6 research outputs found
Pola Pendidikan Pranatal dalam Agama Hindu
Abstraksi
Kini perhatian para praktisi, dan pengamat pendidikan, demikian juga kesehatan, khususnya kesehatan Ibu dan anak, tertuju pada pendidikan Pranatal. Fenomena ini didukung juga oleh hasil temuan eksperimen ilmuwan Anthony Casper, yang bekerja untuk lembaga kesehatan anak dan perkembangan manusia untuk universitas Carolina di Amerika Serikat, menemukan bahwa : Makanan yang dimakan oleh Ibi yang sedang hamil, gagasan-gagasan yang dipikirkannya, kata-kata yang didengar, dan diucapkan mempengaruhi janin yang berada dalam kandungannya. Hal inilah yang mendorong penulis untuk meneliti “Pola Pendidikan Pranatal dalam Agama Hindu”. Walaupun secara implisit pendidikan pranatal belum diatur dalam sistem pendidikan Nasional, tetapi secara eksplisit tanggung jawab tersebut ada pada pendidikan informal (pendidikan dalam keluarga). Adapun penelitian ini difokuskan pada dua permasalahan yaitu : (1) Latar belakang Pendidikan Pranatal dalam agama Hindu; dan (2) Pola Pendidikan Pranatal dalam agama Hindu.
Penelitian ini adalah penelitian semi lapangan atau gabungan dari penelitian pustaka dan lapangan, dengan menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif, pengumpulan datanya menggunakan teknik Observasi, Wawancara, Dokumentasi, dan studi kepustakaan. Hasil temuan penelitiannya menunjukan bahwa yang melatar belakangi pendidikan pranatal dalam agama Hindu adalah posisi atau kedudukan anak didalam keluarga sangat utama sebagai pembebas atau penyelamat orang tuanya, sehingga dikatakan sebagai cahaya yang menerangi kegelapan didalam keluarga, bagaikan sinar surya yang menerangi bumi. Kitab suci Weda baik Sruti, maupun smerthi (purana dan Itihasa), termasuk Ramayana dan Mahabharata, dan sastra-sastra Hindu lainnya banyak mengandung nilai-nilai pendidikan Pranatal. Sedangkan Pola pendidikan Pranatal Hindu, disamping melalui pola sikap dan prilaku hidup orang tuanya (calon Ibu, dan bapak) bayi dalam kandungannya, juga melalui pola Samskara atau upacara yajna yaitu : (1) Upacara Mekala-kalaan adalah Upacara pembersihan,dan Penyusian Sukla (Sperma), dan Swanita (Ovum/sel telur); (2) Upacara Garbhadhana samskara adalah : Upacara konsepsi atau pembuahan (penghamilan, membuat Istri menjadi hamil (hubungan intim suami istri); (3) Upacara Pumsawana Samskara adalah upacara permohonan diturunkan (lahirnya) anak suputra, yang dilakukan setelah usia kandungan tiga bulan; (4) Upacara Simantonayana Samskara adalah secara niskala, upacara membentengi bayi (kandungan) dari pengaruh jahat makhluk-2 halus (gaib), dan secara sekala melindungi istri (calon Ibu) oleh suaminya dengan penuh kasih sayang dan tanggung jawab, dilakukan setelah usia kandungan 4-5 bulan kalender; (5) upacara magedong-gedongan (khas Hindu Bali), upacara pembersihan, dan penyucian serta persiapan secara fisik maupun mental menyambut kelahiran bayi yang dilaksanakan pada usia kandungan 5-6 bulan kalender atau 6-7 bulan kalender Saka.
Kata Kunci : Pola, Pendidikan-Pranatal, dan Agama Hindu)  
Pola Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini terlihat disamping terdeskripsikan dari banyaknya bermunculan lembaga pendidikan Anak Usia Dini bagaikan jamur di musim hujan, juga disoroti dari berbagai perspektif agama, termasuk pendidikan agama Hindu. Fenomena ini menunjukan betapa pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini diberikan kepada anak untuk membentuk anak suputra. Sehingga pada akhirnya nanti memiliki kemampuan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pembebas penderitaan orang-tua, keluarga, dan leluhurnya, sehingga dapat mencapai kebahagiaan (sorga dan moksa). Bertautan dengan hal tersebut, maka fokus penelitian tentang Pola Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu, dikembangkan menjadi tiga permasalahan yakni : (1) Bagaimana Pola Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu?; (2) Apa Fungsi Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Agama Hindu?, dan Apa makna Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Perspektif Agama Hindu.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research), dan pengumpulan datanya disamping melalui observasi, juga menggunakan studi kepustakaan, terutama pustaka-pustaka pendidikan anak usia dini yang termuat dalam kitab-kitab suci Hindu baik sruti, smerti, maupun kitab-kitab tafsir lainnya. Demikian juga Teori yang digunakan, disamping menggunakan teori-teori pendidikan dan pembelajaran secara umum, juga teori-teori yang ada dalam teori-teori pendidikan dan pembelajaran agama Hindu yang bersumber dari ajaran agama dan budaya Hindu.
