1,721,991 research outputs found
DAMPAK FAKTOR EKOLOGIS TERHADAP SEBARAN PENYAKIT ICE-ICE
Faktor ekologis berperan terhadap sebaran infeksi penyakit ice-ice. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan morfologi of Kappaphycusalvarezii dan sebaran infeksi penyakit ice-ice. Penelitian dilakukan menggunakan metode budidaya dalam rakit apungdan diamati setiap 15 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infeksi mulai terlihat sejak awal tanam dan dipengaruhi oleh faktor ekologis.Kata Kunci: ice-ice,sebaran, Kappaphycus alvareziiIMPACT OF ECOLOGICAL FACTORS ON DISTRIBUTION OF DISEASE ICE - ICEABSTRACTEcological factors contribute to the spread of infectious diseases ice-ice. This study aims to determine the morphological changes of Kappaphycus alvarezii and distribution of ice-ice disease infection. The study was conducted using the method of cultivation in a raft and observed every 15 days. The results showed that the infection started seen since early planting and influenced by ecological factors.Keywords: distribution, ice – ice, Kappaphycus alvarezi
Dampak Infeksi Ice-ice dan Epifit terhadap Pertumbuhan Eucheuma cottonii
AbstrakRumput laut, Eucheuma cottonii, merupakan salah satu produk kelautan yang memiliki nilai ekonomis penting.Budidaya rumput laut jenis ini merupakan usaha untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Salah satukendala yang masih dihadapi adalah adanya infeksi ice-ice dan epifit. Perubahan cuaca yang tidak dapatdiprediksi saat pergantian musim dapat memicu peningkatan kendala ini, sehingga dapat menyebabkanrendahnya pertumbuhan E. cottonii. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dampak infeksi ice-ice dan epifit,terhadap pertumbuhan E. cottonii di perairan laut Sumenep, Madura. Penelitian dilakukan menggunakan metodebudidaya dalam rakit apung, thallus E.cottonii yang terinfeksi ice-ice dan epifit diamati berdasarkan berbagaitanda kelainan morfologi dan dihitung rerata pertumbuhan hariannya. Hasil penelitian menunjukkan, jumlahthallus E. cottonii dalam rakit yang terinfeksi ice-ice dan epifit pada hari ke 30 mencapai 40,19-57,71%, danmeningkat menjadi 90,24-95,24% pada hari ke 60. Penelitian ini menunjukkan bahwa infeksi ice-ice dan epifitmenurunkan pertumbuhan harian E. cottonii pada hari ke 45 hingga -3,76%. Disarankan bahwa E. cottonii yangte rinfeksi harus segera dipanen.AbstractImpact of Ice-ice Infection and Epiphyte to Eucheuma cottonii GrowthSeaweed, Eucheuma cottonii, is one of marine products that have significant economic value. Development ofseaweed cultivation is an attempt to meet the high market demand. One of the problems faced by seaweedcultivation is the presence of ice-ice and epiphytic infection. Unpredictable weather changes during the turn ofseasons can lead to the increase of ice-ice and epiphytic infection, which in could cause the low growth ofEucheuma cottonii. This research aimed to determine the impact of ice-ice and epiphytes infection on the growthof E. cottonii in Sumenep, Madura Island. The research was conducted using floating raft method. Furthermore,from the infected E. cottonii thallus of ice-ice and epiphytic was observed by morphological abnormalities andcalculated the average daily gain. The results showed that ice-ice and epiphytic infected of thallus in raft about40.19-57.71% at day 30 and than increase to 90.24-95.24% at day 60. This infection caused the average dailygain of E. cottonii decreased until -3.76% at day 45. At this period the infected E. cottonii should be harvestedimmediately.Keywords: ice-ice, ephypite, growth, Eucheuma cottonii, seawee
Dampak Infeksi Ice-ice dan Epifit terhadap Pertumbuhan Eucheuma cottonii (Impact of Ice-ice Infection and Epiphyte to Eucheuma cottonii Growth)
Rumput laut, Eucheuma cottonii, merupakan salah satu produk kelautan yang memiliki nilai ekonomis penting. Budidaya rumput laut jenis ini merupakan usaha untuk memenuhi tingginya permintaan pasar. Salah satu kendala yang masih dihadapi adalah adanya infeksi ice-ice dan epifit. Perubahan cuaca yang tidak dapat diprediksi saat pergantian musim dapat memicu peningkatan kendala ini, sehingga dapat menyebabkan rendahnya pertumbuhan E. cottonii. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak infeksi ice-ice dan epifit, terhadap pertumbuhan E. cottonii di perairan laut Sumenep, Madura. Penelitian dilakukan menggunakan metode budidaya dalam rakit apung, thallus E.cottonii yang terinfeksi ice-ice dan epifit diamati berdasarkan tanda-tanda kelainan morfologi dan dihitung rata-rata pertumbuhan hariannya. Hasil penelitian menunjukkan, jumlah thallus E. cottonii dalam rakit yang terinfeksi ice-ice dan epifit pada hari ke 30 mencapai 40,19-57,71%, dan meningkat menjadi 90,24-95,24% pada hari ke 60. Infeksi ini menyebabkan rata-rata pertumbuhan harian E. cottonii pada hari ke 45 menurun hingga -3,76%, oleh karena itu E. cottonii yang telah terinfeksi harus segera dipanen.
