1,720,969 research outputs found

    ANALISIS TUGAS MENULIS KRITIK SASTRA SUNDA DALAM MATA KULIAH KRITIK SASTRA DI JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAERAH FPBS UPI TAHUN AKADEMIK 2012/2013

    Full text link
    AbstrakAnalisis Tugas Menulis Kritik Sastra Sunda dalam Mata Kuliah Kritik Sastra di Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI Tahun Akademik 2012/2013. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan: (1) kecenderungan jenis kritik mahasiswa dan (2) kualitas kritik sastra mahasiswa. Metode yang digunakan adalah deskriptif dengan teknik: telaah pustaka, observasi, dokumentasi, dan analisis. Hasil yang didapat adalah sebagai berikut. Kecenderungan jenis kritik yang dipergunakan mahasiswa meliputi jenis tulisan dan jenis isi. Jenis tulisan kritik mahasiswa adalah sastrawan dan akademik, sedangkan jenis isinya adalah intrinsik dan ekstrinsik. Kualitas kritik mahasiswa dengan pola tulisan sastrawan dan akademik adalah: cukup, baik, dan sangat baik nilainya. Adapun kualitas kritik mahasiswa dengan pola tulisan akademik pada kritik tugas kelompok adalah baik dan sangat baik. Saran ditujukan bagi mahasiswa, tim dosen, dan lembaga JPBD.Kata kunci: Tugas, kritik sastra, Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah Abstract Writing Task Analysis of Literary Criticism in Literary Criticism in Jurusan Pendidikan Bahasa Daerah FPBS UPI 2012/2013. The purpose of this study is to describe: (1) the tendency of criticism types of students and (2) quality of student literary criticism. The method used is descriptive techniques: literature review, observation, documentation, and analysis. The results are as follows. Tendency kind of criticism that students used include the type of writing and content type. Type of writing is a literary critic and academic students, while it is a kind of intrinsic and extrinsic. Quality of student criticism with literary and academic writing pattern is: pretty, good, and excellent value. As for the criticism of the quality of students with academic writing patterns on group assignments criticism is good and very good. Suggestion is intended for students, faculty teams, and institutions JPBD.Keywords: Assignment, literary criticism, Jurusan Pendidikan Bahasa Daera

    STRUKTUR DAN FUNGSI UPACARA NGALAKSA DI KECAMATAN RANCAKALONG KABUPATEN SUMEDANG DALAM PERSPEKTIF PENDIDIKAN KARAKTER

    Full text link
    Tujuan penelitian ini adalah mendokumentasikan dan memaknai struktur dan fungsi upacara ngalaksa, serta menemukan dan menyusun nilai pendidikan karakter dari upacara tersebut. Metode yang digunakan adalah paradigma kualitatif pada kajian tradisi lisan, dengan teknik penelusuran kepustakaan, wawancara mendalam dan terbuka, perekaman dan pendokumentasian, pengamatan terlibat, serta konvensi tradisi lisan. Adapun hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama struktur upacara ngalaksa terbangun atas lima tahapan kegiatan, yaitu badanten, mera, meuseul, ngalaksa, dan wawarian. Terdapatnya struktur baru yang menjadi kreasi atas diakomodasinya upacara ngalaksa menjadi agenda pemerintah dengan dijadikannya aset pariwisata. Selain itu, adanya 10 unsur yang tidak dapat dipisahkan dari strukturnya, yaitu nama kegiatan, pelaku, benda-benda, bahan-bahan, makanan, tuturan yang diucapkan dalam upacara dan tuturan yang menyertai upacara ngalaksa, kesenian, gerakan, tempat penyelenggaraan, dan waktu pelaksanaan.Fungsi upacara ini diurai melalui tiga postulat fungsi yaitu postulat kesatuan fungsional (functional unity), fungsionalisme universal (universal functionalism), dan postulat kepokokan (indispensability). Selain itu, dibahas mengenai pertukaran antar subsistem dan sektor fungsional upacara ngalaksa dalam sistem sosial, yang menjadikan upacara ini dianggap penting oleh pemerintah dan diagendakan sebagai aset pariwisata budaya. Kedua, terdapat enam nilai pendidikan karakter dari upacara ngalaksa, yaitu: nilai pribadi, nilai kemasyarakatan, nilai kealaman, nilai ketuhanan, nilai pribadi mengejar kemajuan lahiriah, dan nilai pribadi mengejar kepuasan batiniah. Kesimpulan penelitian ini adalah struktur dan fungsi upacara ngalaksa memancarkan nilai-nilai karakter yang sudah jadi dari masyarakat pelakunya, dan pada wilayah pendidikan nonformal, nilai-nilai tersebut berpotensi menjadi tauladan bagi masyarakat banyak, yang dalam penelitian ini diwakili oleh masyarakat model. Rekomendasi penelitian ini ditujukan kepada pihak-pihak yang berkaitan dan berkepentingan dengan upacara ngalaksa dan pendidikan secara umum. Kata Kunci: upacara ngalaksa, nilai, dan pendidikan karakte