Adapun hasil penelitian ini, menunjukan bahwa dalam perspektif agama Hindu Pendidikan Anak Usia Dini, penting artinya dalam pembentukan suputra (anak yang baik), sehingga nantinya anak (putra) mampu melaksanakan fungsinya yaitu membebaskan orang tuan, keluarga dan leluhurnya dari penderitaan. Didalam kitab suci weda (sruti, smerti), dan kitab-kitab tafsir lainnya banyak mengandung pola-pola pendidikan dan pembelajaran agama Hindu yang dapat digunakan untuk mendidik anak, termasuk anak usia dini Hindu
PENGASUHAN HOLISTIK BERLANDASKAN FILSAFAT TRI HITA KARANA DALAM MENGEMBANGKAN KARAKTER ANAK USIA DINI PADA KELUARGA HINDU DI KOTA MATARAM
This aimed to create a toroughful inductive study on the holistic parenting phenomenon based on Tri Hita Karana in developing characters of younger children. Method used in this just case study qualitative by doing inductive study. Started from intensive data collection about the said phenomenon, thus maintain the credibility of data collected. Method used in data collection was observation of parenting phenomenon, grouping data based on paterns, arranging general concept, pincipal and proposition based on qualitative data analisis. This study found that holistic parenting based on Tri Hita Karana resulted in children with holistic self competences and parenting model based on 9 characteristis: love to God, independence and responsibility, honesty, politeness, willingness to sacrifice, persistent, fair, humble, dan tolerance. Outcome of this study could be used for increasing and developing parenting pattern based on Tri Hita Karana philosophy to help raised Hindu generation with good character.
Keywords: Parenting, Holistic, Tri Hita Karana, Character
Penelitian Ini bertujuan untuk menciptakan studi induktif yang kuat pada fenomena pengasuhan holistik berdasarkan Tri Hita Karana dalam mengembangkan karakter anak-anak yang lebih muda. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus kualitatif dengan melakukan studi induktif. Dimulai dari pengumpulan data intensif tentang fenomena tersebut, sehingga menjaga kredibilitas data yang terkumpul. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi fenomena parenting, pengelompokan data berdasarkan patern, penyusunan konsep umum, pincipal dan proposisi berdasarkan analisis data kualitatif. Penelitian ini menemukan bahwa pola asuh holistik berdasarkan Tri Hita Karana menghasilkan anak-anak dengan kompetensi diri secara holistik dan model pengasuhan berdasarkan 9 karakteristis: cinta kepada Tuhan, kemandirian dan tanggung jawab, kejujuran, kesopanan, kesediaan berkorban, gigih, adil, rendah hati, dan toleransi. . Hasil dari penelitian ini dapat digunakan untuk meningkatkan dan mengembangkan pola pengasuhan berdasarkan filosofi Tri Hita Karana untuk membantu membangkitkan generasi Hindu dengan karakter yang baik.
