25 research outputs found
Preliminary study: Genetic population of Calcinus elegans in the South coast of Java Island based on sequence COI Gene
Pendugaan Pencemaran Dilihat dari Kandungan Bahan Organik dan Oksigen Sag di Lokasi Pengolahan Ikan Kelurahan Tegal Kamulyan, Kecamatan Cilacap Selatan
Cilacap merupakan salah satu wilayah dengan produksi hasil perikanan
yang tinggi. Industri pengolahan hasil perikanan dipergunakan untuk menyiasati
penurunan kualitas produksi hasil perikanan. Sebagian besar industri tersebut
berskala rumah tangga sehingga belum memiliki sarana pengolahan limbah yang
baik. Limbah hasil samping produksi dibuang ke sungai Kaliyasa yang terletak di
dekat lokasi pengolahan ikan Kelurahan Tegal Kamulyan, Kecamatan Cilacap
Selatan. Hal ini dapat menimbulkan pencemaran perairan yang berpengaruh
terhadap habitat dan organisme perairan serta proses biologi dan fisiologinya,
yang ditandai dengan penurunan kualitas lingkungan. Dampak pencemaran dapat
berpengaruh dalam jangka waktu panjang maupun jangka waktu pendek terhadap
kehidupan, kesehatan manusia, kegiatan kelautan dan keindahan serta
kenyamanan kawasan pesisir dan laut.
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan bahan
organik dasar perairan akibat limbah industri pengolahan ikan, oksigen sag yang
terjadi di perairan sungai Kaliyasa dan status pencemaran dilihat dari indeks
keanekaragaman hewan makrobentos.
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dimana pengambilan sampel
bahan organik, oksigen terlarut dan parameter kulitas air secara nonrandom
(porposive sampling). Pengambilan sampel dan pengukuran parameter kualitas air
dilakukan di 8 stasiun yang masing-masing stasiun terdiri dari 2 titik sampling
(titik di dekat saluran pembuangan dan titik yang berseberangan/jauh dari saluran
pembuangan). Sampling dilakukan tiga kali ulangan pada setiap titik sampling dan
sampel bersifat komposit. Pengujian bahan organik dan identifikasi hewan
makrobentos dilakukan di laboratorium.
Hasil yang diperoleh dari penelitian menunjukkan bahwa kandungan bahan
organik pada semua stasiun berkisar 20,46 – 23,21% yang tergolong tinggi (antara
17 – 35%). Kandungan bahan organik paling tinggi pada stasiun III, IV dan V
karena di lokasi tersebut terdapat 7 saluran pembuangan industri hasil pengolahan
ikan. Tingginya bahan organik mempengaruhi keberadaan oksigen terlarut di
dalamnya karena dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme yang
merupakan hewan makrobentos memerlukan oksigen yang disebut dengan
oksigen sag, sehingga oksigen terlarut pada stasiun tersebut rendah sampai 2,6
mg/l (termasuk dalam kisaran DO tercemar). Penghitungan indeks
keanekaragaman hewan makrobentos berkisar antara 1,0 – 1,5 yang menunjukkan
bahwa perairan sungai Kaliyasa dikategorikan tercemar sedang (-Mesosaprobik)
VARIASI DAN KELIMPAHAN PLANKTON DI PERAIRAN BRONDONG, KABUPATEN LAMONGAN
Keberadaan plankton di suatu perairan digunakan sebagai indikator kuliatas air dan produktivitas primer perairan. Perairan Brondong dikenal sebagai salah satu penghasil ikan dari sektor perikanan tangkap di Pesisir Utara Jawa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi dan kelimpahan plankton serta kualitas air di Perairan Brondong, Lamongan. Sampling dilakukan pada 10 titik yang perairan sejajar dengan garis pantai menggunakan purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif untuk identifikasi plankton dan parameter fisika kimia perairan serta analisis PCA untuk mengetahui korelasi antar variabel. Ditemukan 32 genus jenis fitoplankton dan 11 genus zooplankton. Ceratium adalah genus yang paling banyak ditemukan pada komunitas fitoplankton. Kelimpahan Ceratium yang tinggi di suatu perairan mengindikasikan kuaitas air yang tercemar. Sedangkan genus zooplankton dengan kelimpahan tertinggi adalah Nauplius. Nauplius merupakan hewan kecil dari yang sedang mengalami perkembangan stadia, biasanya berasal dari golongan Copepoda. Indeks komunitas fitoplankton berada pada keanekaragaman yang sedang, sedangkan zooplankton tergolong keanekaragaman yang rendah. Indeks keseragaman keduanya tergolong kategori labil dan indeks dominasi tergolong rendah. Faktor utama yang memiliki korelasi erat dengan kelimpahan baik itu fitoplankton maupun zooplankton adalah parameter suhu, DO dan pH. Pemanfaatan pesisir dengan aktivitas yang beragam diduga berpengaruh terhadap kualitas air dan kelimpahan plankton
