengendalikan emosi dengan baik; 4)Mampu menumbuhkan sikap baik terhadap diri sendiri; 5)Mampu Mengubah suasana hati menjadi lebih baik; 6) Memiliki pikiran yang positif; 7)Mampu menurunkan tingkat kecemasan

    Makna ayat-ayat shalawat menurut Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Tafsir Al-Jailani

    Full text link
    Pada dewasa ini perbedaan pendapat bukan lagi sebagai hal yang tabu melainkan sudah menjadi sebuah keniscayaan. Begitu pula halnya dalam kajian ilmu Alquran dan Tafsir. Walaupun objek kajian pada bidang ilmu ini sama yakni kalamullah namun sudah tidak asing lagi adanya ikhtilaf (perbedaan pandangan) dikalangan mufassir dalam menafsirkan ayat-ayat Allah SWT tersebut. Begitupun dalam menafsirkan ayat-ayat berkenaan dengan shalawat. Dalam ¬tafsir Al-Jailani Syekh Abdul Qadir Al-Jailani selaku tokoh ulama sufi tentunya memiliki pandangan tersendiri mengenai ayat-ayat yang berhubungan dengan shalawat. Sebab ketika para sufi menafsirkan ayat-ayat Alquran sumber-sumber pengambilan mereka tidak hanya terpaku pada riwayah dan dirayah, melainkan menggunakan isyari. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui serta memaparkan penafsiran para ulama sufi terlebih dalam hal ini yakni penafsiran Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam tafsir Al-Jailani mengenai ayat-ayat shalawat. Mengingat shalawat pada dewasa ini masih sering diperdepatkan oleh sebagian golongan. Bermula dari sebuah kerangka pemikiran bahwa setiap tafsir memiliki kecenderungan sesuai dengan disiplin ilmu mufassir-nya, sehingga meskipun objek kajian tafsir tunggal namun akan menghasilkan sesuatu yang variatif. Tafsir Al-Jailani karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani salah satu contohnya dari corak tafsir tasawuf. Tafsir ini tergolong tafsir Tahlili karena terdapat hasil analisis-analisis yang dituangkan Al-Jailani didalamnya. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analisis yakni penelitian yang menggambarkan atau menguraikan pemikiran seorang tokoh dengan cara mengkaji karya-karyanya. Lalu menganalisis ayat-ayat yang telah diinventarisir dalam satu tema pembahasan. Hasil dari penelitian penulis adalah: tafsir Al-Jailani karangan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani memiliki corak tasawuf. Bahkan dalam penafsiran ayat-ayat shalawat Al-Jailani menghubungkannya dengan kajian tasawuf. Beliau berpandangan bahwa shalawat yang kita baca merupakan bukti ¬mahabbah (cinta) kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan dengan shalawat-Nya Allah berikan selendang kebesaran dan keluhuran kepada Rasul SAW. Dan penempatan pada ¬maqamul mahmudah (kedudukan mulia). Serta rahmat dan keselamatan dari Allah SWT dan permohonan ampunan dari para malaikat untuk umat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam

    Qanaah Menurut Syekh Abdul Qadir Al Jailani

    Full text link
    Dalam kajian tasawuf, al Jailani merupakan tokoh yang tidak asing lagi, bahkan bisa dikatakan bahwa beliau kiblat para pencinta kajian tasawuf. Hal ini barangkali disebabkan adanya anggapan bahwa al Jailani merupakan pendiri tarekat sufi pertama yang kemudian terkenal dengan tarekat Qadariah. Dan Al Jailani adalah seseorang yang kaya raya tetapi dia memiliki kehidupan yang sangat sederhana maka penelitian ini akan mengkaji penafsiran Al Jailani tentang qanaah karena banyaknya manusia di zaman modern ini yang selalu tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya dan Rumusan masalah akan dihasilkan apa penyebab manusia sulit qanaah, terutama menurut tafsir Al Jailani

    Penafsiran Syeikh Abdul Qadir al-Jailani terhadap surat Al-Fatihah di dalam Tafsir al-Jailani