Kata Kunci: Pola Asuh, Holistik, Tri Hita Karana, Karakter
 
Sacred Spaces, Shared Souls: Interfaith Harmony at Taman Kemaliq Lingsar, Lombok, Indonesia
This study examined the phenomenon of socio-religious interaction between the Hindu and Islamic communities of Wetu Telu in Taman Kemaliq Pura Lingsar, Lombok. Using a qualitative approach, this study aimed to understand how Taman Kemaliq becomes an acculturation space that facilitates and reflects interfaith harmony. The research uncovered shared histories and religious practices that affirmed communal identity and religious tolerance through in-depth interviews, participatory observations, and document analysis. The results showed that Taman Kemaliq is a place for religious rituals and a symbol of harmony and collective identity. Simultaneous religious practices, such as rarak kembang waru ceremonies for Muslims and odalan ceremonies for Hindus, provide a platform for both communities to express their own beliefs and traditions while strengthening social relations between communities. This research found that Taman Kemaliq was a sacred place that united differences through ritual practices and strengthened tolerance and harmonious interaction between religious communities in daily life. The study offered new perspectives on religious and cultural practices as tools of inclusive social development and their potential to inspire interfaith harmony. These findings are important for anthropological, theological, and cultural studies, and they show that Taman Kemaliq can be a real example of multicultural societies managing diversity and creating harmony
Upaya Peningkatan Sektor Keamanan dan Keselamatan Dalam Mewujudkan Pariwisata Damai di Bali
Abstrak -- Travel and Tourism Competitiveness Index (TTCI) memposisikan Pariwisata Indonesia pada peringkat ke-42 dari total 136 di tahun 2017. Peringkat tersebut terdiri dari 14 indikator, yang salah satunya adalah keamanan dan keselamatan. Pariwisata Indonesia menemui permasalahan di sektor ini dengan realitas peringkat yang buruk selama sepuluh tahun terakhir. Bali merupakan provinsi dengan proporsi penyumbang devisa terbesar di sektor pariwisata. Maka, upaya peningkatan sektor keamanan dan keselamatan pariwisata Bali menjadi fokus utama dalam penelitian. Permasalahan penelitian berupa kondisi sektor keamanan dan keselamatan pariwisata di Bali dan upaya peningkatan sektor ini untuk mewujudkan perdamaian. Penelitian menggunakan metode kualitatif. Data diperoleh dari para informan yang ditetapkan dan selanjutnya dianalisis dengan teknik hermeneutika deskriptif fenomenologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, terdapat kerugian akibat aksi kekerasan dan aksi terorisme yang meskipun terjadi di luar Bali, akan tetap memengaruhi wisatawan terhadap jaminan bebas dari ancaman. Upaya peningkatan telah dilaksanakan pihak Polda Bali berupa pembentukan Foreigners Community Club (FCC) sebagai langkah preventif terhadap aksi kriminal sektor pariwisata. Terdapat juga peningkatan fungsi pecalang dan desa adat sebagai upaya cegah dini. Relasi antar manusia dalam pariwisata terkait kondisi aman dan ancaman adalah produk manusia itu sendiri. Para pelaku kekerasan sektor pariwisata dalam hal ini dipengaruhi oleh faktor sosio-ekonominya di samping fenomena alienasi subjek yang mengarah pada perilaku destruktif. Terwujudnya perdamaian pariwisata Bali dapat terjadi pada saat manusia Bali tetap memegang teguh pariwisata berbasis budaya.Kata Kunci: Keamanan dan keselamatan pariwisata, Bali, perdamaian. Abstract -- World Economic Forum (WEF) consistently evaluates tourism developments worldwide, including Indonesia. The forum applies Travel and Tourism Competitiveness Index and ranks Indonesian tourism in 42th place of 136 in 2017. The rank consists of 14 indicators, and the essential one is defense and security. In the indicator mentioned, Indonesian tourism is always on the bottom of the list in the last ten years. For Bali is a province with the biggest annual foreign exchange revenue in tourism, the research chooses Bali to find out the source of the problem and devise the best method to improve national indicator of defense and security in tourism. The research uses qualitative research. Data are collected from selected informants and analyzed using descriptive-phenomenological hermeneutics. The research shows that the movement of violence and terrorism taking place within and outside Bali affect tourism free from threat status. Improvements have been conducted by the Bali Police with creating Foreigners Community Club as a preventive method toward crime in tourism. Moreover, maximalizing the role of the traditional village and pecalang also has been performed as pre-prevention. However, the relation among humans in the tourism regarding free from threat condition is the product of humanity itself. The criminals in tourism are influenced by socio-economic factors and from alienation problem leading to destructive actions. Peace can be realized in Bali when Balinese can hold strongly tourism based on local cultures. Keywords: Tourism Safety and Security, Bali, Peac
Evaluasi Model Kematangan E-Government pada Layanan Publik Kecamatan di Indonesia Menggunakan Framewok SPBE
The administration of Indonesian public services has entered the era of Industrial Revolution 4.0, which is a collaborative phase, requiring that every public service implement a service system base on digitization and integrated. The public service that has always been an open discussion is the PATEN Sub-District service. PATEN is a public service system that facilitates community access to get assistance related to population and licensing issues through the Sub-District. Based on PANRB Ministerial Regulation No. 5 of 2018 concerning SPBE Guidelines. SPBE is the framework of the Indonesian Government's Maturity Model, which assesses the level of maturity index in Local Government services. SPBE implementation only stops at the District level and has not touched the Sub-District level, so the SPBE research conducted on public services in the Sub-District. SPBE maturity evaluation has been re-mapped in public services so that not all domains and indicators used. Based on the SPBE mapping results, it produces two domains and four indicators that will use as an assessment of maturity. The data collection method used was a questionnaire. The results showed the evaluation of the maturity of the SPBE in public services in the Sub-District obtained a “Poor” category with a total index value of 1.47. Accordingly, it was necessary to provide recommendations and improvement strategies to increase the value of the SPBE index
