414 research outputs found

    W.I. Braginsky, Hamzah Fansuri

    No full text
    Sudharsono Iba. W.I. Braginsky, Hamzah Fansuri. In: Archipel, volume 42, 1991. pp. 212-213

    KONSEP WAHDATUL WUJUD DALAM PEMIKIRAN HAMZAH FANSURI

    Get PDF
    Wahdatul wujud adalah konsep atau ajaran yang mengajarkan tentang bersatunya wujud Tuhan dan manusia. Dalam ajaran Hamzah Fansuri dikenal paham wujudiyyah, yaitu ajaran yang mengajarkan tentang keberadaan wujud Tuhan. Perdebatan-perdebatan yang terjadi dikalangan para cendikiawan muslim tentang wahdatul wujud, menuai polemik yang berkepanjangan ditengah masyarakat, sehingga memunculkan para tokoh sufistik yang mendukung bahkan menentang keras wahdatul wujud. Dari pemikiran para tokoh tersebut, terdapat perbedaan dan persamaan antara tokoh tersebut tentang wahdatul wujud, terutama wahdatul wujud Hamzah Fansuri yang menuai pro dan kontra yang berkepanjangan. Banyak yang menolak pemikiran wahdatul wujud Hamzah Fansuri, sehingga banyak para ulama semasa Hamzah Fansuri saling memperdebatkan wahdatul wujud Hamzah Fansuri. Sehingga menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap para murid dan pengikutnya. Sehingga memunculkan permasalahan, bagaimanakah konsep wahdatul wujud dalam pemikiran Hamzah Fansuri?, dan bagaimana pengaruh konsep wahdatul wujud Hamzah Fansuri terhadap muridnya?. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kepustakaan (Library Research), sedangkan sifat penelitian ini termasuk penelitian Hitoris Faktual Tokoh. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan data primer dan skunder. Setelah datadata diperoleh, konsep wahdatul wujud dalam pemikiran Hamzah Fansuri dianalisis menggunakan metode Interpretasi, komparasi, Kesinambungan historis. Kemudian diadakan perumusan kesimpulan dengan menggunakan metode deduksi. Dari penelitian ini, ditemukan beberapa hal. Bahwa, yang pertama tentang konsep wahdatul wujud Hamzah Fansuri yaitu Hakekat Wujud, bahwa wujud hanya satu yaitu Allah SWT. Kemudian, tentang Eka dalam Keanekaannya, bahwa wujud bukan hanya mencakup kesatuannya melainkan keanekaannya. Meskipun wujud (Tuhan) adalah satu, Ia menampakkan diri (tajalli) dalam banyak bentuk yang tidak terbatas pada alam, yang tak lain dari manifestasi sifat-sifat atau butir-butir ide dalam pengetahuan Tuhan, semacam ekspresi lahiriah sifat-sifat Tuhan, dan yang terahir tentang Penciptaan Alam, bahwa alam tercipta dari yang tidak ada menjadi ada. Alam bersifat qadim yang diciptakan melalui proses tajalli, yaitu manifestasi diri yang abadi dan tampak akhir.Kedua tentang pengaruh konsep wahdatul wujud terhadap muridnya, yang mengakibatkan terjadinya sebuah tragedi di Aceh, yakni pembakaran karya-karya mistis Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Pasai yang memuat ajaran wahdatul wujud, oleh Nuruddin al-Raniry dan para pengikutnya, diadakan pengejaran dan pembunuhan terhadap murid Hamzah Fansuri yang tidak mau meninggalkan wahdatul wujud. Kaum Muslimin sepakat menganggap murid Hamzah Fansuri kafir dan mesti diperangi, sehingga Ar-Raniri berinisiatif untuk mengumpulkan 40 orang ulama besar pada waktu itu untuk membahas ajaran Hamzah Fansuri tentang wahdatul wujud

