E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Not a member yet
    711 research outputs found

    Pemberian Hak Waris terhadap Anak Perempuan pada Keluarga Hindu di Desa Basarang Jaya Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas

    No full text
    Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu ingin mengungkapkan sebuah fenomena bahwa dalam sistem pewarisan keluarga Hindu Bali mulai mengalami pergeseran ke arah yang lebih positif. Perubahan ini sebagai wujud adanya persamaan atau kesetaraan walupun tidak sama rata. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah hukum empiris. Dimana data-data yang diperoleh bersumber dari lapangan sebagai data primer dan didukung dengan data skunder. Analisis data yang dilakukan adalah dengan deskriptif kualitatif. Dari analisis data yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan bahwa pemberian hak waris kepada anak perempuan dalam keluarga Hindu Bali, bahwa pertimbangan orang tua adalah semua anaknya baik laki-laki maupun perempuan adalah darah dagingnya. Kemudian pemberian hak tersebut juga bentuk kasih sayang orang tua terhadap anak perempuanya. Pemberian hak waris kepada anak perempuan tentu juga berdasarkan kesepakatan keluarga, terutama pihak laki-laki sebagai purusa. Sedangkan penerapan hak waris anak perempuan dilakukan secara langsung oleh orang tua sebagai pewaris. Jumlah besaran yang diberikan tentu tidak sama dengan anak laki-laki. Karena pada prisnsipnya dalam keluarga Hindu menganut sistem patrilinial. Dimana anak laki-laki sebagai ahli waris dan mempunyai hak yang penuh dalam keluarga

    Perspektif Remaja Hindu Terhadap Ajaran Catur Varna dan Sistem Kasta pada Zaman Modern di Desa Sukamaju

    No full text
    Hinduism is a teaching based on the Vedas and upholds the principle of sanatana dharma (eternal truth). Hindu social life is based on moral teachings that prioritize peace and harmony in life. However, the blurring of the values of the catur varna teaching as one of the foundations of Hindu morality and equating the catur varna teaching with the caste system (social stratification) causes various Hindu youth perspectives on these two concepts. Thus, this study seeks to describe the perspectives of Hindu adolescents on the teachings of catur varna and the caste system, analyze the causes of perspective errors, and examine efforts that can be made to straighten out misunderstandings. This research is  qualitative research with case study method. Data were collected through observation, interviews, and documentation studies. The data collected was then analyzed using Miles and Huberman's data analysis which consists of data reduction, data display, and data verification. The results of this study show that Hindu teenagers have various views on the teachings of chess varna and the caste system. But in general, teenagers have a misunderstanding of the teachings of chess varna and there is a blurring of the meaning and values of the teachings of chess varna into a caste system. The misunderstanding of this concept is caused by various internal and external factors of Hindu adolescents. The efforts to overcome the misunderstanding include the integration of catur varna learning in education, community development, utilization of social media, and the role of family and religious leaders.Kata Kunci:Kata Kunci:Catur VarnaKastaRemaja Hindu AbstrakAgama Hindu merupakan ajaran yang berlandaskan pada kitab suci Weda dan memegang teguh prinsip sanatana dharma (kebenaran abadi). Kehidupan bermasyarakat umat Hindu didasarkan pada ajaran susila yang mengutamakan kedamaian dan keharmonisan dalam kehidupan. Namun adanya pengaburan nilai-nilai ajaran catur varna sebagai salah satu landasan susila umat hindu dan menyamakan ajaran catur varna dengan sistem kasta (stratifikasi sosial) menyebabkan adanya berbagai perspektif remaja Hindu terhadap kedua konsep tersebut. Sehingga penelitian ini berupaya untuk mendeskripsikan perspektif remaja hindu terhadap ajaran catur varna dan sistem kasta, menganalisis penyebab kekeliruan perspektif, dan mengkaji upaya yang dapat dilakukan untuk kembali meluruskan pemahaman yang keliru. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis data Miles dan Huberman yang terdiri dari reduksi data, display data, dan verifikasi data. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa remaja Hindu memiliki berbagai pandangan terhadap ajaran catur varna dan sistem kasta. namun secara umum, remaja memiliki pemahaman yang keliru terhadap ajaran catur varna dan terjadi pengaburan makna dan nilai-nilai ajaran catur varna menjadi sistem kasta. Kekeliruan pemahaman konsep ini disebabkan oleh berbagai faktor internal dan eksternal remaja Hindu. Adapun upaya untuk mengatasi kekeliruan pemahaman meliputi integrasi pembelajaran catur varna dalam pendidikan, pembinaan umat, pemanfaatan media sosial, serta peran keluarga dan tokoh agama

