1,720,960 research outputs found
KAJIAN KEARIFAN LOKAL PADA ARSITEKTUR TRADISIONAL RUMOH ACEH
Arsitektur tradisional sebagai sebuah tradisi harus dijaga keberadaannya dengan mengembangkannya. Menjaga atau meeruskan tradisi dalam arsitektur tradisional tidak berarti dengan mengulang bentuk yang sama, karena didalam arsitektur perkembangan desain dan struktur berlanjut seiiring dengan perkembangan/ perubahan budaya dan teknologi. Hal ini perlu dijaga agar kreativitas tidak mati. Hal ini bisa terwujud dengan meneruskan tradisi kebijakan lokal sebagai konsep dalam membangun.Kebijakan lokal yang diteruskan memberikan banyak memberi mamfaat bagi kehidupan manusia. Karena kebijakan lokal sendiri adalah bagian dari budaya yang dihasilkan dari pengalaman-pengalaman dan tindakan manusia secara trial dan eror demi mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik. Kebijakan lokal tidak hanya merupakan suatu tradisi yang harus di teruskan tetapi membentuk identitas dak karakter kewilayahan manusia sendiri, terutama didalam budaya dan arsitektur. Kebijakan lokal ini juga menjaga keseimbangan hidup antara manusia dan lingkungannya. Nenek moyang kita belajar dari pengalaman mereka hidup bersama dengan alam dan belajar bagaimana memberi kepada dan menerima dari alam sehingga alam tetap terjaga kelestariannya. Hal-hal ini lah yang dijadikan kebijakan lokal dan tradisi ini perlu diteruskan karena dengan menjaga tradisi ini maka kita akan tetap hidup seimbang bersama lingkungan kita.Kata Kunci : Kebijakan Lokal, Arsitektur Tradisional, AlamABSTRACT Tradition in traditional architecture need to be developed and continued. Continuing this tradition is not only by repeating it in the same way as our ancestors so that we lost our creativity, but it can be continued by developing it into something new and continuing the local wisdom as a concept in building . The local wisdom remain continued but the way we built change in shape as we can use the new methods and material which suitable with our culture and technology.The important of continuing the local wisdom brought many advantages to our lives. It’s not only the matters of continuing the tradition but it also emphasizes our identity and characters,- especially in culture and architecture,- and to keep balancing the life between human and their environment . Our ancestors had learnt from their experiences to live with the nature, they had learnt to take and give with the nature so that they did not damaged their environment. This acts called local wisdom and it is need to be continued to keep our environtment save.Keyword : Local wisdom, traditional architecture, Natur
PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN MASYARAKAT DALAM PROGRAM OPTIMALISASI FASILITAS MCK DI DESA BUANA JAYA
Kebutuhan MCK (Mandi Cuci Kakus) merupakan kebutuhan primer bagi tiap individu manusia. Hal ini berkaitan dengan kualitas hidup manusia tersebut sendiri terutama kualitas kesehatan individu dan kualitas kesehatan dankebersihan lingkungan. Diwilayah terpencil masih banyak masyarakat yang tidak memiliki fasilitas MCK ataupun memiliki MCK tetapi tidak sesuai dengan standar MCK yang layak. Masyarakat masih membuang kotoran ke sungai ataupun kebun. Hal ini tentu saja menyebabkan lingkungan yang tidak sehat dan bersih serta menimbulkan penyakit dimasyarakat terutama penyakit seperti diare dan penyakit kulit. Keadaan ini tentu saja harus diperbaiki dengan memberikan penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya keberadaan MCK dan merubah cara hidup masyarakat agar hidup lebih sehat dan memiliki lingkungan yang lebih bersih. Program pengabdian masyarakat kali ini adalah untuk memberikan penyuluhan tentang pentingnya kebutuhan MCK dalam hidup sehari-hari dan juga mendampingi masyarakat dalam proses pembangunan MCK oleh mahasiswa Teknik Sipil Universitas Mercubuana dengan dana swadaya
Pengaruh Desain Pada Kesakralan Masjid
The Mosque is considered as the House of Almighty, Allah SWT, and also a place of worship for Muslims; doing salat, pray, reciting Quran, etc. When doing salat or praying, Muslims need to focus and concentrate, therefore they need a serene atmosphere that can support to focus and concentrate when they are doing the salat or praying and other activities. This condition can happen if the mosque produces a sacred atmosphere.Understanding the meaning of the sacred can vary in each individual. Each individual has her/his way to understand the meaning of sacredness. These differences emerge because of many factors which can influence the meaning of sacredness in a mosque. Therefore this study wants to find out what factors can influence the sacredness of a mosque and whether mosque design is one of the factors which have greatly influenced the sacredness of a mosqueThe research method is a qualitative method using grounded theory. The results of the study stated that the design was the most chosen factor by respondents as a factor influencing the sacredness of the mosqu
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
HUBUNGAN ANTARA KEPRIBADIAN OPENNESS TO EXPERIENCE TERHADAP ADAPTASI RUANG BEKERJA DI RUMAH
