1,721,018 research outputs found
UJI EFEKTIVITAS SEDIAAN PATCH TOPIKAL EKSTRAK ETANOL 96% DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava L.) TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA KELINCI JANTAN (Oryctolagus cuniculus)
Daun jambu biji (Psidium guajava L.) merupakan tanaman yang banyak
digunakan dan diyakini masyarakat sebagai obat tradisional pengobatan luka.
Daun jambu biji mengandungan Alkaloid, saponin, tanin, dan flavanoid yang
merupakan kandungan yang dapat membantu penyembuhan luka. Penelitian ini
bertujuan untuk menguji efektivitas patch topikal ekstrak etanol 96% daun jambu
biji terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci jantan. Metode penelitian ini
adalah penelitian eksperimental dimana menggunakan 5 kelompok hewan uji,
yaitu kontrol positif, kontrol negatif, patch dengan konsentrasi 1,25% sebagai
(F1), patch dengan konsentrasi 2,5% (F2) dan patch dengan konsentrasi 3,75%
(F3), dengan pengulangan sebanyak tiga luka. Analisis data menggunakan
ANOVA (Analysis of Variant) dan dilanjutkan dengan uji post hoc yaitu uji
duncan. Penelitian selama 7 hari dengan penempelan patch satu kali sehari setiap
pagi hari menunjukan luka mengalami penyembuhan, hasil analisis data yang
didapatkan dari uji lanjutan duncan yaitu p>0,05 yang artinya tidak terdapat hasil
yang berbeda bermakna. Dari 5 kelompok perlakuan menunjukkan bahwa jika
dibandingkan dengan kontrol positif dan negatif, formula 3 merupakan formula
yang paling baik dilanjutkan dengan formula 2 dan formula 1 dalam
menyembuhkan luka sayat. Hasil ini menunjukan bahwa patch ekstrak daun
jambu biji memiliki efektifitas dalam menyembuhkan luka sayat pada kelinci
jantan.
Kata kunci: Penyembuhan luka sayat, patch, kelinci, daun jambu biji
v
ABSTRACT
TESTING THE EFFECTIVENESS OF A TOPICAL PATCH PREPARATION
OF 96% ETHANOL EXTRACT OF GUAVA LEAVES (Psidium guajava L.)
ON THE HEALING OF CUT WOUNDS IN MALE
RABBITS (Oryctolagus cuniculus)
Mike Angreyanti, Rose Intan Perma Sari, Nori Wirahmi
Guava leaf (Psidium guajava L.) is a plant that is widely used and believed by the
community as a traditional medicine for wound treatment. Guava leaves contain
Alkaloids, saponins, tannins, and flavanoids which are ingredients that can help
wound healing. This study aims to test the effectiveness of topical patches of 96%
ethanol extract of guava leaves on wound healing in male rabbits. This research
method is an experimental study which uses 5 groups of test animals, namely
positive control, negative control, patch with a concentration of 1.25% as (F1),
patch with a concentration of 2.5% (F2) and patch with a concentration of 3.75%
(F3), with repetition of three wounds. Data analysis used ANOVA (Analysis of
Variant) and continued with the post hoc test, namely the Duncan test. Research
for 7 days by sticking the patch once a day every morning showed that the wound
was healing, the results of data analysis obtained from the duncan follow-up test
were p>0.05, which means there were no significantly different results. Of the 5
treatment groups, it shows that when compared with positive and negative
controls, formula 3 is the best formula followed by formula 2 and formula 1 in
healing the incision wound. These results indicate that guava leaf extract patches
have effectiveness in healing cuts in male rabbits.
Keywords: Wound healing, patch, rabbit, guava lea
PENGARUH TEKNIK MIKROENKAPSULASI DENGAN POLIMER HPMC TERHADAP AKTIVITAS DAN STABILITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NANAS (Ananas Comosus (L) Merr)
PENGARUH TEKNIK MIKROENKAPSULASI DENGAN POLIMER HPMC TERHADAP AKTIVITAS DAN STABILITAS BROMELAIN KASAR DARI BATANG NANAS (Ananas comosus (L.) MERR).
