1,721,301 research outputs found

    Neo-Deterministic Seismic Hazard Assessment (NDSHA) for Sumatra: application at regional and local scales

    No full text
    Standard probabilistic seismic hazard assessment (PSHA) method cannot fill in the knowledge gap in the physical processes behind an earthquake. A more adequate definition of the seismic ground motion can be given by neo-deterministic seismic hazard assessment (NDSHA), which is based on the possibility of efficiently computing realistic synthetic seismograms, that has already been applied in many countries and supported by available observations. Most of the earthquake hazard assessment studies about Sumatra have been based on PSHA and that is why we have decided to apply NDSHA procedure to this region. However, due to the complexity of fault and tectonic settings, with high seismicity and significant, large magnitude, destructive earthquakes, that characterize this region some modifications to the standard implementation are required. In order to handle the different types of seismogenic zones around Sumatra Island, it is required to enhance the source definition procedure from the standard version of NDSHA to an updated one, which can be used to control the parameters of the seismogenic zones individually, i.e. adopting a different grid resolution for each seismogenic zone. We enhance the source definition procedure by the introduction of several features, such as adapting the source smoothing effect, respect to geometry and magnitude, and enhancing the source depth definition. The strike slip Sumatra fault generates shallow earthquakes overlying the deeper ones, generated by the Sunda subduction zone. We compiled several tomography studies, at regional and global scale (e.g. (Crust 2.0 and Litho 1.0), to construct the structural models, with the related information about density, seismic velocities (Vp, Vs), and seismic attenuation (Qp, Qs). A parametric test software, producing maps to study the geographical distribution of the ground shaking related to single earthquake scenario, has been improved to handle different structural models related to the several polygons interested by the source-receiver paths. We applied the procedure to study the Takengon earthquake event (July 2, 2013, with magnitude 6.1). We compare the result with the shaking maps produced by USGS. The comparison reveals a relatively similar strong ground motion distribution except for few areas near the epicenter where our computational technique suffers from intrinsic limitations. NDSHA has been used also at a local scale, considering scenario events, for seismic microzonation purposes. This was performed by an hybrid method to determine also the amplification effects due to the presence of sedimentary layers. We investigate the local site effects at Banda Aceh City and surrounding areas, considering two earthquake scenarios, from subduction and strike slip zones. Future studies could be devoted to better characterize the structural models, e.g. performing regional surface wave tomography, to improve computational approaches for synthetic seismograms, e.g. including oceanic-continent paths, and to implement more realistic extended source models to deal with mega earthquakes

    Suherry Arno:Photography Collection

    No full text
    Karya fotografi lebih dari sekadar hasil perekaman dunia tiga dimensi ke dalam lempeng dua dimensi. Fotografi sering kali adalah sebuah penampang akumulatif akan banyak hal yang tidak tampak langsung di dalamnya. Ada sosok subjektif beserta pemikiran, ideologi, perspektif, dan selera seorang fotografer di balik terbentuknya imaji fotografi. Hasil rekaman yang merefleksikan intensi sang pemotret. Intensi tentang cara pandang, imajinasi, pravisualisasi, dan akhirnya visualisasi. Hal tersebut tampak dalam karya maestro fotografi Suherry Arno. Membaca, mengurasi, dan menyajikan kembali karya Suherry Arno dalam bentuk buku merupakan sebuah pengalaman estetis-kreatif tersendiri. Sosok seperti Suherry Arno sulit ditemukan, apalagi di Indonesia. Sosok yang sangat humble, bersahabat, dan sarat pengalaman. Ia juga sangat haus akan pengetahuan fotografi dan seni. Dibuktikan dengan karya-karya yang penuh daya pukau, deretan tokoh fotografi dunia yang menjadi tempat ia memperdalam kepiawaian fotografi, juga sejumlah kepeduliannya pada dunia pendidikan fotografi di Indonesia, khususnya di Jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Pernah berguru kepada John Sexton, Michael Smith, Charles Cramer, Mark Nelson, Kumara Prasetya, Kayus Mulia, dan sederet nama besar lainnya, merupakan indikator keseriusan Suherry Arno dalam mencapai titik maksimal fotografi dan seni cetaknya. Berbagai jenis cetak fotografi, dari teknik prarevolusi, teknik fotografi George Eastman, fotografi modern, hingga teknik cetak digital telah ia dalami. Tak berhenti di situ, ia juga memiliki kepedulian kepada generasi muda untuk dapat mendalami seni cetak foto, meneruskan apa yang telah ia lakukan. Karya Suherry Arno selain merupakan hasil kerja seni yang intensif, juga merupakan jejak dari berbagai hal yang telah disebutkan sebelumnya. Saya beruntung berkesempatan menyaksikan secara langsung ruang kerja Suherry Arno dalam berkarya, yaitu kamar gelap yang sangat lengkap, ragam peralatan cetak, peralatan presentasi karya, dan kamera yang digunakan untuk menghasilkan karya-karya berbagai ukuran yang dipajang di rumahnya dengan suasana galeri seni. Dari sana pula hadir karya-karya memukau. Benda seni berupa foto berbagai objek yang dicetak dan dipresentasikan secara intens: kualitas cetak istimewa, berikut pasparto, bingkai, dan pencahayaan yang prima terpasang dengan elegan. Jajaran foto hitam putih Suherry Arno menghadirkan suasana yang magis, penuh enigma. Tak banyak profil sosok fotografer seperti Suherry Arno, bila tak boleh dikatakan hanya ada satu di Indonesia. Melalui buku ini, Suherry Arno menyajikan karya-karya terbaiknya, disertai beberapa quotes dari dirinya dan banyak tokoh fotografi dunia. Quotes yang ditampilkan menjadi sumber inspirasi pandangan fotografis Suherry Arno dalam mencipta berkarya. Kehadiran quotes dalam buku ini juga dimaksudkan untuk menjadikan buku ini bernilai edukatif dan inspiratif kepada pembaca