    AJARAN WUJUDIYAH HAMZAH FANSURI (STUDI ATAS PUISI-PUISI SUFISTIK HAMZAH FANSURI)

    Get PDF
    Membicarakan Hamzah Fansuri dan karya-karyanya, tidak bisa dipungkiri, memang selalu menarik. Gema syair-syairnya mampu menembus belenggu waktu yang banal. Karena memang muatan makna yang terkandung dalam syair-syairnya itu amat kaya dan relevan dengan semangat zaman. Sebagai pembaharu di bidang kesusasteraan Nusantara, tentu kapasitasnya tidak perlu diragukan lagi. Ia telah mengawali suatu zaman baru, suatu reformasi kesusasteraan yang efeknya besar sekali terhadap kesusasteraan modern. Selain sebagai sastrawan, ia juga seorang ulama sekaligus sufi yang memiliki akuntabilitas tinggi. Jumlah pengikutnya juga tergolong banyak. Dan paham sufisme yang ia anut, mampu menggemparkan seluruh daratan Aceh semasa hidupnya. Adapun paham yang dianutnya adalah paham wujudiyah. Paham ini lumrahnya dikenal dengan nama wahdatul wujud yang dipelopori oleh para sufi klasik seperti Ibn Arabi dan Al-Jilli. Paham atau ajaran Hamzah Fansuri ini bisa diananlisis dari bait syair-syair yang diciptahkan Hamzah Fansuri, seperti salah satu syair yang menjelaskan bahwa menurut Hamzah Fansuri Wujud Sejati itu satu dalam kesatuannya, karena itu sang Wujud bersifat Mutlak, Karena Dia mutlak maka Dia tidak terbatas, dan karena dia mutlak itulah maka terjadi manifestasi atau ta’ayyun. Yang tidak terbatas termanifestasi dalam nama dan sifatnya. Manifestasi tersebut adalah rahman Sang mutlak melalui kehendak-Nya. Dan banyak lagi syair Hamzah Fansuri yang jika kita analisis lebih mendalam, sebetulnya menjelaskan tentang ajaran wujudiyah Hamzah Fansuri, yang sebagiannya telah menyebar dan mempengaruhi sebagian masyarakat Nusantara terutama di zamannya

    W.I. Braginsky, Hamzah Fansuri

    No full text
    Sudharsono Iba. W.I. Braginsky, Hamzah Fansuri. In: Archipel, volume 42, 1991. pp. 212-213

    SUFISME DALAM SYAIR HAMZAH FANSURI

    No full text
    This study aims to reveal the divine vision, worldly vision, and concept of making the self close to God according to Hamzah Fansuri. The data sources were Syair Perahu I and Syair Perahu II transcribed by Braginsky. The data were collected through repeated reading. They were analyzed using the qualitative descriptive technique with a reference to literary and sufism theories. The study reveals three conclusions. First, according to Hamzah Fansuri, human beings’ closeness to God can reach the highest level, namely the unification of the creature and the creator. Second, Hamzah Fansuri views the world as something temporary and the life after as something eternal. Third, Hamzah Fansuri’s concept of making the self close to God includes (a) being aware of the self, (b) remembering God and expressing praises, (c) performing good deeds, (d) controlling the passion and living simple life, and (e) avoiding evil deeds

