35 research outputs found
ANALISIS RASIO KEUANGAN PADA PT ADHYA TIRTA SRIWIJAYA PALEMBANG
The purpose of this final report is to know and analyze the ratio of liquidity, solvency ratio, activity ratio and profitability ratio at PT Adhya Tirta Sriwijaya Palembang. The author uses primary data in the form of statements of financial position, income statement, statement of changes in equity and notes to the financial statements from 2014 until 2016 and secondary data in the form of company history, corporate activities, vision and mission as well as organizational structure and division of tasks PT Adhya Tirta Sriwijaya Palembang. Based on the data obtained that the financial statements of 2014, 2015 and 2016 and the authors to analyze the financial statements, it can be seen that the liquidity ratio, activity ratio and profitability ratio of companies that have fluctuated. The main problem that arises is an increase in trade receivables followed by an increase in current corporate debt, which means that the company is unable to pay its current liabilities due to the accumulation of accounts receivable
Preferensi Ekologis Jenis Tendani (Goniothalamus macrophyllus (Blume) Hook.f. & Thomson) dalam Hubungannya dengan Kandungan Senyawa Kimia di Kabupaten Kuningan Provinsi Jawa Barat
Budidaya G. macrophyllus memerlukan pengetahuan mengenai preferensi ekologis pada lokasi tempat tumbuh alaminya, mencakup kesukaan G. macrophyllus seperti suhu dan kelembaban, sifat fisik dan kimia tanah. Preferensi ekologis menunjukkan suatu bentuk kecocokan suatu spesies terhadap tempat hidupnya. Suatu spesies akan memiliki kecocokan tertentu terhadap faktor-faktor lingkungannya, serta akan memilih faktor-faktor lingkungan tertentu untuk menghasilkan informasi tertentu pada tumbuhan tersebut. Penelitian ini dilaksanakan di hutan dataran rendah dengan ketinggian 432 sampai dengan 1273 mdpl. Data yang diambil meliputi data vegetasi dengan metode analisis vegetasi, data karakeristik fisik lingkungan seperti keinggian tempat, suhu, kelembaban, data tanah (analisis terhadap kandungan pH, C-organik, C/N, N-total, P, K, Ca, dan Mg dan tekstur tanah), serta kandungan minyak atsiri daun dan kulit batang.
Komposisi tumbuhan pada lokasi penelitian diperoleh sebanyak 108 jenis tumbuhan tingkat semai, 125 jenis tumbuhan tingkat pancang, 98 jenis tingkat tiang dan 105 jenis tumbuhan tingkat pohon. Dominansi G. macrophyllus teridentifikasi pada tingkat pertumbuhan semai dan pancang pada beberapa ketinggian tempat, pada tingkat semai dominan pada ketinggian 442 m dpl., 859 m dpl., dan 1.175 m dpl. Sedangkan pada tingkat pancang G. macrophyllus dominan pada ketinggian 864 m dpl., 997 m dpl., dan 1.175 m dpl. Pada tingkat tiang Goniothalamus macrophyllus tidak mendominasi. Pada tingkat pohon tidak ditemukan G. macrophyllus.
Indeks keanekaragaman jenis berdasarkan ketinggian tempat didominasi tingkat keanekaragaman jenis sedang, indeks keanekaragaman tertinggi ditemukan pada tingkat pancang di ketinggian 859 m dpl. dan terendah pada tingkat tiang di ketinggian 831 m dpl., sedangkan indeks keanekaragaman jenis untuk tingkat pertumbuhan semai dan tiang tercatat rendah pada ketinggian 760 m dpl., 831 m dpl., 884 m dpl., 997 m dpl., dan 1.171 m dpl.
Kelimpahan G. macrophyllus dengan nilai tertinggi untuk stratum semai pada ketinggian 1.175 m dpl. dengan nilai sebesar 8.888 individu/ha, stratum pancang pada ketinggian 864 m dpl. dengan nilai sebesar 444 individu/ha, stratum tiang pada ketinggian 997 m dpl. dengan nilai sebesar 55 individu/ha, sedangkan stratum pohon tidak diketemukan. Kerapatan G. macrophyllus dengan nilai terkecil untuk stratum semai pada ketinggian 1.273 m dpl. dengan nilai sebesar 277 individu/ha, stratum pancang pada ketinggian 506 m dpl., 760 m dpl. dan 1,273 m dpl. dengan nilai sebesar 44 individu/ha, untuk stratum tiang pada ketinggian 1.175 m dpl. dengan nilai sebesar 11 individu/ha.