    Bersama Menyigi dan Meneroka: Fotografi, Media, dan Seni.

    Full text link
    Penerbitan buku bunga rampai purnabakti Bersama Menyigi dan Meneroka Fotografi, Media, dan Seni ini merupakan wujud representasi perjalanan karier akademis Prof. Drs. Soeprapto Soedjono, MFA., Ph.D. (SS) di ISI Yogyakarta selama kurun waktu hampir 40 tahun. Dalam kurun waktu tersebut, SS telah melalui banyak kondisi dalam perjalanan karier di dunia pendidikan yang melintasi berbagai ranah seni, di antaranya pengalaman SS menimba studi di bidang perbandingan seni; menjadi pengajar di embrio Fakultas Seni Rupa, ISI Yogyakarta; menjadi Ketua Jurusan Teater Fakultas Pertunjukan, ISI Yogyakarta; mengajar di Jurusan Fotografi, Fakultas Seni Media Rekam (FSMR) ISI Yogyakarta; turut menjadi bagian awal pendirian dan menjadi Dekan FSMR, ISI Yogyakarta; serta menjadi Rektor ISI Yogyakarta (2006-2010). Selain itu, SS juga memiliki pengalaman mengajar di luar negeri dalam bidang perbandingan seni, serta pengalaman-pengalaman lainnya. Khusus di bidang fotografi, kontribusi besar SS yang hingga saat ini terus berkembang ialah terbagunnya tradisi fotografi akademis dan pengkajian fotografi di tataran Sarjana hingga Doktoral. Melalui pemikiran-pemikiran yang beliau tuangkan dalam Buku dan Artikel Jurnal, akademisi fotografi mendapatkan banyak pengetahuan dan dapat melakukan berbagai pengembangan diri di bidang fotografi, juga di bidang seni media rekam pada umumnya. Kata menyigi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menerangi, menyelidiki dengan teliti, sedangkan kata meneroka memiliki arti merintis dan menjelajahi. Dua kata tersebut dipandang tepat untuk menggambarkan perjalanan dan kiprah SS bersama para kolega dari berbagai tempat dan latar belakang kompetensi di dunia akademis, terutama di bidang fotografi, media, dan seni. Dapat dikatakan juga bahwa judul ini menggambarkan sosok SS sebagai salah satu tokoh penting dalam perkembangan pendidikan seni di Indonesia dan menempatkan kolega sebagai mitra penting dalam perjalanan tersebut. Berdasarkan dua arti tersebut, maka kedua kata itu dipilih menjadi bagian judul buku ini.Buku ini tersusun dari 41 tulisan yang merupakan kontribusi para kolega SS, baik yang berasal dari ISI Yogyakarta di FSR, FSP, dan FSMR, juga para kolega, mahasiswa, dan anak bimbing SS yang kini menjadi seniman, praktisi multimedia, dan pengajar di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hadirnya buku ini dapat pula dimaknai sebagai bentuk ungkapan terima kasih dan bentuk rasa hormat para murid dan kolega atas semua curahan energi yang telah SS berikan kepada viiiISI Yogyakarta dan pendidikan seni di Indonesia. Tulisan yang dimuat diklasifikasi menjadi tiga bagian, yaitu tulisan kesan-kesan dan kisah menarik tentang SS; tulisan tentang fotografi dan media; serta tulisan yang membahas seni secara luas. Tulisan dari berbagai pihak tersebut disajikan dan diurutkan secara alfabetis