Kata kunci: ice-ice, epifit, pertumbuhan, Eucheuma cottonii, rumput laut
Seaweed, Eucheuma cottonii, is one of marine products that have significant economic value. Development of seaweed cultivation is an attempt to meet the high market demand. One of the problems faced by seaweed cultivation is the presence of ice-ice and epiphytic infection. Unpredictable weather changes during the turn of seasons can lead to the increase of ice-ice and epiphytic infection, which in could cause the low growth of Eucheuma cottonii. This research aimed to determine the impact of ice-ice and epiphytes infection on the growth of E. cottonii in Sumenep, Madura Island. The research was conducted using floating raft method. Furthermore, from the infected E. cottonii thallus of ice-ice and epiphytic was observed by morphological abnormalities and calculated the average daily gain. The results showed that ice-ice and epiphytic infected of thallus in raft about 40.19-57.71% at day 30 and than increase to 90.24-95.24% at day 60. This infection caused the average daily gain of E. cottonii decreased until -3.76% at day 45. At this period the infected E. cottonii should be harvested immediately.
Keywords: ice-ice, ephypite, growth, Eucheuma cottonii, seawee
DETEKSI BAKTERI PATOGEN YANG BERASOSIASI DENGAN Kappaphycus alvarezii (Doty) BERGEJALA PENYAKIT ICE-ICE
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu spesies makro alga yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Penyakit utama yang menyerang budidaya rumput laut ini adalah penyakit ice-ice  yang  dapat menurunkan hasil panen hingga 70-80%.  Tujuan penelitian iniadalah  untuk mengetahui bakteri patogen yang berasosiasi dengan K. alvarezii bergejala penyakit ice-ice dan mengetahui agen penyebab penyakit ice-ice. Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif. Sampel K. alvarezii yang bergejala ice-ice diambil dari lokasi budidaya di Teluk Bumbang Dusun Gerupuk Lombok Tengah. Sampel tersebut kemudian dibawa ke Laboratorium Biologi untuk diisolasi bakteri yang berasosiasi dengan K. alvarezii bergejala ice-ice. Terhadap isolat yang diperoleh dilakukan karakterisasi parsial. Selanjutnya dilakukan uji patogenisitas (postulat Koch) untuk mengetahui apakah bakteri yang diperoleh merupakan agen penyebab penyakit ice-ice. Hasil isolasi menunjukkan terdapat 28 isolat bakteri yang berasosiasi dengan K. alvarezii bergejala ice-ice. Selanjutnya, uji postulat Koch memperlihatkan hanya satu isolat yang mampu menyebabkan gejala ice-ice yaitu isolat K25Kata Kunci : Kappaphycus alvarezii, penyakit ice-ice, postulat Koc
The effectiveness of calcium silicate in preventing ice-ice disease and production performance of Kappaphycus alvarezii
The cultivation of Kappaphycus alvarezii faces serious challenges due to ice-ice disease outbreaks. This disease is caused by fluctuating environmental conditions that induce stress in the seaweed. Ice-ice disease is characterized by thallus whitening, softening, and fragility, which can lead to a reduction in yield and directly impact the economic returns for seaweed farmers. This study aims to evaluate the effectiveness of calcium silicate (CaSiO3) dosing as a mineral source for the prevention of ice-ice disease and the growth of K. alvarezii seaweed. The experimental design used was a completely randomized design with three replications across four treatments: CaSiO3 doses of 0, 1.6, 1.8, and 2 g/L. The study used an initial weight of K. alvarezii of 100 g per tie. The experiment was conducted through a field trial in seawater using an off-bottom cultivation method. The results indicated that the group with the highest dose of CaSiO3 (2 g/L) produced the best ice-ice resistance, with treatment D showing 17.77 ± 5.09% at the population level and 0.25 ± 0.015 at the individual level, which was statistically significant (P<0.05). Optimal CaSiO3 dosing can be a potential cultivation strategy to improve resistance to ice-ice disease and increase the productivity of K. alvarezii.
