1,918 research outputs found
PENGARUH MOTIVASI DAN SELF EFFICACY TERHADAP PRESTASI BELAJAR MAHASISWA JURUSAN PAI FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN UIN IMAM BONJOL PADANG
The purpose of this study is to help educators (lecturers) and education practitioners know the effect of motivation on learning achievement and to know the effect of self efficacy on learning achievement partially, and to know the effect of motivation and self efficacy simultaneously on student achievement PAI at faculty Tarbiyah and Keguruan UIN Imam Bonjol Padang. This type of research is field research using field associative approaches and quantitative methods. The population in this study were 218 semester IV students majoring in Islamic Education. Since the population is homogeneous, the sampling technique uses simple random sampling techniques, so the sample obtained is 141 students. Data collection techniques used were questionnaires and documentation. While the data analysis techniques used are test requirements analysis, classic assumption tests and hypothesis testing. The results showed that (1) the motivation had a positive and significant influence on the learning achievement of students PAI at the faculty of Tarbiyah and Keguruan UIN Imam Bonjol Padang, (2) self-efficacy had a positive and significant influence on students' achievement PAI in faculty Tarbiyah and Keguruan UIN Imam Bonjol Padang, (3) motivation and self efficacy together (simultaneous) gave a positive and significant influence on the learning achievement of students PAI in the faculty Tarbiyah and Keguruan UIN Imam Bonjol Padang
Penentuan awal waktu salat asar menurut Imam Hanafi dan Imam Syafi'i
ABSTRAK
Hidayatullah. 2018. Penentuan Awal Waktu salat Asar Menurut Imam Hanafi dan Imam Syafi’i. Skripsi. Jurusan Perbandingan Mazhab. Fakultas Syariah. Pembimbing: (1) Dra. Hj. Mashunah Hanafi, MA (2) Hj. Endang Pristiwati, M.Hum.
Skripsi ini merupakan upaya untuk menjelaskan mengenai permasalahan tentang awal waktusalatasar menurut Imam Hanafi dan Imam Syafi’i, dari gejala-gejala alam ( nas-nas alquran dan Hadis ) maupun dalam perhitungan trigonometri.salatmerupakan ibadah ummat Islam yang paling utama kepada Allah swt. Salat adalah salah satu rukun Islam.salat adalah amalan yang pertama kali dihisab di hari akhir. Jikasalatseorang hamba itu baik, maka baik pula amal lainnya, dan demikian pula sebaliknya.
para fuqaha berselisih pendapat mengenai waktu salat asar yaitu Imam Hanafi dan Imam Syafi’i yang berbeda pendapat terhadap bayang-bayang matahari dalam menentukan awal waktu salat asar. Maka dari itu penulis ingin mengetahui atau menentukan waktunya, dengan rumusan masalah: 1. Bagaimana penentuan awal waktu salat asar menurut Imam Hanafi. 2. Bagaimana penentuan awal waktu salat asar Imam Syafi’i. 3. Bagaimana perbandingan Imam Hanafi dan Imam Syafi’i dalam perhitungan waktu salat asar. Yang bertujuan untuk : 1. Mendiskripsikan awal waktu salat asar menurut Imam Hanafi. 2. Mendiskripsikan awal waktusalatasar menurut Imam Syafi’i. 3. Mendiskripsikan perbandingan Imam Hanafi dan Imam Syafi’i dalam perhitungan waktu salat asar.
Dengan melalui penelitian yang bersifat library research dengan menitik beratkan pada upaya menggali perbedaan mazhab antara Imam Hanafi dan Imam Syafi’i. Sifat penelitian ini adalah deskriptif dan jenis penelitian yang digunakan adalah normatif. Bahan hukum dan data diperoleh dari norma-norma hukum Islam tentang waktu salat. Dengan data primer dan data sekunder dapat membantu dalam menggunakan metode kontemporer yakni metode yang menggunakan data-data ephemeris, seperti : data Lintang tempat, Bujur tempat, Deklinasi matahari, Equation of time, dan Koleksi waktu daerah. Untuk metode perhitungan awal waktu salat asar.
