1,721,509 research outputs found

    DG5-PH01_131 - 131 A - Hindun

    No full text
    131 A - Hindun. Language as given

    DG5-PH01_130 - 130 A - Gwen/Hindun

    No full text
    130 A - Gwen/Hindun. Language as given

    Sistem Informasi Rekam Medis pada Klinik Gigi Dokter Hindun

    No full text
    Sistem informasi rekam medis merupakan sistem yang bertujuan untuk mengelola data pasien dan dokumen antara lain identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien. Adapun kinerja sistem pada pelayanan pasien yang terletak pada klinik gigi dokter hindun tersebut masih belum optimal karena pada pengolahan data rekam medis dan laporan masih menggunakan media pembukuan atau manual. Oleh karena itu pelayanan pasien di di klinik gigi dokter hindun menjadi tidak efektif dan efisien, karena media yang di gunakan masih menggunakan media pembukuan memperlambat jalannya laporan. Sistem ini dapat membantu proses rekam medis dimulai dari penginputan data pasien, data antrian dan keluhan, data diagnosa pasien, dan data riwayat per pasien. Sehingga dari data yang diimputkan dapat dapat menghasilkan laporan. Sistem informasi rekam medis berperan penting untuk meningkatkan pelayanan pada klinik gigi dokter hindun, sistem informasi rekam medis dibangun dengan berbasis web, Sehingga memudahkan klinik gigi dokter hindun dalam mengolah data rekam medis pasien dan laporannya

    Genetika lanjut/ Hindun

    No full text
    ill.; tab.: 30 cm

    Problematika pengembangan Mubalighah : Studi tentang Umi Hindun di desa Pucung Kota Baru

    No full text
    Tabligh adalah sebuah proses ataupun cara menyampaikan dakwah melalui media mimbar atau media yang tersedia seperti internet, dan lain-lain. Dalam proses sebuah dakwah tentunya tidak selalu berjalan dengan lancar, hambatan atau masalah pasti akan hadir dari berbagai sudut. Seperti problematika dakwah yang terjadi dalam pengembangan mubalighah di Desa Pucung, hal ini dapat dilihat dari jumlah mubalighah yang lebih sedikit daripada mubaligh. Jama’ah pengajian di Desa Pucung didominasi oleh perempuan, tetapi yang menjadi pendakwah dalam kajian tersebut didominasi mubaligh. Karena munculnya problematika tersebut yang dilandasi faktor budaya dan sosial yang terjadi, penulis akhirnya memutuskan menganalisis lebih dalam perjalanan dakwah mubalighah yaitu Umi Hindun untuk menggali lebih dalam problematika pengembangan mubalighah yang terjadi di desa tersebut. Pada penelitian ini, penulis memiliki fokus terhadap pengembangan dakwah , peranan mubalighah dan solusi untuk menjawab atau menghadapi hambatan dakwah yang dialami oleh Umi Hindun, selama proses dan perjalanan dakwahnya selama hampir 20 tahun lamanya. Fenomena inilah yang membuat penulis mengangkat teori pengembangan dan teori feminisme yang menjadi dasar untuk menggali penelitian ini lebih dalam, sebagai sarana yang akan membedah hasil penelitian ini dengan objektif dan menyeluruh. Karenanya, pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian kualitatif yang memaparkan sebuah hasil analisis data dengan deskriptif, dari beberapa kegiatan dakwah yang dilakukan Umi Hindun. Data-data hasil penelitian ini disajikan dalam bentuk kalimat ataupun kata dari hasil observasi di lapangan tempat Umi Hindun mengajar, wawancara, dan dokumentasi kegiatan. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa dalam setiap dakwah pasti ditemui problematika yang menjadi hambatan dan tantangan tersendiri bagi mubaligh atau mubalighah dalam perjalanan aktivitas dakwahnya. Namun, Umi Hindun memiliki upaya tersendiri dalam mengatasi problematika pengembangan dakwah dengan mengambil beberapa peranan sebagai mubalighah di Desa Pucung, seperti, membangun Lembaga-lembaga dakwah dan Pendidikan Islam, melakukan pembekalan dan pelatihan bagi tenaga pengajar di lembaganya untuk meningkatkan SDM perempuan agar berani dalam berdakwah, dan lainnya

