6,141 research outputs found

    In pursuit of 1 Sri Lanka: Lessons from a Malaysian counterpart

    No full text
    The quest for national unity has become a leadership challenge for successive leaders of both Malaysia and Sri Lanka. While the two countries record significant differences in contexts and background, the similarities are equally striking. The following is an article that is based on a two-country study undertaken by the author to unpackage and explore the "1Malaysia" Programme that was launched in 2009 following the election of Malaysian Prime Minister's, Tun Najib Razak into his first term in office. The author spent a two week resident attachment at the 1Malayisa Foundation in Malaysia in the summer of 2012 to study further the facets of the governance programme that had been formulated with the intention of resolving the ethnic tensions that have plagued Malaysia since it gained independence, or Merdeka. The purpose of the endeavour was three-fold: First, to identify and extract aspects of the 1Malaysia Programme as relevant to the Sri Lankan context so as to formulate a potential 1Sri Lanka programme that is cognizant of the variables at stake. Secondly, the article seeks to critique the already existent framework of the 1Malaysia Programme by providing recommendations for improvement where necessary. Third, to begin dialogue and deliberations on the rich learning and exchange that can be cultivated between the two countries by providing a framework for bilateral cooperation between the Governments of Malaysia and Sri Lanka

    Sri handayani mahasiswa kklp yapti

    No full text
    Kuliah kerja lapang plus( KKLP) merupakan suatu kegiatan perkuliahan yg bersifat intrakurikurel dalam bentuk pengapdian pada masyarakat yg dilakukan oleh mahasiswa dalam jangka waktu tertentu oleh karna itu, sifatnya inrakurikurel sehingga setiap mahasiswa menyelesaikan studi perguruan tinggi pada suatu program strata satu(S1) harus mengikuti KKLP

    PERKEMBANGAN MUSEUM SUAKA BUDAYA KERATON KASUNANAN SURAKARTA

    No full text
    Museum Suaka Budaya Keraton Kasunanan Surakarta adalah kawasan objek wisata yang berada di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat letaknya di Kelurahan Baluwarti Kecamatan Pasar Klewer Kota Surakarta. Museum Suaka Budaya Keraton Kasunanan Surakarta merupakan objek wisata sejarah dan budaya yang berdiri atas prakarsa Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Jatikusuma sebagai upaya untuk menjaga benda peninggalan sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Museum berisi benda-benda koleksi berupa keris, tombak, kereta kencana, arca-arca yang memiliki nilai informasi, estetika, dan simbolik dari perkembangan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Bangunan museum merupakan peninggalan Sunan Paku Buwana XII tahun 1963. Potensi museum sangat besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah dan budaya serta telah memenuhi beberapa komponen wisata, seperti: aksesibilitas, akomodasi, dan atraksi wisata. Potensi Museum Suaka Budaya Keraton Kasunanan Surakarta sangat besar, sebagai objek pariwisata sejarah wisatawan yang berkunjung tempat-tempat bersejarah seperti Museum Suaka Budaya Keraton Kasunanan Surakarta dapat mempelajari sejarah Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melalui berbagai peninggalan yang terdapat di dalam museum. Sedangkan sebagai pariwisata budaya wisatawan dapat mempelajari seni budaya, adat istiadat, cara hidup dan kebudayaan dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Museum Suaka Budaya Keraton Kasunanan Surakarta menyimpan berbagai benda-benda koleksi yang memiliki keunikan dan ciri khas dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sehingga cukup berpotensi sebagai tempat rekreasi, hiburan, dan edukasi. Dalam perkembangannya museum selalu mengalami perubahan-perubahan baik dalam jumlah koleksi museum dan sarana prasarana museum. Perkembangan Museum Suaka Budaya Keraton Kasunanan Surakarta sejak tahun 1963 selalu mengalami perubahan, perubahan dilakukan untuk mengikuti perkembangan zaman serta memperbaiki museum agar berkembang secara luas. Pada tahun 2003 dilakukan penambahan ruangan menjadi 12 ruangan agar mampu menampung koleksi museum yang jumlahnya semakin bertambah. Dalam proses perkembangannya museum ini selalu mengalami berbagai hambatan-hambatan, namun museum tetap mempertahankan eksistensinya sebagai museum yang memiliki unsur-unsur sejarah dan budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

