342 research outputs found

    Kebijakan Maritim di Indonesia dalam Perspektif Sound Governance. Author: Eki Darmawan, Handam Handam, Arwanto Harimas Ginting

    No full text
    Kebijakan Maritim di Indonesia dalam Perspektif Sound Governance. Author: Eki Darmawan, Handam Handam, Arwanto Harimas Gintin

    Hubungan Agama Dan Negara Studi Terhadap Pemikiran Hidayat Nataatmadja Mengenai Hubungan Islam Dan Pancasila

    No full text
    Abstract   The relationship between Islam and pancasila in Indonesia is still an unfinished issue. The attitude of Indonesian Muslims is divided into three groups. The fundamentalists reject Pancasila as the basis of the state and want Islam to formally become the basis of the state. Nationalist groups reject Islam associated with state issues. The modernist group considers that there is no conflict between Islam and Pancasila so that the Pancasila can be accepted as the basis of the state for the Indonesian nation which is predominantly Muslim. The three groups, despite having different views, however, they depart from the same assumption, namely that there are two different and independent things, namely Islam and Pancasila. The problem raised in this study is how is Islam in the thought of Hidayat Nataatmadja? How is the Pancasila in the thought of Hidayat Nataatmadja? and how is the relationship between Islam and Pancasila in the thought of Hidayat Nataatmadja? Through Pancasila which is substantively the values ​​of Islamic teachings, Indonesian Muslims build new sciences. Above the new sciences new social systems are built. With the new social systems, Muslims organize a new society. It is with this new society that has been organized in an Islamic manner that Muslims build a formal Islamic civilization without the name of Islam. With the building of Islamic civilization, Muslims can compete and outperform other world civilizations. Smart and dignified

    “REKAYASA MOTOR – GENERATOR KENDARAAN MENJADI GENERATOR DC”

    No full text
    “REKAYASA MOTOR – GENERATOR KENDARAAN MENJADI GENERATOR DC” (Mochamad Alfan Adi Darmawan. 2019. 1652003. Teknik Listrik DIII) (Dosen Pembimbing I : Ir.Taufik Hidayat, MT) (Dosen Pembimbing II : Rachmadi Setiawan, ST., MT.) ABSTRAK Generator adalah sumber tegangan listrik yang diperoleh melalui perubahan energi mekanik menjadi energi listrik. Generator bekerja berdasarkan prinsip induksi elektromagnetik, yaitu dengan memutar suatu kumparan dalam medan magnet sehingga timbul ggl induksi. Generator mempunyai dua komponen utama, yaitu bagian yang diam (stator) dan bagian yang bergerak (rotor). Rotor berhubungan dengan poros generator yang berputar di pusat stator. Poros generator biasanya diputar menggunakan usaha luar yang dapat berasal dari turbin, baik turbin air atau turbin uap dan selanjutnya berproses menghasilkan arus listrik. Pada saat ini generator banyak menggunkan tegangan AC maka munculah sebuah ide yaitu dengan menggunakan bahan dasar Motor – Generator dari mesin bemo akan diubah menjadi generator DC sepenuhnya dengan cara pengkouplean dari kumparan kutub stator yang digunakan sebagai Motor. Dengan kumparan kutub stator yang digunakan sebagai magnet induksi dari mesin bemo maka yang dihasilkan adalah dapat merubah dari yang berawal 4 kutub motor dan 4 kutub generator menjadi 8 kutub generator. Dengan begitu diharapkan dapat merubah dari mesin yang awalnya hanya digunakan untuk bemo, menjadi generator yang berguna untuk sistem pembangkit. Pengujian yang dilakukan adalah dengan menguji hasil tegangan output dari Generator, menguji arus output dari generator dan saat itu juga menguji kecepatan pada generator bekerja

