1,720,974 research outputs found

    KOMUNITAS HARAKAH PADA MASYARAKAT URBAN: (STUDI DI KOTA CILEGON)

    Full text link
    Several newly decades, it appears the phenomenon of the revival of religious spirit over all social levels, especially on urban society. This phenomenon is indicated by a great number of religious studies and religious morements in cities conducted both conventionally-traditionally and in new forms that have methods and ways which are different from other forms. These groups are frequently called harakah. This articel describes the phenomenon of harakah groups in Cilegon, Banten: Jamaah Tabligh, Jamaah Tarbiyah, Iembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII), and Hizhut Tahrir Indonesia. It is clear to demonstrate that the harakah community in Cilegon tends to increase. Keywords: Harakah, Religious Movement, Urban Community, Cilegon City, Jamaah Tahligh, Jamaah Tarbiyah, LDII, and Hizbut Tahrir Indonesia

    Kualifikasi Da'i: Komparasi Konseptual Retorika Dakwah dan Retorika Aristoteles

    Full text link
    The presence of Islamic preachers in the current Indonesia has marked the awakening of the world of da’wah. However, this phenomenon also has raised people's criticisms concerning the competence and credibility of Muslim preachers (da'i). This article reports on a library research regarding the conceptual comparison of Islamic propagation (da'wah) and Aristotle's rhetoric with regard to the qualifications of da'i. The results of this study has indicated that the rhetoric of da'wah which primarily rooted from divine revelation has conceptual relevance to Aristotle's rhetoric; ethos, pathos and logos. In this regard, a da'i is not only required to have credibility with moral qualities, good intentions and goals. In addition, they are also required to have the authority and scientific competence as well as an understanding of the nature of mad'u

    Majelis Taklim and the Shifting of Religious Public Role in Urban Areas

    Full text link
    Majelis taklim is a very special Islamic medium in Indonesia. Its existence is quite phenomenal not only because of the large number of worshipers but also because it is very close to the lives of people both in rural and urban areas. Its development is quite massive in demand by many groups and social classes, especially among women so that it is often identified as a religious group that is "genre" women. This research will reveal how the development of majelis taklim in urban society? How does a shift in the social role of religion in urban society? This study uses a qualitative method with a sociological approach, at the Taklim Women\u27s Assembly in the Setiabudi area of South Jakarta. This research found that the development of the majelis taklim was very dominant among women and had shifted socio-religious roles that had previously been in the hands of men. Majelis taklim has become a gateway that connects women with the outside world, also becomes a door for access and social mobility of women and even gives birth to women\u27s leadership authority in religious public spaces. Majelis taklim menjadi sarana syiar Islam yang sangat khas di Indonesia. Keberadaannya cukup fenomenal bukan saja karena jumlah jamaahnya yang besar akan tetapi juga karena  sangat dekat dengan kehidupan umat baik di pedesaan maupun di perkotaan. Perkembangannya cukup massif diminati  banyak kalangan dan kelas sosial,  terlebih di kalangan kaum perempuan sehingga kerap diidentikkan sebagai kelompok keagamaan yang “bergenre†perempuan. Penelitian ini akan mengungkapkan perkembangan majelis taklim pada masyarakat perkotaan? Bagaimana terjadi pergeseran peran sosial keagamaan pada masyarakat perkotaan? Penelitian ini  menggunakan metode kualitatif  dengan pendekatan sosiologis, pada Majelis Taklim Perempuan  di wilayah Setiabudi Jakarta Selatan. Penelitian ini menemukan bahwa perkembangan majelis taklim sangat dominan di kalangan kaum perempuan dan telah menggeser peran-peran sosial keagamaan yang sebelumnya berada di tangan kaum laki-laki. Majelis taklim telah menjadi pintu gerbang yang menjadi penghubung kaum perempuan dengan dunia luar, juga menjadi pintu akses dan mobilitas sosial  kaum perempuan bahkan juga melahirkan  otoritas  kepemimpinan  perempuan pada ruang publik keagamaan

