1,720,971 research outputs found

    KONSEP, POLA, DAN IDEOLOGI KETOPRAK TJONTHONG

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan humor dalam Ketoprak Tjonthong yang meliputi konsep, pola, dan ideologinya. Ketoprak Tjonthong merupakan grup ketoprak yang dibentuk di Yogyakarta tahun 2004 dan telah berhasil mementaskan sebanyak 33 lakon dimulai dari Lakon Minggat (2004) sampai dengan Lakon Walidarma (2019). Objek kajian penelitian ini adalah lakon Panguwasa Samodra (2019). Di samping dua lakon lain yang diamati untuk membantu analisis yaitu lakon Baron Sakendher dan lakon Keris Mataram. Adapun analisis tentang konsep humor, pola dan ideologinya akan digunakan teori humor dari Arthur Berger dan kajian struktural. Langkah penelitian yang dilakukan terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap pengumpulan data dan tahap analisis data. Data dikumpulkan dengan melakukan studi pustaka dan bedah naskah. Sedangkan tahap analisis data dilakukan dengan melacak peristiwa yang terjadi, klasifikasi data, untuk menemukan konsep humor, pola, dan ideologi Ketoprak Tjonthong. Hasilnya ditemukan sekitar 16 konsep humor lakon Panguwasa Samodra, di antaranya adalah bombast, irony, misunderstanding, pun, repartee, sarcasm, sexual allusion, conceptual surprise, absurd, repetition, ignorance, embarrassment, imitation, clumsiness, chase, dan exaggeration. Selain itu, terdapat tiga pola humor dalam Ketoprak Tjonthong yaitu pola pengkarakteran pemain, pola penamaan tokoh, dan pola pengadegan. Berkaitan dengan ideologi, terdapat tiga hal yang menjadi ciri khas Ketoprak Tjonthong dan selalu menjadi konsep dasar pementasannya yaitu menggarap fenomena sosial masyarakat, mengangkat cerita-cerita baru dalam khasanah ketoprak, dan menggunakan humor satir sebagai presentasi estetisnya.Kata kunci: Ketoprak Tjonthong, konsep humor, pola humor, ideologiThis study aims to explain the humour in Ketoprak Tjonthong, which includes its concepts, patterns, and ideology. Ketoprak Tjonthong is a ketoprak group that was formed in Yogyakarta in 2004 and has successfully performed 33 plays starting from Lakon Minggat (2004) to Lakon Walidarma (2019). The object of this research study is the play Panguwasa Samodra (2019). In addition to the two other plays that were observed to assist the analysis, they were the Baron Sakendher play, and the Keris Mataram play. As for the analysis of the concept of humour, its patterns and ideology, the theory of humour from Arthur Berger and structural studies will be used. The research step consisted of 2 stages, namely the data collection stage and the data analysis stage. First, data were collected by conducting literature studies and text review. At the same time, the data analysis stage was carried out by tracking the events that occurred, classifying the data, to find the humorous concept, patterns, and ideology of Ketoprak Tjonthong. The results found around 16 humorous concepts for the Panguwasa Samodra play, including bombast, irony, misunderstanding, pun, repartee, sarcasm, sexual allusion, conceptual surprise, absurd, repetition, ignorance, embarrassment, imitation, clumsiness, chase, and exaggeration. In addition, there are three humour patterns in Ketoprak Tjonthong, namely the character pattern, the character naming pattern, and the scene pattern. Regarding ideology, three things characterize Ketoprak Tjonthong and have always been the basic concept of its performances, namely working on social phenomena in society, bringing up new stories in the realm of ketoprak, and using satirical humour as its aesthetic presentation.Keywords: Ketoprak Tjonthong, the concept of humour, humour patterns, ideolog

    “Kartisampéka” Trigantalpati dalam Lakon Wayang Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito (“Kartisampéka” Trigantalpati in Gandamana Tundhung Shadow Puppet Play Performance by Ki Hadi Sugito)

    Get PDF
    AbstractThis paper aimed to examine kartisampéka Trigantalpati in the Gandamana Tundhung play performed by Ki Hadi Sugito. Kartisampéka is an act of deluding others subtly and not automatically visible to other people (sinamun sinamudana). Kartisampéka has a negative connotation because the actions carried out are aimed at harming others. The data analysis was carried out by using descriptive analytical method. This study succeeded in finding kartisampéka as a sub-theme of the Gandamana Tundhung play performed by Ki Hadi Sugito. The kartisampéka concept which attached to the Trigantalpati character was used to build the plot for the Gandamana Tundhung play performed by Ki Hadi Sugito. AbstrakTulisan ini bertujuan mengkaji kartisampéka Trigantalpati dalam lakon Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito. Kartisampéka ialah perbuatan memperdaya orang lain secara halus dan tidak serta merta dapat dilihat oleh orang lain (sinamun sinamudana). Kartisampéka mengandung konotasi negatif, karena perbuatan yang dilakukan bertujuan mencelakakan orang lain. Analisis data dilakukan dengan metode deskriptif analitis. Kajian ini berhasil menemukan kartisampéka sebagai sub-tema dari lakon Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito. Konsep kartisampéka yang dilekatkan pada tokoh Trigantalpati digunakan untuk membangun plot lakon Gandamana Tundhung Ki Hadi Sugito