    Full text link
    Ada beberapa alasan pentingnya mengkaji surat al-Fatihah. Antara lain, pertama, dalam kajian Ulumul Qur’an, surat al-Fatihah dianggap sebagai ringkasan al-Qur’an. Kedua, dalam salat surat al-Fatihah merupakan salah satu rukun qauli (rukun salat yang berupa bacaan). Salah seorang tokoh tasawuf yang patut untuk dikaji pemahaman dan penafsirannya terhadap surat al-Fatihah adalah Syeikh Abdul Qadir al-Jailani, karena beberapa alasan, antara lain, pertama beliau merupakan salah seorang tokoh tasawuf yang memiliki banyak pengikut di Indonesia. Kedua, beliau termasuk salah seorang tokoh tasawuf yang teguh kepada syariat. Ketiga, secara khusus penafsiran dan pemahaman beliau, berdasarkan penelitian awal terkait langsung dengan tata cara salat. Masalah pokok penelitian ini adalah Bagaimana penafsiran al-Jailani terhadap surat al-Fatihah secara umum; Bagaimana penafsiran al-Jailani terhadap surat al-Fatihah yang secara khusus terkait dengan peningkatan kualitas salat; dan Bagaimana relevansi penafsiran al-Jailani terhadap surat al-Fatihah di era kontemporer. Temuan penelitian ini adalah pertama, terkait dengan penafsiran Syeikh Abdul Qadir al-Jailani secara umum, dilihat dari segi metodenya beliau menggunakan metode tahlili. Kedua, terkait dengan peningkatan kualitas salat, Syeikh Abdul Qadir al-Jailani menjadikan Surat al-Fatihah sebagai salah satu kuncinya. Dimulai dari pentingnya memahami dengan baik surat al-Fatihah, dilanjutkan dengan menghayati maknanya, dan menjadikan setiap ayat sebagai tanjakan bagi peningkatan rasa taqarrub kepada Allah swt. Melalui rasa taqarrub itulah, orang yang melakukan salat dapat meningkatkan kekhusyuannya. Ketiga, penafsiran Syeikh Abdul Qadir al-Jailani terhadap surat al-Fatihah tampak masih tetap relevan di era kontemporer ini. Relevansi ini tidak hanya terkait dengan peningkatan kualitas salat, tetapi juga terkait dengan penguatan tauhid dan peningkatan kualitas akhlak

    Penafsiran huruf al-muqatha’ah menurut Syekh Abdul Qodir al-Jailani dalam Tafsir al-Jailani