Hasil dari penulisan ini adalah, pada dasarnya dalam menentukan awal waktu salat asar menurut Imam Hanafi dan Imam Syafi’i, dapat dilihat dari dalil-dalil dan istinbat hukum yang digunakan masing-masing Imam, dan juga dengan perhitungan. Perhitungan dengan menggunakan metode kontemporer, sehingga hasil yang diperoleh akan menjadi jelas dalam penentuan awal waktu salat asar dari dua versi, yaitu: versi Imam Hanafi dan Imam Syafi’i
Sustainable Character Education at the Hidayatullah Jember Integral School: Pendidikan Karakter Berkelanjutan di Sekolah Integral Hidayatullah Jember
This article aims to describe the implementation of sustainable character education at the Hidayatullah Jember Integral School. Character education is the main vision in Islamic education, character is important before knowledge. Strengthening character education is oriented towards developing students' potential as a whole through habituation over time in everyday life. This research is a type of qualitative research with an exploratory descriptive design. This research shows that the implementation of Sustainable Character Education at the Hidayatullah Jember Integral School must go through system or concept standardization, application at all levels according to the concept, implementing innovation as an attraction, the realization of sustainable education is felt by increasing public interest and trust, evaluation must be carried out to make improvements . So a sustainable character education system was realized or what could be called a one pipe system
HUKUM AKAD NIKAH MELALUI MEDIA VIRTUAL CONFERENCE DI MASA PANDEMI (STUDI KOMPERATIF MAZHAB IMAM HANAFI DAN SYAFI’I)
ABSTRAK
M. ILHAM HIDAYATULLAH (2021) : Hukum Akad Nikah melalui Media Virtual Conference di Masa Pandemi (Studi Komparatif Mazhab Imam Hanafi dan Syafi’i)
Penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh dua Mazhab Mu‟tabaroh yaitu Mazhab Hanafi dan Syafi‟i yang mempunyai perspektif berbeda berkaitan dengan Hukum Akad Nikah melalui Media Virtual Conference di Masa Pandemi. Adapun penulisan skripsi ini dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat antara Mazhab Imam Hanafi dan Syafi‟i berkaitan dengan Hukum Akad Nikah melalui Media virtual Conference di Masa Pandemi dan dalil yang digunakan oleh Mazhab Imam Hanafi dan Syafii untuk mempertahankan pendapat mereka dan dilihat dari Aspek Muqoronnya.
Berdasarkan rumusan masalah dalam penelitian ini, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pendapat Mazhab Imam Hanafi dan Syafi‟i tentang Hukum Akad Nikah melalui Media virtual Conference di Masa Pandemi serta apa saja dalil yang digunakan oleh Mazhab Imam Hanafi dan Syafii berkaitan dengan Hukum Akad Nikah melalui Media virtual Conference di Masa Pandemi.
Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah penelitian kepustakaan (Library Reseach) bersifat kualitatif,dengan menela‟ah litelatur yang berhubungan dengan pembahasan ini. Adapun sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer yaitu Kitab kitab Mazhab Hanafi seperti kitab Hasyiyah Radd al- Mukhtar dan kitab Al-Bahr- al- Raiq Syarah Kanz Al Daqa‟iq Maupun Kitab Raudhah al-Thalibin wa „Umdah al-Muttaqin Karya Mazhab Syafi‟i serta sumber data sekunder lainnya yang mendukung penelitian ini. Adapun pada penelitian ini penulis menggunakan pendekatan Muqaran yaitu dengan membandingkan pendapat Mazhab Imam Hanafi dan Syafi‟i.
Dari hasil penelitian penulis ditemukan jawaban bahwa dalam Masalah Hukum Akad Nikah Melalui Media Virtual Conference Mazhab Imam Hanafi dan Syafi‟i sama sama teguh berpegang dengan argumen masing masing. Mereka menggunakan pendekatan dalil yang berbeda, Mazhab Imam Hanafi menggunakan dalil hadis yang bersumber dari Nabi Muhammad Saw tentang kebolehan Akad Nikah Melalui Surat dan Utusan yang dimana ini berpengaruh kepada pemaknaan yang berbeda terhadap Ittihadul Majlis di sisi Mazhab Imam Hanafi. Sedangkan Mazhab Syafi‟i lebih cenderung kepada pemahaman bahwa sejatinya pernikahan haruslah dihadiri oleh kedua mempelai dan para saksi sehingga pemaknaan Ittihadul Majlis yang menjadi syaaraat sah sebuah akad nikah bukan hanya dimaknai sebagai kesinambungan waktu saja melainkan harus memenuhi kesinambungan waktu dan tempat, yang dimana ini menjadi titik perbedaan antara pendapat mazhab Imam Hanafi dan Syafi‟i.
Setelah di kaji dan diteliti, penulis lebih cenderung menguatkan (tarjih) pendapat Mazhab Hanafi karena dalil yang digunakanMazhab Hanafi disisi penulis lebih Kuat serta Akad Nikah versi Mazhab Hanafi ini dapat digunakan sebagai salah satu landasan dalil kebolehan menikah melalui media Conference yang dimana ii dapat dijadikan sebagai solusi pemecahan masalah pernikahan di masa Pandemi Covid 19 yang dimana kita dianjurkan untuk meminimalisir semaksimal mungkin penyebab penyebaran covid 19 di ruang publik.