    Peran Parisada Pada Pelaksanaan Perkawinan Umat Hindu di Kota Palangkaraya

    No full text
    Parisada Hindu Dharma Indonesia merupakan lembaga tertinggi agama Hindu, salah satu tugas parisada adalah melakukan pelayanan kepada umat. Dalam pelaksanaan tugas Parisada, ada tiga permasalahan yang diteliti dalam artikel ini, yaitu: (1) Apa tugas dan fungsi Parisada?, (2) Apa peran Parisada dalam  ritual perkawinan Umat Hindu di Kota Palangkaraya?, (3) Bagaimana kedudukan surat keterangan  Parisada dalam penerbitan akta perkawinan di Kota Palangkaraya?. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan penentuan informan secara porposif sampling. Teori yang digunakan adalah teori fungsional struktural, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Tugas dan fungsi Parisada  adalah membina dan melayani umat, meningkatkan pengabdian, menjalin kerjasama, dan melakukan redefinisi, reinterpretasi, dan reaktualisasi pemahaman ajaran suci Weda; (2) Parisada memiliki tiga peran penting dalam pelaksanaan ritual perkawinan Umat Hindu di Kota Palangkaraya yaitu sebagai fasilitator pelaksanaan upacara sudhi wadani, memberikan pembekalan (dharmawacana), dan mengeluarkan surat keterangan nikah (3) Kedudukan surat keterangan nikah yang dikeluarkan oleh Parisada adalah sebagai surat penyataan bahwa perkawinan yang dilaksanakan oleh mempelai sudah sah secara agama dan dapat digunakan sebagai salah satu syarat dalam penerbitan akta perkawinan

    Perlindungan Hak-Hak Perempuan Dalam Hukum Hindu Perspektif Hak Asasi Manusia

    Full text link
    This article discusses the protection of women's rights in Hindu law from a Human Rights (HAM) perspective. In the context of Hindu society which has developed within strong traditions and culture, women's rights are often faced with challenges caused by normative interpretations of sacred texts and customs. Even though Hindu teachings contain values ​​of respect for women, the implementation of women's rights in social life is sometimes not fully in line with modern human rights principles. This article analyzes various provisions in Hindu law related to the position of women, including rights in marriage, inheritance, and protection against violence. Additionally, this article explores efforts to balance Hindu legal traditions with the development of more progressive human rights values, to ensure better protection of women's rights in contemporary Hindu society. Through this approach, it is hoped that awareness will be created about the importance of integration between religious law and human rights in supporting gender equality.Artikel ini membahas perlindungan hak-hak perempuan dalam hukum Hindu melalui perspektif Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam konteks masyarakat Hindu yang telah berkembang dalam tradisi dan budaya yang kuat, hak-hak perempuan sering kali dihadapkan pada tantangan yang disebabkan oleh interpretasi normatif dari teks-teks suci dan adat. Meskipun ajaran Hindu mengandung nilai-nilai penghormatan terhadap perempuan, implementasi hak-hak perempuan dalam kehidupan sosial terkadang tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip-prinsip HAM modern. Artikel ini menganalisis berbagai ketentuan dalam hukum Hindu terkait dengan posisi perempuan, termasuk hak-hak dalam perkawinan, warisan, dan perlindungan terhadap kekerasan. Selain itu, artikel ini mengeksplorasi upaya untuk menyeimbangkan tradisi hukum Hindu dengan perkembangan nilai-nilai HAM yang lebih progresif, guna memastikan perlindungan yang lebih baik terhadap hak-hak perempuan di masyarakat Hindu kontemporer. Melalui pendekatan ini, diharapkan tercipta kesadaran akan pentingnya integrasi antara hukum agama dan HAM dalam mendukung kesetaraan gender

    PENDIDIKAN AGAMA HINDU DAN PERANANNYA DALAM MENJAGA KESEHATAN MENTAL REMAJA

    Full text link
    Masa remaja adalah masa yang unik dimana pada masa ini seorang individu mengalami perubahan baik perubahan fisik, psikis, maupun psikososial. Pada masa remaja seorang individu akan mengalami perkembangan mental juga fisik, perubahan sikap juga tingkah laku juga perubahan status dimana mereka sudah meninggalkan status anak-anak tetapi belum sah menerima status dewasa. Masa remaja disebut juga sebagai masa kritis dimana seorang individu ingin mengenal kehidupan juga dirinya lebih mendalam, yang dalam prosesnya tidak luput dari pengaruh negatif juga permasalahan yang sering terjadi dan mengakibatkan adanya gangguan pada kesehatan mentalnya. Pendidikan dan agama disebut sebagai faktor yang berpotensi sebagai penyebab juga pencegah terjadinya permasalahan kesehatan mental. Adapun tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bagaimana peranan pendidikan agama Hindu dalam menjaga kesehatan mental remaja. Kata kunci: Pendidikan Agama Hindu, Kesehatan Mental, Remaj

