97 research outputs found
Konstruksi dakwah pariwisata KH. M. Said Humaidy melalui Haji dan Umrah
Dakwah merupakan suatu proses upaya mengubah suatu situasi kepada situasi lain yang lebih baik sesuai ajaran Islam, atau proses mengajak manusia ke jalan Allah, yakni Al-Islam. Dewasa ini, banyak dakwah melalui tulisan, media visual, media sosial dan lain sebagainya. Bahkan saat ini, dakwah bisa dilakukan saat berpariwisata. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari jawaban tentang bagaimana KH. M. Said Humaidy melakukan eksternalisasi, obyektivasi, dan internalisasi dakwah pariwisata melalui haji dan umrah.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan metode pendekatan konstruksi sosial Berger dan Luckmann. Menurutnya, konstruksi sosial terhadap realitas dapat terjadi melalui tiga proses simultan, yaitu eksternalisasi, obyektivasi dan internalisasi. Rancangan studi kasus penelitian ini dilakukan dengan cara observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam terhadap informan. Informasi yang diperoleh dari informan utama kemudian di konfirmasi ulang dengan informan pendukung sehingga di dapatkan data antar subyektivitas untuk memastikan keabsahan data.
Hasil penelitian menemukan bahwa, konstruksi dakwah pariwisata KH. M. Said Humaidy melalui haji dan umrah mendapatkan tiga temuan, yaitu; 1) Dakwah multikultural sebagai konstruksi pesan dakwah pariwisata. Dalam hal ini, seorang da’i berinteraksi dan beradaptasi bersama para jama’ah ataupun calon jama’ah dengan berbagai macam ras, suku, maupun agama yang memunculkan realitas baru., 2) KBIH sebagai pendekatan kepada jama’ah dalam bentuk kelembagaan, merupakan upaya pendekatan seorang da’i untuk masuk ke sebuah lembaga KBIH yang telah diatur oleh pemerintah melalui UU No. 13 tahun 2008 tentang penyelenggaran ibadah haji dan umrah. Saat di KBIH, ia mendapat legitimasi untuk melakukan bimbingan jama’ah haji dan umrah., 3) Dakwah melalui media sosial sebagai sosialisasi ide dakwah pariwisata. Melalui media sosial, KH. M. Said Humaidy mensosialisasikan idenya kembali melalui pesan-pesan dakwah yang telah dilakukan secara konvensional sebagai upaya mengikuti perkembangan jaman
Analisis Stratifikasi Sosial Sebagai Sumber Konflik Antar Etnik Di Kalimantan Barat
Mohammad Ali Al Humaidy (Penulis adalah dosen tetap pada Jurusan Syari'ah STAIN Pamekasan dan Alumni program Magister Ilmu Sosiologi di Universtias Indonesia Jakarta) Abstrak: Secara sederhana, tulisan ini akan menganalisa penyebab atau sumber terjadinya konflik antar etnik di Kalimantan Barat, yang terfokus kepada tingkatan stratifikasi sosial. Penulis berasumsi bahwa perbedaan stratifikasi sosial yang kemudian terbentuk sistem pranata sosial (The System of Class Stratifications) mempunyai dampak sosial (konflik antar etnis). Pranata sosial dalam aspek ideologi, agama, ekonomi, politik, bahasa, pendidikan, budaya dan norma-norma sosial lainnya, secara teoritik akan menimbulkan gesekan sosial dan pandangan stereotype etnik yang rentan muncul benih-benih konflik bila dalam realitas sosial menampakkan sifat egois dan fanatisme yang nilai-nilai etnisitas. Benih-benih konflik bersifat laten, apalagi bila ditopang dengan harapan untuk menguasai dan mempertahankan power-privilage-prestige. Disinilah timbul pergolakan sosial antara masyarakat “pribumi” dengan pendatang ataupun sesama etnis. Demikian pula munculnya pertentangan antara kelompok yang ingin menguasai dan mempertahankan power-privilage-prestige dengan kelompok yang ingin merebutnya.Bagi penulis ini sebuah ironi yang perlu kita kaji dan mencari alternatif pemecahan. Ini penting karena menyangkut hak USAha dan hidup manusia yang bagian dari hak asasi manusia, sehingga dengan kejadian konflik etnik di bumi nusantara ini, muncul resolusi konflik sebagai USAha untuk membangun masyarakat pluralis tanpa kekerasan. Alhasil, sebagai masyarakat akademisi mempunyai amanat untuk memberikan sumbangsih pemikiran agar konflik yang bermuansa SARA dapat dikurangi atau bahkan mungkin ditiadakan. Sebuah tantangan untuk mengkaji teori sosiologi khususnya teori (korelasi) stratifikasi sosial dengan konflik sosial
PETA GERAKAN SYI’AH DI KALIMANTAN SELATAN
This article traces back the entry of the Shi’a in South Kalimantan through the inclusion of Islamic Wujudiyah (panentheism) Sufismwhich was firstspreadin the kingdom of Banjar. This isdue to the similaritybetween Wujudiyah Sufism with the concept of Irfan in Shi'a. However, the influence of Shia in South Kalimantan suffered a setback atthe era of Syekh Muhammad al-Banjari Arsyad (1710-1812 AD). According to Habib Ali,Shia began to revive in South Kalimantan after the Iranian revolution in 1979. Ja’fari school of thought (madhabs) is the growing Shiah in South Kalimantan. The Developmentof Shi’a in South kalimantan faces manychallenges since Muslims in South Kalimantan have a strong belief in Sunn
PETA GERAKAN SYI’AH DI KALIMANTAN SELATAN
This article traces back the entry of the Shi’a in South Kalimantan through the inclusion of Islamic Wujudiyah (panentheism) Sufismwhich was firstspreadin the kingdom of Banjar. This isdue to the similaritybetween Wujudiyah Sufism with the concept of Irfan in Shi'a. However, the influence of Shia in South Kalimantan suffered a setback atthe era of Syekh Muhammad al-Banjari Arsyad (1710-1812 AD). According to Habib Ali,Shia began to revive in South Kalimantan after the Iranian revolution in 1979. Ja’fari school of thought (madhabs) is the growing Shiah in South Kalimantan. The Developmentof Shi’a in South kalimantan faces manychallenges since Muslims in South Kalimantan have a strong belief in Sunn
- …