Kata Kunci : Akad Nikah, Media Virtual Conference, Pandemi Covid 19, Mazhab Hanafi, Mazhab Syafi,
Suukuwoolu, Kawando, aniŋ, Tabirilaŋoolu: Poems, Sermon, and Utensils
The entire manuscript is available for download as a PDF file(s). Higher-resolution images may be available upon request. For technical assistance, please contact [email protected]. Fieldwork Team: Dr. Fallou Ngom (Pricipal Investigator; Director, African Studies Center), Ablaye Diakité (Local Project Manager), Mr. Ibrahima Yaffa (General Field Facilitator), and Ibrahima Ngom (photographer). Technical Team: Professor Fallou Ngom (Principle Investigator, Project Director and former Director of the African Studies Center at Boston University), and Eleni Castro (Technical Lead, BU Libraries). This collection of Mandinka Ajami materials is copied as part of the African Studies Center’s African Ajami Library. This is a joint project between BU and the West African Research Center (WARC), funded by the British Library/Arcadia Endangered Archives Programme. Access Condition and Copyright: These materials are subject to copyright and are distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 License, which permits non-commercial use, distribution, and reproduction in any medium, provided the original author and source are credited. For use, distribution or reproduction beyond these terms, contact Professor Fallou Ngom ([email protected]). Citation: Materials in this web edition should be cited as: Ngom, Fallou, Castro, Eleni, & Diakité, Ablaye. (2018). African Ajami Library: EAP 1042. Digital Preservation of Mandinka Ajami Materials of Casamance, Senegal. Boston: Boston University Libraries: http://hdl.handle.net/2144/27112. For Inquiries: please contact Professor Fallou Ngom ([email protected]). For technical assistance, please contact [email protected] / Custodial history: Imam Ibrahima Camara is the author and current owner of the sermon and the list of utencils. Moustapha Manafa is the owner of the two poems.Contains a collection of: two short poems, a sermon delivered in 2003 by Imam Ibrahima Camara at the end of the Muslim holy month of Ramadan, and a list of utensils. The first document is a copy of the popular Mandinka Ajami poem called Teeroo I Tuloo Loo (My Friend, Listen). The second poem is copied from the original by Moustapha Manafa, a student of Imam Ibrahima Camara. Moustapha copied the two poems from his father's (Kutuboo Manafa) collection. The sermon is a bilingual Arabic-Mandinka text in which Arabic phrases are rendered in Mandinka Ajami. The sermon reminds people about the meaning of fasting during the month of Ramadan and their obligations (including the obligatory Islamic charity known as Zakāt). The list of utensils in Mandinka Ajami is a record of the gifts that the daughter of Imam Camara's friend received on the day of her wedding. In case of divorce, the list will help to identify her own belongings
Strategi Komunikasi Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Imam Bonjol Padang dalam Meningkatkan Jumlah Mahasiswa
This research was motivated by an increase in the number of students in 2013 up to 2016 at the Da'wah and Communication Faculty of the State Islamic Institute of Imam Bonjol Padang. The author wants to know how the faculty communication strategy in increasing the number of students, which includes promotional messages, promotional media and promotional effects. The research method used is qualitative descriptive. The research informants were taken from the academics involved in the faculty and student promotion activities of the class of 2013 until 2016. The technique of determining informants used the snowball technique. The technique of collecting data through observation, interviews and documentation studies. The results obtained are communication strategies used by the faculty in terms of promotional messages, namely verbal messages such as face to face dialogue, and non-verbal messages such as direct activities in the field. Judging from the promotional media used, namely direct media, including collaborative visits, seminars, and workshops. Indirect media such as brochures, posters, calendars, bags, websites, and the work of students, students and alumni. Judging from the promotional effects, the first cognitive effect, including the increase in knowledge of prospective students regarding the Faculty of Da'wah and Communication Sciences. The second is affective effects, including changes in attitudes of prospective students after knowing the information. the third is the behavioral effect, including decisions and actions taken by prospective students after receiving and understanding information about the Da'wah and Communication Science
MUSLIM COMMUNITY IN GERMANY: CURRENT CHALLENGES AND OPPORTUNITIES
A recent study showed that the number of Muslims had increased significantly in Germany since 2015. Many of them still face challenges in terms of employment and training. Religion may be a secondary cause of these challenges, "but it does not hinder integration in general." "We will do that," was the most famous phrase of German Chancellor Angela Merkel, in 2015, referring to her that her country is capable and ready to receive a large number of refugees, when Germany opened its doors to them and received about one million people, most of them from the Middle East, especially Syria. The author conducted a literature study by quoting from various sources as well as using a descriptive and comparative analysis approach, after about six years, the number of Muslims in Germany has become much larger, and the demographic structure has become less homogeneous, according to a recent official study, conducted by the Federal Office for Migration and Refugees (PAMF) at the request of the Islam Conference in Germany and the Federal Ministry of the Interior. However, the growing number of Muslims in Germany came under pressure as their numbers grew. Sometimes due to hatred and incitement from outside and within Germany itself. Cultural differences, especially religion, have become a catalyst for the emergence of such hatred. The number of Muslims continues to increase in line with the increasing efforts in cultural assimilation and the ongoing adjustment of the social environment that has changed the situation, which is expected to be better than the previous situation.