    Perempuan dimata perempuan sebuah kajian naskah sandiwara radio karya Maria Kadarsih.

    No full text
    Penelitian in bertujuan untuk mengetahui latar belakang penulisan naskah, serta untuk mengetahui struktur naskah yang terdiri dari tema, alur, penokohan dan latar dan mengungkapkan permasalahan gender yang terdapat pada naskah Prahara.Metode penelitian yang digunakana adlah metode pengumpulan data dan analisa data.Penelitian ini mencoba mengungkap tentang analisis struktural naskah yang terdiri plot, tema, penokohan dan latar berikut kajian gender yang ada didalamnya. Dari analisa yang dilakukan disimpulkan bahwa naskah sandiwara radio prahara merupakan sebuah yang menarik, penuh dengan suspense dan surprise yang tak terduga, karakteristik tokohna komplek dan alurnya indah

    KONSEP SAKTI DALAM LAKON SAWITRI: ANALISIS PERTUNJUKAN WAYANG KI NARTOSABDO

    Get PDF
    This article is aimed at discussing the form of wayang performance and sacred (sakti) concept on Sawitri shadow puppet play performed by Ki Nartosabdo. It employes hermeneutics and dramaturgy approaches. Based on the analysis it can be concluded that the main theme is “destiny can be changed” (kodrat bisa diwiradat). The mandate given in the story is that with sincerity, loyalty, and persistence, everything can be changed. The main character of the story is Dewi Sawitri. The wayang performance is presented with Surakarta style. The sacred (sakti) concept in Sawitri is manifested in spiritual behaviour, loyalty, her unwavering and unyielding stance in living her life. It is proved that she is able to contribute positively to her husband, parent in-law, parent, and the environment.Keywords: sacred, shadow pupet performance, Surakarta styl

    Perempuan dalam naskah ketoprak karya Handung Kusudyarsana

    No full text
    Perempuan dengan keperkasaan yang dimilikinya ternyata mampu menjadi pemimpin dan pahlawan yang disegani oleh kawan maupun lawan. Handung menyikapi bahwa kekerasan terhadap perempuan hendaknya jangan sampai terjadi lagi

    Pembelajaran Teknik Pemeranan Bagi Mahasiswa Jurusan Pedalangan

    Get PDF
    This study aims to find a characterization technique that can be applied in building puppet characters by puppets students. This study uses a theater approach that is the theory of techniques of Pemeranan. Behavioral technique is a common technique that can be learned to improve the skills, acumen, and skills of a cast in the role of a drama character. The method used is the observation method involved. The results are found that as a cast, puppet pupils need to have basic capital of character and be able to master basic techniques of characterization. In relation to the role techniques that puppeteers can learn to improve their character building abilities are the techniques of breathing, vocal techniques, content-giving techniques, development techniques, peak engineering, protrusion techniques, and improvisation techniques.Penelitian ini bertujuan menemukan teknik pemeranan yang dapat diaplikasikan dalam membangun karakter tokoh wayang oleh mahasiswa Jurusan Pedalangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan teater yakni konsep teknik pemeranan.Teknik pemeranan merupakan teknik umum yang dapat dipelajari untuk meningkatkan ketrampilan, ketajaman, dan kecakapan seorang pemeran dalam memerankan karakter tokoh drama. Metode yang digunakan adalah metode pengamatan terlibat. Adapun hasil yang ditemukan ialah mahasiswa pedalangan sebagai seorang pemeran, perlu memiliki modal dasar pemeranan dan harus mampu menguasai teknik dasar pemeranan. Adapun teknik pemeranan yang dapat dipelajari oleh mahasiswa Pedalangan untuk meningkatkan kemampuan membangun karakter adalah teknik pernapasan, teknik olah vokal, teknik memberi isi, teknik pengembangan, teknik membina puncak, teknik penonjolan, dan teknik improvisasi