Kandungan senyawa kimia pada daun yang teridentifikasi secara keseluruhan diperoleh 55 senyawa kimia, sedangkan kandungan senyawa kimia yang paling banyak ditemukan pada berbagai ketinggian tempat sebanyak 7 (tujuh) senyawa kimia, dengan rincian senyawa 1,8-Cineole terdeteksi pada 16 lokasi ketinggian tempat sedangkan senyawa δ-Cadinene, Geraniol, β-Pinene, Linalool dan 1-Phellandrene terdeteksi pada 15 lokasi ketinggian tempat. Kandungan senyawa kimia pada kulit yang teridentifikasi secara keseluruhan mencapai 53 senyawa kimia, sedangkan kandungan senyawa kimia yang paling banyak ditemukan pada berbagai ketinggian tempat sebanyak 7 (tujuh) senyawa kimia, dengan rincian senyawa 1,8-Cineole dan δ-Cadinene terdeteksi pada 17 lokasi ketinggian tempat, senyawa Caryophllene dan α-Humulele, teridentifikasi pada 16 lokasi ketinggian tempat, sedangkan Geraniol, Nerolidol dan 1-Phellandrene terdeteksi pada 15 lokasi ketinggian tempat
Hasil pengujian diperoleh informasi faktor-faktor yang secara signifikan berpengaruh terhadap kandungan senyawa minyak tendani (β-pinene dan 1-phellandrene) mencakup empat faktor yang secara bersama-sama berpengaruh nyata dengan nilai R2 sebesar 0,54 yaitu: (1) pH tanah; (2) C/N Ratio; (3) magnesium (Mg); dan (4) tekstur tanah liat. Hasil analisis ini memberikan informasi bahwa faktor tanah baik sifat fisika maupun kimia memiliki peran dominan terhadap kandungan minyak atsiri G. macrophyllus. Pengaruh sifat fisika dan kimia terhadap kandungan senyawa kimia minyak atsiri G. macrophyllus, berdasarkan pada persamaan regresi diketahui bahwa: (1) pH tanah; (2) C/N Ratio; (3) magnesium (Mg); (4) tekstur tanah liat
Studies on macromorphological taxonomic variations in Abutilon species of Indian Thar Desert
Abutilon is an important medicinal plant. Its various plant parts such as leaves, flowers, fruits and seeds were used to treat various diseases and ailments from the ancient time. Present work deals with the investigation of three species of Abutilonviz. Abutilon indicum, Abutilon pannosumand Abutilon ramosum with a view to study macro morphological variations and to identify a set of diagnostic characters for individual Abutilon species. Distinct variations exist in stem surface and colour, leaf shape and size, flower diameter, fruit colour, shape and size, number of mericarps per fruit and seed structure. All these macromorphological variations were helpful in identification and delineation of the plant species.</jats:p
KEANEKARAGAMAN JENIS ANGGREK DI JALUR PENDAKIAN WIRAYANA GUNUNG CAKRABUANA KABUPATEN MAJALENGKA
The existence of orchids in nature continues to decline due to habitat destruction and overexploitation. Conservation efforts that have been carried out so far have often experienced difficulties due to insufficient data and information as a basis for management, including conservation areas. The more widespread forest destruction will result in these species being threatened with extinction. This study aims to determine the diversity of orchid species, on the Wirayana Mount Cakrabuana Climbing Path. The information is expected to provide an initial contribution to the area management and orchid conservation efforts on the Wirayana Mount Cakrabuana Climbing Path. This research was conducted by means of a vegetation survey, sampling and documentation by exploring the existence of orchids. The sampling technique used the path transect method. The number of transects used is one line transect with a line length of 1500 m with a total of 22 sample plots. Data analysis was carried out by calculating the Important Value Index (INP), Species Dominance Index (Di) and Species Diversity Index (H'). The results showed that in the natural forest area of Mount Cakrabuana there were 22 species of individuals which included 7 species of terrestrial orchids and 15 species of epiphytic orchids with a total of 243 individuals found. From the results of the calculation of species diversity, it is stated that the diversity of orchid species in the natural forest area of Mount Cakrabuana is classified as moderate (2,973). This information is very important, especially for area managers in preserving the biodiversity of Mount Cakrabuana, especially orchids in the future
BUDIDAYA TANAMAN OBAT UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN BAHAN BAKU OBAT SERTA MENINGKATKAN PEREKONOMIAN DI DESA KAGOK