Abstrak
Tujuan dari penelitan ini adalah mengetahui pengaruh penyalutan terhadap stabilitas bromelain kasar hasil mikroenkapsulsi dengan metode emulsifikasi penguapan pelarut. Jenis penyalut yang digunakan adalah HPMC yang dibuat dalam 4 formula dengan perbandingan penyalut dan zat aktif 0,5:1, 1:1, 1,5:1, 1:1. Mikrokapsul yang diperoleh dievaluasi meliputi evaluasi spektrofotometer FT-IR, distribusi ukuran partikel, efisiensi penjerapan (EE), kandungan air, SEM, profil disolusi, konsentrasi protein, aktivitas enzim dan dilanjutkan dengan pengujian stabilitas pada suhu kamar selama 3 bulan. Hasil analisis spektrofotometer FT-IR menunjukkan tidak terdapat interaksi antara zat aktif dengan polimer, analisi SEM menunjukkan semua mikrokapsul pada masing-masing formula berbentuk bulat (sferis), hasil efisiensi penjerapan pada F1 38,6%; F2 40,1%; F3 77,2% dan FP 43,5%, hasil disolusi pada menit ke 360 menunjukkan F1 55,51%; F2 38,04%; F3 29,26% dan FP 41,22%, Secara keseluruhan formula yang didapatkan telah memenuhi persyaratan untuk ukuran partikel mikrokapsul dan distribusi ukuran partikel hampir merata dan uji stabilitas menunjukkan penurunan kadar sebesar 93,99%-89,86% dan aktivitas enzim pada F1 131,83U/ml; F2 125,24U/ml; F3 124,27U/ml dan FP 156,69U/ml. Penelitian ini mengungkapkan bahwa formulasi mikrokapsul bromelain kasar dengan HPMC dapat mempertahankan aktivitas enzim dan stabilitas dari bromelain kasar dan dapat menurunankan laju disolusi.
Kata Kunci: Bromelain kasar, HPMC, Mikrokapsul, Aktivitas dan Stabilita
UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL 96% KULIT KOPI ROBUSTA LANANG (Coffea canephora) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes
Indonesia sebagai negara tropis memiliki suhu dan kelembapan tinggi yang
mendukung pertumbuhan mikroorganisme penyebab infeksi kulit, salah satunya
Propionibacterium acnes, bakteri utama penyebab jerawat. Penggunaan antibiotik
yang kurang tepat beresiko menimbulkan resistensi, sehingga diperlukan alternatif
dari bahan alam, seperti kulit kopi robusta lanang (Coffea canephora) yang
diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, tanin dan
saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri dan
konsentrasi paling efektif ekstrak etanol 96% kulit kopi robusta lanang (Coffea
canephora) terhadap Propionibacterium acnes. Penelitian ini menggunakan
metode difusi cakram dengan melihat zona hambat di sekitar kertas cakram.
Konsentrasi ekstrak etanol 96% kulit kopi robusta lanang yang digunakan yaitu
2%, 6%, 10%, 20%, 60% dan 80%. Clindamycin sebagai kontrol positif
digunakan sebagai pembanding aktivitas antibakteri. Analisis yang digunakan
yaitu analisis deskriptif. Hasil menunjukkan bahwa konsentrasi 2%, 6%, dan 10%
tidak memberikan daya hambat, sementara konsentrasi 20%, 60% dan 80%
menujukkan zona hambat dengan diameter masing-masing sebesar 5,36 mm, 8,81
mm, dan 9,93 mm. Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak etanol 96% kulit
kopi robusta lanang (Coffea canephora) memiliki aktivitas antibakteri bersifat
bakteriostatik dengan konsentrasi 80% sebagai konsentrasi terbaik terhadap
Propionibacterium acnes dan berpotensi dikembangkan sebagai alternatif alami
untuk pengobatan jerawat serta sebagai upaya pemanfaatan limbah tanaman kopi.
Kata kunci : Antibakteri, Coffea canephora, Ekstrak Etanol 96%, Kulit Kopi
Robusta Lanang, Propionibacterium acne
FORMULASI SEDIAAN SABUN CAIR DARI EKSTRAK ETANOL 96% KULIT PEPAYA (Caricca papaya L.)