Ruang dapat melakukan intervensi dan membentuk perilaku seseorang, sehingga aspek psikologi dalam membentuk sebuah ruang perlu diperhatikan berdasarkan kondisi sosial maupun kepribadian dari pengguna supaya memberikan kenyamanan serta memenuhi kebutuhan pengguna secara psikis. Rumah seyogyanya merupakan tempat untuk bernaung, namun pada konteks yang lebih luas rumah dapat dijadikan tempat untuk bekerja dan belajar (terlebih pada kondisi pandemi, dimana banyak aktifitas bekerja maupun belajar dilakukan didalam rumah). Penelitian ini bertujuan untuk menggali keterkaitan kepribadian openness to experience dengan kecenderungan dalam memilih ruang bekerja dirumah sebagai bagian dari proses adaptasi untuk menciptakan sebuah ruang inklusif di rumah. Metode yang digunakan adalah analisis isi dengan data yang diperoleh dari kuesioner. Hasil akhir yang diharapkan adalah sebuah pola model hipotesa adaptasi responden terhadap ruang belajar atau bekerja di rumah berdasarkan tipe kepribadian big five inventory (khususnya seseorang dengan kepribadian openness to experience)
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Peran Ruang Publik dan Privat dalam Memproduksi dan Mengkonsumsi Ruang Sosial Studi Kasus Pulau Burgazada, Istanbul,turki
Ruang publik dan ruang privat sangat memegang peran penting dalam mendefinisikan ruang sosial. Makna-makna yang dihasilkan oleh kedua ruang ini, baik yang dihasilkan oleh masing-masing ruang melalui elemen-elemen ruangnya ataupun makna yang dihasilkan melalui hubungan antara keduanya (ruang public dan privat), mampu mempengaruhi persepsi dari pengguna terhadap “produksi” ruang sosial.Selain dari mempengaruhi pembentukan ruang sosial, ruang publik dan ruang privat juga menentukan bagaimana pengguna mengkonsumsi ruang sosial tersebut.Peran dari ruang publik dan ruang privat berbeda disetiap wilayah sehingga nantinya juga akan mempengaruhi proses produksi dan konsumsi ruang. Peran ini tergantung pada faktor-faktor sosial budaya, politik, keadaan alam dan ekonomi. Disetiap wilayah memiliki faktor yang dominan yang nantinya akan mempengaruhi bagaimana pengguna memproduksi dan mengkonsumsi ruang
TRANSFORMASI FASAD PADA BANGUNAN KOLONIAL GEREJA GPIB IMMANUEL KOTA DEPOK LAMA
ABSTRAKArsitektur akan selalu mengalami perubahan. Hal ini merupakan sifat alami dari arsitektur. Perubahan ini seringkali terjadi sesuai dengan masa dan teknologi yang sedang berkembang. Salah satu arsitektur yang banyak mengalami perubahan adalah arsitektur kolonial Indonesia. Arsitektur kolonial Indonesia muncul di masa penjajahan Belanda terhadap Indonesia. Arsitektur ini muncul akibat percampuran antara arsitektur Eropa dengan budaya dan cara membangun di Indonesia serta penyesuaian diri terhadap iklim setempat. Bangunan dengan arsitektur kolonial di beberapa tempat sudah dijadikan sebagai bangunan konservasi oleh pemerintah sebagai pengingat sejarah perkembangan Indonesia. Meskipun begitu, di beberapa wilayah terdapat bangunan-bangunan dengan arsitektur kolonial yang luput perhatian dari pemerintah sehingga tidak di konservasi. Hal ini menyebabkan bangunan-bangunan tersebut dihancurkan dan diganti dengan yang baru ataupun berubah bentuk fisiknya karena menyesuaikan diri dengan zaman dan perkembangan teknologi. Sebagai contoh adalah bangunan Gereja Gereja GPIB Immanuel di Kota Depok Lama yang telah banyak mengalami perubahan. tetapi walaupun begitu karakteristik dari arsitektur kolonial masih bisa terlihat walaupun di dibeberapa bagian fasad sudah menunjukkan banyak perubahan. Oleh karena itu penelitian ini ingin melihat bagaimana perubahan yang terjadi pada fasad gereja GPIB Immanuel di kota Depok Lama. Hal ini dilakukan untuk melihat bagaimana bangunan dengan arsitektur kolonial yang tidak dikonservasi beradaptasi dengan perkembangan zaman serta untuk melihat factor-faktor apa saja yang dapat menyebabkan perubahan tersebut. Penelitian akan dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dengan melihat perubahan fasad dari periode penjajahan (sekitar tahun 1920) dan dimasa sekarang. Hasil penelitian adalah terdapat beberapa perubahan pada elemen-elemen arsitektur fasad yang dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti faktor Agama, kebutuhan, faktor Iklim, Estetika, dan perubahan di sekitar lokasi studi.Kata Kunci: Fasad, arsitektur kolonial, Gereja ABSTRACTIndonesian kolonial architecture emerged during the Dutch occupation of Indonesia. This architecture arises because of the conglomeration of European architecture with Indonesian culture, building technique, and adaptation to the local climate. Kolonial architecture’s building in some places has been made as conservation buildings by the government. The aim is to make this building as a reminder of Indonesia's historical development. Nevertheless, in some areas, there are buildings with kolonial architecture that have been missed by the government so they are not preserved. This causes the building has is demolished and replaced with new ones or change it's physical form because the building has to adapt to the new era and technology. An example is the GPIB Immanuel Church in Depok Lama which has undergone many changes. Notwithstanding, the characteristics of kolonial architecture can still be seen in some parts of the façade. Therefore this study wants to see to what extent the Immanuel GPIB church facade has been changed. The purposes are to see how buildings with kolonial architecture that were not preserved, adapted to the new era and also to see what factors could cause this changing. This research is conducted using qualitative descriptive methods by observing at the façade changing. The observation is done by comparing to eras to see the changing process which is the kolonial period (around 1920) and in the present (2019). The results of this study are; there are some changes in the facade even though the kolonial characteristic still can be seen in some architectural elements. The changes are influenced by many factors such as religion, needs, climate, aesthetics, and changes in site boundaries.Keywords: Facade, Kolonial Architecture, Churc
- …
