2,530,515 research outputs found
Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan tarekat Naqsyabandiyah di pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo
Skripsi ini meneliti beberapa masalah yaitu : (1). Biografi KH. Mohammad Hasan. (2). Sejarah Tarekat Naqsyabandiyah Di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong (3). Peran KH. Mohammad Hasan Dalam Mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah Di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Untuk bisa menjawab permasalahan tersebut, penulis menggunakan metode historis untuk mendeskripsikan Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo yaitu melalui tahap Heuristik, Kritik Sumber, Interpretasi, dan Historiografi. Dalam skripsi ini menggunakan pendekatan historis untuk mengungkapkan kronologis bagaimana peristiwa masa lampau terjadi. Adapun teori yang digunakan dalam skripsi ini adalah challenge (tantangan) dan response (jawaban) milik Arnold J. Toynbee yang menguraikan tentang Peran KH. Mohammad Hasan dalam mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah di Pesantren Zainul Hasan Genggong, Pajarakan, Probolinggo.
Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa: Pertama, KH. Mohammad Hasan bin Syamsuddin bin Qoiduddin dilahirkan pada tanggal 27 Rajab 1259 H / 1840 M, di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Ayahnya bernama Syamsuddin bin Qoiduddin, ibunya bernama Khadijah. Beliau wafat pada tanggal 11 Syawal 1374 H / 11 Juni 1955 M. Kedua, Tarekat Naqsyabandiyah adalah suatu tarekat yang diambil dari nama pendiri yaitu Syaikh Muhammad Baha’uddin Naqsyaband yang hidup pada tahun (717-791 H). KH. Mohammad Hasan mendapatkan ajaran ini dan dibaiat langsung oleh Kiai Achmad Jazuli Utsman Ploso Kediri. Ketiga, Setelah tarekat naqsyabandiyah diterapkan di lingkungan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong, KH. Mohammad Hasan tiada henti-hentinya memberikan arahan serta membimbing jamaah Tarekat untuk selalu berdzikir pada Allah SWT. oleh karena itu masyarakat merespon dengan baik dengan mengikuti kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan oleh Mursyid
Hydraulic simulations to evaluate and predict design and operation of the Chashma Right Bank Canal
Irrigation systems / Irrigation canals / Flow control / Velocity / Canal regulation techniques / Hydraulics / Simulation models / Design / Operations / Crop-based irrigation / Distributary canals / Water delivery / Policy / Protective irrigation / Water allocation / Water requirements / Sedimentation / Water distribution / Equity / Water conveyance / Pakistan / Chashma Right Bank Canal
Pemikiran politik Muhammad Hasan Tiro dalam kontek perjuangan Aceh
Pada BAB I, penulis menggambarkan tentang latar belakang masalah yang membuat penulis menarik untuk meneliti tentang Hasan Tiro. Penulis memperhatikan bahwa ketimpangan telah terjadi di negara Indonesia. Terutama persoalan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Adanya perilaku yang diskriminatif kepada warga negara selain Jawa membuat Indonesia tidak dewasa dalam berbangsa dan bernegara. Pada BAB II, penulis mencoba memaparkan tentang biografi singkat Hasan Muhammad Tiro, dimulai dari sejak Ia dilahirkan, masa remaja, masa muda dan masa-masa dewasa dalam berpolitik. Pada bagian ini penulis mencoba menjelaskan bahwa Hasan Tiro adalah seorang anak muda yang pintar dan beradab. Ia dilahirkan dari keturunan ulama-ulama besar Aceh yang telah terlibat perang lama dengan penjajah. Disini tumbuh kesadaran Hasan Tiro untuk melanjutkan perjuangan rakyat Aceh yang sempat terhenti sejenak. Oleh karenanya, pada usia muda ia telah berani mengultimatum perdana menteri Indonesia kala itu untuk menghentikan agresi militer dipenjuru negeri. Pada BAB III, penulis mendeskripsikan tentang ide Hasan Tiro tentang Negara Persatuan. Pada bagian ini, penulis menggambarkan bahwa Hasan Tiro menolak Pancasila dijadikan sebagai dasar negara. Kemudian Hasan Tiro menyarankan Agar Indonesia tidak menggunakan sistem kesatuan dalam tatanan ketatanegaraan Indonesia. menurutnya, kesatuan hanya akan menjadi momok yang menakutkan bagi kemajuan Indonesia itu sendiri. Pada BAB IV, penulis mengangkat tentang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebagai alat perjuangan politik Hasan Tiro. Pembahasannya meliputi ideologi, pola gerak, dinamika internal, perjanjian Helsinki sampai analisa penulis tentang masa depan Aceh sepeninggalan Hasan Tiro. GAM merupakan gerakan perlawanan yang dideklarasikan pada 4 Desember 1976. Pada tanggal tersebut dimulai gerakan perlawanan untuk memerdekakan Aceh dari Indonesia ala Hasan Tiro. Tetapi kejadian tsunami pada tahun 2004 telah membuka kesadaran kedua belah pihak akan arti kemanusiaan. Berangkat dari peristiwa itu, perjanjian Helsinki terwujud. Amanatnya dituangkan dalam MoU yang ditandatangani oleh kedua belah pihak, yaitu pemerintah Indonesia dan GAM. Agar MoU itu dapat dilaksanakan hingga seterusnya, maka lahirlah UUPA untuk menjadikannya berkekuatan hukum. Meskipun masih terdapat kelemahan-kelemahan dan kurang maksimalnya pelaksanaan MoU Helsinki itu, tetap saja perdamaian abadi adalah harapan rakyat Aceh dan Indonesi
Pemikiran pendidikan Muhammad Tholchah Hasan
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuktikan bahwa Muhammad Tholchah Hasan mempunyai pemikiran pendidikan dan berkomitmen meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui kiprahnya di dunia pendidikan.