    Interferensi Bahasa Sunda dalam Tuturan Bahasa Indonesia Masyarakat Kampung Cileutik

    Full text link
    This study was conducted considering that bilingual people are prone to making mistakes or confusion in using B1 structures into B2 or vice versa which causes confusion in the language structure used. Ambiguity or interference is a bad language attitude so it should not be allowed to be protracted. In conducting this research, the researcher used descriptive analysis method with data collection techniques in the form of observation and interview. The results of this study show that interference still occurs frequently, especially in the lexical field in the form of the inclusion of respondents' Sundanese vocabulary into Indonesian speech. The factors causing the interference are due to the lack of vocabulary mastery of Indonesian (B2) and habits that are carried out in speech. This cannot be avoided by bilingual communities, but it can be minimized by fostering awareness of good language in accordance with the language structure.  &nbsp

    Baduy People of Banten Disagree with Some Accounts of Researchers: A Comparative Text Analysis

    Full text link
    The Baduy people, a tribal group from Banten, Indonesia, are known for their self-isolation, environmental care, and resistance to change. With a cultural aversion to writing, they rely on oral traditions to preserve their history and beliefs. Concerns over misrepresentation in research publications led the Baduy elders to authorize Saatnya Baduy Bicara (SBB), the first official book presenting their viewpoints. This study uses comparative text analysis to examine SBB alongside external research publications, focusing on conflicting statements regarding the Baduy people’s origin and preferred titles. Five variables are analyzed to assess the credibility of statements from both sources. The findings show that the Baduy elders demonstrate strong internal consistency and source perspective, reflecting their cultural and ideological coherence. However, their weaknesses in methodology, data collection, and external validation are attributed to their cultural rejection of writing. Conversely, external researchers excel in methodology, data collection, and intent/purpose but lack source perspective and often present limited or biased theories. The results emphasize the need to address cultural and methodological biases to ensure balanced and accurate interpretations of indigenous knowledge systems. By bridging gaps between oral traditions and academic research, a more credible and inclusive understanding of the Baduy people can be achieved

    Makna Kata Arkais Pada Buku Palsafah Pakaian Penghulu Jo Pidato Aluo Pasambahan Adat Minangkabau

    Full text link
    Although there have been many studies that discuss meaning, both in Indonesian and in Minangkabau, no research has been found that examines the lexical meaning and cultural meaning of Minangnese archaic words in pasambahan. This is important to study because pasambahan contains advice, manners, cultural values, and educational values that have existed for a long time and must be passed down. Therefore, there is a need for research that explores the lexical meaning and meaning of the cultural context contained in archaized words in pasambahan. This research uses a qualitative design. The source of data comes from a study entitled Identification of Archaic Words in the Book of the Philosophy of Penghulu Clothing Jo Pidato Aluo Pasambahan of Minangkabau Custom. The data was tested in an interview with the author of the book. The results show that of the 34 archaic words studied, 26 words have lexical meaning and cultural meaning, and 8 words only have lexical meaning. The cultural meaning contains advice to tribal leaders, advice for daily life, a description of Minangkabau nature, a description of Minangkabau traditional houses, and manners, advice on religion, and advice on decision-making

