235 research outputs found

    Studi analisis pendapat Mazhab Hanafi tentang wakaf oleh orang safih

    Get PDF
    Wakaf ialah menghentikan (menahan) perpindahan milik suatu harta yang bermanfaat dan tahan lama, sehingga manfaat harta itu dapat digunakan untuk mencari keridhaan Allah SWT. Yang menjadi masalah adalah apa latar belakang pendapat mazhab Hanafi tentang wakaf oleh orang safih? Bagaimana istinbat hukum mazhab Hanafi tentang kebolehan wakaf oleh orang safih? Dalam menyusun skripsi ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), yaitu dengan jalan melakukan penelitian terhadap sumber-sumber tertulis, maka penelitian ini bersifat kualitatif. Sumber utamanya yaitu Kitab al-Fiqh ‘alâ al-Mazâhib al-Arba’ah karya Abdurrrahmân al-Jazirî. Adapun sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya. Data-data ini diperoleh dari kitab-kitab bacaan dan literatur-literatur lain yang membahas wakaf oleh orang safih. Untuk menganalisis data penulis menggunakan beberapa metode sebagai berikut: metode hermeneutic menjelaskan isi sebuah teks keagamaan kepada masyarakat yang hidup dalam tempat dan kurun waktu yang jauh berbeda dari si empunya, metode deskriptif analitis yaitu cara penulisan dengan mengutamakan pengamatan terhadap gejala, peristiwa dan kondisi aktual di masa sekarang, historis yaitu sebuah proses yang meliputi pengumpulan dan penafsiran gejala, peristiwa ataupun gagasan yang timbul di masa lampau, untuk menemukan generalisasi yang berguna dalam usaha untuk memahami kenyataan-kenyataan sejarah. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa menurut Mazhab Hanafi, seorang safih sah mewasiatkan 1/3 dari hartanya bila dia punya ahli waris. Dengan syarat dia berwasiat agar dipergunakan dalam berbagai hal kebaikan seperti untuk memberi nafkah fakir miskin, untuk membangun sanatorium, jembatan, masjid dan lain sebagainya. Akan halnya bila dia berwasiat untuk tempat permainan, club dan lain sebagainya, maka wasiatnya batal; tidak lulus". Pendapat mazhab Hanafi tersebut mengisyaratkan, seorang safih dibolehkan mewakafkan hartanya dengan ketentuan: pertama, benda yang hendak diwakafkan tidak boleh melebihi dari satu pertiga keseluruhan harta yang dimiliki; kedua, benda yang diwakafkan itu dimaksudkan untuk hal-hal yang sifatnya mendatangkan kebaikan yaitu tidak bertentangan dengan ketentuan al-Qur'an dan hadis. Dengan demikian, apabila orang safih mewakafkan harta diperuntukkan bagi jalan kemaksiatan maka wakafnya batal. Secara umum, istinbat hukum mazhab Hanafi yaitu (1) al-Qur'an; (2) Sunnah Rasulullah; (3) Fatwa-fatwa dari para sahabat; (4) Kias; (5) Istihsan; (6) Ijmak; (7) Urf. Sedangkan istinbat hukum secara khusus yang berkaitan dengan wakaf oleh orang safih yaitu (a) Sumber/dalil pokok adalah firman Allah Swt dalam al-Qur'an surat an-Nisa ayat 6. (b) Qiyas

    Analytical solution approximation for bearing

    No full text

    Hukum mengubur jenazah memakai Peti yang tidak menghadap ke kiblat perspektif madzhab syafi'i dan madzhab Hanafi

    Get PDF
    Dunia telah di gemparkan dengan kejadian hal seperti ini di awal Tahun 2020 dengan tercemarnya virus baru yakni Corona Virus Disease 2019 atau biasa disebut COVID-19. Seseorang yang terinveksi COVID-19 dapat menimbulkan gejala ringan, sedang atau gejala berat yang seseorang alami. Gejala utama tetap muncul seperti demam dan batuk yang mengakibatkan nyeri di bagian tenggorokan hingga sakit kepala dan nyeri pada otot.� Akibat dari itu maka seseorang yang terinveksi virus corona ini mesti ada perawatan yang khusus terhadap seseorang yang terinveksi. Bahkan jika tidak ditangangi dengan serius, bisa menyebabkan seseorang kehilangan jiwa. Dengan kehilangan jiwa, seseorang yang terinveksi virus corona ini akan dikembalikan kepada keluarga, bahkan pihak rumah sakit yang menangani pengurusan apabila seseorang yang meninggal karena terinveksi virus corona ini. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui hukum menguburkan jenazah yang tidak menghadap ke kiblat karena covid-19. (2) mengetahui Madzhab Syafi’i dan Madzhab Hanafi tentang menguburkan mayit yang tidak mengahadap ke arah kiblat karena terkena covid-19. (3) untuk mengetahui perbedaan pandangan Syafi’i dan Imam Abu Hanifah terhadap jenazah yang tidak menghadap ke arah kiblat karena covid-19. Dalam penelitian ini menggunakan Metode Itidlal (pengambilan dalil). Istidlal secara umum berarti pengambilan dalil, baik dalil al-Qur’an, as-Sunnah, Ijma’, dan Qiyas. Penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif, metode kualitatif adalah sebuah metode yang mengedepankan analisis data pustaka sehingga peneliti harus menggunakan maksimal mungkin data agar penelitian yang dihasilkan lebih berkualitas dan komprehensif. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: menurut madzhab Syafi’i, Syafi’i mengatakan Hukum mengubur jenazah memakai peti yang tidak menghadap ke kiblat, ada beberapa kondisi tertentu yang memperbolehkan penggunaan peti untuk menguburkan jenazah. Salah satunya, ketika kondisi tanah makam gembur atau basah. Selain itu, hal ini juga berlaku bagi jenazah yang hangus terbakar sehingga tidak memungkinkan hanya menggunakan kain kafan saja sebagai penutupnya. Atau jenazah yang meninggal tenggelah di tengah laut. Maksudnya, kondisi di mana jenazah baru ditemukan dan daratan masih terbilang jauh hingga dikhawatirkan keadaan jenazah akan berubah. Menurut madzhab Hanafi, hukum nya di perboleh, karena menghadap kiblat hukumnya sunnah tidak wajib

