8,814 research outputs found

    Riba dalam Tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji penafsiran Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat dalam Al-Qur’an terkait riba dengan judul “Riba Dalam Tafsir An-Nur Karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy”. Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah penafsiran ayat-ayat riba menurut tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan cara pandang mufassir sezaman dengan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai bank. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dalam kitab tafsir An-Nur terkait ayat-ayat riba dan mengetahui cara pandang mufassir sezaman dengan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai bank. Penelitian ini tergolong ke dalam penelitian kualitatif serta menggunakan metode deskriptif-analisis. Dalam penelitian ini sumber data primer yang digunakan berupa kitab tafsir An-Nur karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy yang membahas ayat-ayat riba. Sedangkan sumber data sekunder berupa buku-buku, jurnal-jurnal, skripsi dan literatur-literatur yang berhubungan dengan penelitian. Riba telah lama diperdebatkan dalam tataran akademik maupun dalam kitab-kitab klasik. Akan tetapi, sampai saat ini riba masih saja terjadi di berbagai aktivitas, seperti dalam jual beli, hutang piutang, maupun transaksi-transaksi lainnya. Padahal sudah jelas dalam Al-Qur’an riba merupakan perkara yang diharamkan dalam ajaran Islam bahkan, riba dikategorikan sebagai dosa besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riba menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy terbagi menjadi dua yakni riba halal dan riba haram. Terkait pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai bank dan para mufassir sezaman yaitu A.Hassan dan Buya Hamka haram hukumya. Akan tetapi, terdapat beberapa perbedaan sudut pandang mengenai bank. Yang mana Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan A. Hassan memberikan keringan atau toleransi kepada riba yang terdapat pada bank apabila keadaannya sudah mendesak atau urgent. Sedangkan menurut Buya Hamka, Ia tidak memberikan toleransi atau keringan sedikit pun terkait hukum riba pada bank, walaupun Pada bunga bank yang sudah diberikan informasi diawal tentang persentase yang ada. Dengan demikian Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan para mufassir sezaman menyarankan kepada pemerintah untuk mendirikan bank atau koperasi-koperasi dengan riba yang tidak berlipat ganda. Maka dari itu, orang-orang yang hendak berdagang kecil-kecilan tidak begitu susah untuk mendapatkan modal

    Pemikiran Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy tentang salat Jum’at bagi wanita

    Get PDF
    Ajaran Islam mengenal dengan namanya salat Jum’at. Dinamakan salat Jum’at karena dilaksanakan pada hari Jum’at. Tentang siapa-siapa yang wajib melaksanakan salat Jum’at para ulama berbeda pendapat. Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy bependapat bahwa salat Jum’at itu diwajibkan atas setiap mukmin, baik laki-laki maupun wanita. Adapun yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah apa syarat dan rukun salat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dan bagaimana pemikiran yang dikemukakan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy tentang salat Jum’at bagi wanita. Dengan demikian skiripsi ini bertujuan untuk mengetahui syarat dan rukun salat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy dan untuk mengetahui pemikiran yang dikemukakan Teungku Muhammad Hasbi Ash Shidieqy tentang salat Jum’at bagi wanita. Penelitian ini berbentuk penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif dengan teknik conten analisysis (menganalisa isi dari sumber primer dan skunder). Penelitian ini akan menggambarkan bagaimana shalat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Dari penelitian yang dilaksanakan, peneliti mendapatkan hasil bahwa syarat dan rukun salat Jum’at bagi wanita menurut Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy adalah tidak jauh beda dengan laki-laki, akan tetapi wanita tidak diberatkan menghadiri jamaah Jum’at ke masjid, namun wajib melaksanakannya. Adapun pemikiran Hasbi mengenai salat Jum’at bagi wanita adalah wajib untuk dilaksanakan atas tiap-tiap pribadi sebanyak dua rakaat, baik dikerjakan sendiri maupun berjamaah, dan dalil yang dikemukakannya adalah bersumber dari alQuran surah al-Jumu’ah ayat 9 dan hadis dari Thariq Ibn Syihab