Budidaya tanaman obat untuk kebutuhan bahan baku obat herbal saat ini bisa dilakukan hanya dipekarangan rumah dan bisa menjadikan salah satu sumber penghasilan yang menjanjikan. Desa Kagok telah melakukan budidaya tanaman obat dalam skala kecil sehingga hasil yang didapat belum maksimal. Tujuan kegiatan ini adalah memberikan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan bahan baku obat di Desa Kagok dengan budidaya tanaman obat sehingga berujung pada peningkatan ekonomi masyarakat. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi beberapa tahapan diantaranya : 1). Survey lapangan, 2). Konsolidasi, 3). Penyiapan lahan, 4). Pembuatan bedengan, 5). Penyiapan media tanam, 6). Penanaman, dan 7). Pemeliharaan. Hasil pada kegiatan ini seluruh peserta melaksanakan penuh kegiatan budidaya tanaman obat dengan jumlah benih yang dibudidayakan 1.512 polybag yang terbagi kedalam 6 jenis yaitu : jahe, jahe putih, jahe merah, kunyit putih, kunyit kuning, dan kunyit hitam dengan jumlah 1.512 benih
TEKNIK BUDIDAYA MIKROORGANISME TANAH UNTUK MENINGKATKAN KESUBURAN MEDIA TANAM
Fertility of planting media is one of the critical success factors in plant production activities. The use of local microorganisms in increasing the fertility of planting media can be an alternative in the use of synthetic fertilizers and help realize the independence of rural communities in plant cultivation. The purpose of this activity is to provide knowledge about soil microorganism breeding techniques to increase the fertility of the growing media. The target groups in this activity are the Women Farmers Group (KWT) and the Mandapajaya Village Community, Cilebak District, Kuningan Regency. In accordance with the expected target, the activity was attended by KWT and representatives of farmers. All participants who attended followed the activity until it was finished. The participants also asked several questions related to the material presented during the discussion session. At the end of the discussion, the participants also said that they understood the material that had been delivered and planned to implement the material.
Keywords: cultivation, fertility, microorganisms, soil, plantsFertility of planting media is one of the critical success factors in plant production activities. The use of local microorganisms in increasing the fertility of planting media can be an alternative in the use of synthetic fertilizers and help realize the independence of rural communities in plant cultivation. The purpose of this activity is to provide knowledge about soil microorganism breeding techniques to increase the fertility of the growing media. The target groups in this activity are the Women Farmers Group (KWT) and the Mandapajaya Village Community, Cilebak District, Kuningan Regency. In accordance with the expected target, the activity was attended by KWT and representatives of farmers. All participants who attended followed the activity until it was finished. The participants also asked several questions related to the material presented during the discussion session. At the end of the discussion, the participants also said that they understood the material that had been delivered and planned to implement the material
Karakteristik Habitat (Parameria laevigata) Di Hutan Gunung Tilu Kabupaten Kuningan Jawa Barat : Habitat Chracteristics Of Kayu Rapat (Parameria laevigata) In The Gunung Tilu Forest Of Kuningan District West Java
Gunung Tilu is one of the lowland mountains in Kuningan Regency, West Java. The abundant potential for flora and fauna makes the Gunung Tilu area a source of utilization for local communities. The utilization of medicinal plants has been going on for a long time for personal use or sale. One of the most widely used plants by the community is rapet wood (Parameria laevigata). The purpose of this study was to examine the characteristics of habitat with environmental conditions in the Gunung Tilu Forest Area. The method used was the cruising method. Environmental factors measured are temperature, humidity, light intensity, and soil pH. The tools used included GPS, thermometer, altimeter, measuring tape, mine, cleaver, tally sheet, pen, camera, and notebook. Data analysis used is quantitative descriptive. Based on the results in the field, 103 individuals were obtained from 18 rapet wood plant plots. Characteristics of rapet wood habitat in Gunung Tilu forest, growing at temperatures ranging from 25-280C with an average value of 260C and soil pH between 6.01 - 7.29 with an average value of 7, sunlight intensity between 121-987 with an average of 473 while humidity between 81-91% with an average of 94%. The rapet wood plants found were creeping on several tree species including Jelutung (Dyera costulata), Jati (Tectona grandis), and Dahu (Dracontomelon dao).Gunung Tilu merupakan salah satu pegunungan dataran rendah di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Keberadaan potensi yang melimpah baik flora dan fauna menjadikan kawasan Gunung Tilu menjadi sumber pemanfaatan bagi masyarakat lokal. Pemanfaatan tumbuhan obat sudah berlangsung cukup lama untuk dipergunakan secara pribadi ataupun dijual. Salah satu tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu kayu rapet (Parameria laevigata).