    MAKNA SIMBOLIS GERAK TARI TOPENG SASIKIRANA STUDIO TARI INDRAWATI LUKMAN BANDUNG (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce)

    Get PDF
    Sasikirana merupakan pengembagan dari karya tari topeng pamindo. Hal yang menarik dalam karya sasikirana ini, banyaknya eksplorasi dan inovasi yang dilakukan baik dalam hal gerak, struktur gerak, iringan dan kostum. Sasikirana terkesan lebih modern dari segi penyajian. Penulis akan menggali maknadari tanda-tanda yang terdapat pada gerak tari sasikirana karya Indrawati Lukman menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika. Kajian terpusat pada tanda – tanda gerak dalamkarya tari topeng sasikirana, dikaji secara mendalam sehingga mampu membongkar realitas makna dibalik karya tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolis dari gerak tari Sasikirana karya Indrawati Lukman melalui pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce. Tari Sasikirana dipilih sebagai objek penelitian karena memiliki kekayaan simbolis yang merefleksikan nilai budaya dan kearifan lokal yang unik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, yang melibatkan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teori semiotika Peirce, yang membagi tanda menjadi tiga komponen: representament, Objek, dan Interpretan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerak-gerak dalam tari Sasikirana memiliki makna simbolis yang mendalam, yang merepresentasikan feminitas, keagungan perempuan, serta filosofi hidup masyarakat yang dihormati dalam budaya setempat. Kata Kunci: Gerak Tari Sasikirana, Indrawati Lukman, Semiotika, Charles Sanders Peirce, Makna Simbolis. ABSTRACTTHE SYMBOLIC MEANING OF SASIKIRANA MASK DANCE MOVEMENTS OF INDRAWATI LUKMAN DANCE STUDIO BANDUNG: SEMIOTIC (ANALYSIS OF CHARLES SANDERS PEIRCE), DECEMBER 2014. Sasikirana is a development of Pamindo mask dance. The interesting things in Sasikirana dance work are the extensive exploration and innovation applied to movements, movement structure, accompaniment, and costumes. Sasikirana appears to be more modern in its presentation style. The author would examine the meaning of the symbols in Sasikirana dance movements by Indrawati Lukman, using a qualitative method with a semiotic approach. This study focuses on the symbolic movements in Sasikirana mask dance, with deep analyzing process to uncover the underlying meanings. The purpose of this research is to reveal the symbolic meanings of the movements in Sasikirana dance by Indrawati Lukman through the semiotic approach of Charles Sanders Peirce. Sasikirana dance has been selected as the research subject because of its symbolic richness reflecting unique cultural values and local wisdom. The research method used is descriptive qualitative, involving data collection through observation, interviews, and documentation. Data analysis is conducted using Peirce\u27s semiotic theory, which divides signs into three components: representament, Object, and Interpretant. The findings show that the movements in Sasikirana dance owes deep symbolic meanings, representing femininity, the majesty of women, and the community life Naskahditerimapada,7Septemberrevisiakhir3Oktober2024 |157 philosophy respected within the local culture. Keywords: Sasikirana Dance Movements, Indrawati Lukman, Semiotics, Charles Sanders Peirce, Symbolic Meaning