    PENERAPAN DEEP DIALOGUE/ CRITICAL THINKING (DD/CT) DENGAN

    No full text
    Latar belakang permasalahan dalam penelitian ini adalah pendidik masih menggunakan ceramah sebagai satu-satunya metode yang mendominasi dalam pembelajaran sejarah. Peserta didik dalam pembelajaran sejarah hanya pasif menerima materi tentang masa lampau yang sulit untuk dicerna dan memerlukan hafalan untuk mempelajarinya. Akibatnya peserta didik kurang kritis dan hasil belajar belum mencapai ketuntasan. Tujuan dari penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah menggunakan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific pada peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa. Pelaksanaan penelitian ini dimulai pada bulan April-Mei 2014. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Subjek penelitian adalah peserta didik kelas X IS-2 dengan jumlah sebanyak 36 peserta didik. Pengumpulan data penelitian menggunakan metode observasi, wawancara, tes, dan dokumentasi. Indikator yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar peserta didik. Kemampuan berpikir kritis peserta didik secara klasikal pada siklus 1 63,25%, siklus 2 meningkat 11,58% menjadi 70,58%, siklus 3 meningkat 12,50% menjadi 79,41% . Hasil belajar kognitif siklus 1 66,67%, siklus 2 meningkat 8,33% menjadi 72,22% siklus 3 meningkat 7,69% menjadi 77,78%. Hasil belajar psikomotorik siklus 1 54,51%, siklus 2 meningkat 23,57% menjadi 67,36% dan siklus 3 meningkat 15,46% menjadi 77,78%.  Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan Deep Dialogue/ Critical Thinking (DD/CT) dengan pendekatan Scientific dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X IS-2 SMAN Arjasa

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN ASSURANCE, RELEVANCE, INTEREST, ASSESSMENT, SATISFACTION (ARIAS) UNTUK MENINGKATKAN AKTIVITASDAN DAN HASIL BELAJAR SEJARAH PESERTA DIDIK KELAS XI IPS 4 MAN 1 JEMBER TAHUN AJARAN 2015/2016

    No full text
    Pembelajaran sejarah dapat dikatakan baik apabila memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan potensi. Pembelajaran sejarah di MAN 1 Jember telah menerapkan metode yang cukup inovatif, 40% metode ceramah, 20% diskusi, dan 40% penugasan, akan tetapi peserta didik sering menganggap pembelajaran sejarah membosankan. Permasalahan itu diatasi dengan diterapkannya model pembelajaran ARIAS. Model pembelajaran ARIAS memiliki lima komponen dan merupakan satu kesatuan yang sangat penting selama pembelajaran. Rumusan masalah pada penelitian ini yaitu apakah penerapan model pembelajaran ARIAS dapat meningkatkan aktivitas belajar dan hasil belajar peserta didik kelas XI IPS 4 MAN 1 Jember tahun ajaran 2015/2016. Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis peningkaatan aktivitas dan hasil belajar sejarah dengan menerapkan model pembelajaran ARIAS. Subyek penelitian ini yaitu kelas XI IPS 4 MAN 1 Jember dengan jumlah 29 peserta didik. Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas, dan terdapat 5 indikator aktivitas belajar peserta didik yang diamati. Dapat disimpulkan, aktivitas belajar peserta didik mengalami peningkatan disetiap siklus. Pra siklus dengan persentase 13,79% ke siklus 1 meningkat sebesar 12,06% menjadi 57,70%, siklus 1 ke siklus 2 meningkat 25,09% menjadi 72,18%, siklus 2 ke siklus 3 meningkat 14,96% menjadi 82,98%. Hasil belajar pada ranah kognitif juga mengalami peningkatan, Pra siklus memperoleh persentase sebesar 13,79%, meningkat 250,0% menjadi 48,27%. Sikus 1 ke siklus 2 meningkat 71,43%, menjadi 82,75%, dan siklus 3 meningkat 8,33% menjadi 89,65%. Dapat disimpulkan, dengan menerapkan model ARIAS dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas XI IPS 4 MAN 1 Jember

    PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO

    No full text
    Permasalahan yang terjadi adalah pada proses pembelajaran pendidik masih menggunakan metode konvensional yaitu ceramah dan tanya jawab mengakibatkan peserta didik kurang maksimal dalam melatih kemampuan kreativitasnya. Selain itu penilaian dalam pembelajaran sejarah masih mengacu pada penilaian yang hanya mengukur ranah kognitif sehingga peserta didik cenderung pasif dan kurang merangsang kreativitas peserta didik, sehingga hasil pembelajaran tidak maksimal, untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat dilakukan perubahan model pembelajaran dengan berbasis portofolio. Portofolio sebagai alat penilaian merupakan sarana untuk mendokumentasikan dan meningkatkan pembelajaran peserta didik. Hasil dari produk portofolio kemudian dapat mengukur prestasi peserta didik, tekanannya pada analisis, sinstesis, dan evaluasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kreativitas dan hasil belajar sejarah dengan model pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran sejarah peserta didik kelas X 7 SMA Negeri Kalisat. Pelaksanaan penelitian dimulai dari bulan Maret sampai bulan Mei 2015. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas X 7 SMA Negeri Kalisat dengan jumlah 38 orang. Indikator yang akan diteliti adalah kreativitas belajar dan hasil belajar sejarah peserta didik. Kreativitas belajar peserta didik pada siklus 1, 2, dan 3 menunjukkan peningkatan. Hasil belajar kognitif pada siklus 1 memperoleh persentase sebesar 71,05%, pada siklus 2 memperoleh 78,94% dengan peningkatan 11,11%, pada siklus 3 meningkat 3,33% menjadi 86,84%. Berdasarkan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis portofolio pada mata pelajaran sejarah dapat meningkatkan kreativitas dan hasil belajar sejarah peserta didik kelas X 7 SMA Negeri Kalisat