    Studi Pemikiran Hasbi Ash-Shiddiqie Sebagai Tokoh Sentral Tafsir Keindonesiaan

    No full text
    Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddiqi was Muhammad Hasbi, he was born in Lhokseumawe, North Aceh on 10 March 1904 and died in Jakarta on 9 December 1975. As an Nusantara exegetes, HASBI presents its interpretation in the context of Indonesia. The interpretation certainly cannot be separated from its scientific discipline and culture of Indonesian society. To realize the fikih of Indonesian personality, Hasbi departed from the understanding that the jurisprudence is a living and ununiversal organism. One example of HASBI interpretation is about Friday prayers. Hasbi said that on the day of the Jumát there is no prayer of four rak'ahs of Dhuhr. Therefore. Anyone who can not or does not have time to follow the Friday prayers in congregation in the mosque still have to work Friday prayers either together or alone. According to Hasbi, there was no Zuhr prayer during Friday. Berjemaah and the preaching does not include the pillars or the legitimate requirements of the Friday.

    Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy : antara Ulama Fikih dan Ulama Hadis dalam Wacana Takaran Kepakaran

    No full text
    Hasbi adalah sosok ulama yang belajar secara otodidak. Ia adalah seorang ulama, ahli ilmu fikih, hadis, tafsir dan ilmu kalam serta cendekiawan Muslim. Di samping terkenal pula sebagai penulis produktif, dia juga merupakan mujaddid (pembaru) terkemuka dalam menyeru kepada umat untuk kembali kepada Alquran dan hadis. Lingkungan pesantren yang penuh nuansa religius sudah akrab dengan Hasbi sejak dia masih kecil. Kala itu, dia mendapat didikan langsung di pesanten ayahnya. Selama beberapa tahun hingga umurnya menginjak 15 tahun, Hasbi menyelesaikan pendidikan di pesantren tersebut. Dia pun lantas melanjutkan studinya pada beberapa pondok pesantren yang berada di Aceh dan bertemu dengan ulama bernama Muhammad bin Salim al-Kalali. Hasbi mendapat bimbingan dalam mempelajari kitab-kitab kuning seperti nahu, saraf, mantik, tafsir, hadis, fikih, dan ilmu kalam. Namun dari berbagai ilmu yang ia kuasai, kajian fikih atau hukum adalah yang paling menonjol, selain bidang hadis. Hal ini ditunjukkan dengan berbagai gagasannya tentang fikih dan ijtihad, terkhusus gagasan tentang perlunya fikih yang berkepribadian Indonesia