    Framework Manajemen Kuratorial

    Full text link
    Sejak tahun 1990-an kemunculan kurator bagaikan meteor yang semakin membesar dan menentukan dalam aktivitas dunia seni rupa Indonesia. Para perupa, pemilik galeri, kolektor, dan pengamat seni tidak sekadar memberi tempat kepada kurator itu, namun lebih jauh lagi aktivitas dan wacananya akan dipengaruhi oleh berbagai proses kuratorial dan legitimasi yang diberikan. Namun, mulai saat itu perannya juga sering dipertanyakan, mengingat belum adanya pemahaman yang benar mengenai sosok kurator. Dalam ketidakpahaman itu, kemudian terus muncul berbagai aktivitas yang sebenarnya hanya memanfaatkan sebutan kurator, sebagai upaya melegitimasi suatu pameran. Menurut kurator seni dan sejarawan, M. Agus Burhan, dalam kasus-kasus itu, banyak tulisan pengantar katalogus pameran yang serta-merta dianggap tulisan kuratorial sang kurator. Padahal tulisan itu sebenarnya mungkin hanya ‘sebatas’ memberikan apresiasi dengan perspekstif historis atau tinjauan lainnya untuk berbagai karya yang dipamerkan. Skala kerja seorang kurator, khususnya kurator seni rupa, setidaknya meliputi tugas-tugas: memilih, memilah, mempersiapkan, menata, memberikan pemikiran pengetahuan atas penafsiran suatu karya, mewacanakan kekayaan karya seni tersebut dilanjutkan dengan menghadirkan karya seni rupa dalam suatu pameran yang representatif. Tidak hanya karya seni rupa saja yang musti diperlakukan sebegitu detail dan rumit, prosedur kerja sama di atas juga ditujukan kepada seniman- seniman yang berpameran, tim kerja, stakeholder, dan mitra sehingga sang kurator mampu mempresentasikan dan mengulas pemikiran-pemikiran yang melapisi karya-karya tersebut. Artikel ini menjabarkan secara dasar bagaimana framework (kerangka kerja) secara formal yang dilekatkan pada profesi kurator dengan metode kuratorialnya. Sebagai sebuah keilmuan, tentunya curatorialship akan kaya berbagai macam pendekatan metodologi keilmuan, pola kerja, interaksi manajemen hingga peranti pendukung lainnya dalam mewujudkan sebuah karya kurasi (pameran) yang berkesan, bernilai, bermakna, dan berpengaruh kuat dalam medan seni rupa

