1,720,959 research outputs found
Penciptaan Tari Jamparing Sekar Kinasih
Judul Penciptaan Tari Jamparing Sekar Kinasih adalah proses pembentukan karya tari sebagai representasi simbolik ?citra keillahian manusia? (bidadari) dalam menebarkan cinta kasih. Tema gagasan sekar kinasih merupakan Ajaran Spiritual Aliran Kepercayaan Kiai Madrais di Cigugur. Bertujuan menyampaikan pesan kebaikan bahwa. ?berbagai fenomena kehidupan yang meng-eksis (ada) adalah cinta kasih adanya Campur Tangan Tuhan?. Pengkajian makna filosofis sekar kinasih menggunakan Teori Estetika Teologi Han Urs Von Balthasar (Kelly Hamilton, 2005), didukung pengoranisasian bentuk melalui metoda Eksplorasi, Improvisasi, dan Kompoisi Alma Hawkins (I Wayan Debya, 2003), dipadukan dengan Metoda Kontruksi Tari Jacqueline Smith (Ben Suhato,1985). Dengan teori dan metoda yang digunakan, Tari Jamparing Sekar Kinasih adalah Tari dramatik, penyajian representasional simbolik tindakan estetik cinta kasih manusia (bidadari). Jamparing Sekar Kinasih menjadi ?misi budaya? Komunitas Penghayat Kepercayaan Kiai Madrais Cigugur pada Pergelaran Agung Keraton se-Dunia tahun 2013 di Jakarta dengan nama Keraton Paseban Tripanca Tunggal Kepangeranan Gebang Tinatar
Natural Cosmic Esthetic Presentation in a Pwahaci Dance Ritual Performance in Cigugur, Kuningan District, West Java, Indonesia
Repentance Dance Work
The theological idea of this writing takes the theme "Repentance" as a symbol of beauty. Saint Augustine was a philosopher who relied on logic/reason and did not believe in the glory of God as the source of life. The writing on the wall of his room and the lyrics of the song "Symbol" became the core of his statement of repentance. It was then transformed into a symbol of the beauty of Batak Toba Repentance dance work. It Aims to provide an understanding of the aesthetic form of philosophical ideas about the beauty of human relationships with God, nature and each other. This article studies Von Balthasar\u27s Theological Aesthetics, what is good (bonum), true (vorum) and beautiful (pulrum) are attributes of God, bringing joy to life. The Repentance Dance is a symbolic representation of the story of Saint Augustine, taking the kinesthetics of Batak traditional dance as the beauty.
Keywords: Repentance Dance; Batak Toba Traditional Dance, God Symbol
NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DRAMATARI “ANGKLING ARDHANARESWARI” SEBAGAI KREATIVITAS MEDIA PENGENALAN FOLKLORE TASIKMALAYA
Cerita rakyat pada dasarnya merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat.Cerita rakyat itu sendiri bagian dari pada folklore tergolong dalam folklore lisan yang berbentuk prosa.Sastra lisan merupakan salah satu bentuk produk budaya yang diciptakan dan diwarisi secara lisan dan turun-menurun melalui alat pengingat (memonic devices). Bentuk sastra ini terus hidup dalam tradisinya dan berkembang menyesuaikan perkembangan masyarakatnya. Sastra lisan sangat beragam bentuknya, mulai dari bahasa rakyat, ungkapan tradisional (pepatah dan peribahasa), pertanyaan tradisional (teka-teki), puisi rakyat (pantun, syair, bidal, dll), dan prosa rakyat, mite (myth), legenda, (legend), dan dongeng (folktale), serta nyanyian rakyat. Jenis sastralisan ini yakni cerita lisan Ambu Hawuk dalam masyarakat Daerah Tasikmalaya Metode yang digunakan DeskriptifKualitatif dengan pendekatan Hermeneutik.Pengumpulan data berupa wawancara dan dokumen tertulis.implementasinya diwujudkan dalam bentuk seni pertunjukan dramatari.Nilai pendidikan karakter yang ditemukan dalam cerita Ambu Hawuk, yaitu pemberani, tanggung jawab, peduli sosial, disiplin, rendah hati. Cerita yang relevan sebagai sarana kreativitas media pelestarian serta pengenalan folklore yang ada di Daerah Tasikmalaya.