Efektifitas Rekayasa Media Budidaya Terhadap Respon Pertumbuhan pada Ikan Sidat (Anguila bicolor)
Ikan Sidat merupakan salah satu ikan yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar yang tinggi dan topografi sungai besar di wilayah Lampung mendukung migrasi ikan katadromus ini. Sejauh ini pemenuhan pasar mayoritas berasal dari penangkapan dari alam, maka upaya pembudidayaan ikan ini terus diupayakan. Salah satu permasalahan yang muncul yaitu sulitnya melakukan rekayasa media yang menyerupai habitat asli sehingga tingkat efektifitasnya terhadap respon pertumbuhan masih rendah. Rekayasa media dengan sistem resirkulasi yang dilengkapi filter dari material yang tepat di dalam media budidaya penting untuk diujikan untuk melihat efektifitasnya terhadap respon pertumbuhan. Penelitian bersifat eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan berupa material filter berbeda dan 3 ulangan. Hewan uji yg digunakan Elver sidat berukuran 1,4-gram dengan padat tebar 5 ekor/liter. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa respon pertumbuhan terbaik ikan sidat adalah pada perlakuan P2 (filter dengan material medium dakron, bio ball, pasir malang) dengan bobot akhir 10,72 gram, walaupun nilai SR pada perlakuan P2 ini tidak sebaik nilai SR di perlakuan 3 (filter dengan material media dakron, bio ball, arang aktif
Observasi Perikanan Mini Purse Seine di PPP Lempasing
PPP Lempasing merupakan prasarana perikanan tangkap yang menjadi sentra kegiatan penangkapan, pengelolaan, dan pemasaran hasil perikanan di kota Bandar Lampung. Mini purse seine merupakan salah satu alat tangkap yang dipergunakan nelayan Lempasing melakukan operasi penangkapan ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji tentang faktor-faktor produksi yang berpengaruh terhadap hasil tangkapan mini purse seine di PPP Lempasing. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey dengan observasi langsung dan wawancara nelayan. Analisis regresi berganda dipergunakan untuk mengetahui pengaruh faktor produksi terhadap hasil tangkapan ikan. Hasil penelitian menunjukkan faktor produksi yang berpengaruh positif terhadap hasil tangkapan adalah ukuran GT kapal, daya mesin, jumlah jumlah awak kapal(ABK) dan panjang jaring. Sedangkan faktor produkksi yang berpengaruh negatif adalah pengalaman melaut dan lebar jaring dengan koefisien determinasi 97,9%
Senyawa Aktif dari Ekstrak Keong Mas Sebagai Pengganti 17 α Metil Testosteron untuk Pembenihan Ikan Nila (Oreochomis Niloticus) Monosex
Ikan Nila merupakan komoditas budidaya air tawar favorit di kalangan pembudidaya ikan. Selain memiliki kemudahan pemeliharaan dan adaptasi yang baik terhadap faktor eksternal, ikan nila juga mudah melakukan perkawinan liar jika dibudidaya secara heterosex. Hal ini menyebabkan laju pertumbuhan ikan betina lebih lambat karena pemijahan dan merugikan petani. Budidaya monosex menjadi solusi yang tepat untuk meminimalisir hal tersebut, sehingga diperlukan upaya pembalikan kelamin ikan (sex reversal) pada saat ikan masih larva. Tujuan penelitian ini adalah memanfaatkan bahan aktif yang terkandung dalam keong mas sebagai bahan dalam sex reversal, mengetahui persentase jantanisasi dan nilai SR perlakuan. Tahapan penelitian terdiri dari ekstraksi keong, maserasi, evaporasi dan pengaplikasian dalam budidaya dengan perlakuan oral 2,7g/kg (ekstrak:pakan) pada 3 kali pengulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak keong efektif menaikan persentase jantan 70,78% dari nilai kontrol 65%, namun belum mampu mempertahankan nilai SR lebih dari kontrol. Uji fitokimia menunjukan hasil kualitatif negatif terhadap kandungan steroid, hal ini dimungkinkan karena perbedaan jenis pelarut pada saat maserasi. Sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk mendapatkan hasil yang lebih reliabel
EFEK TOKSISITAS EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Park.) Fosberg)TERPURIFIKASI PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI ETILEN GLIKOL
Ekstrak daun sukun mengandung senyawa yang bersifat antioksidan yang dapat bersifat hepatoprotektif terhadap induksi etilen glikol. Induksi senyawa etilen glikol dan senyawa asing lain yang dapat mempengaruhi perubahan kadar ALT, AST dan hipertrofi hati pada tikus yang diinduksi etilen glikol.