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji tentang karakteristik habitat dengan kondisi lingkungan yang ada di Kawasan Hutan Gunung Tilu. Metode yang digunakan yaitu metode jelajah. Faktor lingkungan yang diukur yakni: suhu, kelembaban, intensitas cahaya, dan pH tanah. Alat yang digunakan diantaranya GPS, thermometer, altimeter, pita ukur, tambang, golok, tallysheet, pulpen, kamera, dan buku catatan. Analisis data yang digunakan adalah deskripstif kuantitatif. Berdasarkan hasil di lapangan diperoleh 103 individu dari 18 plot tumbuhan kayu rapet. Karakteristik habitat kayu rapet pada hutan Gunung Tilu, tumbuh pada suhu berkisar antara 25-280C dengan nilai rata-rata sebesar 260C dan pH tanah antara 6,01 – 7,29 dengan nilai rata-rata sebesar 7, intensitas cahaya matahari antara 121-987 dengan rata-rata sebesar 473 sedangkan kelembaban antara 81-91% dengan rata-rata sebesar 94%. Tumbuhan kayu rapet yang ditemukan merambat pada beberapa jenis pohon diantaranya Jelutung (Dyera costulata), Jati (Tectona grandis), dan Dahu (Dracontomelon dao)
Notes on phytoplasma diseases from Dakshin Dinajpur district of West Bengal, India
Phytoplasmas are pleomorphic prokaryotes located in the sieve elements of the phloem of different infected plant species. In this communication the author first time from West Bengal, India reports phytoplasmal diseases of four different plants (Datura stramonium, Ziziphus oenoplia, Catharanthus roseus and Solanum melongena) belong to different families based on symptoms and grafting experiments. </jats:p
Pemanfaatan Sampah Dapur sebagai Pupuk Organik Cair dan Padat pada Tanaman Buah dalam Pot
Produksi sampah dapur masih menjadi permasalahan di banyak tempat. Banyak pihak yang masih menganggap bahwa sampah dapur merupakan barang yang tidak berguna. Oleh karena itu, perlu ada upaya untuk merubah pemahaman tersebut guna membantu dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengengai pemanfaatan sampah dapur menjadi pupuk organik, baik padat maupun cair, dengan lokasi kegiatan di Desa Tundagan, Kecamatan Hantara, Kabupaten Kuningan. Kegiatan dilakukan dengan penyuluhan yang disertai peragaan, dengan masyarakat sasaran adalah kelompok PKK dan KWT desa. Berdasarkan hasil kegiatan, masyarakat mengikuti kegiatan ini dengan baik dan banyak menyampaikan pertanyaan terkait dengan penanganan sampah sehingga terjadi komunikasi dua arah. Pengetahuan masyarakat sasaran terkait dengan penanganan sampah telah bertambah dengan adanya kegiatan ini. Penanganan sampah dengan metode lain juga perlu dilakukan pada program berikutnya, termasuk penanganan sampah non organik agar permasalahan lingkungan akibat sampah dapat dikurangi
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGADAAN BIBIT MELALUI TEKNIK CABUTAN ALAM DI STASIUN RISET KABUPATEN KUNINGAN PROVINSI JAWA BARAT
Conservation of biological natural resources is not only the responsibility of the manager of a conservation area but also the responsibility of all elements, including the community around the area. The activities of conserving biological natural resources that are carried out in collaboration will provide maximum results. Communities around the area in particular are the subject of development in an effort to conserve natural resources. The method of implementing community service activities carried out includes training activities and field practice in stages; preparation, implementation and evaluation. Preparatory activities include field observations regarding the need for facilities and infrastructure. Implementation activities are through training and field practice in the technique of making plant seeds with uprooting techniques in nature. Evaluation activities are carried out after the completion of the activity to ensure the sustainability of the activity. The benefits of this activity are expected to increase public knowledge about the role of providing plant seeds in an effort to restore the area of the Research Station of the Faculty of Forestry, Universitas Kuningan in Gunung Ciremai National Park