Keywords: ice-ice, Kappaphycus alvarezii, mineral, nutrient enrichment, seaweed
ABSTRAK
Budidaya rumput laut K. alvarezii menghadapi tantangan serius akibat serangan penyakit ice-ice. Penyakit ini disebabkan karena kondisi lingkungan yang berfluktuatif sehingga menyebabkan rumput laut menjadi stres. Penyakit ice-ice ditandai dengan pemutihan talus, talus menjadi lunak, dan mudah patah. Penyakit ini dapat mengurangi hasil panen yang berdampak langsung pada keuntungan ekonomi bagi pembudidaya rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pemberian dosis kalsium silikat (CaSiO3) sebagai sumber mineral terhadap pencegahan penyakit ice-ice dan pertumbuhan rumput laut K. alvarezii. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan pada empat perlakuan yaitu dosis CaSiO3 0, 1,6, 1,8, dan 2 g/L. Penelitian ini menggunakan berat awal K. alvarezii sebesar 100 g per ikatan. Pengujian dilakukan dengan percobaan lapangan di perairan laut dengan metode lepas dasar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan dosis CaSiO3 tertinggi (2 g/L) secara signifikan (p<0,05) menghasilkan persentase ice-ice terbaik yaitu pada perlakuan D sebesar 17,77 ± 5,09% pada level populasi dan sebesar 0,25 ± 0,01% pada level individu. Pemberian CaSiO3 pada dosis optimal dapat menjadi strategi budidaya yang potensial untuk meningkatkan ketahanan dari penyakit ice-ice dan produktivitas K. alvarezii.
Kata kunci: ice-ice, Kappaphycus alvarezii, mineral, pengayaan nutrisi, rumput lau
Karakteristik Jaringan Secara Histologi dari Strain Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii) yang Terinfeksi Penyakit Ice-Ice
Salah satu yang menyebabkan kegagalan budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii yaitu terserangnya penyakitice – ice . Penyakit ice-ice merupakan penyakit yang umum terjadi pada rumput laut kappaphycus dengan gejalaterjadinya pemutihan pada bagian thallus dan penyakit ini dapat menyebabkan kematian massal pada produksirumput laut kappaphycus alvarezii . Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menganalisa bagian thallus rumputlaut Kappaphycus alvarezii yaitu uji histopatologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan bentuksel pada kondisi jaringan thallus rumput laut K.alvarezii yang terserang penyakit ice- ice menggunakan metodehistopatologi. Pengambilan sampel rumput laut yang digunakan jenis Kappaphycus alvarezii varietas coklat danhijau dengan 1 titik masing – masing varietas. Sampel rumput laut terdiri atas 2 sampel yaitu bagian thallus yangterserang penyakit ice-ice dan bagian thallus tanpa gejala ice-ice . Sampel berumur 15 hari. Sampel yang dipilihuntuk pemeriksaan, dipotong setebal 0,5 - 1 cm. Sampel dimasukkan kedalam botol sampel untuk difiksasi ± 1minggu, yang berisi formalin 10%.Tahapan pembuatan preparat histopatologi terdiri atas fiksaksi, dehidrasi,clearing , impregnasi , embedding , cutting , staining , dan pemeriksaan dibawah mikroskop. Penelitian ini dianalisissecara dekskriptif kualitatif dengan melakukan pengamatan gambar histopatologi pada jaringan rumput laut K.alvarezii . Jaringan thallus yang yang terserang penyakit ice-ice mengalami perubahan bentuk sel, bagian lapisanluar terlihat tidak utuh, hancur, sehingga mengalami kematian sel dan bagian korteks dalam dinding sel terlihattidak teratur dan renggang, tidak terbentuk bulat atau lonjong, sebagian sel mengecil. Jaringan thallus yang tidaknormal mengalami gejala Hipoplastik (terhambatnya atau terhentinya pertumbuhan sel) dan Nekrotik (kematiansel).Kata kunci : Kappaphycus alvarezii, penyakit ice – ice, Histopatologi, Hipoplastik, Nekroti
Kajian Literatur Keragaman Bakteri Terkait Kemunculan Penyakit Ice-ice Pada Rumput Laut (Kappaphycus alvarezii)
Kappaphycus alvarezii merupakan salah satu jenis rumput laut yang banyak dibudidayakan di beberapa Negara di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia. Namun, produktivitas dan kualitas rumput laut hasil budidaya K. alvarezii di beberapa lokasi budidaya cenderung mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh kemunculan penyakit ice-ice yang ditandai dengan gejala pemutihan hingga rumput laut mengalami nekrosis. Penyebab munculnya penyakit ice-ice berkaitan dengan interaksi kompleks antara ketidakseimbangan lingkungan, rumput laut, dan mikroorganisme oportunistik sehingga rumput laut terinfeksi. Oleh karena itu diperlukan kajian yang lebih mendalam untuk mendeteksi bakteri patogen terkait dengan kemunculan penyakit ice-ice pada rumput laut Kappaphycus alvarezii. Kajian literatur ini membahas mengenai keragaman bakteri terkait kemunculan penyakit ice-ice yang telah diidentifikasi baik secara fenotipik yang meliputi karakteristik morfologi dan biokimia maupun karakteristik secara molekuler meenggunakan marka gen 16S rRNA untuk melihat kedekatan antar spesies melalui pohon filogenetik. Spesies Alteromonas macleodii 107, Pseudoalteromonas issachenkonii KMM 3549, Aurantimonas coralicida WP1, Stenotrophomonas maltophilia, dan Vibrio alginolyticus telah terkonfirmasi sebagai agen penyebab penyakit ice-ice pada Kappaphycus alvarezii berdasarkan gejala yang muncul ketika dilakukan uji patogenitas.