Metode: Penelitian eksperimental murni post test control group design dengan rancangan acak lengkap (RAL) dilakukan selama 28 hari. Subjek uji yang digunakan berupa ekstrak daun sukun dengan objek uji menggunakan 30 ekor tikus putih jantan dibagi kedalam 6 kelompok yaitu kelompok normal, induksi, positif, ekstrak daun sukun 100 mg/kg BB, ekstrak daun sukun 200 mg/kg BB, dan ekstrak daun sukun 400 mg/kg BB.
Hasil: Rerata Kadar AST, ALT dan hipertrofi normal (126,92 ; 47,64 ; 0,1154), induksi (152,72; 49,26 ; 0,1614), positif (133,02 ; 49,3 ; 0,1972), dosis 100mg/kg BB (167,2 ; 63,2 ; 0,1276), dosis 200mg/kg BB (153,08 ; 62,06 ; 0,1428), dosis 400mg/kg BB (136,38 ; 49,24 ; 0,1720). Hasil uji ANOVA kadar AST (p>0,05) dan ALT (p>0,05) yang berarti tidak ada beda bermakna dan hipertrofi (p<0,05) yang berarti ada beda bermakna tiap perlakuan.
Kesimpulan: Ekstrak daun sukun memiliki efek hepatoprotektor pada parameter ALT, AST dan hipertrofi hati pada hewan uji
KEBIJAKAN PENGENDALIAN TEMBAKAU TERHADAP EKSISTENSI INDUSTRI TEMBAAU DI JEMBER (1999-2015)
AbstractThis article explained about the birth of historical-background of tobacco controlling policy and the effect for Jember society. Then, the policy influenced the response from Jember goverment and tobacco society in Jember. The method of this research used historical method including research manners and historical writings. Tobacco controlling policy was backed by the interest of foreign capitalist that threaten Jember economic society who their life was depend on tobacco for instances farmers, tobacco sellers, cigarette sellers, etc. Those problems influenced the reaction from Tobacco farmer Association of Indonesia (APTI) in Jember and tobacco society. APTI Jember prosecuted Jember government to protect the farmers that threathen because of tobacco controlling policy. Besides, The response was also given by the small businessman cigarette in Jember. The cigarette businessman in Jember did against by producing the cigarette without any tax as a way to oppose the policy of tax that was very high at that time. Jember goverment was very responsive to face the problem that made tobacco society worried about the tobacco policy. Then, the government did a cooperation with tobacco society to conserve tobacco. One of the ways to consrve tobacco was by running tobacco affair policy and by using DBHCHT that agreed with tobacco society requirement. The response that was given by tobacco society and Jember government could not be seperated from the importance of tobacco for the economy of Jember society
MONITORING RUMPON TRADISIONAL DI TELUK HURUN, BANDAR LAMPUNG SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN EFEKTIFITAS PENANGKAPAN IKAN
Teluk Hurun telah menjadi daerah penangkapan ikan oleh nelayan di sekitar pesisir Lampung. Penangkapan ikan menggunakan purse seine biasanya memerlukan alat bantu pengumpul ikan, atau biasa disebut rumpon. Penggunaan rumpon dimaksudkan agar nelayan tidak melaut terlalu jauh untuk mencari daerah penangkapan ikan, sehingga efisiensi biaya operasional melaut dapat diminimalisir. Sejauh ini, rumpon ditenggelamkan beberapa waktu sebelum trip penangkapan berlangsung. Padahal, rumpon tradisional dengan atraktor daun kelapa membutuhkan waktu tunggu untuk dapat berfungsi secara efektif sebagai pengumpul ikan. Tujuan penelitian ini adalah memonitor secara berkala hingga didapatkan gambaran kondisi rumpon perminggunya dan memperkirakan usia rumpon dapat efektif digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan. Underwater survey dilakukan diakhir minggu, selama lima minggu berturut-turut yang meliputi pencatatan, perekaman dan pendokumentasian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumpon memerlukan sekitar 4 – 5 minggu untuk dapat efektif sebagai pengumpul ikan. Ikan akan mendekati rumpon untuk mencari makanan di substrat yang menempel di dinding rumpon dan sebagai tempat berlindun