    Kompleksitas Jaap Kunst dalam “Merekam” Etnomusikologi

    No full text
    Perkenalan saya dengan Jaap Kunst sebagai seseorang yang bergelut di bidang etnomusikologi belum pernah mencapai kata ‘akrab’, meski istilah etnomusikologi diinisiasi olehnya. Saat masih di bangku kuliah saya mengenal Jaap Kunst dari karyanya yang berjudul Music in Java, sebuah buku yang banyak dikutip oleh mahasiswa ‘etno’, tetapi maaf tidak dengan saya. Saya perlu mengakui bahwa saya tidak pernah merasa tuntas membaca buku tersebut. Mungkin inilah yang membuat pemilihan subjek riset saya di bidang musik kemudian berbeda dengan etnomusikolog kebanyakan di Indonesia. Transkripsi gamelan yang menjadi bagian penting dalam buku tersebut ternyata dipahami sebagai suatu keharusan bagi etnomusikolog di Indonesia. Kata “menyimpang” dianggap sah untuk menandai seorang etnomusikolog yang tidak melakukannya. Ini tentu saja menarik untuk dibincangkan apalagi kalau dikaitkan dengan perkembangan disiplin ilmu ini yang cenderung lambat bahkan stagnan di Indonesia. Metode pembelajaran gamelan di Indonesia ternyata mengalami perubahan semenjak Music in Java terbit. Partitur menjadi bacaan saat belajar memainkan gamelan. Padahal di Belanda (seperti yang saya lihat di Amsterdam Conservatori) mereka mempelajari gamelan tanpa partitur, tetapi langsung mengingat suara dengan rasa. Pada tahun 2014 saya mendapat kesempatan untuk mengajar mengenai kebudayaan Indonesia (musik, pertunjukan, dan festival) di UvA (Universiteit van Amsterdam). Dr. Barbara Titus menerima saya dengan sangat baik. Dia membagi ruang kerjanya yang sangat nyaman dengan saya. Ruangan itu cukup hangat di tengah musim gugur yang sangat berangin di Amsterdam. Barbara menceritakan bahwa terdapat lemari yang berisi koleksi milik Jaap Kunst di ruang kerjanya. Dahulu ruang kerja tersebut milik Ernst Heinz (siswa Jaap Kunst) dan kini menjadi ruangan Barbara. Selain menceritakan sejarah ruangannya, Barbara juga menunjukkan harta karun yang tersembunyi di ruangan tersebut. Dia berkisah betapa bahagia dia menemukan itu seperti anak kecil mendapatkan permen loli pop. Beberapa album tua dia tunjukkan dengan foto-foto yang beberapa dapat saya kenali. Terutama yang berkaitan dengan Bali, mengingat saya intens dengan Bali sebagai subjek riset saya sejak 2009. Foto-foto yang saya kenali kemudian saya captured dengan hp, dan tidak lupa saya pamerkan di Facebook. Saya juga merasa mendapatkan permen cokelat pada hari itu. Selang beberapa menit saya mendapat pesan di messenger, seorang pemuda (arsitek) dari Desa Tenganan Pegringsingan meminta saya untuk mengirimkan foto-foto lain yang berkaitan dengan desanya, dan permintaan tersebut langsung saya iyakan, meskipun dalam album tersebut sebenarnya saya tidak banyak melihat foto yang berkaitan dengan Desa Tenganan Pegringsingan, selain proses menenun Gringsing dan hasil tenun Gringsing. Akan tetapi, saya melihat beberapa pertunjukan rakyat seperti Joged Bumbung. Perburuan pun dimulai karena saya terlanjur berkata ‘iya’. Kemudian saya mencari foto-foto mengenai Desa Tenganan Pegringsingan di beberapa bibliotheek yang tersebar di Belanda. Pada Juli 2015 saya mengunjungi Desa Tenganan Pegringsingan untuk yang kesekian kali dan sangat terkejut dengan perubahan visual yang terjadi di desa itu. Tenganan Pegringsingan mengubah tampilan sesuai foto-foto yang saya buru. Beberapa pohon di re-lokasi, tembok dengan batako diganti dengan bata merah, halaman bale ditumbuhi rumput, dan banyak hal yang semakin menjadikan Tenganan tampak sebagai museum hidup. Intinya, secara keseluruhan perubahan itu sangat mencengangkan bagi saya yang mengenal intim tiap sudut wilayah itu. Pada tahun 2016, seorang kawan beretnis Batak berkisah dengan saya (etnomusikolog) tentang kegundahannya melihat eksistensi musik Gondang. Dia menyesalkan tentang banyak ragam yang kini tdak lagi dikenal dalam perkembangannya. Saya teringat akan harta karun Jaap Kunst yang tersimpan di UvA, berupa foto, film, dan juga rekaman musik Nusantara yang sedang dalam proses digitalisasi yang dikerjakan teknisi bernama Hans Romp, dan saya langsung menghubungi Hans Romp untuk meminta rekaman musik Gondang yang barangkali dapat mengurangi kegelisahan kawan saya tersebut. Waktu berjalan dan saya menerima berita bahwa musik Gondang akan direvitalisasi dan rekaman-rekaman yang saya sampaikan menjadi referensi penting dalam proses tersebut. Dua pengalaman ini tentu saja membuat saya bahagia sebagai manusia dan menyadari bagaimana pentingnya archive dalam pengembangan kebudayaan kini. Archive digunakan sebagai referensi dalam melegitimasi identitas yang tersemat, dan kembali pada kejayaan masa lalu masih menjadi orientasi dari pelaku budaya di Indonesia. Ini mungkin berbeda dengan konsep pemikiran Barat yang mendengungkan postmodern untuk mengesampingkan yang besar, dan kita justru mencari kebesaran masa lalu untuk menjadi subjek identitas kini. Kejayaan masa lalu dianggap karya yang masih layak dan harus dipertahankan. Lokalitas menjadi determinan baik dalam upaya pencarian maupun peneguhan identitas, pastiche atau kerinduan spiritualitas dalam seni. Pada tahun 2017, Barbara Titus menyampaikan gagasan untuk membuka warisan Jaap Kunst. Selain yang terdapat di lemari ruang kerja, dia juga menemukan beberapa petunjuk bahwa saat meninggalkan Indonesia, Jaap Kunst memiliki sejumlah instrumen alat musik dari beberapa wilayah di Nusantara yang tidak dibawa ke Belanda. Barbara mencari dan