================================================================ Kappaphycus alvarezii is one type of seaweed that is widely cultivated in several countries in Southeast Asia, especially in Indonesia. However, the productivity and quality of seaweed cultivated by K. alvarezii in several cultivation locations tends to decrease. This is triggered by the occurance of ice-ice disease which is characterized by symptoms of bleaching until the seaweed experiences necrosis. The cause of the emergence of ice-ice disease is related to a complex interaction between environmental imbalance, seaweed, and opportunistic microorganisms so that seaweed is infected. Therefore more in-depth studies are needed to detect pathogenic bacteria associated with the emergence of ice-ice disease in Kappaphycus alvarezii seaweed. This literature study will discuss the diversity of bacteria related to the emergence of ice-ice disease that has been identified both phenotypically including morphological and biochemical characteristics as well as molecular characteristics using 16S rRNA gene marker to see the closeness between species through phylogenetic trees Based on the pathogenicity test, there are several species have been confirmed that can causing ice-ice disease in seaweed Kappaphycus alvarezii including Alteromonas macleodii 107, Pseudoalteromonas issachenkonii KMM 3549, Aurantimonas coralicida WP1, Stenotrophomonas maltophilia, and Vibrio alginolyticus
Analisis Fisika-Kimia Perairan dan Komunitas Bakteri terkait Kemunculan Penyakit Ice-ice pada Rumput laut (Kappaphycus alvarezii)
Penyakit ice-ice merupakan penyakit yang menyerang rumput laut golongan karaginofit terutama Kappaphycus alvarezii. Penyakit ini menyebabkan penurunan produksi rumput laut dengan menurunkan kualitas karaginan. Oleh karena itu, penanggulangan penyakit ice-ice perlu dilakukan untuk meningkatkan kualitas rumput laut melalui deteksi dan identifikasi bakteri terkait penyakit ice-ice pada kedalaman berbeda sehingga dapat ditentukan kedalaman terbaik budidaya rumput laut dalam menghindari infeksi penyakit ice-ice. Isolasi bakteri dari perairan K. alvarezii dilakukan dengan metode pengenceran bertingkat dan metode sebar. Data isolat bakteri penyebab ice-ice yang didapatkan dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa komunitas bakteri direct attack teridentifikasi dari genus Bacillus dan Vibro terdistribusi pada kedalaman 20 cm. Bakteri direct attack mampu melakukan aktifitas karaginase dan menghasilkan selulase untuk menyerang thallus K.alvarezii, maka penanaman K. alvarezii dapat dilakukan pada kedalaman lebih dari 20 cm untuk menghindari dampak yang lebih besar dari penyakit ice-ice
PENGENDALIAN PENYAKIT ICE-ICE BUDIDAYA RUMPUT LAUT, Kappaphycus alvarezii: KORELASI MUSIM DAN MANIPULASI TERBATAS LINGKUNGAN
Serangan penyakit ice-ice di periode musim tertentu pada budidaya rumput laut Kappaphycus alvarezii menjadi masalah serius, yang disebabkan oleh berbagai faktor yang saling berinteraksi. Salah satu faktor pemicu awal (primary impact) adalah terjadinya kekurangan nutrien (nutrients shortage) pada perairan laut. Pada pihak lain, ketersediaan nutrien di perairan laut pada wilayah-wilayah tertentu sangat dipengaruhi oleh fenomena upwelling. Fenomena upwelling terjadi karena adanya arus lintas Indonesia yang juga turut berpengaruh terhadap musim. Makalah ini membahas keterkaitan antara serangan penyakit ice-ice, arus lintas Indonesia, fenomena upwelling, downwelling dan musim dalam kaitannya dengan upaya untuk mencegah potensi dan mengelola serangan ice-ice melalui perendaman pupuk yang mengandung sumber unsur N (nitrogen), P (fosfor) dan K (kalium) dikombinasikan dengan pembersihan rutin dan pengaturan posisi