    NILAI KEPEMIMPINAN DAN FILSAFAT SENI DALAM KEKAWIN NITI SASTRA

    Full text link
    Hinduism is a essence that cannot be separated from artistic life, culture and social leadership. An art will create Hinduism into a beautiful essence and have meaning which can then be felt deeply by Hindus. Kakawin Niti Sastra is evidence of literary works that exist to serve as a guide for Hindus in realizing artistic values ​​and leadership values. Kakawin NitiSastra, as a guide for leaders in carrying out their activities wisely, with compassion, courage and adhering to the truth, all of which are ideological values ​​that can support the continuity of good leadership in society. By understanding and applying these values, a leader is expected to be able to protect and improve the welfare of his community. Art, as a cultural and spiritual expression, has a depth of meaning that is closely related to religious beliefs and practices, especially in the Hindu context, where art is considered a means of conveying a sense of devotion to God. Keywords: Phylosophy Art, Social Leadership, Kakawin NitiSastraAgama Hindu merupakan hakikat yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seni, budaya, dan kepemimpinan sosial. Sebuah seni akan menjadikan agama Hindu menjadi suatu esensi yang indah dan mempunyai makna yang kemudian dapat dirasakan secara mendalam oleh umat Hindu. Kakawin Niti Sastra merupakan bukti karya sastra yang ada untuk dijadikan pedoman bagi umat Hindu dalam mewujudkan nilai seni dan nilai kepemimpinan. Kakawin NitiSastra, sebagai pedoman bagi para pemimpin dalam menjalankan aktivitasnya dengan bijaksana, penuh kasih sayang, berani dan berpegang teguh pada kebenaran, yang kesemuanya merupakan nilai-nilai ideologi yang dapat menunjang kelangsungan kepemimpinan yang baik di masyarakat. Dengan memahami dan menerapkan nilai-nilai tersebut, seorang pemimpin diharapkan mampu melindungi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Seni sebagai ekspresi budaya dan spiritual mempunyai kedalaman makna yang erat kaitannya dengan keyakinan dan praktik keagamaan, terutama dalam konteks Hindu, dimana seni dianggap sebagai sarana penyampaian rasa pengabdian kepada Tuhan. Kata Kunci: Filsafat Seni, Kepemimpinan Sosial, Kakawin NitiSastr

    AI dan Konsep Dharma: Etika Kecerdasan Buatan dalam Bingkai Filsafat Hindu

    Full text link
    This study aims to examine the relevance of the Hindu philosophical principle of Dharma as an alternative ethical framework in the development and application of artificial intelligence (AI). The research addresses the growing ethical crisis in modern AI systems, particularly concerning algorithmic bias, system autonomy, and the absence of moral accountability. Employing a qualitative philosophical-hermeneutic approach, this study analyzes classical Hindu texts such as the Bhagavad Gita, Upanishads, and Manusmṛti, alongside contemporary academic literature. Data collection techniques include textual analysis and semi-structured interviews with Hindu clerics, philosophy scholars, and AI ethics experts in Bali and Yogyakarta. The analysis reveals that Dharma offers a holistic ethical framework—encompassing moral, spiritual, and cosmological dimensions—that bridges the gap between technological efficiency and moral responsibility. Three central themes emerged from the findings: (1) moral responsibility based on svadharma (individual duty), (2) ahimsa (non-violence) ethics in algorithmic design, and (3) the spiritualization of technology as a means to preserve cosmic harmony. These insights contribute theoretically to the development of a more pluralistic, culturally rooted AI ethics discourse and offer practical implications for designing context-aware and human-centered AI policy frameworks. The study concludes that integrating Eastern philosophical values into technology ethics curricula and global AI governance is essential. Future research is encouraged to explore ethical principles from other religious traditions and examine the application of Dharma-based ethics in participatory, community-driven technology design.Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji relevansi prinsip Dharma dalam filsafat Hindu sebagai kerangka etika alternatif dalam pengembangan dan penerapan kecerdasan buatan (AI). Fenomena yang menjadi fokus penelitian adalah krisis etika dalam teknologi AI modern, terutama terkait bias algoritmik, otonomi sistem, dan ketiadaan tanggung jawab moral. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis filosofis-hermeneutik, studi ini menganalisis teks-teks klasik Hindu seperti Bhagavad Gita, Upanishad, dan Manusmṛti, serta dokumentasi literatur akademik kontemporer. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan wawancara semi-terstruktur dengan partisipan yang terdiri dari rohaniwan Hindu, akademisi filsafat, dan pakar etika teknologi di Bali dan Yogyakarta. Hasil analisis menunjukkan bahwa Dharma merupakan prinsip etik yang holistik—mencakup dimensi moral, spiritual, dan kosmologis—yang dapat menjembatani kesenjangan antara efisiensi teknologi dan tanggung jawab moral. Tiga tema utama yang muncul dari analisis adalah: (1) tanggung jawab moral berbasis svadharma, (2) etika non-kekerasan (ahimsa) dalam sistem algoritmik, dan (3) spiritualisasi teknologi sebagai proses pemeliharaan harmoni kosmis. Temuan ini memberikan kontribusi teoritis terhadap pengembangan etika teknologi yang lebih plural dan berakar pada nilai-nilai lokal, serta memberikan implikasi praktis bagi penyusunan kebijakan AI yang kontekstual dan humanistik. Kesimpulan penelitian ini menekankan pentingnya integrasi nilai-nilai filsafat Timur dalam kurikulum etika teknologi dan kebijakan AI global. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi nilai etik dari tradisi keagamaan lain serta implementasi Dharma dalam desain teknologi partisipatif berbasis komunitas