menemukan sejumlah instrumen masih tersimpan di Museum Nasional Indonesia dan belum dibuka. Dengan gagasan tersebut saya menawarkan diri untuk dapat terlibat lebih jauh untuk mengakrabkan diri dengan Jaap Kunst. Berkenalan dengan Jaap Kunst Jaap Kunst lahir di Groningen 12 Agustus 1891, besar dalam lingkungan musik karena bapak dan ibunya merupakan musisi (pianis) lulusan konservatori Leipzig dan Dresden. Sebenarnya Jaap Kunst adalah seorang pengacara, tetapi sudah mulai mengenal lapangan (fieldwork) waktu dia masih menjadi mahasiswa jurusan hukum di kota Groningen. Dia meneliti musik di Pulau Terschelling, pulau yang sangat kecil di Belanda Utara, dekat Groningen, sekitar tahun 1915. Dalam risetnya Jaap Kunst selalu mendekati masyarakat yang diteliti dengan memainkan biola dan menyanyi, kemudian meminta masyarakat untuk memainkan musik dan menyanyi bersama, setelahnya masyarakat tersebut diminta untuk memainkan musiknya, dan kemudian Jaap Kunst dapat merekam musik tersebut. Jaap Kunst selalu bekerja dengan pola semacam itu saat di lapangan (Terschelling, Jawa, Bali, Flores, Sumatera, Nias, Irian Jaya). Metode tersebut kemudian dikenal di kalangan ilmuwan musik sebagai “metode Jaap Kunst”. Tahun 1919 Jaap Kunst berangkat ke Hindia Belanda untuk tur musik bersama pemain piano dan penyanyi. Selama delapan bulan mereka bermain musik hampir seratus konser di seluruh kepulauan Hindia Belanda (Bake, 1962). Saat di Yogyakarta, Kunst mendengar gamelan Pakualaman dan tersentuh oleh suara dan kebudayaan yang begitu halus sehingga dia memutuskan tinggal di Jawa untuk mengumpulkan dan melestarikan musik di Jawa, Bali, dan beberapa pulau yang lain. Pada waktu itu, Jaap Kunst adalah salah satu peneliti pertama yang bisa menggunakan alat rekam untuk meneliti musik yang dianggap “asing” oleh orang Eropa. Selama 15 tahun, sampai tahun 1934, Kunst, bersama dengan istrinya Kathy Kunst-Van Wely, merekam lebih dari seribu silinder lilin (wax cylinders) dan kemudian dikirim langsung ke Phonogramm Archiv Berlin untuk dikonversi dalam bentuk piring hitam. Selain itu, Jaap Kunst juga membuat foto, film bisu dan mengumpulkan alat musik di seluruh Hindia Belanda. Dia mengumumkan keragaman buku dan artikel tentang musik Indonesia, awalnya dalam bahasa Belanda, tetapi kemudian dalam bahasa Inggris (Kunst 1931-1945; Kunst & Van Wely 1924-1925; Kunst & Goris 1927). Publikasi ini membuat musik Indonesia diketahui oleh publik ilmuwan dan umum di seluruh dunia. Karena Perang Dunia II mulai, Kunst tidak bisa kembali ke Hindia Belanda. Dia ditunjuk di Universitas Amsterdam (1934) dan mengajar di UvA sampai meninggal tahun 1960 dan tidak pernah kembali ke Republik Indonesia. Jaap Kunst mengajar untuk beberapa tahun di Universitas Amsterdam (UvA). Sekitar tahun-tahun tersebut ia mengembangkan etnomusikologi, sebagai pengganti “Musikologi Perbandingan” yang kurang positivistik. Materinya dibentuk atas apa yang sudah didapatkan Jaap Kunst selama di Indonesia (1920-1934). Murid-muridnya: Felix van Lamsweerde, Ernst Heins, dan Mantle Hood bertindak sebagai kurator dari Pusat Etnomusikologi Jaap Kunst. Ketika lembaga tersebut bubar pada akhir abad ke-20, arsip-arsip Jaap Kunst lantas menjadi bagian dari koleksi perpustakaan UvA dan Departemen Musikologi UvA. Arsip-arsip Jaap Kunst sangat beragam, antara lain adalah audio-video, yang meliputi wax rolls, berbagai jenis kaset, 78rpm, LPs, CDs, VHS, DVD, buku cetak, bahan-bahan ajar (glass plates, dias), korespondensi, catatan harian, dan foto. Jaap Kunst tidak bekerja sendiri, tetapi juga dibantu murid-muridnya pada era 1970 – 1980-an, juga oleh penerusnya antara dekade 1980 – 1990-an di Indonesia dan India. Arsip-arsip tersebut dikelompokkan dan dikatalogisasi dalam berbagai periode yang berbeda (oleh Kunst, Heins, murid-murid Heins, dan asisten paruh waktu). Akibatnya,\ud sistem kategorisasi menjadi tidak konsisten. Beberapa bagian telah didigitalkan oleh universitas, yang lain oleh Phonogramm Archiv di Berlin dan oleh dinas pengarsipan Belanda, Beeld en Geluid. Heins sebagai murid Jaap Kunst menyatakan, ketika meninggalkan Indonesia koleksi alat musik dari berbagai wilayah Nusantara tidak dibawa serta. Alat musik tersebut hingga kini masih tersimpan rapi dalam kondisi baik di Museum Nasional Indonesia. Jumlah koleksi alat musik etnik mencapai kurang lebih 500 koleksi. Sampai saat ini koleksi tersebut belum pernah dibuka dan dipamerkan karena minimnya informasi mengenai keberadaan Jaap Kunst selama di Indonesia. Jaap Kunst dan Etnomusikologi Dalam komunitas etnomusikologi di Eropa, Amerika Utara, dan Asia Tenggara, nama dan warisan Jaap Kunst masih mengandung normativitas tertentu, antara lain karena Kunst dianggap telah menciptakan istilah dan pengertian etnomusikologi: “Musikologi dalam Konteks” (dan dengan predisposisi estetika) dari budaya atau “etnis” tertentu, yang memerlukan praktik etnografi yang dilakukan dengan saksama. Di sisi lain gagasan ini membebaskan dan revolusioner dalam konteks “Musikologi Perbandingan” dan positivis—yang mengukur semua kreativitas musik dengan melawan segala kesadaran dan ketidaksadaran dalam predisposisi estetika Eropa, juga gagasan Kunst mengenai “etnos”—kelompok orang tertentu yang secara intrinsik menjadi berbeda dari yang lain—menjadi semakin bermasalah dalam praktik penelitian musikologis saat ini. Para ahli musik awal abad ke-21 tidak hanya merasa bermasalah untuk menerapkan konsep intrinsik tentang perbedaan budaya dalam praktik