1,721,005 research outputs found
PELANGGARAN PRINSIP-PRINSIP KERJA SAMA PADA IKLAN TOYOTA VERSI DORAEMON-NOBITA BBQ
Kepatuhan pada prinsip-prinsip kerja sama Grice dalam berkomunikasi akan menyebabkan komunikasi berjalan efisien. Iklan merupakan salah satu bentuk mengkomunikasikan produk atau jasa. Bahasa iklan dapat menciptakan efek persuasif yang kuat dengan melakukan pelanggaran terhadap maksim-maksim pada prinsip-prinsip kerja sama Grice. Pada makalah ini, dipaparkan pelanggaran prinsip-prinsip kerja sama pada iklan Toyota versi Doraemon-Nobita BBQ dan tujuan pembuat iklan melakukan pelanggaran maksim-maksim tersebut. Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian yang bersifat non-eksperimental menggunakan ancangan kualitatif dengan analisis heuristik. Hasil penelitian berupa (1) ditemukan pelanggaran prinsip-prinsip kerja sama, (2) tujuan pelanggaran prinsip-prinsip kerja sama meliputi: agar tuturan terdengar santun, menarik simpati, menarik perhatian, dan minat penonton/pembaca
Keefektifan Model Connected dan Integrated dalam Pembelajaran IPS SMP di Kota Yogyakarta
Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis perbedaan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS yang menggunakan model connected, integrated dan konvensional, dan (2) menganalisis urutan model pembelajaran yang paling efektif di antara model connected, integrated, dan konvensional. Penelitian eksperimen ini menggunakan desain matching posttest comparasion group design. Populasi penelitian adalah SMP SSN di Kota Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan multistage sampling. Dalam penelitian ini, variabel independen adalah model pembelajaran yang terdiri tiga katagori, yakni; model integrated, model connected, dan model konvensional. Variabel dependen adalah skor hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS. Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan tes hasil belajar. Validasi instrumen dilakukan dengan menghitung daya pembeda dan tingkat kesukaran soal, sedangkan reliabilitas dihitung dengan menggunakan KR-20. Uji persyaratan meliputi uji normalitas dan uji homogenitas. Uji normalitas menggunakan Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas menggunakan Levene Test. Data diolah menggunakan analisis one way anova kemudian dilanjutkan dengan uji perbandingan Scheffe pada taraf signifikansi 0,05. Hasil eksperimen menyimpulkan bahwa; (1) ada perbedaan yang signifikan, antara hasil belajar siswa yang menggunakan model integrated, connected, dan konvensional. Uji lanjut menggunakan scheffe memastikan model integrated lebih efektif meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dibanding model connected dan model konvensional. Sementara itu, model connected lebih efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPS dibanding model konvensional. Dengan demikian, urutan model yang paling efektif adalah model integrated, model connected, dan model konvensional; (2) ada perbedaan signifikan hasil belajar siswa berkemampuan tinggi yang belajar dengan model integrated, connected, dan konvensional; (3) ada perbedaan signifikan hasil belajar siswa berkemampuan rendah yang belajar dengan model integrated, connected, dan konvensional; (4) tidak ada interaksi pengaruh antara model pembelajaran dengan tingkat kemampuan siswa terhadap hasil belajar IPS
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Setting The Parliamentary Threshold (PT) in The Context of Law Number 7 of 2017 Concerning General Elections Based on People's Sovereignty Article 1 Paragraph (2) of The 1945 Constitution of The Republic of Indonesia
Many policies and regulations (Laws) are made and produced with the aim of realizing democracy. The government's efforts are: First, to amend the 1945 Constitution, namely by adding clear rules. Third, holding general elections as a manifestation of the realization of the revitalization of several political laws with the aim of determining party delegates who will sit in parliamentary seats by taking into account the seat quota, so that the presidential system expected by the 1945 Constitution is realized. Reforms in the field of law that have occurred since 1998 have been institutionalized through the amendments to the 1945 Constitution. The spirit of the amendments to the 1945 Constitution is to encourage the