    ANALISIS RESPON PENGONTROL ON-OFF PADA KENDALI UMPAN BALIK SISTEM FISIS ELEKTRONIK

    No full text
    Pengontrol On-Off merupakan salah satu jenis aksi pengontrolan yang banyak digunakan pada kontrol otomatis di industri karena kontrol ini sederhana dan relatif murah. Terdapat dua aspek penting yang harus dipertimbangkan pada pengontrol on-off. Pertama adalah frekuensi osilasi respon yang berpengaruh pada umur ketahanan komponen aktuator. Kedua adalah amplitudo osilasi respon yang memengaruhi besar rugi-rugi energi pada respon sistem kendali keseluruhan. Makalah ini memaparkan suatu strategi dalam mengatur frekuensi dan amplitudo osilasi respon dengan menerapkan histeresis pada bagian pengontrol on-off. Pengaruh parameter waktu tunda (delay) dan penguatan (gain) histeresis terhadap frekuensi dan amplitudo osilasi respon sitem kendali on-off diteliti. Sebagai implementasi, bagian-bagian sistem pengontrol on-off meliputi detektor kesalahan dan waktu tunda histeresis diwujudkan dengan mikrokontroler AT89C51. Saklar elektronik digunakan sebagai model fisis aktuator on-off. Blok sistem proses (plant) dan umpanbalik diwujudkan dengan model fisis elektronik rangkaian resistor dan kapasitor (R dan C) orde satu. Dengan cara ini seluruh besaran fisis yang terlibat adalah berupa tegangan sehingga memudahkan dalam analisis respon sistem kendali on-off karena dapat ditampilkan pada osiloskop guna keperluan pengamatan di laboratorium. Hasil analisis respon dari eksperimen dan simulasi menunjukkan bahwa jika waktu tunda histeresis semakin besar maka frekuensi osilasi menurun namun amplitudo osilasi meningkat dan waktu settling semakin besar. Selain itu, jika penguatan histeresis semakin besar maka frekuensi osilasi respon menurun namun amplitudo osilasi meningkat dan waktu settling semakin cepat. Hasil pengujian menyimpulkan bahwa penerapan histeresis dapat menentukan performansi suatu sistem kendali on-off sehingga pengguna dapat mengatur respon sistem kendali sesuai dengan kriteria pengontrolan yang ditentukan dan diperlukan

    IMPLEMENTASI PENGONTROL PID PADA MODEL FISIS ELEKTRONIK

    No full text
    Pengontrol proporsional, integral plus derivatif (PID) merupakan suatu strategi kendali yang paling banyak digunakan di industri untuk mengatasi masalah-masalah dalam sistem kendali dan untuk keperluan sistem kendali otomatik suatu proses. Oleh karena itu, pemahaman atas kinerja dan penerapan pengontrol PID sangat diperlukan guna keperluan analisis performansi suatu sistem kendali. Makalah ini melaporkan implementasi pengontrol PID dan analisis respon pengontrol PID elektronik sistem kendali umpanbalik pada suatu model fisis elektronik yang dibangun dari komponen elektronika resistor (R) dan kapasitor (C) guna keperluan peraga kelas dan praktikum sistem kendali di Program Studi Teknik Elektro, Universitas Padjadjaran. Dengan cara ini besaran yang terlibat adalah tegangan sehingga memudahkan pengamatan di osiloskop untuk analisis respon pengaruh parameter Kp, Ki dan Kd pengontrol PID di laboratorium. Analisis respon dilakukan melalui eksperimen dan simulasi komputer. Analisis respon menunjukkan bahwa jika Kp diperbesar maka keadaan mantap akan lebih lambat tercapai, tetapi terjadi kesalahan keadaan mantap. Setelah menggunakan pengontrol integral, kesalahan keadaan mantap hilang dan jika Ki diperbesar maka keadaan mantap lebih cepat tercapai, tetapi osilasi bertambah. Setelah menggunakan pengontrol diferensial,osilasi berkurang dan jika Kd diperbesar maka keadaan mantap akan lebih cepat tercapai. Sistem kendali dengan pengontrol PID telah dibangun dan diuji melalui model fisis elektronik rangkaian RC. Hasil analisis respon sistem melalui eksperimen dan simulasi menyimpulkan bahwa perangkat sistem kendali umpanbalik yang dibangun menunjukkan performansi yang sesuai dengan teori kendali otomatik dan dapat digunakan guna keperluan proses belajar-mengajar

    Agrioglypta hastantiae Watung & Darmawan & Suwito & Narakusumo & Nugroho & Encilia & Qodri & Peggie & Ubaidillah & Sutrisno 2023, sp. nov.