    KOREOGRAFI MUNDONG KARYA CHRISTINA SRI ASIH HANDAYANI

    Full text link
    Tari Mundong merupakan salah satu tari kreasi yang berasal dari Kabupaten Sukoharjo. Tari Mundong disusun oleh Christina Sri Asih Handayani pada tahun 2010 guna untuk mengikuti Parade Seni Budaya Jawa Tengah di Semarang. Terciptanya tari Mundong juga bertujuan untuk identitas dari Kabupaten Sukoharjo yang sudah dikenal oleh masyarakat sebagai daerah penghasil jamu. Penelitian ini menganalisis karya tari Mundong dengan menggunakan konsep yang dikemukakan oleh Y. Sumandyo Hadi, sebagai model mendeskribsikan bentuk koreografi tari Mundong. Selanjutnya penulis menganalisa garap tari Mundong dengan menggunakan landasan teori yang dikemukakan oleh Rahayu Supanggah. Data-data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka guna untuk menjawab permasalahan mengenai koreografi maupun garap tari Mundong. Hasil dari penelitian ini memperoleh gambaran yang berkaitan dengan koreografi dan garap tari Mundong. Koreografi tari Mundong tidak lepas dari elemen-elemen pembentuknya yang saling berkaitan seperti penari, gerak, tata visual, dan elemen suara. Garap tari Mundong ini dilakukan oleh Christina Sri Asih Handayani di sanggar Solah Bawa yang beralamat di Jombor, Bendosari, Sukoharjo. Garap gerak maupun garap gendhing tari Mundong secara kreatif tetapi masih berpijak pada tradisi gaya Surakarta. Terciptanya koreografi tari Mundong sebagai tari kreasi baru yang ada di Kabupaten Sukoharjo

    SRI WAHYUNI HANDAYANI,(2017) HUBUNGAN JUMLAH SEL CD4 DENGAN INFEKSI Cryptosporidium sp. (DIARE/NON-DIARE) PADA PENDERITA HIV/AIDS DI RS. Dr. M. DJAMIL PADANG

    Full text link
    HUBUNGAN JUMLAH SEL CD4 DENGAN INFEKSI Cryptosporidium sp. (DIARE/NON-DIARE) PADA PENDERITA HIV/AIDS DI RS. M. DJAMIL PADANG Oleh : Sri Wahyuni Handayani (1220312049) Di bawah bimbingan Prof. Dr. Nuzulia Irawati, MS dr. H. A. Aziz Djamal, MSc,DTM&H,Sp.MK(K) Abstrak Cryptosporidium adalah protozoa parasit intraseluler obligat yang menyerang epitel saluran pencernaan dengan gejala klinis diare. Merupakan infeksi oportunistik gastrointestinal yang paling penting pada penderita HIV/AIDS. Menyebabkan diare kronis 4 bulan/lebih bahkan menahun, menurunkan kualitas hidup dan mempersingkat kehidupan pasien AIDS karena dehidrasi dan malnutrisi sehingga dapat meningkatkan mortalitas dan morbiditas penderita HIV/AIDS. Prevalensinya di negara berkembang dua kali lipat lebih tinggi dari pada di negara maju, terutama pada penderita dengan jumlah sel CD4 yang rendah. Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa Cryptosporidium sp. terdapat pada penderita HIV/AIDS dengan diare maupun non diare. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan jumlah sel CD4 dengan infeksi Cryptosporidium sp. (diare/non-diare) pada penderita HIV/AIDS di RS. Dr. M. Djamil Padang. Penelitian observasional dengan desain cross sectional pada 42 sampel feses penderita HIV/AIDS dengan jumlah sel CD4 ≤ 200 sel/µl dari bulan April-Juni 2017. Pemeriksaan Cryptosporidium sp. dilakukan dengan pewarnaan Ziehl Neelsen di Laboratorium Parasitologi dan ELISA di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, jumlah sel CD4 didapatkan dari rekam medis dan analisa data menggunakan uji Chi Square. Hasilnya, tidak terdapat hubungan signifikan antara jumlah sel CD4 dengan infeksi Cryptosporidium sp. dengan pewarnaan Ziehl Neelsen (p>0,05), nilai p=0,137 dan tidak terdapat hubungan signifikan antara jumlah sel CD4 dengan infeksi Cryptosporidium sp. dengan ELISA (p>0,05), nilai p =0,243. Namun secara angka ada kecenderungan semakin rendah jumlah sel CD4 semakin tinggi infeksi Cryptosporidium sp. baik diare maupun non-diare. Kata Kunci: Cryptosporidium, HIV/AIDS, sel T CD4, infeksi oportunistik gastrointestinal

    PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN NURUL ISLAM DIBAWAH KEPEMIMPINAN KH. MUHYIDIN ABDUSSOMAD TAHUN 1981-2014

    No full text
    Pondok pesantren Nurul Islam didirikan oleh KH. Muhyididn Abdussomad di Desa Antirogo pada tahun 1981. KH. Muhyidin Abdussomad mendirikan pondok pesantren Nurul Islam untuk menyiarkan agama islam, selain itu beliau juga membangun masjid di dekat kediamannya agar masyarakat bisa menggunakannya sebagai tempat beribadah. Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini yakni (1) bagaimana sejarah berdirinya pondok pesantren Nurul Islam Jember; (2) bagaimana perkembangan pondok pesantren Nurul Islam tahun 1981-2014; (3) bagaimana kepemimpinan KH. Muhyidin Abdussomad di pondok pesantren Nurul Islam Jember. Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mendeskripsikan sejarah berdirinya pondok pesantren Nurul Islam Jember; (2) menganalisis berbagai perkembangan yang terdapat pada pondok pesantren Nurul Islam; (3) untuk menganalisis kepemimpinan KH. Muhyidin Abdussomad di pondok pesantren Nurul Islam Jember. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini menggunakan metode penelitian sejarah. Metode sejarah mempunyai empat langkah, yaitu: heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiologi agama. Kesimpulan dari penelitian ini adalah perkembangan pondok pesantren Nurul Islam dapat dilihat dari sistem pengajaran yang pada awalnya tradisional dengan metode sorogan dan wetonan. Namun seiring dengan perkembangan jaman dan atas kebijakan-kebijakan yang dilakukan KH. Muhyidin Abdussomad ahirnya pondok pesantren Nurul Islam menjadi pondok pesantren modern

    Promoting growth in Sri Lanka : lessons from East Asia

    Full text link
    Sri Lanka's weak economic performance, although compounded by the civil war and budgetary imbalance, largely reflects the following: 1) a stop-and-go pattern of policy reform, because of political constraints - even though the results of reform were generally positive; 2) weak economic management, resulting in high inflation and a high fiscal and balance of payments deficit; 3) poor management of public spending; 4) mixed performance in exchange-rate management, with periods of substantial overvaluation; 5) financial policies that (despite recent improvements) hamper efficient financial intermediation; 6) prolonged trade protection, followed by selective trade liberalization; 7) continued distortion in agricultural policies; 8) inflexible labor markets and, despite Sri Lanka's outstanding track record on human development, problems with the quality of the labor force. To address a substantially unfinished policy agenda, Sri Lanka needs to intensify efforts to peacefully resolve civil conflict. There is also a need to squarely address its macroeconomic imbalances, involving a sharp reduction in the fiscal deficit, a cutback on public spending and redefinition of spending priorities, improvement of cost recovery for public services, and continuing to improve the management of the exchange rate. In trade policy, eliminate most quanitative restrictions, further reduce tariff protection, simplify the tariff structure, and, possibly, reform customs (to reduce leakage and abuse). Rationalize employment, exit, and bankruptcy regulations and procedures. The authors recommend improvement in communications between government and the private sector. It is necessary for the financial sector to become more competitive by legislating banking reform, giving state-owned banks more autonomy and putting private commercial banks on an equal footing with the two state banks, with the ultimate goal of privatizing the state banks, and also strengthen the supervision of banking. Also in the financial sector the authors have identified a need for privatization in insurance and pension funds to strengthen the capital market. Several aspects of the agricultural sector need to be revamped. Primarily, privatization of the estate plantations, perhaps through long-term management contracts and the gradual sale of share in assets; reduced trade protection; implementation of land reform; strengthen agricultural support; and possibly support rural financing institutions. Lastly, the authors suggest an end to government controls on hiring, firing, and wage setting as well as rationalization in civil service employment decisions.Labor Policies,Economic Theory&Research,Environmental Economics&Policies,Decentralization,Banks&Banking Reform,Banks&Banking Reform,Economic Theory&Research,Environmental Economics&Policies,Achieving Shared Growth,Inequality
    corecore