18 research outputs found
Pemeranan Tokoh Dave Dalam Naskah Strip Poker Karya Jean Pierre Martinez
Krisis kepercayaan yang terjadi di masyarakat saat ini khususnya pada persoalan kesehatan yang membuat masyarakat harus merubah pola hidupnya. Masalah yang paling krusial adalah pada sektor pekerjaan. Tidak hanya buruh namun juga pengusaha juga mengalami penurunan kapasitas pemasukan. Sehingga menjadikan pemutusan hubungan pekerjaan menjadi besar. Persoalan ini dituliskan oleh Jean Pierre Martinez sebagai naskah drama komedi. Tokoh Dave pada naskah ini disimbolkan sebagai karakter tokoh yang berusaha keluar dari persoalan yang terjadi. Komedi situasi yang ditulis oleh pengarang, membuat pemeran harus detail dalam membaca komedi yang ditulis pengarang, komedi yang diungkapkan dari dialog sehingga menghasilkaan ungakapan yang mengelitik, kemudian pemeran menggunakan teori bentuk humor Yunus mengenai bentuk humor satu baris, humor dua baris, humor dialog, humor kalimat topik, humor salah ucap, humor permainan kata, humor surat, humor interupsi, humor salah intonasi, humor pematah. Kemudian metode yang digunakan pemeran yaitu metode acting Stanislavsky, seorang pemeran harus dapat benar-benar menyakinkan penonton mengenai humor yang disampaikan melalui tokoh utama yaitu Dave. Karakter Dave yang memiliki spesifikasi karakter yaitu kelainan Sosiopat, kelainan sosiopat ini adalah kelainan yang memiliki ketergantungan pada orang lain atau parasit. Dave yang tidak suka akan datangnya sebuah tamu baru kerumahnya membuatnya dirinya melakukan berbagai cara agar tetangganya tidak betah berada dirumahnya. Dengan kepandaiannya dalam mengarang cerita membuatnya terjerumus sendiri pada kenyataan-kenyataan yang pahit dalam kehidupannya. Persoalan yang kompleks yang dialamai oleh Dave membuat pemeran menggunakan metode acting Stanilavsky dengan menjadi karakter yang seolah-olah nyata. Penggunaan bentuk humor membantu pemeran memilah dan menakar maksud dan emosi setiap dialog sehingga fungsi humor dapat tersampaika
Mas'alah Inna Wa Akhwatuha 'inda Al Shaykh Ibn 'Aqil Wa "uthaimin Fi Sharh Alfiyah Ibn 'Aqil : Dirasah Tahliliyyah Muqaranah Fi Nahw
Penelitian ini dilakukan untuk mengungkapkan perbedaan konsepsi Syaikh Ibnu ‘Aqil dan ‘Utsaimin dalam kedua kitabnya. Dalam ke dua kitab tersebut terdapat perbedaan konsepsi tentang Inna> wa akhwatuha, di antaranya adalah, Wujubu at-tartib bainaha wa baina ismiha, fa>idatu la’alla wa kanna, wujubu kasri hamzatiha, jawazu wajhaini. Adapun rumusan masalahnya adalah bagaimanakah biografi kedua pengarang dan bagaimanakah konsepsi keduanya tentang Inna> wa akhwatuha, apa perbedaan dan persamaan keduanya tentang konsep tersebut, dan bagaimana analisis perbedaan keduanya tentang konsep tersebut?
Dalam penelitian tersebut, digunakan metode deskriptif-analiti yang digunakan oleh penulis dalam penelitiannya. Metode tersebut tertujuan untuk menguraikan hasil penelitiannya secara jelas. Adapun tahapan-tahapan penelitiannya yaitu pertama, metode pengumpulan data, yang didapatkan dari buku keduanya dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitian ini, hal tersebut dapat dilakukan dengan cara kepustakaan, kedua metode analisis data, dan ketiga metode pemaparan hasil analisis. Kemudian hasil analisisnya dilaporkan dalam bentuk tulisan. Adapun pendekatan yang digunakan oleh penulis adalah pendekatan perbandingan antara Syaikh Ibnu ‘Aqil dan Syaikh ‘Utsaimin.
Setelah penelitian tersebut dilakukan, penulis menemukan salah satu alasan dari perbedaan keduanya. Dalam hal wujubu at-tartib bainaha wa baina ismiha, Syaikh Ibnu ‘Aqil memperbolehkan ma’mul al-khabar yang berupa z}arf atau majru>r karena keduanya mempunyai sifat Tawassu’, keemudian Syaikh ‘Utsaimin dikenal sebagai hafidz Al-Quran oleh karena itu beliau berpendapat bahwa ada faidah lain dari faidah tasybih dan tarajji untuk Kaanna dan Laalla>. Akan tetapi dalam hal keadaan wajib dibaca inna, Syaikh Ibnu aqil lebih terperinci karena contoh-contohnya terdapat dalam Al-Qur’an meskipun tidak dikenal sebagai hafidz Al-Qur’an.
Kata Kunci: Perbandingan, Syarh Alfiyah, Inna> wa akhwatuha
al ’Urf dan implikasinya terhadap hukum: studi perbandingan anatara Hanafiyah dan Malikiyah
Hanafiyah dan Malikiyah dalam menerapkan konsep ‘urf secara luas terkadang silang pendapat ketika berhadapan dengan kasus tertentu misalnya akad yang berkaitan dengan produk industry, Hanafiyah membolehkan, sementara Malikiyah tidak membolehkan. Apa yang dikatakan Ibnu Qoyyim sebagaimana yang dinukil oleh Nasrun Haroen, bahwa suatu fatwa bisa berubah dan berbeda-beda karena perubahan zaman, tempat, lingkungan, niat dan adat kebiasaan manusia. Rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah; 1. Apa persamaan dan perbedaan konsep ‘urf antara Hanafiyah dan Malikiyah, 2. Bagaimanakah implikasi (keterlibatan) ‘urf terhadap hukum. Jenis penelitian ini adalah penelitian perpustakaan. Sedangkan metode yang dipakai untuk menganalisis data menggunakan metode deskriptif dan metode komparatif. Kesimpulan dalam pembahasan ini adalah; 1. Tiada nash yang jelas mengenai definisi ‘urf, baik dari golongan Hanafiyah maupun golongan Malikiyah. Definisi ‘urf hanya dapat dibaca dari karya-karya ulama baru. Hanya saja dasar-dasar tentang pengertian ‘urf tersebut telah dikemukakan oleh Abu Hanifah dan Imam Malik melalui fatwa-fatwa mereka, khususnya yang berkaitan dengan masalah-masalah furu’iyah. 2. Baik Hanafiyah maupun Malikiyah memberikan kelelusaan terhadap eksistensi ‘urf, baik yang ‘amali maupun yang qauli di bidang hukum, khususnya hukum dari masalah-masalah yang muncul bersamaan dengan zaman kekinian. Kecuali masalah-masalah yang hukumnya telah ditetapkan oleh nash syara’ yang rinci (khas) atau qath’i