Penelitian ini menggunakan penelitian metode kualitatif dan penelitian lapangan (field research). Sumber utama penelitian ini adalah karya-karya Muhammad Tholchah Hasan. Baik berupa buku-buku, jurnal, artikel opini, majalah, buletin, video, kumpulan sambutan Menteri Agama, dan berbagai arsip lain yang terdokumentasi. Di samping itu, selain dokumentasi tertulis, penelitian ini juga menggunakan sumber hasil observasi dan wawancara dengan pihak-pihak terkait. Metode pengumpulan data yang penulis lakukan adalah dengan cara dokumentasi, observasi dan wawancara. Selanjutnya, data dianalisis dengan metodologi hermeneutik strukturalisme fungsional Paul Recoeur, di mana sosio-historis sebagai pendekatannya.
Temuan penelitian menujukkan bahwa pemikiran pendidikan Muhammad Tholchah Hasan berangkat dari pendidikan sebagai pondasi peradaban, di mana pemikiran pendidikannya transpormatif-humanis-teologis menjadi sarana untuk menghantarkan pendidikan yang berkualitas, dengan mengintegrasikan ilmu-ilmu keislaman dan ilmu-ilmu dari Barat. Lulusannya diarahkan agar anak didik mempunyai kompetensi multitalenta, yang meliputi jasmani, rohani dan akal. Pendidikan yang mengajarkan mulitalenta akan semakin terbuka untuk menjadi pendidikan transpormatif. Ketika pendidikan semakin transpormatif, maka pendidikan akan semakin berkualitas. Kiprah Muhammad Tholchah Hasan dalam pendidikan dimulai dengan kepatuhan terhadap gurunya. Kepatuhan kepada guru menjadi pondasi awal untuk mengembangkan pendidikan transpormatif yang melahirkan pendidikan berkualitas. Semakin patuh kepada guru, maka keberhasilan berkiprah di dunia pendidikan semakin berhasil.
Penelitian disertasi ini sejalan dengan penelitian Clifford Geertz (1976), Robert W. Hefner (2009) dan Sutrisno (2008) yang mengatakan bahwa dinamisme pendidikan pendidikan Islam bersifat terbuka sepanjang masa. Sedangkan kesamaan disertasi ini dengan Benyamin S Bloom (1956), Fazlur Rahman (1982), (Yusuf Al-Qaradhawi (1980), Azyumardi Azra (2000), dan Abuddin Nata (2013) bahwa pendidikan untuk membentuk manusia seutuhnya, meliputi akal, hati, rohani dan jasmaninya. Disertasi ini bertentangan dengan John Locke (1690) yang mengatakan bahwa pendidikan anak dipengaruhi oleh lingkungan di satu sisi dan di sisi lain menurut Arthur Schopenhauer (1860) pendidikan anak dipengaruhi oleh keturunan
Pioneers of Library Movement in Pakistan
The paper aims to describe in brief the contribution of seven leaders of Pakistan librarianship, viz. K.B. Khalifa M. Asadullah, Prof. Dr. Abdul Moid, Dr. Abdus Subuh Qasimi, Muhammad Shafi, Fazal Elahi, Khawaja Nur Elahi and S. V. Hussain. The early library developments are given for better understanding of the role of these leaders
Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Tholhah Hasan
Pendidikan Islam adalah usaha bimbingan jasmani dan rohani pada tingkat kehidupan individu dan sosial untuk mengembangkan fitrah manusia berdasarkan hukum-hukum Islam menuju terbentuknya manusia ideal (insan kamil) yang berkepribadian muslim dan berakhlak terpuji serta taat pada Islam sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dewasa ini semakin banyak tokoh atau pakar yang telah memberikan sumbangsihnya atau kontribusinya terhadap pembangunan atau pembentukan pendidikan Islam dan segala aspeknya. Jasa-jasa mereka melalui karya atau pemikirannya tidak sedikit dalam rangka ikut memberikan perubahan terhadap kondisi manusia Indonesia. Sumbangsihnya ini sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki dan dikuasainya.