    No full text
    <i>Agrioglypta hastantiae</i> Sutrisno, sp. nov. <p>Figs 1A–C, G–I</p> <p> <b>Diagnosis.</b> <i>Agrioglypta hastantiae</i> <b>sp</b>. <b>nov</b>. is easily distinguished from the closest species <i>A. excelsalis</i> (Walker, 1866) by a black trapezoidal medial line on the forewing, running from the mid-costa towards the end of the discal cell, and continues with a white ovate band as well as a black-tinged at both edges from M 3 towards CuA 2 and turned into whitish-yellow from CuA 2 toward the dorsum (Fig. 1A). On the other hand, a dark triangle medial line of the forewing on <i>A. excelsalis</i> continuously run from the mid-costa towards the dorsum (Fig. 1D). In addition, the male genitalia of this new species shows uniquely dense scaled at central and margin part of valva and the tip of fibula recurved (Fig. 1B).</p> <p> <b> Description. <i>Male</i> (Fig. 1A):</b> Forewing length 7 mm. Head with frons black at middle, white-yellowish edge, and vertex black. Labial palpus subascending with long, rough black scales, yellow-tinged from middle to apex, and white scales at ventral from middle to basal. Maxillary palpus prominent, first and third palpomeres covered with yellow scales, while second has black scales. Proboscis white and well-developed. Antennae filiform, extending to approximately full forewing length, while dorsal surface covered with a longitudinal row of black scales, ventral surface with minute yellow cilia. Thorax black at dorsal and white at ventral part, patagia black with white scales at middle and yellowish-white tegulae. Legs white, epiphysis covered with black scales. Forewings triangular, with white terminal cilia and dark scales at apex and tornus. Hindwing with a yellow straight discal bar and a snow white fringe running from tip of Sc+R 1 toward tip of CuA 1. Abdomen slender, with first segment towards 8 th black to dark brown gradually, 6 th segment bears pair of black pencils setae, while ventral 9 th segment bears a bundle of black tuft scales, curved upwards to cover anal lobe.</p> <p> <b> <i>Male genitalia</i> (Figs 1B, 1C):</b> Tegumen subtriangular, subscaphium slightly sclerotized; uncus simple, weakly sclerotized with a narrow triangular base, medially narrow, curved subdistally and apically blunt, not extended at apex of valva; valva simple, semirectangular, center of ventral part with densely scaled as well as margin of valva; fibula never exceeding valva length, curved inwardly, pointed apically; juxta prominent, tongue-shaped, weakly sclerotized; vinculum simple, semicircular. Coremata large, ovate, with a bundle of lamellar scales, almost twice size of valva. Phalllus long and thin, more than three times length of abdomen.</p> <p> <b> <i>Female</i> (Fig. 1G):</b> Similar to male, except for yellow scales on 9 th segment over anal lobe</p> <p> <b> <i>Female genitalia</i> (Figs 1H, I):</b> Anal lobe ovate with scattered faint scales; lamella postvaginalis moderate sclerotized; posterior apophyses short, anterior apophyses length almost double of posterior apophyses; ostium bursae wide, membranous, antrum short, never reached tip of anterior apophyses; ductus bursae thin and long; corpus bursae globular with a pair of oval signa with denticules.