Kulit papaya California (Caricca papaya L.) merupakan tanaman yang
mengandung senyawa antibakteri seperti flavanoid, saponin, dan tanin. Selain itu
kulit papaya California juga mengandung antioksidan yang mampu untuk
mencegah radikal bebas pada kulit. Penelitian ini merupakan penelitian
eksperimental. Ekstrak etanol 96% kulit papaya California dibuat dengan metode
maserasi menggunakan etanol 96%. Penelitian ini bertujuan untuk
memformulasikan ekstrak kulit papaya California (Caricca papaya L.) menjadi
sediaan sabun cair dengan variasi konsentrasi 5%, 9%, 13%, dan akan dilakukan
evaluasi yang meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji ketinggian
busa dan stabilitas busa, uji viskositas, uji stabilitas suhu kamar, uji daya
terbilaskan, uji iritasi, uji hedonik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pH
pada keempat formula berkisar 8-9 dimana standar pH pada kulit yakni 8-11. Uji
tinggi busa yang dimiliki keempat formula pada sabun berkisar 55-63%, dan
stabilitas busa memperoleh hasil persentase berkisar 37-49%. Nilai viskositas
keempat formula berkisar 830,02 cp - 3510,6 cp memenuhi persyaratan sediaan
sabun cair yang baik menurut standar SNI. 06-4085-1996. Kesimpulannya dari
penelitian ini sediaan sabun cair dari ekstrak etanol 96% kulit papaya California
(Caricca papaya L.) dapat diformulasi menjadi sediaan sabun cair dan formula
dengan sifat fisik terbaik yang didapati ada pada F2 dengan konsentrasi 9%
berdasarkan dari hasil evaluasi memiliki nilai pH 8,93, uji tinggi busa 63%, uji
viskositas 910,16 cp, uji daya terbilaskan 17,79. Dan pada uji stabilitas tidak
mengalami perubahan apapun. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh dari
peningkatan konsentrasi ekstrak dapat menurunkan nilai pH dan viskositas
sediaan.
Kata kunci: Formulasi, Kulit papaya California, Sabun cai
FORMULASIDANEVALUASISEDIAANLILINAROMATERAPIDARI MINYAK ATSIRI KULIT BUAH JERUK KALAMANSI (Citrofortunella microcarpaL)
Stres merupakan respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tekanan atau
tuntutan dari lingkungan, baik dalam konteks pekerjaan, sosial, maupun pribadi.
Stres kronis diketahui menjadi faktor risiko berbagai penyakit, seperti gangguan
kecemasan,depresi, hipertensidanpenyakit jantung.Penelitianinibertujuanuntuk
memformulasikan dan mengevaluasi sediaan lilin aromaterapi dari minyak atsiri
kulit buah jeruk kalamansi (Citrofortunella microcarpa L) yang berasal dari
KabupatenBengkuluTengah.Minyakatsiridiperolehmelaluimetodedestilasiuap dan
digunakan dalam empat variasi formulasi, yaitu F0 (0%), F1 (3%), F2 (6%), dan
F3 (9%). Evaluasi dilakukan melalui uji organoleptik, uji homogenitas, uji waktu
bakar, ujiketahanan aroma, dan uji hedonik. Hasil uji menunjukkan bahwa semua
formula bersifat homogen dan memiliki bentuk padat berwarna oranye. Formulasi
F3 menghasilkan aroma khas jeruk kalamansi yang paling kuat dan mendapat
penilaian ―sangat suka‖ dari panelis. Ketahanan aroma tertinggi juga ditunjukkan
oleh F3 selama 14 menit 21 detik. Namun, waktu bakar F3 lebih pendek
dibandingkan formulasi lainnya, yaitu 1 jam 58 menit. Penelitian ini
menyimpulkanbahwaminyakatsirikulitjerukkalamansiberpotensisebagaibahan
aktiflilin aromaterapiyang memberikanefek relaksasidengankarakteristik aroma
yang menyegarkan dan disukai konsumen.
Katakunci:Evaluasi,Formulasi,Jerukkalamansi,Lilinaromaterapi,Minyakatsiri
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