    Majelis Taklim and the Shifting of Religious Public Role in Urban Areas

    Full text link
    Majelis taklim is a very special Islamic medium in Indonesia. Its existence is quite phenomenal not only because of the large number of worshipers but also because it is very close to the lives of people both in rural and urban areas. Its development is quite massive in demand by many groups and social classes, especially among women so that it is often identified as a religious group that is "genre" women. This research will reveal how the development of majelis taklim in urban society? How does a shift in the social role of religion in urban society? This study uses a qualitative method with a sociological approach, at the Taklim Women\u27s Assembly in the Setiabudi area of South Jakarta. This research found that the development of the majelis taklim was very dominant among women and had shifted socio-religious roles that had previously been in the hands of men. Majelis taklim has become a gateway that connects women with the outside world, also becomes a door for access and social mobility of women and even gives birth to women\u27s leadership authority in religious public spaces. Majelis taklim menjadi sarana syiar Islam yang sangat khas di Indonesia. Keberadaannya cukup fenomenal bukan saja karena jumlah jamaahnya yang besar akan tetapi juga karena  sangat dekat dengan kehidupan umat baik di pedesaan maupun di perkotaan. Perkembangannya cukup massif diminati  banyak kalangan dan kelas sosial,  terlebih di kalangan kaum perempuan sehingga kerap diidentikkan sebagai kelompok keagamaan yang “bergenre†perempuan. Penelitian ini akan mengungkapkan perkembangan majelis taklim pada masyarakat perkotaan? Bagaimana terjadi pergeseran peran sosial keagamaan pada masyarakat perkotaan? Penelitian ini  menggunakan metode kualitatif  dengan pendekatan sosiologis, pada Majelis Taklim Perempuan  di wilayah Setiabudi Jakarta Selatan. Penelitian ini menemukan bahwa perkembangan majelis taklim sangat dominan di kalangan kaum perempuan dan telah menggeser peran-peran sosial keagamaan yang sebelumnya berada di tangan kaum laki-laki. Majelis taklim telah menjadi pintu gerbang yang menjadi penghubung kaum perempuan dengan dunia luar, juga menjadi pintu akses dan mobilitas sosial  kaum perempuan bahkan juga melahirkan  otoritas  kepemimpinan  perempuan pada ruang publik keagamaan

    Rhetoric in Islamic Tradition: Paradigm and Its Development

    No full text
    Rhetoric has an essential role in developing Islamic civilization and da’wah. Rhetoric in the Islamic tradition has a dualistic paradigm that appears with two faces, specifically balaghah and khithobah. The character of balaghah is inherent in the rhetorical tradition, where the qualification of the message language is essential, including eloquence, meaning, and metaphor. In comparison, the khithobah character is attached to the quality aspects of the message content and the technique of delivering the message. This literature research found that the two faces of this rhetoric have further developments, one is progressive, and the other is still stagnant. The progress of balaghah is not only based on the role of Arabic as the Quran language but also the miracle of the Quran language itself. While khithobah is an essential part of delivering Islamic symbols, it is still considered a mere praxis and religious routine, and it has not developed as scientifically theoretic. Amid the limitations of the study of khitobah as part of Islamic rhetoric, this paper will elaborate on the dynamics and span developments periods

    Konvergensi antara Tradisi dan modernitas pada Majlis Taklim Perempuan di Jakarta

    Full text link
    Tulisan ini akan menjelaskan konvergensi antara tradisi dan modernitas pada majlis taklim permepuan di Jakarta. Tradisi dan modernitas menyatu (convergence) di dalam kehidupan majlis taklim, karena kelekatannya dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun masih tetap terjaga. Fenomena konvergensi ini menarik untuk dianalisis secara kritis. Ditemukan bahwa konvergensinya terletak pada tradisi pembacaan shalawat Nabi, rawi dan barzanji, yang menjadi ciri khas majlis taklim, bukan hanya di Jakarta namun di wilayah lainnya. Untuk itu, sebagai upaya membentengi dan menangkal kekuatan budaya global, komunitas majlis taklim tetap berpegang teguh pada ajaran agama dan budaya bangsa, serta tradisi nenek moyang

    Filsafat dan Agama Menurut Ibn Rusyd

    Full text link
    Hubungan antara filsafat dan agama dianggap sebagai salah satu ciri terpenting dalam filsafat Islam. Seringkali terjadi pertentangan antara kaum_konservatif yang biasanya diwakili oleh kaum agamawan dengan kaum liberal yang diwakili oleh kaum filosofdan ilmuwan selalu terdapat di mana saja dan kapan saja. Kondisi demikian juga masih terjadi pada abad moderen ini, di mana banyak kalangan demikian apriori dan alergi terhadap filsafat karena ia kerap dipandang sesat. Demikian pula yang terjadi pada abad 6 H./12 M masalah demikian menjadi pertentangan yang sangat menonjol. Para filosof dicerca bahkan dipandang tidak beragama dan kafir. Ibn Rusyd sebagai seorang filosof tampil meluruskan pandangan yang keliru terhadap filsafat (pemikiran rasional) dalam hubungannya dengan wahyu, dan ia membela pemikiran para filosof. Menurut pemikirannya sebagaimana umumnya pemikiran para filososof(Muslim), filsafat tidak bertentangan dengan agama, bahkan berfilsafatmerupakan hal yang dianjurkan dalam agama