    LAKU TIRAKAT SANTRI PONDOK PENSANTREN KRAPYAK KOMPLEK HINDUN BETA

    No full text
    Tirakat merupakan tradisi yang lazim dalam lingkungan pondok pesantren, terutama bagi kalangan santri. Tirakat identik dengan amalan seperti puasa, menahan hawa nafsu, dan meninggalkan kesenangan duniawi, yang bertujuan untuk meningkatkan spiritualitas dan kedekatan dengan Allah SWT. Namun, dalam perkembangannya, tirakat tidak hanya terbatas pada bentuk-bentuk tradisional seperti dzikir dan wirid, tetapi juga mengalami pergeseran sesuai dengan konteks kehidupan individu. Pengasuh Komplek Hindun Beta menekankan bahwa tirakat tidak hanya sebatas pengurangan kesenangan duniawi tetapi juga mencakup upaya untuk mengoptimalkan potensi diri melalui cara-cara yang relevan dengan kehidupan santri. Menariknya, fenomena tirakat tidak hanya terbatas pada kalangan santri tetapi juga dilakukan oleh masyarakat umum dalam bentuk dan konteks yang berbeda. Di luar pesantren, tirakat diartikan sebagai upaya mengendalikan diri, menjaga komitmen, dan menjalani disiplin tertentu untuk mencapai tujuan spiritual maupun duniawi. Sebagai contoh, kalangan non-santri sering mempraktikkan tirakat dalam bentuk puasa tertentu, mengurangi konsumsi tertentu, atau berkomitmen pada rutinitas spiritual seperti doa atau meditasi. Hal ini menunjukkan bahwa tirakat merupakan praktik universal yang mencerminkan upaya manusia untuk mencapai keseimbangan antara kebutuhan spiritual dan material, dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menggambarkan tradisi santri di Komplek Hindun Beta tetapi juga membuka ruang refleksi bahwa tirakat memiliki relevansi dalam berbagai konteks sosial dan budaya. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh melalui sumber primer dan sekunder, dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi. Peneliti melakukan observasi dalam kurun waktu satu minggu untuk dapat mengidentifikasi santri dan laku tirakatnya, wawancara dilakukan dengan santri komplek Hindun Beta sebagai informan. kemudian data dianalisis menggunakan pendekatan sosiologis berdasarkan teori tindakan sosial Max Weber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laku tirakat santri di Komplek Hindun Beta diekspresikan dalam berbagai bentuk, yaitu: 1. muroja'ah (mengulang hafalan), 2. khidmah (melayani), 3. puasa bilaruh, dan 4. kepatuhan terhadap peraturan pesantren. Selain itu peneliti juga menemukan enam motif utama tirakat santri, yaitu: 1. mendekatkan diri kepada Allah, 2. menaati peraturan pesantren, 3. memperoleh barokah, 4. melestarikan tradisi pondok pesantren, 5. mempersiapkan kesuksesan masa depan, dan 6. meraih ridha orang tua. dalam fungsinya santri memandang tirakat sebagai sarana perlindungan, memperoleh keberkahan waktu, kemudahan dalam berbagai urusan, dan pengasahan kesabaran

    KORELASI ANTARA KEMAMPUAN MENGHAFAL AL-QUR’AN DENGAN RELIGIUSITAS MAHASISWA PENGHAFAL AL-QUR’AN DI KOMPLEK HINDUN YAYASAN ALI MAKSUM KRAPYAK YOGYAKARTA