    Realisasi Proses Transitivitas pada Pidato Shinzou Abe di Acara “Singapore Lecture” ke-33

    Full text link
    This research discusses how the transitivity process was realized in Shinzou Abe's speech at the 33rd "Singapore Lecture", using transitivity process analysis, it can be seen how Shinzo Abe as the leader of the country shows his attitude verbally in the international sphere, especially in this case countries ASEAN. Researchers used speech data taken from the archives of the Japanese Ministry of Relations, which was then broken down into sentences for analysis to find the dominant transitivity process. As a result, 223 data were obtained which were dominated by the behavioral transitivity process, amounting to 83 data or 37.22%. The discussion which was the main point in Shinzo Abe's speech was more focused on building cooperation and good relations with ASEAN countries

    Aspek Sosial dalam Novel Surat Wasiat Karya Samsoedi

    Full text link
    This research was conducted due to the lack of public awareness in appreciating literary works that are full of social values. The purpose of this study is to describe the social elements contained in the novel Surat Wasiat by Samsoedi. In this research, the descriptive analysis method is used, which involves collecting data from the novel Surat Wasiat, analyzing the collected data, and presenting a description of the data. The main source of data in this research comes from the novel Surat Wasiat.  The data obtained is a record of the results of analyzing the literature that has been studied. The results of this study identified three social dimensions, including religious, economic, and educational aspects. In the religious social dimension, three related elements were identified, including 1) belief in Allah Swt, 2) obeying His commands, and 3) sincere attitude and gratitude to Him. In the social dimension of education, there are six elements, including 1) ethics, 2) respect, 3) patriotism, 4) peace, 5) avoiding envy and jealousy, and 6) complying with prevailing social norms. AbstrakPenelitian ini dilakukan karena kurangnya kesadaran masyarakat dalam menghargai karya sastra yang sarat dengan nilai-nilai sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguraikan elemen-elemen sosial yang terdapat dalam novel Surat Wasiat karya Samsoedi. Dalam penelitian ini, digunakan metode analisis deskriptif yang melibatkan pengumpulan data dari novel Surat Wasiat, proses analisis terhadap data yang terhimpun, serta penyajian deskripsi dari data tersebut. Sumber utama data dalam penelitian ini berasal dari novel Surat Wasiat.  Data yang didapatkan adalah catatan dari hasil analisis literatur yang telah diteliti. Hasil dari penelitian ini mengidentifikasi tiga dimensi sosial, meliputi aspek keagamaan, ekonomi, dan pendidikan. Dalam dimensi sosial keagamaan, teridentifikasi tiga elemen terkait, termasuk 1) keyakinan pada Allah Swt, 2) mematuhi perintah-Nya, serta 3) sikap ikhlas dan rasa syukur kepada-Nya. Dalam dimensi sosial pendidikan, terdapat enam unsur, di antaranya 1) etika, 2) sikap menghargai, 3) patriotisme, 4) kedamaian, 5) menghindari rasa iri dan dengki, serta 6) patuh pada norma-norma sosial yang berlaku