penelitian mereka sendiri (Erlmann, 2004; Agnew, 2008; Byl, 2014), namun mereka juga semakin mengamati bagaimana gagasan intrinsik tentang perbedaan ini mendasari kerja epistemologis dan justifikasi kekuasaan dan kontrol kolonial pada abad-abad yang lalu sampai sekarang (Said, 1978; Mudimbe, 1988; Bloechl, 2008; Ochoa Gautier, 2014). Dorongan kekuasaan ini sama sekali bukan masalah masa lalu: hierarki pengetahuan “putih” dan “hitam”, praktik musikal “pribumi” dan “impor”, arsip “tertulis” dan “lisan”, “komposisi” dan “improvisasi”, yang terus membangkitkan adopsi bawah sadar dari posisi dan sikap subjek yang superior dan inferior dalam interaksi sehari-hari, jurnalisme, produksi seni, dan para sarjana di seluruh dunia. Ini Citra Aryandari, Kompleksitas Jaap Kunst 154 Bersama Menyigi dan Meneroka Fotografi, Media, dan Seni memperkuat wawasan bahwa beasiswa, seperti misi, jurnalisme, dan kritik estetika, sangat bergantung pada, antara lain berbagai perangkat, inisiasi dan ide/fantasi “Eropa” sebagai sebuah budaya yang mandiri, superioritas, dan entitas epistemologis (Chakrabarty, 2000). Keterlibatan Belanda dengan sejarah kolonialnya, yang dianut dan dipaksakan di Indonesia, mencontohkan kekuatan fantasi semacam itu hingga hari ini. Implikasi politis dari perdagangan kolonial dan peraturan kolonial selama berabad-abad (termasuk Perang Dekolonisasi pada tahun 1940-an) secara ragu-ragu didahului oleh pers Belanda dan dalam penelitian yang didanai oleh pemerintah, implikasi epistemologis dan budaya dari interaksi kolonial hanya diteliti oleh beberapa sarjana (banyak dari mereka dari luar Belanda) tanpa banyak berhubungan dengan arena politik, jurnalistik, dan ekonomi. Warisan Jaap Kunst menyoroti banyak masalah ini: cara Kunst mengumpulkan bahannya dalam kolaborasi dengan musisi dan asisten dari Indonesia dapat memberikan wawasan berharga mengenai pembentukan pengetahuan kolonial, ke dalam berbagai posisi subjek dan agen subjek para peserta, ke dalam banyak lapisan adaptasi epistemologis dan perampasan yang dipertaruhkan bersama, dan ke dalam kompleksitas budaya, estetika, dan artistik untuk dalam hubungannya dengan kondisi kolonial, entah sebagai kolonial atau dijajah. Penelitian tentang warisan juga dapat menjelaskan berbagai mode untuk mengetahui (konseptual, musikal, visual) budaya dan ekspresi, problematisasi perbedaan antara gaya musik asli dan impor, atau arsip tertulis dan terkandung. Berbagai tempat (Amsterdam, Jakarta, Berlin) di mana warisan Kunst dapat ditemukan saat ini menunjukkan rute yang dia kunjungi di ruang kolonial selama abad ke-20. Kesadaran Perekaman Menuju Kesimpulan Dalam catatan perjalanannya Jaap Kunst menuliskan: At this time it is still possible to acquire knowledge and insight into Indonesian music and to record it for future generations. Within a few years, however in many places this opportunity will no longer exist. even now, there are areas where the former flourishing and complex indigeneous music has completely disapppeared (...) or where -in more or less tempo – it is the process of deteoriration (Rapport 3, p.3). Tulisan ini dibuat pada awal tahun 1930 ketika Jaap Kunst membuat laporan tentang penelitian lapangan yang menjadi passion-nya. Bagi Jaap Kunst penelitian lapangan berarti mencari informasi secara mendalam tentang konstruksi dan aplikasi dalam bermain musik, membuat rekaman dalam bentuk suara, film, dan foto serta mengoleksi instrumen musik dari kelompok masyarakat yang dikunjungi. Semua dikerjakan dengan harapan untuk memperoleh pengetahuan dan dapat digunakan untuk generasi mendatang. Jaap Kunst menyadari akan perkembangan zaman yang memungkinkan kebudayaan secara cepat ataupun lambat akan menghilang. Etnomusikologi bukan sekadar permainan musik, pertunjukan, dan selesai dalam peristiwa penikmatan dari penonton. Akan tetapi, etnomusikologi adalah sebuah disiplin yang sangat kompleks di kepala Jaap Kunst. Ada upaya sebuah perekaman langsung di tempat lahirnya sebuah musik dengan atmosfer yang tidak bisa dilepaskan. Kemudian pendalaman akan kehadirannya, dan tentu ini akan merujuk pada proses analisis untuk kebutuhan pengetahuan. Arsip tidaklah berhenti sebagai data bagi negara kolonial. Bukan sekadar kuasa atas apa yang ada di negeri koloni, tetapi pertama perlu disimpan sebagai arsip yang berharga. Juga keperluan untuk analisis kemudian atas kerangka apa yang membangunnya. Etnomusikologi bukan tampilan sebuah pertunjukan. Perjalanan, riset, pembacaan, dan arsip adalah kesepakatan yang didisiplinkan untuk sebuah ilmu musik. Mendekati Jaap Kunst melalui jejaknya dalam merekam Indonesia yang tertuang dalam berbagai media antara lain berupa rekam suara, foto, film, dan tulisan tentu saja tidak cukup bagi saya yang ingin menjadi seorang etnomusikolog. Perjalanan Jaap Kunst menyentuh setiap ruang baru merupakan kerja interdisiplin dalam mendekati musik dan konteksnya. Rekaman dan tubuh merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ini menjadi tantangan menarik bagi saya dalam posisi membuka jejak suara tersembunyi yang direkam oleh seorang kolonial yang kemudian diwacanakan dalam segala kuasa yang dimilikinya, kini saya coba baca dan suarakan secara proksemik dalam keterbatasan subjektif yang menubuh. Masih adakah tempat hiprokrit dalam melihat Jaap Kunst karena menghindari perjalanan dan sembunyi di balik bunyi instrumen tradisi pada era kini? Kinilah saat membuka diri dan membaca kembali “etnomusikologi” Jaap Kunst (Camar, 2019)