</p> <p> <b>Holotype:</b> ♁; Papua, Membaramo Raya, Kwerba, Mt. Foja. S 02°34 <b>ʹ</b> 22 <b>ʺ</b> E 138° 43 <b>ʹ</b> 02 <b>ʺ</b>, 04.XI.2008; leg. Hari Sutrisno. MZB Lepi. 662; MZB.</p> <p> <b>Paratypes:</b> 1 ♀; Papua, Membaramo Raya, Kwerba, Mt. Foja. S 02°34 <b>ʹ</b> 22 <b>ʺ</b> E 138° 43 <b>ʹ</b> 02 <b>ʺ</b>, 03.XI.2008. leg. Hari Sutrisno. MZB. Lepi. 663 (MZB); 1 ♁; SE Sulawesi, Kolaka, Wawo, Tinukan, Mt. Mekonga. S 03°64 <b>ʹ</b> 46.1 <b>ʺ</b> E121°09 <b>ʹ</b> 85.9 <b>ʺ</b>, 30.XI.2010. leg. Ubaidillah R, B. Kimsey, Nugroho H, Lupyaningdyah P, Darmawan. MZB Lepi. 248 (MZB); 1 ♀; RMNH – Project Wallace, Indonesia – N. Sulawesi, 27.iv–2.v.1985, at light, leg. R. de Jong, Dumoga-Bone N.P., Edward’s Camp, 600–700 m, 0°35’N 123°51’E, multistr. Evergreen forest, monsoon forest, RMNH.INS.1453661 (RMNH); 1 ♀; RMNH – Project Wallace, Indonesia – N. Sulawesi, 20–23.v.1985, at light, leg. R. de Jong, Dumoga-Bone N.P., Gn. Mogogonipa, 900–1008 m, 0°27’N 123°57’E, multistr. Evergreen forest, moss forest, RMNH.INS.1453662 (RMNH); 1 ♀; RMNH – pw26 [Project Wallace], N. Sulawesi: Dumoga Bone NP, Hogs Back, alt. 560 m, 17–18.xi.1985, leg. J Krikken, multistr evergr forest, at light, RMNH.INS.1453663 (RMNH); 1 ♁; RMNH – Project Wallace, Indonesia – N. Sulawesi, 20–26.iv.1985, at light, leg. R. de Jong, Dumoga-Bone N.P., Base Camp / Sg. Toraut, 0°34’N 123°54’E, fallow land, ca 210 m, RMNH.INS.1453664 (RMNH); 1 ♁; Museum Leiden, Indonesia, Bali, Candikuning, 1300 m, Kebun Raya Bali, 8°16’40”S – 115°09’00”E, 8–9.v.1991, leg. J. van Tol, RMNH.INS.1453660 (RMNH); 1 ♁; SUMATRA – O K [“oostkust” = East coast], leg. Don. Waldeck 1904, RMNH.INS.1453659; 1 ♁; Irian Jaya, Kab. Merauke, Kouh, 15.vi.1993, leg. P.J.A. de Vries, RMNH.INS.1453665 (RMNH).</p> <p> <b>Etymology</b>. The specific name <i>hastantiae</i> is derived from the wife’s name of the senior author, Hari Sutrisno. This name is dedicated to her support during our preparing this manuscript. A noun in the genitive case.</p> <p> <b>Distribution</b>. Papua to Sulawesi, Ternate Island (Moluccas), Bali and Sumatra (Fig. 4).</p> <p> <b>Remark:</b> The wing scales on the first paratype female shown in Fig. 1G were damaged while mounting the specimen leading to the loss of wing colors compared to males. Adults are nocturnal..</p>Published as part of <i>Watung, Jackson F., Darmawan, Darmawan, Suwito, Awit, Narakusumo, Raden Pramesa, Nugroho, Hari, Encilia, Encilia, Qodri, Agmal, Peggie, Djunijanti, Ubaidillah, Rosichon & Sutrisno, Hari, 2023, The genus Agrioglypta Meyrick (Lepidoptera: Crambidae, Spilomelinae) from Indonesia with descriptions of three new species, pp. 569-578 in Zootaxa 5297 (4)</i> on pages 570-572, DOI: 10.11646/zootaxa.5297.4.6, <a href="http://zenodo.org/record/8009245">http://zenodo.org/record/8009245</a&gt