    DARI WUJUDIYAH KE MA'RIFAH: GENEOLOGI TASAWUF HAMZAH FANSURI

    Get PDF
    Secara umum, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri disebut sebagai ajaran Wujǔdiyah. Secara geneologi, kata wujǔdiyah tidak ditemukan dalam karya-karya Hamzah Fansuri. Kata tersebut justru pertama sekali disebutkan dalam tulisan-tulisan Nũr Al-Dîn Al-Rânirî sebagai “tudingan sesat†atas ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Secara ontologi, kata wujǔdiyah justru sering dikaitkan dengan ajaran waḥdatul wujúd-nya Ibnu Arabi. Terakhir, kata wujǔdiyah kemudian menjadi “terma baku†yang digunakan oleh para pengkaji Hamzah Fansuri, baik yang mendukung maupun yang menolak ajarannya. Hanya saja dalam artikel ini penulis mencoba menolak menyematkan kata wujǔdiyah dan menawarkan kata ma'rifah bagi ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Menurut penulis, ajaran tasawuf Hamzah Fansuri lebih layak disebut sebagai ma'rifah, daripada wujǔdiyah. Karena kata wujǔdiyah tidak ditemukan basis geneologi, maupun terma ontologi, epistemologi dan aksiologi-nya dalam ajaran tasawuf Hamzah Fansuri

    PEMIKIRAN WUJUDIYAH HAMZAH FANSURI DAN KRITIK NURUDIN AL-RANIRI

    Get PDF
    Penelitian dengan judul “Pemikiran Wujudiyah Hamzah Fansuri dan Kritik Nurudin Al-Raniri” bertujuan untuk mengetahui: (1) Corak pemikiran wujudiyah Hamzah Fansuri;(2) Alasan mengapa Nuruddin al-Raniri mengkritik pemikiran Hamzah Fansuri, dan (3) Bagaimana kritik Nuruddin al-Raniri terhadap pemikiran Hamzah Fansuri dilakukan. Corak pemikiran wujudiyah Hamzah Fansuri adalah sebagai berikut. Pertama, pada hakekatnya zat dan wujud Tuhan sama dengan zat dan wujud alam. Kedua, tajalli alam dari zat dan wujud Tuhan pada tataran awal adalah Nur Muhammad. Ketiga, Nur Muhammad adalah sumber segala khalq Allah. Keempat, manusia sebagai mikrokosmos harus berusaha mencapai kebersamaan dengan Tuhan. Kelima, manusia yang berhasil mencapai kebersamaan dengan Tuhan adalah manusia yang telah mencapai kesempurnaan. Alasan utama Nuruddin al-Raniri mengkritisi dan sekaligus menolak pemikiran Hamzah Fansuri adalah didasarkan adanya kekhawatiran bahwa ajaran yang disebarkan Hamzah Fansuri tersebut akan menyesatkan pemikiran orang-orang awam. Bagaimana Nuruddin al-Raniri menghadapi ajaran Hamzah Fansuri adalah dengan menggunakan dua pendekatan. Pendekatan pertama bercorak intelektual, yaitu dengan menulis berbagai kitab dan tulisan yang menjelaskan kerancuan-kerancuan sejarah kaum wujudiyah dan sekaligus bantahan terhadap faham wujudiyah. Selain itu, ia juga mengadakan debat terbuka melawan pengikut wujudiyah. Pendekatan kedua bercorak kekuasaan, yaitu meminta penguasa untuk melarang peredaran tulisan-tulisan yang memuat ajaran wahdah al-wujud dan bahkan memusnahkan buku-buku tersebut. THOUGHT OF WUJUDIYAH HAMZAH FANSURI AND CRITICISM OF NURUDIN AL-RANIRI This study aims to find out: 1) the thought of Wujudiyah Hamzah Fansuri; 2) The reason Nuruddin al-Raniri criticized Hamzah Fansuri's thought, and (3) the ways in which Nuruddin al-Raniri faced Hamzah Fansuri's thoughts. The style of thinking of Wujudiyah Hamzah Fansuri is as follows. First, the substance and form of God are essentially the same as substances and forms of nature. Second, the nature of tajalli from the substance and form of God at the initial level is Nur Muhammad. Third, Nur Muhammad is the source of all the khalq of Allah. Fourth, humans as microcosmos must try to achieve togetherness with God. Fifth, humans who succeed in achieving togetherness with God are human beings who have achieved perfection. The main reason for Nuruddin al-Raniri criticizing and rejecting Hamzah Fansuri's thinking was based on the concern that the teachings spread by Hamzah Fansuri would mislead the minds of ordinary people. There are two approaches used by Nuruddin al-Raniri in dealing with the teachings of Hamzah  Fansuri: 1) intellectual approach, by writing various books that explain the historical ambiguities of the Wujudiyah and at the same time denial of Wujudiyah ideology and open debate against wujudiyah followers; 2) power approach, by asking the authorities to ban the circulation of writings that contain the teachings of wahdah al-wujud and even destroy the books