    Full text link
    Banyak kitab tafsir yang ketika menafsiri huruf muqatha’ah selalu merujuk pada tafsir sebelumnya atau menyerahkan maknanya pada Allah Swt akan tetapi dalam tafsir al-Jailani hal ini tidak di jumpai, lalu bagaimana tafsir al-Jailani memaknai huruf-huruf itu? Semisal huruf al-muqatha’ah yang terdiri dari satu huruf, dua huruf, tiga huruf, empat huruf dan lima huruf seperti alif-lam-mim, sebanyak 4 surat, ham-mim, sebanyak 7 surat, tha’ siin miim, 2 surat, lalu apakah huruf itu penafsiranya sama antara awal surat dengan yang lain, apakah “Huruf-Huruf Misterius” itu sebagai singkatan untuk kata atau kalimat tertentu? Bagaimana penafsiran Fawatih as-Suwar(Huruf al-Muqatha’ah) dalam Tafsir al-Jailani ?.Bagaimana metode dan corak yang digunakan Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam menafsirkan Huruf al-Muqatha’ah dalam Tafsir al-Jailani? Jenis penelitian yang dilakukan adalah library research (kepustakaan), yaitu penelitian dengan menelaah buku atau data-data tertulis yang berkaitan dengan penulisan skripsi. Adapun metode-metode yang digunakan penulis gunakan adalah: metode deskriptif-analitik. Dengan cara deskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan pandangan atau penafsiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani tentang ayat-ayat Fawatih as-Suwar (huruf al-Muqatha’ah) dalam al-Quran. Dalam hal ini pandangan tokoh tersebut diuraikan sebagaimana adanya untuk memahami jalan pikirannya secara utuh dan berkesinambungan. Penelitian ini juga menggunakan metode analisis isi (Content Analysis). Tujuan penelitian ini adalah untuk Mengetahui Konsep Fawatihas-Suwar (Huruf al-Muqatha’ah) dalam Tafsir al-Jailani. Memahami metode dan corak yang digunakan Syeh Abdul Qadir al-Jailani dalam menafsirkan Huruf al-Muqatha’ah. Hasil penelitian Konsep penafsiran Syekh Abdul Qadir tentang Fawatih as-Suwar (huruf al-Muqatha’ah) adalah: Pembukaan dengan panggilan (al-Istiftah bi al-Nida’) kepada Nabi Muhammad saw. Penafsiran seperti ini serupa dengan Fawatih as-Suwar pada surat At-Tahrim, At-Thalaq, Al-Mudatsir, Al-Muzammil yang secara langsung ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Metode penafsiran Huruf Al-Muqatha’ah Sebelum menafsirkan huruf al-Muqatha’ah Syekh Abdul Qadir al-Jailani lebih dahulu mengemukakan huruf itu di bagian atas atau disebut bagian isi surat, Ketika menafsirkan huruf al-Muqatha’ah beliau mengulang kembali ayat tersebut dibagian bawah, kemudian beliau mengungkapkan maksud dari huruf itu secara global atau keseluruhan, Sebelum menafsirkan huruf al-Muqatha’ah Syekh Abdul Qadir al-Jailani terlebih dahulu mencantumkan huruf nida’ Yaa dan Ayyuha di depan huruf al-Muqatha’ah, sedangkan Corak penafsiran Syekh Abdul Qadir al-Jailani terhadap penafsiran Huruf Muqatha’ah adalah isya’ri, dan sufi. Hal ini dibuktikan dengan penafsiran beliau yang mempunyai nilai filosofi tinggi, memuja ketauhidan, dan menyinggung kesufia

    Rahasia Tauhid dalam Surah al-Ikhlâś: Pendekatan Sufistik Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Tafsir al-Jailani: Rahasia Tauhid dalam Surat al-Ikhlas: Pendekatan Sufistik oleh Syekh Abdul Qadir al-Jailani dalam Tafsir al-Jailani

    No full text
    This research explores the concept of tauhid in the interpretation of Surah Al-Ikhlas within Tafsir Al-Jailani by Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani, using a Sufistic approach. Surah al-Ikhlâś is chosen for its profound emphasis on tauhid, a central teaching of Islam and a significant theme in Sufi tradition. The study aims to analyze how Sheikh Abdul Qadir Al-Jailani interprets Surah Al-Ikhlas and assess the relevance of his tafsir in the contemporary era. A library research method with a hermeneutic approach is employed to deeply examine the tafsir text and its interpretation of tauhid. This method connects the historical context of the tafsir with contemporary understandings. Primary sources include Tafsir Al-Jailani, supported by secondary literature to enrich the analysis. The findings reveal that Tafsir Al-Jailani highlights the esoteric dimensions of tauhid, particularly Allah’s absolute attribute of "Ahad." This interpretation encourages readers to internalize Allah’s attributes as a source of inspiration and spiritual strength in daily life. By emphasizing the spiritual essence of tauhid, this study contributes to the understanding of Sufistic tafsir and provides insights into the development of spiritual comprehension in Islam, especially in navigating modern challenges.Penelitian ini mengeksplorasi konsep tauhid dalam penafsiran Surah al-Ikhlâś dalam Tafsir Al-Jailani karya Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dengan pendekatan sufistik. Surah Al-Ikhlas dipilih karena kandungannya yang mendalam tentang tauhid, yang merupakan inti ajaran Islam dan tema penting dalam tradisi sufi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana Syekh Abdul Qadir Al-Jailani menafsirkan Surah al-Ikhlâś serta relevansi tafsirnya di era kontemporer. Metode yang digunakan adalah penelitian pustaka dengan pendekatan hermeneutik untuk menggali secara mendalam teks tafsir dan penafsiran tauhid di dalamnya. Pendekatan ini menghubungkan konteks sejarah tafsir dengan pemahaman yang relevan di era modern. Sumber utama penelitian adalah Tafsir Al-Jailani, didukung oleh literatur sekunder untuk memperkaya analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tafsir Al-Jailani menekankan dimensi esoteris tauhid, khususnya sifat Allah yang mutlak sebagai "Ahad." Penafsiran ini mengajak pembaca untuk menginternalisasi sifat-sifat Allah sebagai sumber inspirasi dan kekuatan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyoroti esensi spiritual tauhid, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman tafsir sufistik dan memberikan wawasan dalam pengembangan pemahaman spiritual Islam, terutama dalam menghadapi tantangan modern.&nbsp