    Tindak Pidana Perdagangan Orang

    No full text
    Era globalisasi menimbulkan banyak dampak negatif, salah satu dampak tersebut adalah terjadinya kasus perdagangan manusia. Trafficking in person atau perdagangan manusia mungkin bagi banyak kalangan merupakan hal yang sudah sering atau biasa untuk didengar oleh karena tingkat terjadinya kasus Trafficking yang tidak dipungkiri sering terjadi di Indonesia. Trafficking terhadap manusia adalah suatu bentuk praktek kejahatan kejam yang melanggar martabat manusia, serta merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia paling kongkrit yang sering memangsa mereka yang lemah secara ekonomi, sosial, politik, kultural dan biologis. korban yang paling rentan adalah perempuan, terutama dari keluarga miskin, perempuan dari pedesaan, perempuan putus sekolah yang mencari pekerjaan. Berbagai latar belakang dapat dikaitkan dengan meningkatnya masalah perdagangan perempuan, seperti lemahnya penegakan hukum, peran pemerintah dalam penanganan maupun minimnya informasi tentang trafficking. Para pelaku perdagangan orang bekerja sangat rapih dan terorganisasi. Umumnya mereka melakukan pencarian korban dengan berbagai cara, seperti mengiming-imingi calon korban dengan berbagai daya upaya. Di antara para pelaku tersebut ada yang langsung menghubungi calon korban  atau menggunakan cara lain dengan modus pengiriman tenaga kerja, baik antardaaerah, antarnegara, antarnegara, pemindahtanganan atau transfer, pemberangkatan, penerimaan, penampungan yang dilakukan dengan sangat rapi, dan tidak terdeteksi oleh sistem hukum yang berlaku. Kata Kunci : Penegakan Hukum, Tindak Pidana, Perdagangan Oran

    Markom Strategi Komunikasi Pemasaran Dalam Meningkatkan Brand Awareness Produk Lokalate Di Kalangan Mahasiswa UMN

    No full text
    This research focuses on the marketing communication strategy of Lokalate products in building brand awareness among multimedia Nusantara University students. The method used in this research is a case study related to the $P: produk, place, price and promotion. The research results show: Lokalate products aim to present instant coffee product with different flavor variants from their competitors, namely with local (Indonesia) flavors. By Lokalate is by holding a smart campaign as mentioned above, for example on campuses targeting students in campus areas. The promotion that Lokalate chose to do this marketing was due to the high demand for coffee among young people such as college students on the UMN campus. &nbsp

    ANALISIS OPINI KONSUMEN TERHADAP JAMU GUJATI 59 DI PROVINSI BANTEN

    No full text
    Jamu is a hereditary heritage from our ancestors, jamu has also become part of our culture and natural wealth. Indonesia itself has natural wealth and herbal ingredients throughout Indonesia from sabang to merauke. That is what makes jamu brand companies have twisting the brain to carry out marketing strategies for their jamu brands, one of which is by increasing awareness of the brand itself which is associated with the strength of the impression stored in memory which is reflected in the ability of consumers to recall a brand under different conditions. So this study will analyze two variables that may affect consumer attitudes towards Gujati 59 itself, namely brand awareness and consumer attitudes towards the brand. The method chosen in the research is qualitative with a Focused Interviewed approach, because researchers will discuss public perceptions of the Gujati 59 Brand, in retrieving information from these data, in-depth interviews will be conducted to find out the public's perception of Gujati 59 itself. The conclusion obtained is that it can be concluded that the Gujati 59 herbal medicine brand has received a positive response from the community in the Banten area. Opinions that describe a positive evaluation of the product indicate that the jamu brand has succeeded in gaining trust and acceptance from consumers in the Banten regio

    302

    full texts

    711

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    E-Journal Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