establishment of a more democratic state structure. Amendments to the 1945 Constitution since the reformation were carried out four times; Theoretically, the threshold or also known as the threshold in the electoral system is the minimum support limit that every political party must have in order to get its representative seat in parliament. There are two types of thresholds in elections: the parliamentary threshold and the presidential threshold. The parliamentary threshold is the minimum percentage of the total that must be obtained by every political party that has been legally participating in the election to then be included in the counting of seats in the parliament.Parliamentary Threshold 2009 Election, Article 202 of Law No. 10 of 2008 explains that political parties participating in the election must meet the threshold for obtaining votes of at least 2.5 percent of the number of valid votes nationally to be included in determining the acquisition of seats in the DPR. In the 2014 General Election, the Election Contesting Political Parties must meet the threshold for obtaining votes of at least 3.5% (three point five percent) of the number of valid votes nationally to be included in determining the seat acquisition for members of DPR, Provincial DPRD, and Regency/Municipal DPRD. . Parliamentary Threshold in the 2019 Election, Political Parties Contesting in the Election must meet the threshold for obtaining votes of at least 4% (four percent) of the total number of valid votes nationally to be included in determining the acquisition of seats for members of the DPR". implemented, but how can the democracy materially be implemented based on the philosophy or ideology adopted by a nation or state.Keywords: parliamentary threshold, people's sovereignty, general electionBanyak kebijakan dan aturan-aturan (UU) yang dibuat dan dihasilkan dengan tujuan mewujudkan demokrasi. Adapun upaya pemerintah adalah: Pertama, mengamandemen UUD 1945, yaitu dengan menambah aturan-aturan yang jelas. Misalkan ditetapkannya sistem pemerintahan menjadi Sistem Presidensial. Kedua, revitalisasi Undang-Undang Politik. Ketiga, menyelenggarakan pemilihan umum sebagai wujud realisasi revitalisasi beberapa Undang-Undang Politik dengan tujuan menentukan utusan-utusan partai yang akan duduk dikursi parlemen dengan mempertimbangkan kuota kursi, sehingga sistem presidensial yang diharapkan UUD 1945 terwujud. Reformasi di bidang hukum yang terjadi sejak tahun 1998 telah di lembagakan melalui pranata perubahan UUD 1945. Semangat perubahan UUD 1945 adalah mendorong terbangunnya struktur ketatanegaraan yang lebih demokratis. Perubahan UUD 1945 sejak reformasi dilakukan sebanyak empat kali; Secara teoritis, ambang batas atau yang dikenal juga dengan istilah threshold dalam sistem pemilu merupakan batas minimal dukungan yang harus dimiliki oleh setiap partai politik untuk mendapatkan kursi keterwakilannya di parlemen. Ada dua jenis ambang batas dalam pemilu: ambang batas parlemen (parliamentary threshold) dan ambang batas presiden (presidential threshold). Ambang batas parlemen merupakan batas minimal persen dari total keseluruhan yang harus diperoleh oleh setiap partai politik yang telah sah menjadi peserta pemilu untuk kemudian diikutsertakan dalam penghitungan kursi diparlemen. Parliamentary Threshold Pemilu Tahun 2009, Dalam pasal 202 Undang-Undang No.10 Tahun 2008 dijelaskan bahwa partai politik peserta pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 2.5 persen dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi DPR.Parliamentary Threshold Pemilu Tahun 2014, Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara sekurang-kurangnya 3,5% (tiga koma lima persen) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR, DPRD Provinsi, dan DPRD Kabupaten/Kota. Parliamentary Threshold Pemilu Tahun 2019, Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara paling sedikit 4% (empat persen) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR”.Pelaksanaan demokrasi tidak hanya terkait dengan bagaimana proses tersebut dapat dilaksanakan, namun bagaimana demokrasi tersebut secara materiil dapat diselenggarakan berdasarkan falsafah atau ideologi yang dianut oleh suatu bangsa atau negara. Kata kunci: ambang batas parlemen, kedauatan rakyat, pemilihan umu