    DIGITALISASI FILANTROPI ISLAM: MODERNISASI KESHALIHAN, DAKWAH DAN KEMANUSIAAN

    Full text link
    Tulisan  ini membahas tentang transformasi filantropi Islam melalui digitalisasi filantropi   yang kini trendi. Digitalisasi filantropi Islam erat hubungannya dengan sebaran dakwah serta peningkatan keshalihan dan  kemanusiaan. Digitalisasi telah memodernisasi keshalihan  dalam pengamalan ajaran Islam melalui laman ZISWAF (Zakat, infaq dan  shodaqah dan Wakaf) digital. Laman digital tidak hanya memudahkan pengguna dalam  menunaikan kewajiban namun juga meningkatkan  transparansi  serta mobilisasi dan sebaran donasi yang tidak terbatas.  Sejalan dengan itu tulisan ini bertujuan selain memaparkan  bentuk digitalisasi  filantropi  Islam  juga menganalisis  dampak  digitalisasi filantropi Islam. Tulisan ini  bersumber dari penelitian   kualitatif  melalui pendekatan netnografi. Sumber-sumber digital dan pemberitaan media on line menjadi data utama dalam penelitian ini.  Hasil penelitian memperlihatkan bahwa gerakan  amal  melalui laman  digital   telah  memperkuat eksistensi  filantropi Islam  dan penguatan da’wah bil hal. Dakwah dengan aksi nyata yang dilakukan melalui platform digital semakin  memperkuat promosi Islam  sebagai agama yang inklusif, humanis dan  rahmatan lil alamin. Tulisan ini memiliki keterbatasan baik dari sisi methodelogi maupun cakupan unit yang dianalisis  untuk bisa  ditindak lanjuti dalam penelitian berikutnya  yang lebih komprehensif

    Epistemologi al-Ghazali

    Full text link
    Setiap ilmu adalah ayat Allah dan manusia berkewajiban menangkap ayat-ayat Allah SWT tersebut. Ilmu sejatinya menghantarkan manusia kepada sang pemilik ilmu yaitu Allah, melalui ketaatan dan kecintaan kepada-Nya. karena ilmu sesungguhnya bukan sesuatu yang diam dalam pikiran maupun tulisan. Ilmu seharusnya melahirkan amal, dan amal adalah pengikut ilmu, dari pengamalan ilmu akan melahirkan kebahagiaan. salah satu tokoh yang berpandangan demikian adalah al-Ghazali dalam pandangan epistemologisnya. Al-Ghazali dipandang sebagai peletak dasar-dasar ilmu pengetahuan yang telah berpengaruh besar terhadap perkembangan pemikiran keilmuan, baik di Timur maupun di Barat. Teorinya tentang ilmu banyak mengilhami dan memberikan spirit pada perkembangan filsafat ilmu dari para pemikir atau filosof kemudian. Pemikiran al-Ghazali dalam filsafat ilmunya merupakan pemikiran yang sistematik dan komprehensif yang ditopang oleh empat pilar utamanya. Pertama, dimensi epistemologis, melipuri tentang sumber, sarana dan tata cara untuk mencapai kebenaran, struktur dan klasifikasi dari kebenaran (ilmu). Kedua, dimensi ontologis menyangkut darimana sumber kebenaran diperoleh. Ketiga, dimensi aksiologis meliputi kaidah penerapan ilmu, tujuan secara praksisi. Keempat, tentang hakikat dari ilmu itu sendiri

    Prinsip dan Etika Komunikasi dalam Islam

    Full text link
    Manusia adalah homo simbolicum, ia menggunakan bahasa sebagai wujud interaksi dan menunjukan eksistensi dirinya, yang melingkupi bahasa lisan, tulisan, tubuh. Dalam sejarahnya manusia dalam aktifitas proses komunikasi bukan hanya sekedar interaksi, tapi lebih dari itu memiliki makna dan tujuan. Tujuan-tujuan tersebut di antaranya ; manusia ingin mempengaruhi dan merubah perilaku dan sikap orang lain. Seorang komunikator muslim dalam melakukan kegiatan komunikasi agar dapat diterima dan berhasil dalam kegiatan komunikasinya maka komunikasi yang dilakukan harus sesuai dengan prinsip-prinsip dan etika,terutama yang bersumber dari ajaran Islam
    corecore