    KEAUTENTIKAN TAFSĪR AN-NŪR KARYA MUHAMMAD HASBI ASH-SHIDDIEQY

    Get PDF
    Skripsi Ini membahas tentang keautentikan tafsīr An-Nūr dengan tujuan untuk membuktikan keautentikan/keaslian tafsīr An-Nūr karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dari tuduhan sebagian pembaca tafsir bahwa tafsīr An-Nūr karya Muhammad Hasbi Ash- Shiddieqy ini dianggap menjiplak dari tafsīr Al-Maraghī, karangan ahmad mustafa Al- Maraghi. Fokus dalam masalah dalam penelitian ini adalah: apakah ada persamaan dan perbedaan antara tafsīr An-Nūr dan tafsīr Al-Maraghī? dan apakah benar tafsīr An-Nūr menjiplak tafsīr Al-Maraghī? jenis penelitian yang digunakan (library receacc). Adapun metode pengumulan data dalam penelitian ini dengan cara membaca, mencatat, mengkutip dan menyususun berdasarkan pokok sekunder. Data primer yaitu tafsīr An-Nūr karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy dan tafsīr Al-Maraghī karangan ahmad mustafa Al-Maraghī. Data sekunder yaitu buku yang berjudul kaidah tafsīr karya M. Qurai Shihab, ilmu tafsīr karangan rosihon anwar dll. Adapun metode analisis pengambilan data penelitian menggunakan metode kuliatif. Selanjutnya dalam penelitian ini menggunakan metode deduktif. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian sekripsi ini adalah muqaran yaitu dengan cara membandinkan antara kedua tafsir, apakah ada kesamaan atau perbedaan yang signifikan antara tafsir tersebut. Guna untuk mengambil kesimpulan yang relevan dan aktual. Berdasarkan data-data yang diperoleh dalam penelitian ini, setelah ditemukan bahwa tafsīr An-Nūr dan Al-Maraghī memang ada kesamaan. Akan tetapi disisilain kedua tafsīr tersebut ada perbedaan yang signifikan yaitu: (1) sumber pengambilan tafsīr Al-Maraghī hanyalah salah satu dari sekian banyak kitab tafsīr yang dijadikan rujukan oleh Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. (2) Sistematis penulisan, jelas ada perbedaan antara keduanya, didalam Al-Maraghī terdapat tafsīr mufradat, sedangkan An-Nūr tidak ada. (3) cara menarik kesimpulan, pada An-Nūr terdapat kesimpulan disetiap penulis mengakhiri penafsiran satu atau beberapa ayat, sedangkan pada Al-Maraghī tidak demikian. Melihat beberapa perbedaan diatas maka peneliti dapat menyimpulankan bahwa tafsīr An-Nūr memang asli karya Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, bukan plagiat dari tafsīr Al-Maraghī

    PEMIKIRAN HUKUM ISLAM HASBI ASH-SHIDDIQY

    Get PDF
    Muhammad Hasbi adalah seorang otodidak.Pendidikan yang ditempuhnya dari dayah ke dayah dan hanya satu satu setengah tahun duduk di bangku sekolah Al-Irsyad (1926). Dengan basis pendidikan formal seperti itu, ia memperlihatkan dirinya sebagai seorang pemikir. Kemampuannya selaku seorang intelektual diakui oleh dunia internasional.hasil ijtihad Hasbi yang mencerminkan pemikiran fiqh indonesia terlihat dalam fatwa hukum jabat tangan antara laki laki dan perempuan. hasbi menolak mengharamkan praktik jabat tangan antara laki laki dan perempuan.Ijtihad Hasbitentang zakat.dengan mengacu pada pandangan abu hanifah yang berbeda dengan pendapat jumhur ulama – Hasbi bependapat bahwa mesin-mesin produksi di pabik besar wajib di zakati.Pandangan ini cukup relevan dengan konteks pembangun negara yang membutuhkan banyak modal. Dalam pandangan Hasbi, wewenang untuk mengurus zakat ada pada pemerintah dan hal itu adalah satu paket dengan proyek penyelenggaraan kepentingan dan kesejahteraan rakyat, baik muslim maupun nonmuslim. Oleh karena itu, pungutan zakat seharusnya juga tidak hanya ditujukan kepada kaum muslimin, akan tetapi juga kepada kaum nonmuslim

    Penetapan Ayat Mutasyabih Dalam Tafsir An-Nur Karya Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy

    No full text
    Penulis pertama mulanya tertarik untuk meneliti seorang tokoh yang terkenal di Indonesia. Beliau merupakan seorang ulama yang bernama Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy. Ada pun masalah yang dibahas bagaimana penafsiran Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy terhadap ayat-ayat mutasyabihat dan bagaimana metode yang Beliau gunakan dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengengetahui tafsiran ayat-ayat muyasyabihat dan metode yang digunakan oleh Hasbi Ash-Shiddieqy dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat. Penulis menggunakan metode penelitian literator kepustakaan baik menggunakan kitab-kitab primer maupun sekunder, penulis juga mengambil sumber data melalui data melalui buku-buku yang berhubungan dengan judul, penulis juga menggunakan teknis pengumpulan data, dengan mengumpulkan kitab-kitab yang berkaitan dengan tema, dan pen ulis juga menggunakan analisis data dalam konteks metode mauḍu’i dengan mengambil langkah bijak menentukan topic masalah, menghimpunkan ayat-ayat mutasyabihat, dan menyusun kronologi dan ayat-ayat mutasyabihat Adapun sebuah hasil yang didapat penulis simpulkan bahwa terkait dengan ayat-ayat mutasyabihat adalah, Hasbi menafsirkan ayat mutasyabihat dalam, (QS. Thaha ayat 5), ialah Allah bukan sesuatu tubuh yang menyerupai sesuatu makhluk maka kita mengimani Allah bersemayam di atas ‘Arsy tanpa menentukan bagaimana cara Dia bersemayam

    Epistemologi fiqh Indonesia : analisis pemikiran Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy / Liswan Hadi

    Get PDF
    Epistemologi Fiqh Indonesia: Analisis Pemikiran Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy: Untuk mendapatkan kajian yang mendalam dan memuaskan serta ilmiah, suatu hakikat ilmu ataupun disiplin tertentu perlu dilihat dari aspek epistimologi disiplin tersebut, hal ini bersesuaian dengan takrif dan ruang lingkup epistemologi yang menyelidik asal usul, sumber, sifat dan kaedah suatu ilmu tersebut. Antara kajian tersebut ialah kajian epistemologi fiqh Indonesia Hasbi ash-Shiddieqy. Objektif kajian ini adalah menganalisis epistemologi fiqh dan pendekatan serta metodologi pemikiran hukum Islam menerusi pandangan Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy dalam teori fiqh Indonesia. Dari segi metodologinya, disertasi ini lebih menjurus kepada kajian perpustakaan (library research) iaitu dengan merujuk beberapa literatur dan karya-karya Hasbi ash-Shiddieqy. Di samping karya Hasbi ash-Shiddieqy tersebut, terdapat bahan rujukan lain yang relevan dengan kajian ini yang dikenali sebagai literatur sekunder. Kajian ini telah mendapati bahawa pembaharuan hukum Islam Indonesia yang dicadangkan oleh Tengku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, ianya menekankan kepada keperluan melakukan ijtihad dengan mengambil kira permasalahan tempatan dan isu semasa di Indonesia. Oleh kerana itu, ulama moden Indonesia perlu mengambil kira konteks tempatan sebagai pertimbangan utama mereka dalam melakukan ijtihad. Melalui pendekatan ini, transformasi hukum Islam dapat dilakukan. Untuk merealisasikan ijtihad yang membawa kepada maslahat manusia, menurut pandangan Hasbi, ijtihad wajib mengambil kira kepada asas maslahah mursalah. Dengan mengambil kira konsep maslahah, maka hukum Islam dapat berjalan seiringan dengan nilai semasa dan setempat, khasnya di Indonesia