Sehubungan dengan itu lahir seorang tokoh besar Islam yang memperhatikan masalah pendidikan Islam yaitu Muhammad Tholhah Hasan. Beliau sebagai cendekiawan muslim Indonesia berupaya mengembangkan pendidikan Islam. Berdasarkan dasar pemikiran itu, dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran pendidikan Islam Muhammad Tholhah Hasan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan islam, Adapun metode penelitian dalam penulisan ini menggunakan metode deskriptif (decriptive method), yakni memaparkan secara jelas beberapa permasalahan yang diungkap melalui pendekatan pustaka. atau menggali data-data yang bersumber dari bahan bacaan,dan berbagai literatur yang mengupas masalah pendidikan Islam dan perjalanan karir Muhammad Tholhah Hasan.
Pendidikan Islam Menurut Muhammad Tholhah Hasan tidak hanya terbatas pada lebel Islam atau lembaga keislaman seperti Pondok Pesantren atau Madrasah, juga tidak terbatas pada pembelajaran ilmu-ilmu agama Islam, seperti tauhid, tafsir hadits, fiqih, dan tasawwuf. Pendidikan Islam mencakup semua aktifitas, visi, misi, institusi, kurikulum, metodologi, proses belajar mengajar, sumber daya manusia kependidikan, lingkungan pendidikan, yang disemangati dan bersumber pada ajaran dan nilai-nilai Islam.
Dalam masalah pendidikan Islam yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pendidikan Islam menurut Muhammad Tholhah Hasan terdapat tiga faktor penting yaitu Pendidikan Islam sebagai upaya sadar penyelamatan dan pengembangan fitrah manusia, Pendidikan Agama pada masa balita dan Pendidikan Islam terhadap pengembangan sumber daya manusia
Hasan Kalyoncu Üniversitesi Açık Erişim Yönergesi
Bu yönerge, Hasan Kalyoncu Üniversitesi adresli bilimsel çalışmaların, Hasan Kalyoncu Üniversitesi Üniversitesi Açık Erişim Sistemi’nde arşivlenerek bilim dünyasının hizmetine sunulmasına ilişkin usul ve esasları düzenler. ..
GAGASAN POLITIK HASAN MUHAMMAD DI TIRO TENTANG NASIONALISME ACEH
This article aims at elaborating the idea of Hasan Muhammad Di Tiro about nationalism in Aceh who become the ideology of the free Aceh Movement (GAM). The thought of nationalism is Hasan Muhammad di Tiro Aceh is a reflection of disappointment against the attitude of the Government of Indonesia in the injustice of natural resource management. The thought of nationalism in Aceh is very in influence by the history of the triumph of the Kingdom of Aceh in the past that then grow awareness of Hasan Muhammad di Tiro formed to fight the National Liberation Front Acheh-Sumatra. Present day Aceh cannot manifest directly thought of nationalism is Hasan Muhammad di Tiro Aceh that is becoming an independent nation. However indirectly, a sense of nationalism that Aceh has grown and continues to persist in the soul of the Acehnese by keeping the peace as well as the meimplementasikan details of the Helsinki Agreement for the creation of prosperity and well-being for the people Aceh as on aspire by Tengku Hasan Muhammad di Tiro. Keywords: Idea, Nationalism, Ace
A critical analysis of Christian responses to Islamic claims about the work of the Prophet Muhammad, ‘the Messenger of God’.
The aims of this study are to analyse critically the different Christian responses to the Islamic understanding of the work of Muhammad. Chapter one consists a short introduction leading to an appraisal of Muhammad which incorporates historical, hagiographal and Quranic source material, and in the light of relevant Christian and Muslim scholarship. The second chapter presents a summary critical analysis of Muhammad in Christian theological perspective, from 661 A.D. to modern times. Chapter three presents a critique of Christian responses to the Muslim allegations that the text of the Bible has been infected with corruption; and that Muhammad's advent and status are foretold in the unadulterated' scriptures, and in the Gospel of Barnabas. Chapter four examines the theological significance of the work of Muhammad for Christians. Thus, Jesus and Muhammad are critically assessed and contrasted in order to ascertain the importance, for Christians, of the Muslim claims in respect of Muhammad as ’the messenger of God’. Chapter five provides a critical evaluation of the various Christian responses to Muhammad. It is argued that many of the said responses have been entangled in myths and misperceptions which have severely distorted the true account of Muhammad's work. Consequently, many Christians have failed to appreciate the divine legitimacy of Muhammad's call to prophethood. Further, it is argued that Christians should accept that Muhammad is a genuine prophet, and the messenger of God. However, Muhammad's use of the power-structure in order to maintain Islam is in sharp contrast to Jesus’ decision to face the consequences of his ministry passively through faith in God. Accordingly, orthodox Christian belief in the passion, death and resurrection of Jesus provides another dimension to prophethood, where the messenger and the message become one, an identification which finds no parallel in Islam, and which, in the nature of the case, cannot find a parallel
- …