    Jenis dan Musuh Alami Ulat Kantong dan Pendugaan Instar Larva Pteroma plagiophleps serta Sebaran Serangannya di Hutan Rakyat Sengon

    No full text
    Serangan hama ulat kantong pada tanaman sengon (Falcataria moluccana) (Miq.) Barneby & J.W. Grimes di berbagai daerah sering dilaporkan sebagai masalah serius. Beberapa aspek tentang informasi bioekologinya merupakan hal penting dan mendesak untuk disediakan. Sementara itu, usaha pengendalian hama ini dasarnya adalah berasal dari informasi tersebut. Penelitian ini mengkaji jenis- jenis ulat kantong dan musuh alaminya, menduga instar dan pertambahan ukuran larva yang paling dominan serta menduga sebaran letak serangan jenis ulat kantong ini pada individu tanaman sengon. Sampel yang berupa larva dan pupa ulat kantong dikumpulkan melalui survei yang dilakukan pada Nopember 2018 sampai Mei 2019 di daerah Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Ulat kantong dan musuh alaminya diidentifikasi berdasar ciri morfologinya. Analisis regresi digunakan untuk menduga tahap perkembangan (instar) larva Pteroma plagiophleps sementara metode analisis ragam digunakan untuk menganalisis sebaran letak serangan ulat kantong P. plagiophleps pada individu tanaman sengon. Empat spesies ulat kantong telah diidentifikasi yaitu Pteroma plagiophleps Hampson, Chalia javana (Heylaerts), Clania crameri (Westw), dan Kophene cuprea (Moore). Setiap spesies ulat kantong memiliki kantong yang khas meliputi bentuk, ukuran maupun material dan pola susunannya. Kantong larva dapat digunakan sebagai petunjuk atau identifikasi awal spesiesnya. Meskipun demikian identifikasi sebaiknya dilakukan dengan cara mendeskripsikan imago jantannya. Musuh alami ulat kantong berupa parasitoid yang berasal dari enam famili dari Ordo Hymenoptera (Ichneumonidae, Eulophidae, Trichogrammatidae, Braconidae, Chalcididae, dan Eurytomidae) dan satu famil (Tachinidae) dari Ordo Diptera. Dua spesies cendawan entomopatogen juga berhasil diidentifikasi. Cendawan tersebut adalah Peacilomyces sp. dan Beauveria bassiana. Penelitian ini menunjukkan bahwa keanekaragaman jenis parasitoid pada P. plagiophleps pada periode pengamatan ini masih rendah. Sebaliknya, parasitisasi terhadap ulat kantong C. javana dan C. crameri cukup tinggi. Larva P. plagiophleps yang berkembang pada tanaman sengon mengalami empat instar dengan rentang lebar kapsul kepala yang cukup jelas. Larva berkembang mengikuti pola pertambahan ukuran geometris yang relatif konstan berkisar 1.42. Panjang kantong larva terkait erat dengan instarnya sehingga dapat digunakan untuk menduga instar larva ulat kantong tersebut. Lokasi serangan ulat kantong P. plagiophleps merata pada tajuk individu pohon. Tidak ada perbedaan yang nyata diantara posisi tajuk bagian atas, tengah atau bawah. Meskipun demikian sebaran ini dipengaruhi oleh fase perkembangan larva atau pupa. Pada fase larva, populasi ulat kantong yang terbesar dapat ditemukan pada bagian daun tua sedangkan pupa juga dapat ditemukan pada bagian daun yang masih muda. Implikasi dari hasil penelitian ini berkaitan dengan sasaran pengambilan sampel larva untuk kepentingan studi ekologi maupun pengendalian hama dan mengabaikan posisi tajuk tanaman. Penelitian serupa yang aspek fisik seperti pengaruh musim (suhu dan kelembaban), ketinggian wilayah, dan asosiasi vegetasi sekitar tegakan perlu dikaji. Aspek-aspek tersebut perlu dikaji baik secara terpisah maupun secara simultan untuk melihat pengaruhnya terhadap musuh alami ulat kantong (keanekaragaman dan kerapatan) dan terhadap pradewasa ulat kantong (larva dan pupa) termasuk ukuran tubuh, jumlah instar dan pola sebaran serangannya pada tanaman sengon. Perubahan aspek-aspek tersebut mungkin akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda

    Politik Hukum Kerja Sama Penelitian Asing di Indonesia

    No full text
    This study will analyze the law of the political law of research cooperation in Indonesia. The advice used is normative law, to find the rule of law, legal principles, and legal doctrines in responding to the legal issues that are discussed and are happening now. In this case the author is expected to consider the political role of national legal development law in Indonesia which cannot be covered by historical context. Throughout history the Republic of Indonesia has made political changes in the period of the political system as well as the rapid development of science and technology, so that through cooperation with countries abroad is expected to be able to improve the quality of research and publication of research results of Indonesian researchers in journals scientifically reputed internationally. How to cite item: Rizkia, N., Ikhwansyah, I., Darmawan, A. (2019). Politik Hukum Kerja Sama Penelitian Asing di Indonesia. Jurnal Cakrawala Hukum, 10(2), 198-208. doi:https://doi.org/10.26905/idjch.v10i2.333
    corecore