    PRODUKSI BIOPLASTIK (P3HB) DARI BAHAN DASAR MINYAK KELAPA SAWIT DENGAN ISOLAT Bacillus sp

    Full text link
    Poly-3-hydroxy butyrate (P3HB) merupakan salah satu jenis bioplastik yang bersifat biodegradable terakumulasi dalam sel bakteri saat bakteri mengalami kelebihan sumber karbon. P3HB dapat digunakan sebagai pengganti plastik konvensional. Tujuan dari penelitian ini adalah untukmengetahui kemampuan isolat bakteri Bacillus sp.TG dalam menumpuk P3HB dan mengamati optimasi produksi P3HB yang dihasilkan pada berbagai konsentrasi minyak kelapa sawit dan waktu inkubasi. Isolat bakteri yang digunakan diisolasi dari tanah gunung merapi dan menggunakan minyak kelapa sawit sebagai sumber karbon berlebih pada konsentrasi 0,1%, 0,5 %,dan 1 %. Kadar P3HB dianalisa dengan menggunakan kromatografi gas dengan waktu inkubasi selama 36, 42 dan 48 jam. Hasil penelitian menunjukkan, kadar tertinggi P3HB yang dihasilkan oleh isolat bakteri Bacillus sp adalah pada konsentrasi 1 % sebesar 2,489% (mgP3HB / mg sel berat kering), konsentrasi 0,5 %sebesar 2,776 % dan 2,619% pada konsentrasi 0,1 % minyak kelapa sawit. Dengan demikian,ini menunjukkan bahwa konsentrasi minyak kelapa sawit 0,5 % dapat digunakan sebagai sumber karbon alternatif untuk produksi tinggiP3H

    KONTRIBUSI PERANTAU NAGARI ATAR KECAMATAN PADANG GANTING DALAM PEMBERDAYAAN BIDANG PENDIDIKAN

    Full text link
    Merantau salah satu tradisi masyarakat Minangkabau sudah berjalan secara turun temurun, tradisi ini timbul akibat dari geografis dan tipologi yang berdampak terhadap kehidupan dibidang ekonomi, sosial, dan pendidikan di Kampung halaman maupun di Perantuan. Walaupun masyarakat Atar banyak yang berada di perantuan tetapi konstribusi terhadap kampung halaman tetap terpelihara baik terutama konstribusi bidang pendidikan. Analisa yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analisa data teknik analis data model interaktif. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Kualitatif. Informan penelitian ini adalah Wali Nagari, Pengurus Perantau Nagari Atar, Lembaga Unsur dan Masyarakat. Dari Penelitian ini disimpulkan konstribusi Perantau terhadap Nagari Atar dibidang pendidikan diantaranya; pertama, adanya program satu rumah satu sarjana dalam bentuk bantuan Beasiswa Prestasi bagi anaka-anaka yang berasal dari keluarga kurang mampu, kedua, adanya rumusan bersama regulasi kelanjutan pendidikan anak-anak kampung halaman dalam meneruskan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi serta wakaf tanah untuk kelanjutan pendidikan di Nagari Atar