    PENDIDIKAN IBADAH MUHAMMAD HASBI ASH- SHIDDIEQY

    Get PDF
    This research is focused on Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy’s Thinking of Religious Education. Specifically in religious education resources, purpose, curriculum, method, evaluation, its relevance to Islamic education, these cases is an effort to find how is religious education concept in Islamic education contexts. To get the data, the writer used library research that founded sources of data from various readings either primer or secondary data. After researching data then it analyzed by using data analysis method (content analysis or istimbathiyah) to describe the real communication content objectively, systematically and quantitatively in getting resources of primer and secondary sources. The result of this research will find very ideal concept formulation, which has relation with religious education according to Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. The characteristic of this thinking will be appear well from various aspects such as; cognitive, affective, and piskomotoric. He said that religious education is an effort in giving awareness to human beings so that to obey in Allah. While the aim of religious education is to be ‘abid (Allah people) that obey him. In religious curriculum, he devided two kinds of religious, they are; mahdah and ghairu mahdah also there are two methods namely targhib and tarhib and the religious education is the last valuation of a human being, he changed or not his moral is very determined in doing worship, that is all depend on belonging knowledge and it will get in Islamic education. AbstrakFokus penelitian ini adalah pemikiran pendidikan Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy mengenai landasan pendidikan ibadah, tujuan, kurikulum, metode, evaluasi dan relevansinya terhadap pendidikan Islam. Hal ini sebagai usaha untuk melihat bagaimana konsep pendidikan ibadah dalam konteks pendidikan Islam. Pendekatan yang digunakan dalam mencari data pada penelitian ini adalah studi riset kepustakaan (library research) dengan tahapan pokok yang menelusuri sumber-sumber data dari berbagai bacaan baik yang bersifat primer maupun yang bersifat skunder. Setelah penelusuran data dilakukan, maka akan dianalisis dengan menggunakan metode analisis data (content analysis atau istimbathiyah), berupa pelukisan isi komunikasi yang nyata secara objektif, sistematik dan kualitatif terhadap bahan yang didapati dari sumber data primer dan skunder. Hasil penelitian ini akan menemukan formulasi konsep yang sangat ideal terkait dengan pendidikan ibadah menurut seorang ulama fiqh seperti Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy. Karakteristik pemikiran ini akan terlihat baik dari segi kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Muhammad Hasbi Ash Siddieqy mengatakan, pendidikan ibadah merupakan usah memberi kesadaran kepada manusia untuk taat kepada Allah. Sedangkan tujuan pendidikan ibadah adalah untuk menjadi ‘abid (hamba Allah) yang taat. Dalam kurikulum ibadah Hasbi membagi dua macam yaitu ibadah mahdah dan ghairu mahdah, metode juga Hasbi membentuk dua metode yaitu metode targhib dan tarhib adapun evaluasi ibadah merupakan penilaian akhir seorang hamba berubah atau tidaknya itu sangat ditentukan oleh ibadah yang dilakukan. Tentu semua itu juga tergantung ilmu yang dimiliki, dan ilmu akan didapatkan dalam pendidikan Islam

    Pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat haji dalam Tafsir An-Nur

    Get PDF
    Febrianti Astuti (1901056016), Judul Pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy Mengenai Ayat-ayat Haji dalam Tafsir An-Nur Tafsir menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy adalah proses menafsirkan dan menjelaskan makna ayat-ayat Al-Qur’an. Hasbi percaya bahwa tidak cukup hanya membaca dan melafalkan kitab suci, tetapi juga memahami ajarannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tafsir ayat-ayat haji menjadi rujukan tuntunan pelaksanaan ibadah bagi jamaah haji. Menurut Hasbi tafsir ayat haji mengandung makna penting bagi pemahaman jamaah haji dalam melaksanakan ibadah haji. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat haji dalam tafsir An-Nur. Jenis penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan pendekatan studi literatur. Data diperoleh dengan teknik metode historis. Analisis data menggunakan metode tahlili (analisis). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pandangan Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengenai ayat-ayat haji dalam tafsir An-Nur dengan pandangan beberapa tafsir menunjukkan bahwa penafsiran mereka ternyata tidak jauh berbeda, yang membedakan dari tafsir ini dan tafsir lain hanyalah gaya bahasanya. Tafsir An-Nuir meiruipakan peinafsiran yang paling baik diantara tafsiran beibeirapa peinafsir di dalam peineilitian ini, hal ini dikareinakan seilain meinafsirkan Al-Quir’an deingan Al-Quir’an tidak seirta meirta meinafsirkannya deingan keiheindak seindiri, teitapi ada banyak meitodei-meitodei yang meimbantuinya. Oleih kareina itui, meingguinakan tafsir An-Nuir leibih aman dalam peimahamannya dan tidak keiluiar dari syariat-syariat Islam
    corecore