Kata Kunci:Nilai Pendidikan Karakter, Dramatari, Kreativitas, Folklore Tasikmalay
Jayalah Negeriku Transformasi Narasi Pertunjukan dalam Tari dan Lagu
\u27Jayalah Negeriku\u27 adalah sebuah transformasi naratif yang merayakan kecintaan pada tanah air dengan memadukan keragaman budaya, dan seni. Karya ini mempresentasikan nilai-nilai positif seperti keramahan, kepedulian, dan penghormatan terhadap perbedaan untuk menginspirasi rasa kebersamaan dan rnasionalisme. Mengeksplorasi hubungan antara kreativitas artistik dan filosofi, dengan berfokus pada peran keindahan untuk mengekspresikan rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air dalam mengantisipasi kesatuan antara kebaikan, kebenaran, dan keindahan. Karya seni ‘Jayalah Negeriku’ bertujuan untuk memperkuat seni tradisional, membangkitkan rasa memiliki budaya, dan mempromosikan keindahan Indonesia melalui pertunjukan Tari Dan Musik. bentuk koreografi kinestetik tari etnik yang disajikan dalam nodel bentuk pertunjukan Video. Tahapan Eksplorasi, Improvisasi, dan Komposisi (pembentukan) dipresentasikan melalui ekpresi Gerak kinestetik etnis, rangkaian kata kata positif dengan mengelu- elukan keindahan budaya dan alam Indonesia.
Kata Kunci: Jayalah negeriku, slogan nusantara bersatu, perpaduan musik dan lagu
Pertunjukan Ritual Seren Taun Di Cigugur Kabupaten Kuningan Jawa Barat
Pertunjukan ritual Seren Taun adalah penataan kembali upacara nutu melalui proses pergantian tiga kepemimpinan. Tiga kepemimpinan itu meliputi Kiai Madrais; P. Tedjabuana, dan P. Djati Kusumah sampai sekarang. Pertunjukan ritual Seren Taun menyajikan sistem upacara yang di dalamnya terdapat aspek gagasan, aspek kebahasaan, aspek prilaku, dan aspek peralatan. Aspek-aspek ini saling berkaitan satu-sama lain, dimaknai sebagai komunikasi ritual (suci) yang meliputi tindakan sakral, mantra sakral, dan pergelaran sakral. Dalam pemahaman sebuah pertunjukan, berbagai simbolisasi Seren Taun merupakan kinerja P. Djati Kusumah pemangku adat dalam membingkai struktur proses ritual. P. Djati Kusumah menyajikan ritus peralihan, diungkapkan sebagai drama estetik tiga tahapan kehidupan. Sebagai pertunjukan ritual, Seren Taun memiliki signifikansi untuk menunjukkan nilai-nilai penghayatan pada para pengikutnya, dan mendorong, serta memotivasi masyarakat berbeda agama, suku, adat, dan kepercayaan dalam memaknai arti bersyukur. Pada sisi yang lain pertunjukan diartikan pula sebagai menampilkan kesenian atau pertunjukan seni sebagai sajian yang dapat memberikan pengalaman keindahan, tontonan atau hiburan bagi seluruh partisipan.
Tiga tahapan kehidupan divisualisasikan melalui Tari Pwahaci sebagai tahap kelahiran dan citra keillahian manuisia; Ngararemokeun Pare sebagai tahapan kedewasaan/perkawinan; dan Prosesi Puncak (Ngajayak, Babarit, dan Tumbuk Padi sebagai tahapan kesempurnaan. Dewi Pwahaci sebagai simbol ekspresi dominan memiliki sifat multivokal, dan berdimensi posisional, eksegesis, operasional, sesuai dengan visi dan misi pemangku hajatnya
Glorify the Lord Ensemble’s Existence and Strategy in the Indonesian Music Industry
Indonesia’s music industry has undergone a significant transformation from the vinyl disc era to the digital era, with new challenges and opportunities in maintaining the existence of music groups. This research aims to explore Glorify the Lord Ensemble’s journey in gaining attention in the music industry and analyse their strategies for long-term sustainability. Qualitative research methods were used, including observation, interviews, and documentation studies to collect data from rehearsals, performances, and internal group interactions. The results revealed that Glorify’s initial appeal came from their founder, Daud PM Saba, who blended pop, rock, R&B soul, and black gospel genres with signature choreography, attracting the attention of renowned artists and fans. Their sustainability strategy involves regular activities for members and active publications on social media, maintaining their existence during the passing pandemic and in the midst of music industry competition. Recommendations from this research are to continue adapting innovations in content, and social media interactions, as well as maintaining the quality of rehearsals, and collaborations that strengthen their reputation. This research provides important insights into successful existence strategies in the competitive music industry
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