Kajian Kritis Repetisi Lafal “Lilla ̅hi ma ̅ fi ̅ as-sama ̅wa ̅ti wa ma ̅ fi ̅ al-arḍ” Dalam Surat An-Nisa ̅'
AbstrakRepetisi yang terjadi dalam al-Qur’an bukanlah sesuatu yang sia-sia, setiap lafalnya memiliki tujuan tertentu. Untuk membuktikannya melalui keilmuan al-Qur’an yaitu tikra ̅r, menerapkan kaidah tikra ̅r kepada salah satu lafal repetisi dalam surat an-Nisa ̅' yaitu lafal “Lilla ̅hi ma ̅ fi ̅ as-sama ̅wa ̅ti wa ma ̅ fi ̅ al-arḍ”, ditemukan enam kali dalam kategori tikra ̅r al-lafẓ wa al-ma’na dan tikra ̅r bi al-ma’na du ̅na al-lafẓ. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Pustaka (Library research), untuk analisis data penulis menggunakan analisis konten dan deskriptif analitik serta teknik pengumpulan data dilakukan secara mauḍu ̅’i,. Hasilnya adalah lafal ini direpetisi sebanyak enam kali dalam surat an-Nisa ̅'. Ditinjau dari kaidah-kaidah tikra ̅r, lafal-lafal tersebut memiliki kaitan yang berbeda-beda, bahkan repetisi lafal yang berdekatan tidak memiliki konteks yang sama, sedikit perbedaan lafal menimbulkan konteks yang berbeda juga. Mufassiri ̅n menjelaskan pengkhususan kepemilikan secara mutlak kepada Allah SWT, apapun yang tersembunyi dan tampak, maupun benda atau makhluk yang berada setiap lapisan langit dan bumi. Tiada sekutu dan tiada bergantung dengan makhluk manapun. Sehingga dengan kekuasaan-NYA mewajibkan untuk tunduk dan taat. Tujuan dari repetisi lafal-lafal ini sebagai peringatan atas kekuasaan Allah SWT, penegasan atau memperkuat terhadap posisi ketuhanan yang dikeragui oleh orang yang ingkar dan janji Allah SWT akan dibalas semua perbuatannya. Kata kunci: An-Nisa ̅', Tikra ̅r, Kepemilikan, Gaya bahasa. AbstractThe repetition that occurs in the Qur'an is not something in vain, each recitation has a specific purpose. To prove it through the science of the Qur'an i.e. tikra ̅r, applying the rule of tikra ̅r to one of the repetition recitations in the letter an-Nisa ̅.′ i.e. the pronunciation “Lilla ̅hi ma ̅ fi ̅ as-sama ̅wa ̅ti wa ma ̅ fi ̅ al-arḍ”found six times in the categories tikra ̅r al-lafẓ wa al-ma’na and tikra ̅r bi al-ma’na du ̅na al-lafẓ. This research uses a type of library research, for data analysis the author uses content analysis and descriptive analytics and data collection techniques carried out mauḍ, u.'i,. The result was that this recitation was repetitioned six times in the letter an-Nisa ̅′. Judging from the rules of tikra ̅r, the pronunciations have different relationships, even the adjacent repetitions of the pronunciation do not have the same context, the slight differences in pronunciation give rise to different contexts as well. Mufassiri ̅n explained the specificity of absolute possession to Allah Almighty, whatever is hidden and visible, or objects or beings that are in every layer of heaven and earth. No allies and no dependence on any creature. So that with HIS power it is obligatory to submit and obey. The purpose of these repetitions is as a warning of the power of Allah SWT, affirmation or strengthening of the divine position that is doubted by the person who disobeys and the promise of Allah SWT will be reciprocated for all his deeds. Keywords: An-Nisa ̅', Tikra ̅r, Ownership, styl
The Local Thought of Sungaipua About Early Marriage
ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pandangan masyarakat Sungaipua terhadap pernikahan dini. Objek penelitian ini adalah tokoh masyarakat dan pemuka agama. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-kualitatif, dengan teknik wawancara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa menurut narasumber, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab terjadinya pernikahan dini, diantaranya ada faktor pendidikan, faktor ekonomi dan faktor agama, serta ada beberapa dampak negatif dari pernikahan dini, diantaranya kehilangan masa remaja dan terjadi kasus perceraian. Dapat disimpulkan bahwa dengan pernikahan dini tidak menjamin kehidupan rumah tangga seseorang akan selalu harmonis, karena di usia remaja, para remaja biasanya belum mampu untuk berfikir dengan matang dan belum mampu menahan emosinya, karena setelah menikah pasti ada permasalahan yang terjadi dalam rumah tangga. Oleh karena itu, banyak persoalan-persoalan yang harus dipersiapkan oleh seseorang untuk melanjutkan ke tahap pernikahan. ABSTRACT The purpose of this study was to find out how the Sungaipua community views early marriage. The objects of this research are community leaders, religious leaders, and ordinary people. The method used in this research is descriptive-qualitative method, with interview technique. The results of this study indicate that according to the informant, there are several factors that cause early marriage, including educational factors, economic factors and religious factors, and there are several negative impacts of early marriage, including loss of adolescence and divorce cases. It can be concluded that early marriage does not guarantee a person's household life will always be harmonious, because at the age of teenagers, teenagers are usually not able to think carefully and have not been able to contain their emotions, because after marriage there must be problems that occur in the household. Therefore, there are many issues that must be prepared by a person to proceed to the stage of marriage.
ORGANISASI HIDAYATULLAH: SEJARAH DAN PEMIKIRANNYA DI INDONESIA (1971-2000)
Organisasi Hidayatullah di latar belakangi oleh kurangnya penyiaran dakwah Islam di kota Balikpapan pada saat itu. Yang secara sosiologis masyarakatnya adalah kaum pendatang dari seluruh Indonesia untuk memperbaiki taraf hidupnya dengan bekerja di perusahaan-perusahaan asing yang berdiri di kota tersebut. Selain itu berdirinya Hidayatullah juga untuk merespon derasnya arus Kristenisasi yang disokong oleh perusahaan-perusahaan asing tersebut. Organisasi Hidayatullah mulai dirintis melalui kursus-kursus dan training muballigh kecil-kecilan, yang kemudian terorganisir dalam sebuah teritori atau kawasan seluas 150 hektar yang berbentuk pesantren, sebagai wadah pengkaderan muballigh dalam skala besar. Dalam perkembangannya selama 30 tahun, organisasi Hidayatullah dapat melebarkan jaringan dakwahnya ke 13 6 daerah dan kota di seluruh Indonesia, dan pada tahun 2000 mengukuhkan diri scbagai organisasi massa Islam sebagaimana Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah.
Pembinaan Jamaah Hidayatullah terkonsentrasi pada basis-basis pcsantren yang didirikan sebagai wadah pengkaderan. Pesantren tersebut memiliki pola dan sistem hidup yang ketat dan didasarkan pada kaidah-kaidah syariat Islam secara tcgas. Selain itu lembaga ini juga menerapkan sistem hierarki imamah-jamaah, yaitu pola kepemimpinan seorang imam terhadap jamaah secara keseluruhan Pengkaderan dilakukan secara bertahap yaitu dimulai dari Marhalah Ula (Basic Training), Marhalah Wustha (Intermediate Training), dan Marhalah 'Ali (Advanced Training). Selain itu dalam kesehariannya diterapkan rutinitas ibadah secara ketat, yang diikuti oleh gencarnya ceramah agarna setiap harinya. Pengkaderan calon pendakwah adalah ciri khas yang paling menonjol dari organisasi Hidayatullah. Oleh karena itu Hidayatullah adalah murni gerakan dakwah dan pengkaderan yang tidak membawa misi, ideologi, madzhab fiqih golongan tertentu. Adapun struktur organisasinya yaitu: Dewan Syariah sebagai badan pertimbangan organisasi, Majelis Syura sebagai badan pengawas tertinggi, dan Dewan Pimpinan Pusat sebagai badan pelaksana organisasi tingkat pusat, yang diteruskan oleh struktur di bawahnya yaitu Dewan Pimpinan Wilayah, Dewan Pimpinan Daerah, Dewan Pimpinan Cabang, dan Pengurus Ranting
- …