    ANALISIS RAGAM BAHASA PADA MASYARAKAT MULTILINGUAL DI PASAR PRAPATAN KABUPATEN MAJALENGKA: KAJIAN SOSIOLINGUISTIK

    Full text link
    Penelitian ini merupakan kajian sosiolinguistik yang bertujuan untuk mengidentifikasi ragam bahasa yang muncul dalam interaksi jual-beli pada masyarakat multilingual di pasar Prapatan, Kabupaten Majalengka. Adapun metode penelitian yang digunakan pada penelitian ini yakni deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data simak libat cakap, wawancara dan dokumentasi. Teori penelitian yang digunakan yakni Ragam Bahasa berdasarkan tingkat keformalannya menurut Martin Joos (1967) dengan teori faktor munculnya ragam bahasa menurut Holmes (1992). Hasil dari penelitian ini menunjukan ada tiga ragam bahasa yang muncul dari interaksi jual-beli tersebut yakni 1) ragam usaha (consultative) yang menunjukan adanya tujuan komunikasi untuk mencapai kesepakatan jual-beli, 2) ragam santai (casual) & ragam usaha (consultative) menunjukan komunikasi yang didukung kedekatan personal para penutur dengan tujuan kesepakatan jual-beli, dan 3) ragam akrab (intimate) & ragam usaha (consultative) menunjukan komunikasi yang dilatarbelakangi adanya hubungan kekeluargaan antara salah satu penutur dengan tujuan akhir mencapai kesepakatan jual-beli. Sementara faktor pendukung munculnya ragam bahasa yang ditemukan dari penelitian ini yakni berdasarkan 1) status sosial, 2) jenis kelamin, 3) usia, dan 4) etnis.Kata Kunci: Sosiolinguistik, ragam bahasa, multilingual, pasar tradisiona

    STRUKTUR NARATIF VLADIMIR PROPP PADA CERITA RAKYAT IKAN DEWA DI KABUPATEN KUNINGAN

    Full text link
    ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menguji cobakan teori struktur naratif Vladimir Propp terhadap cerita rakyat ikan dewa di Kabupaten Kuningan, dengan mengambil sampel satu dari tiga versi cerita rakyat ikan dewa yang didapat di lapangan. Latar belakang penelitian ini adalah sebagai upaya pelestarian sastra lisan yang kini sudah hampir hilang dikarenakan perkembangan teknologi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskrriptif, data penelitian merupakan cerita rakyat yang bersumber langsung dari lapangan, observasi, dokumentasi dan wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data dan deskripsi analisi digunakan untuk mengolah data menerapkan pendekatan struktur naratif Vladimir Propp.  Hasil dari penelitian ini, membuktikan bahwa pendekatan struktur naratif Vladimir Propp dapat digunakan untuk menganalisis cerita rakyat yang berasal dari lapangan, dengan ditemukanya 21 fungsi pelaku, yang didistribusikan ke dalam tiga lingkungan aksi, dan terdapat tiga pola atau pergerakan cerita sengan skema (α)-J-a-Z-Q-E-Rs-↑-B-↑-β-B-E-B-N-B-J-F-K-B-F-T-(X). Selain itu, struktur naratif Vladimir Propp bukan hanya menggambarkan struktur naratif sebuah karya sastra, akan tetapi dapat mengetahui karakter tokoh yang terdapat dalam cerita tersebut, seperti yang digambarkan oleh tokoh Sunan Gunung Jati dalam cerita tersebut.Kata kunci 1;, cerita rakyat, ikan dewa, kuningan, struktur  VLADIMIR PROPP'S NARRATIVE STRUCTURE ON THE FOLKLORE OF THE GOD FISH IN KUNINGAN REGENCY ABSTRACT: This study aims to test Vladimir Propp's narrative structure theory on the folklore of ikan dewa in Kuningan Regency, by taking a sample of one of three versions of the folklore of ikan dewa obtained in the field. The background of this research is as an effort to preserve oral literature which is now almost lost due to technological developments. This research is a qualitative research with a descriptive approach, the research data is folklore that comes directly from the field, observations, documentation and interviews are used as data collection techniques and descriptive analysis is used to process data using Vladimir Propp's narrative structure approach. The results of this study prove that Vladimir Propp's narrative structure approach can be used to analyze folklore originating from the field, by finding 21 actors' functions, which are distributed into three action environments, and there are three patterns or story movements with schemes (α)- J-a-Z-Q-E-Rs-↑-B-↑-β-B-E-B-N-B-J-F-K-B-F-T-(X). In addition, Vladimir Propp's narrative structure not only describes the narrative structure of a literary work, but can identify the characters in the story, as depicted by the character Sunan Gunung Jati in the story.Keywords 1;, folklore, ikan dewa, kuningan, structur
    corecore