    Energy Security: Energy Planning of West Java

    Full text link
    The study aims to examine the picture of the condition of energy management in West Java in the future, which is the result of projections of energy supply needs that the Regional Government will carry out concerning current conditions, indicators, and parameters that influence and the vision and mission of regional development. This research method is qualitative with a normative approach. The studies carried out in this research are mainly on Presidential Regulation 22/2017 concerning the National Energy General Plan and West Java Province Regional Regulation Number 2 of 2019 concerning the West Java Province Energy General Plan (RUED-WJP). The RUED-WJP elaborates on the results of modeling energy demand and supply for 2015-2050. Which also includes policies, strategies, energy development programs, and activities that refer to the National Energy Policy's targets, with sustainable and environmentally sound principles for creating energy independence and resilience in West Java Province. Keywords: Energy Planning; West Java; Regional Energy General Pla

    Peranan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, Dan Olahraga Dalam Pengelolaan Objek Wisata (Studi Pada Objek Danau Betung Kecamatan Pengkalan Kuras Kabupaten Pelalawan)

    Full text link
    The management of Lake Betung tourism object aims to find out how the results of the role of the cultural, tourism, youth and sports services in managing tourism objects (studies on the object of the lake betung sub-district base kuralawan district). contained in article 43 of regional tourism management and article 44 has a tourism management function. However in managing this tourism object researchers use quantitative methods as well as the study population of the head of service, head of tourism, tourism development section, and tourist attraction, determined by techniques purvosive sampling and incidental sampling, the type of data collection that is used is primary and secondary data, techniques in collecting data using questionnaires / questionnaires, interviews, documentation, and observation, then the data is analyzed descriptively. And also in the management of tourist objects the author uses role theory according to the girot in Rauf with indicators of planning, organizing, directing, controlling, strengths, weaknesses, opportunities, and threats, based on the results of analysis, Pelalawan district's role in culture, tourism, youth and sports management of tourism objects (Study on the object of the lake lakes subdistrict base pelalawan district drainage) in the value quite role. therefore the authors expect the tourism culture services pelalalawan district in order to be better in improving the management of the lake object betung and other tourism in Pelalawan district

    PERGESERAN HUKUM ADAT DALAM PEMANFAATAN TANAH ULAYAT KAUM DI KECAMATAN BANU HAMPU KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT

    Full text link
    ABSTRAKSI PERGESERAN HUKUM ADAT TERHADAP PEMANFAATAN TANAH ULAYAT KAUM DI KECAMATAN BANU HAMPU KABUPATEN AGAM PROVINSI SUMATERA BARAT Masalah tanah merupakan yang paling sensitive bagi manusia pada umumnya dan masyarakat Minangkabau khususnya, karena tanah salah satu unsur dalam organisasi matrilineal. Disamping itu bagi orang Minangkabau dalam keadaan terpaksa tanah ini dapat dilepaskan pemanfaatannya untuk sementara waktu dalam bentuk gadai. Adapun keadaan yang mendesak itu adalah : biaya penyelenggaraan mayat, biaya perkawinan, biaya perbaikan rumah gadang, biaya pengangkatan penghulu, biaya menyekolahkan anak (sekarang). Metode pendekatan yang dipergunakan yuridis empiris dengan mengambil lokasi di Nagari Taluak IV Suku dan Ladang Laweh Kecamatan Banuhampu. Bahwa kemungkinan tanah ulayat kaum dipindahtangankan kepadapihak lain karena tidak lagi mampu untuk memenuhi kebutuhan kaum, dan mempunyai nilai ekonomis untuk memenuhi kebutuhan anggota kaum tersebut dengan mengalihkan tanah ulayat kaum itu sendiri. Hal ini juga sesuai dengan ketentuan adat Minangkabau indak kayu janjang dikapiang indak ameh bungka diasah (tidak ada kayu jenjang dikeping tidak ada emas bungkai diasah). Terutama untuk sekarang ini lebih banyak dipergunakan untuk menyekolahkan anak. Karena tingginya nilai jual tanah yang mendorong suatu kaum untuk menjual/melepas tanah pusakanya, dengan tidak ketatnya persyaratan peralihan tanah pusaka, dengan sendirinya banyak tanah pusaka yang telah dijual pada pihak lain selanjutnya diperuntukan untuk pembangunan Ruko baik oleh developer atau perorangan dan sarana lainnya seperti : perkantoran, pertokoan, dan sebagainya. Kata Kunci : Pergeseran Hukum Adat dalam pemanfaatan Tanah Ulaya
    corecore