tanam terhadap permukaan air. Tindakan manipulasi terbatas lingkungan budidaya rumput laut pada periode musim ekstrim terbukti efektif mengendalikan penyakit ice-ice sekaligus diyakini mampu mempertahankan kontinuitas produksi.Ice-ice disease attacks in certain season on seaweed cultivation Kappaphycus alvarezii are a serious problem, which are caused by interaction of various factors. One of the primary impact is the occurrence of nutrients shortage in marine waters. Meanwhile, availability of nutrients in marine waters in certain areas is strongly influenced by upwelling phenomenon. Upwelling phenomenon occurs due to the Indonesian throughflow which also affect the season. This paper discusses the correlation between ice-ice disease attacks, Indonesian throughflow, phenomenon of upwelling, downwelling and season in connection with efforts to prevent potential and manage ice-ice attacks through immersion of fertilizer which containing source of N (nitrogen), P (phosporus) and K (potassium) elements in combination with regular weeding and setting position of planting towards water surface. The limited environmental manipulation of seaweed cultivation on the extreme season period proved to be effective in controlling ice-ice disease at a time believed to be afford of sustaining production continuity
KAJIAN FUNGSI PERENDAMAN RUMPUT LAUT JENIS Kappaphycus alvarezii PADA AIR TAWAR UNTUK MEMINIMALISIR SERANGAN PENYAKIT ICE-ICE
Penyakit ice-ice merupakan masalah yang sering dihadapi oleh pembudidaya. Penyakit iceice dominan menyerang rumput laut jenis K. alvarezi yang dibudidayakan dengan gejala awal klinis yang ditimbulkan seperti produksi lendir meningkat, permukaan thallus kasar, thallus layu, terbentuknya bintik putih, dan pemutihan ujung thallus. Konsep dasar dalam penelitian ini adalah menganalisa peran air tawar dengan waktu berbeda selama 3 menit, 5 menit, dan 7 menit untuk melihat laju pertumbuhan dan mencegah penyakit ice-ice pada rumput laut K. alvarezii. Hasil dari penelitian ini menunjukkan air tawar dengan waktu perendaman 7 menit menghasilkan pertumbuhan lebih baik dan paling sedikit terserang penyakit ice-ice dibandingakan dengan perlakuan lainnya. Rumput laut yang direndam air tawar selama 3 menit memiliki pertumbuhan lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan dan lebih banyak terserang penyakit ice-ice. Pada penelitian ini laju pertumbuhan harian budidaya rumput laut K. alvarezii pada perendaman 3 menit, 5 menit, 7 menit dan kontrol menunjukkan hasil yang baik (>2% /hari).Kata Kunci: Air tawar, ice-ice, Kappaphycus alvarezii.Penyakit ice-ice merupakan masalah yang sering dihadapi oleh pembudidaya. Penyakit iceice dominan menyerang rumput laut jenis K. alvarezi yang dibudidayakan dengan gejala awal klinis yang ditimbulkan seperti produksi lendir meningkat, permukaan thallus kasar, thallus layu, terbentuknya bintik putih, dan pemutihan ujung thallus. Konsep dasar dalam penelitian ini adalah menganalisa peran air tawar dengan waktu berbeda selama 3 menit, 5 menit, dan 7 menit untuk melihat laju pertumbuhan dan mencegah penyakit ice-ice pada rumput laut K. alvarezii. Hasil dari penelitian ini menunjukkan air tawar dengan waktu perendaman 7 menit menghasilkan pertumbuhan lebih baik dan paling sedikit terserang penyakit ice-ice dibandingakan dengan perlakuan lainnya. Rumput laut yang direndam air tawar selama 3 menit memiliki pertumbuhan lebih kecil dibandingkan dengan perlakuan dan lebih banyak terserang penyakit ice-ice. Pada penelitian ini laju pertumbuhan harian budidaya rumput laut K. alvarezii pada perendaman 3 menit, 5 menit, 7 menit dan kontrol menunjukkan hasil yang baik (>2% /hari).Kata Kunci: Air tawar, ice-ice, Kappaphycus alvarezii
- …