    Penggunaan Hadits dalam Tafsir Al-Jailani karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani: Studi Kitab Tafsir Al-Jailani Juz 1-5

    Full text link
    Sosok Syaikh Abdul Qadir memiliki daya tarik yang sangat kuat bagi umat Islam. Beliau menguasai berbagai cabang keilmuan, diantaranya fiqih, hadits, balaghah, bayan, tasawuf dan yang lainnya. Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani banyak menggunakan hadits dalam berbagai pengajarannya, nasihat-nasihatnya, dan buku-bukunya. Hal tersebut sangat menarik mengingat stigma yang melekat di masyarakat non-tasawuf yang menganggap bahwa ajaran tasawuf agak acuh terhadap hadits. Berangkat dari hal tersebut, penulis merasa tertarik untuk melakukan sebuah kajian yang dapat mengupas seperti apa penggunaan hadits-hadits dalam tafsir sufistiknya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Tujuan dari penelitian ini ialah ingin mengetahui bagaimana penggunaan hadits sebagai salah satu sumber penafsiran Al-Qur’an digunakan dalam Tafsir Al-Jailani, Tafsir Sufistik karya Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani. Kerangka pemikiran didasarkan pada argumen bahwa hadits dipandang sebagai rujukan penting yang dapat dijadikan sandaran oleh umat Islam. Dilihat dari segi posisinya, Al-Qur’an dan hadits merupakan pedoman hidup dan sumber ajaran Islam, antara keduanya tidak dapat dipisahkan. Al-Qur’an sebagai sumber yang memuat ajaran-ajaran yang bersifat global, yang perlu dijelaskan lebih lanjut dan terperinci. Di sinilah hadits menempati posisinya sebagai penjelas Al-Qur’an. Fungsi hadits sebagai penjelas Al-Qur’an, di kalangan ulama disebutkan secara beragam. Metode penelitian yang digunakan ialah metode analisa isi (content analysis). Tafsir Al-Jailani dijadikan sumber utama dalam penelitian ini untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Penelitian ini pun memperhatikan beberapa karya serta hasil penelitian lainnya yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat. Penulis mendapatkan bahwa jumlah hadits yang terdapat dalam juz 1-5 Tafsir Al-Jailani adalah 33 hadits. Penggunaan asbâb an-nuzul dalam kitab tafsir ini cukup mendominasi. Bisa dilihat dari 33 riwayat yang ada dalam juz 1-5, 11 riwayat diantaranya adalah asbâb an-nuzul ayat.Penukilan hadits qudsi pun ternyata cukup banyak. Bisa dilihat bahwa hadits qudsi terdapat dalam hadits ke-5, 6, 7, 18, 30, 32. Secara umum, penggunaan hadits berdasarkan peran dan fungsinya cukup merata. Dalam Tafsir Al-Jailani, hadits digunakan sebagai bayân taqrîr, tafshîl, taqyîd, takhsîs, tasyri’ dan nasakh. Meskipun penggunaan sebagai bayân tasyri’ dan nasakh sangatlah sedikit, mengingat ini bukan tafsir yang berorientasi kepada fiqih/hukum. Berdasarkan pandangan ahli serta hasil tahqiq yang dilakukan, bisa terlihat bahwa hadits-haits yang digunakan pun dapat dipertanggungjawabkan secara sumber dan kualitas. Dapat disimpulkan bahwa Al-Jailani merupakan tokoh ulama Tasawuf yang peduli terhadap eksistensi hadits. Sehingga beliau menggunakan cukup banyak hadits dalam kitab tafsir sufistiknya
    corecore