PENGARUH PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER TERHADAP PENCEGAHAN TINDAK KEKERASAN DI KALANGAN SISWA SMP KOTA PALU
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di Luar Kelas, di Dalam Kelas, dan Nilai PPK yang ditanamkan terhadap pencegahan kekerasan di kalangan siswa SMP Kota Palu. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif eksplanatori (explanatory research), dilaksanakan di SMP Kota Palu. Hasil penelitian menunjukkan: 1) PPK di Luar Kelas berkontribusi signifikan terhadap pencegahan kekerasan di kalangan siswa. Besarnya pengaruh tersebut adalah 0,113 x 0,113 = 0,0118 (1.188%). Total pengaruh X1 terhadap X4 melalui X2 dan X3 adalah 2.405%; 2) PPK di dalam Kelas berkontribusi signifikan terhadap pencegahan kekerasan di kalangan siswa.Besarnya pengaruh tersebut adalah 0,513 x 0,513 = 0.263 (26.316%). Total pengaruh X2 terhadap X4 melalui X1 dan X3 adalah 48,21%; 3) Nilai PPK yang ditanamkan berkontribusi signifikan terhadap pencegahan kekerasan di kalangan siswa. Besarnya pengaruh tersebut adalah 0,211 x 0,211 = 0.044 (4.452%). Total pengaruh X3 terhadap X4 melalui X1 dan X2 adalah 8.062%; dan 4) Secara simultan X1, X2, dan X3 berpengaruh signifikan terhadap X4. Secara keseluruhan tingkat pengaruh mencapai 2.40% + 48,21% + 8.06% = 58.58%. Nilai thitung diperoleh X1 adalah 2,769, thitung variabel X2 adalah 8,567, dan thitung variabel X3 adalah 4,123, dengan demikian yang paling berpengaruh signifikan terhadap pencegahan kekerasan adalah PPK di Dalam Kela
2014.Hubungan antara Pola Asuh Orang Tua yang Berprofesi sebagai Petani dan Prestasi Belajar Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Aluh-Aluh Besar Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar. Skripsi
Skripsiinitentanghubungan antarapoaasuhorangtuayang berprofesi sebagai petani danprestasi belajarsiswadi Madrasah Ibtidayah Negeri Aluh-Aluh Besar Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar.Penelitianinibertujuan untuk mengetahui pola asuh yang diterapkan oleh orang tua yang berprofesi sebagai petani dan prestasi belajar siswa, serta hubungan antara pola asuh dan prestasi belajar siswa di Madrasah Ibtidayah Negeri Aluh-Aluh Besar Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar.
JenispenelitianiniadalahPenelitianlapangan(fieldresearch),yaitusuatupenelitianyangdilakukandenganterjunlangsungkeobyekpenelitian. Sedangkan pendekatan yang digunakandalampenelitianiniadalahpendekatankorelasi,yaitumelihatbentukhubunganantaravariabel-variabelyangditeliti.
Populasi padapenelitianiniadalah semua siswa di Madrasah Ibtidayah Negeri Aluh-Aluh Besar Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar Tahun Ajaran 2013/2014 dengan jumlah 139 orang. Sedangkan dalam menentukan sampel penulis menggunakan Teknik Purposive Sampling, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel yang diambil adalah semua siswa dari kelas IV, V, dan VI yang orangtuanya berprofesi sebagai petani dengan jumlah 34 orang.
Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu observasi, angket, wawancara, dan dokumenter. Teknik pengolahan data yang digunakan, yaitu editing, koding, skoring, dan tabulating.Untuk analisis data, penulis menggunakan analisis data distribusi frekuensi, sedangkan untuk mengetahui hubungan antara polaasuhorangtuadenganprestasibelajarsiswa, penulis menggunakan rumus Korelasi Product Moment denganangkakasar. Untuk memberikan interpretasi mengenai besarnya koefisien korelasi penulis menggunakan cara kasar atau sederhana dan berkonsultasi dengan TabelNilai r Product Moment.
Berdasarkanhasilpenelitian,diperoleh angka koefisein korelasi (rxy) sebesar 0,671, kemudian angka tersebutdi interpretasi secara kasar atau sederhana, ternyata terletak antara 0,600 s/d 0,800 yang dapat dinyatakan bahwa korelasi antara variabel X (pola asuh orang tua) dan variabel Y (prestasi belajar siswa) tergolong tinggi. Sedangkan dalam interpretasi dengan berkonsultasi terhadap Tabel Nilai r Product Moment, ternyata angka koefisein korelasi (rxy) lebih tinggi dari pada r tabel (rt) baik pada taraf signifikansi 5% maupun pada taraf signifikansi 1%. Jadi, Kesimpulan yang dapat ditarik adalah ada (terdapat) hubungan positif yang signifikan antara pola asuh orang tua yang berprofesi sebagai petani dan prestasi belajar siswa di Madrasah Ibtidayah Negeri Aluh-Aluh Besar Kecamatan Aluh-Aluh Kabupaten Banjar
- …