    No full text
    Latar belakang dalam penelitian ini adalah pentingnya mahasiswa Komplek Hindun memiliki religiusitas yang baik, karena mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi pada aspek kognitif dan skill tetapi juga memiliki kompetensi pada aspek spiritual dan emosional seiring beragamnya tantangan yang akan dihadapi. Sebuhungan dengan religiusitas, menghafal al-Qur’an juga berhubungan dengan beberapa aspek religiusitas. Karena menghafal al-Qur’an merupakan kegiatan keagaaman yang mulia dalam agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan menghafal mahasiswa, dimensi yang dominan dimiliki mahasiswa, hubungan antara kemampuan menghafal al-Qur’an dan religiusitas mahasiswa, dan besarnya kontribusi kemampuan menghafal al-Qur’an terdahap religiusitas mahasiswa Komplek Hindun Yayasan Ali Maksum. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif. Sampel yang digunakan sebanyak 34 mahasiswa menggunakan teknik acciedental sampling dari jumlah populasi sebanyak 49 mahasiswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala likert. Uji validitas variabel menunjukkan semua butir soal valid dengan taraf signifikasi 5% dan nilai rtabel = 0,3494. Uji reliabilitas dari variabel yang valid dinyatakan reliabel dengan nilai alpha Cronbach > 0,60. Data hasil penelitian korelasi dianalisis dengan menggunakan uji korelasi rank spearman, sedangkan kontribusi dianalisis dengan uji regresi linier sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Mahasiswa komplek Hindun paling banyak memiliki kemampuan menghafal al-Qur’an 11 juz dalam kategori cukup (mean: 3,0588), (2) Dimensi religiusitas yang dominan dimiliki mahasiswa yaitu dimensi keyakinan dalam kategori sangat baik (mean: 4,739), (3) Terdapat hubungan yang positif dan signifikan (0,000) antara kemampuan menghafal al-Qur’an dengan religiusitas mahasiswa di komplek Hindun dengan nilai korelasi sebesar 0,639,(4) Besar kontribusi kemampuan menghafal al-Qur’an terhadap religiusitas yaitu sebesar 66,4%. Maka hipotesis yang diterima dalam penelitian ini yaitu terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kemampuan menghafal al-Qur’an dengan religiusitas mahasiswa di komplek Hindun Yayasan Ali Maksum

    PRAKTIK HIPNOTERAPI BAGI PENGHAFAL AL-QUR’AN DI PONDOK HINDUN ANNISA KRAPYAK YOGYAKARTA

    No full text
    Fenomena praktik hipnoterapi masih asing di masyarakat. Beberapa ada yang melakukan untuk program motivasi seperti yang dilakukan oleh sekolah NLP. Hipnoterapi juga digunakan untuk meningkatkan motivasi siswa di beberapa sekolah. Ditengah keterasingan praktik hipnoterapi, pondok Hindun Annisa mengundang terapis untuk melakukan praktik hipnoterapi Alquran di Pondoknya. Tujuan diadakan program tersebut untuk meningkatkan daya hafal para santri dan agar santri senantiasa diberikan kesehatan. Beberapa hal yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mengetahui bagaimana praktik hipnoterapi Alquran dan bagaimana pengaruh hipnoterapi terhadap hafalan Alquran para santri Pondok Hindun Annisa Krapyak Yogyakarta. Penelitian ini merupakan jenis penelitian campuran sekuensial eksploratori yang bersifat deskriptif-analisis dan menggunakan pendekatan psikologi. Pada tahap deskriptif akan dijelaskan bagaiman praktik hipnoterapi Alquran, kemudian pada tahap analisis digunakan teori NLP yang dipelopori oleh Richard Bandler dan John Thomas Grinder. Wawancara dengan para narasumber dan melihat langsung praktik hipnoterapi Alquran merupakan data primer, sedangkan buku-buku, artikel, jurnal dan sebagainya merupakan data sekunder yang digunakan. Untuk mengumpulkan data-data tersebut, penulis menggunakan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa hipnoterapi Alquran di Pondok Hindun Annisa Krapyak Yogyakarta terapis telah menerapkan 4 pilar dalam Neuro-Linguistic Programming (NLP) yang merupakan keterampilan-keterampilan yang harus dimiliki oleh konselor, antara lain; pengarah pembentuk outcome, membentuk rapport yang selaras, menggunakan sensory acuity (ketajaman panca indera), dan bersikap fleksibel dalam berkomunikasi. Ada 3 tahap penting dalam NLP, antara lain: External Event, Internal Representation, dan Behavior. Tujuan hipnoterapi Alquran yaitu menjadikan santri memiliki kepribadian yang baik dalam kesehariannya. Salah satu tujuan santri yaitu ingin fokus dalam menghafal dan selalu semangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari. Persentase santri yang merespon bahwa hipnoterapi tidak merubah perkembangan hafalannya berkisar 84,84%. Sedangkan, 15,15% lainnya merespon sangat terbantu dengan adanya program hipnoterapi tersebut. Persentase tersebut dilihat dari antusiasme santri pada program hipnoterapi. Kunci keberhasilan hipnoterapi yaitu adanya kepercayaan antara terapis dengan klien. Kepercayaan tersebut dapat dilihat dari antusiasnya para santri pada program tersebut
    corecore