    Penjagaan kanak-kanak

    Get PDF
    Penjagaan anak boleh dimaksudkan sebagai penglibatan ibubapa dalam kehidupan anak seharian di rumah. Dalam bab ini penglibatan ibu bapa akan hanya berfokus kepada aspek nilai pencapaian akademik anak, minat ibu bapa terhadap kerja sekolah anak, perbincangan ibu bapa dengan anak tentang subjek yang dipelajari di sekolah,dan gaya keibubapaan ibu bapa (desakan dan responsif).Satu kajian yang dijalankan di sekolah-sekolah menengah di utara Malaysia beserta kajian-kajian lepas digunakan untuk memperjelaskan dan membincangkan aspek-aspek penglibatan ibu bapa ini

    Konstruksi Teologi Revolusioner Hassan Hanafi

    No full text
    Historically, Islamic theology ever became a soul of revolution thatalleviated the Islamic empires to the most glorious civilization on the world. By the rationalized theological system, Islam succeededin enlightening human thoughts. Ironically, the glory could not bemaintained by past Muslim which caused the civilization wentunder and could not be able to compete with other raisingcivilizations. Theologically, the collapse of muslim civilization wascaused by Muslim inability to cultivate the revolution spirit thatlies within Islamic theological doctrines. The presence of HassanHanafi becomes a fresh air that blows the development of Islamiccivilization by offering the concept of revolutionary theology. Hassan Hanafi’s construction of revolutionary theology focuses onfour big steps covering (1) revitalization of the enrichment ofclassical Islam (Ihya al-turats al qidim), (2) responding the westernchallenges (tahadda al hadarah al gh

    Teori pembangunan kanak-kanak

    Get PDF
    Bab ini mernbincangkan teori yang berkaitan dengan pembangunan kanak-kanak khusus teori tentang pengaruh persekitaran keluarga. la juga melihat bagaimana pengaruh ibu bapa memainkan peranan penting dalam pembangunan kanak-kanak dari segi pendidikan dan sahsiah. Antara teori yang menjadi fokus perbincangan ini ialah Teori Ekologi yang menekankan peranan mikrosistem yang sentiasa mempengaruhi tingkahlaku kanak-kanak.Dalam ha1 ini, gaya keibubapaan ibu bapa dibincangkan dan ia dikaitkan dengan pembentukan sahsiah kanak-kanak serta kesannya dalam mendidik anak-anak.Teori Modal Insan dan Modal Sosial turut diketengahkan untuk menjelaskan bagaimana tahap sosioekonomi ibu bapa sangat penting dalam memastikan pembangunan kanak-kanak yang seimbang

    Qirā’āt Ayat-ayat Ibadah dalam Tafsīr Rūḥ al-Ma’ānī al-Alūsī (Suatu Analisis Semantik)

    Get PDF
    Hasil penelitian ini memberikan jawaban bahwa; 1) Qirā’āt ayat-ayat ibadah meliputi: salat, puasa, zakat dan haji. Dalam penetapan hukum imam al-Alusi menggunakan metode istinbat hukum, adapun cara yang dimaksud ada dua yaitu metode bayānī dan qiyāsī. 2) Varian qiraah adakalahnya mempengaruhi dan adakalanya tidak mempengaruhi istinbat dimaksud. 3) metode istinbat al-Alusi, menggabungkan antara qiraah mutawātir dan syāẓ dalam istinbatnya yang berpengaruh terhadap hukum. Adapun hasil istinbatnya sebagai berikut: a) Hukum mengganti puasa Ramadan, berdasarkan qiraah (fa‘iddatun min ayyāmin ukhara) sebagai bacaan atau qiraah mutawātir, sehingga melahirkan hukum bahwa mengganti puasa Ramadan tidak harus dilakukan secara berturut-turut. b) Qiraah syāẓ (fa‘iddatun min ayyāmin ukhara mutatābi‘ātin) sehingga menghasilkan pemahaman hukum bahwa puasa yang ditinggalkan harus diganti secara runtut. Metode qiyāsī al-Alusi menetapkan bahwa puasa pada bulan Ramadan dilakukan secara berturut-turut. Dari sini diqiyaskan, mengganti puasa yang ditinggalkan harus juga dilakukan secara berturut-turut. Dalam pada itu, barangsiapa yang mengganti puasanya tanpa mengikuti urutan waktudianggap tidak sah, karena menurutnya tidak boleh dipisahkan antara al-adā (melaksanakan pada waktu yang semestinya) dan al-qaḍā (menggantinya). Sebagai novelty dari penelitian disertasi ini adalah ulama mazhab sepakat menolak menjadikanqiraah syāẓ sebagai sumber hukum, selain imam Hanafi, satu-satunya imam mazhab yang memiliki pandangan yang berbeda yaitu qiraah syāẓ dapat dijadikan sebagai sumber hukum, sehingga imam al-Alusi yang menganut mazhab Hanafi, jugamenjadikan qiraah syāẓ sebagai sumber hukum. Penelitian ini berimplikasi pada pengenalan ilmu qiraah kepada masyarakat umum. Dengan adanya penelitian ini, diharapkan dapat menjadi rujukan, referensi sekaligus sumbangsih bagi para pembaca Al-Qur’an terutama bagi yang mendalami kajian tentang qiraah
    corecore