    Gaya akting ketoprak Mataram

    No full text
    Sebuah gaya lahir sebagai suatu bentuk kualitas khusus (karakteristik) untuk sebuah pementasan. PS Bayumemiliki suatu gaya yang membuat kelompok ini berbeda dengan kelompok ketoprak lain. Gaya akting yang digunakan adalah gaya akting realis, pengertian realis disini adalah mendudukan manusia atau tokoh pada posisi atau status sosialnya masing-masing. Dalam ketoprak PS Bayu juga memiliki teknik pemeranan

    Bentuk pementasan ketoprak Mataram RRI Nusantara II Yogyakarta

    No full text
    Ketoprak Mataram RRI Nusantara II Yogyakarta adalah kelompok ketoprak yang masih aktif melakukan pementasan ketoprak. Ada 2 bentuk pementasan yang dilakukan, yaitu pementasan di radio yang disiarkan seminggu sekali & pementasan di panggung yang berlangsung sebulan sekali di Auditorium Demangan. Terdapat perbedaan yang cukup penting pada kedua bentuk pementasan tersebut. Modal utama dari seni audio adalah pembentukan karakter suara dari pemain. Sementara pementasan di panggung lebih kompleks karena unsur yang ditonton adalah audio-visual, sehingga faktor pemilihan lakon, garap alur dramataik, pemilihan karakter tokoh berkaitan dengan usia pemain, tata rias busana, setting & properti, tata cahaya & tata suara dibutuhkan agar pementasan ketoprak di panggung menarik

    Humor Dalam Ketoprak Tjonthong: Konsep, Pola, Dan Ideologinya

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsep humor, pola humor dan ideologi pertunjukan Ketoprak Tjonthong. Ketoprak Tjonthong merupakan salah satu grup ketoprak di Yogyakarta yang banyak memasukkan idiom humor/dagelan dalam pertunjukannya. Dibentuk tahun 2004 grup ini telah berhasil mementaskan sebanyak 33 lakon dimulai dari Lakon Minggat (2004) sampai dengan Lakon Walidarma (28-29 Desember 2019). Dari hampir semua lakon yang dipentaskan, unsur humor berperan dalam membangun alur cerita dan suasana cerita. Dari banyaknya lakon yang ada dipilih satu lakon berjudul Panguwasa Samodra (dipentaskan di Concert Hall TBY tanggal 7-8 Juni 2019) menjadi studi kasus. Metode penelitian akan dilakukan melalui dua tahap, yakni tahap pengumpulan data dan tahap analisis data. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, wawancara, diskografi, dan bedah naskah. Tahap analisis data dilakukan dengan melacak peristiwa yang terjadi, klasifikasi data, kemudian mencari jenisjenis humor untuk selanjutnya ditentukan pola, serta melacak ideologi/latar belakang pertunjukannya. Hasil yang didapat adalah dalam lakon Panguwasa Samodra dapat ditemukan sekitar 16 konsep humor, di antaranya adalah bombast, irony, misunderstanding, pun, repartee, sarcasm, sexual allusion, conceptual surprise, absurd, repetition, ignorance, embarrassment, imitation, clumsiness, chase, dan exaggeration. Selain itu, terdapat tiga pola humor dalam Ketoprak Tjonthong yaitu pola pengkarakteran pemain, pola penamaan tokoh, dan pola pengadegan. Berkaitan dengan ideologi, terdapat tiga hal yang menjadi ciri khas Ketoprak Tjonthong dan selalu menjadi konsep dasar pementasannya yaitu menggarap fenomena sosial masyarakat, mengangkat cerita-cerita baru dalam khasanah ketoprak, dan menggunakan humor sebagai presentasi estetisnya

    Konsep Sakti Dalam Lakon Sawitri: Sebuah Analisis Pertunjukan Wayang Kl Nartosabdo

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk pakeliran dan konsep sakti yang terdapat dalam lakon wayang Sawitri karya Ki Nartosabdo. Penelitian ini menggunakan pendekatan dramaturgi dan hermeneutik. Berdasarkan analisis bentuk penyajian, tema utama lakon ini adalah lwdrat bisa diwiradat. Amanat yang disampaikan adalah bahwa dengan ketulusan, kesetiaan, dan pantang menyerah, segala sesuatu bisa berubah. Tokoh utama lakon ini adalah Dewi Sawitri. Lakon ini memiliki pola strulctur penyajian wayang gaya Surakarta. Konsep sakti dalam Sawitri terwujud pada laku spiritual, kesetiaan, sikapnya yang teguh pendirian dan pantang menyerah dalam menjalani hidupnya. Hal ini terbukti bahwa Sawitri mampu memberikan kontribusi positif pada suami, mertua, orang tua dan lingkuogan
    corecore