    The Politicization of Heresy: Foucault's Analysis of the Hamzah Fansuri and Nuruddin Ar-Raniry Debate

    Get PDF
    This article delves into the historical debates between two prominent figures, Hamzah Fansuri, and Nuruddin Arraniry, in the context of Islamic civilization in Aceh. While existing literature recognizes this significant event as the genesis of enduring Islamic thought in Aceh, a crucial aspect remains underexplored - the analysis through the lens of power/knowledge theory by Michel Foucault. Consequently, this article aims to fill this scholarly gap by employing a political knowledge approach to reexamine the conflict between these two intellectuals. By focusing on the motives of power in Nuruddin Arraniry's accusations of heresy against Hamzah Fansuri and considering the prevailing political landscape, the article argues that the charges were primarily driven by a quest for influence within the Aceh sultanate. This perspective leads to the conclusion that the knowledge conflict between Hamzah Fansuri and Nuruddin Arraniry stemmed from the underlying tension between Sufism and fiqh, calling for a reevaluation of their ideological divergence

    Maqamat kesufian dalam syair Hamzah Fansuri

    Get PDF
    Al-Qusyayri dalam bukunya yang berjudul al-Risalah al-Qusyayriyyah telah menjelaskan sebanyak empat puluh sembilan (49) Maqamat kesufian secara terperinci. Antaranya ialah, taubat, mujahadah, zuhud, takut, tawakkal, muraqabah, ‘ubudiyyah, istiqamah, zikir, doa, tauhid, mahabbah, sawq. Kajian ini bertujuan untuk melihat sejauhmana konsep kedudukan (maqamat) kesufian telah diterapkan oleh Hamzah Fansuri dalam syair kesufiannya. Hamzah Fansuri yang dianggap penyair sufi yang tersohor di Nusantara abad ke-16 ini telah menggunakan syair sebagai salah satu kaedah untuk menyampai ajaran agama Islam dan maqamat kesufian. Teks syair Hamzah Fansuri yang digunakan dalam kajian ini ialah Lampiran (I) Syair-Syair Syeikh Hamzah Fansuri Dalam Naskhah Jakarta MS Jak. Mal. No. 83, dan Lampiran (II) Bait-Bait Hamzah Fansuri dalam buku” Tasawuf Yang Tertindas” tulisan Abdul Hadi Wiji Muthari, terbitan Paramadina, Jakarta, 2001. Hasil kajian mendapati bahawa syair-syair Hamzah penuh dengan maqamat kesufian seperti taubat, zuhud, meninggalkan syahwat tawakal, murah hati, takut, khusuk dan tawaduk, cinta dan sebagainya. Kesemua maqamatyang diterapkan itu merupakan ajaran syariat Islam dan Sunnah Nabi (S.A.W) yang diperlukan dalam ajaran kesufian

    Konsep Penciptaan Alam Menurut Hamzah Fansuri

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemikiran falsafi seorang sufi Nusantara, Hamzah Fansuri yang hidup di abad ke-16 M, mengenai penciptaan alam. Ada dua hal yang diangkat dalam penelitian ini. Pertama, bagaimana Hamzah Fansuri menggabungkan antara ibdā? dan fayḍ. Kedua, bagaimana Hamzah Fansuri menjelaskan substansi Tuhan dan alam. Penulis menggunakan metode deskriptif analitis untuk menjawab permasalahan di atas. Penulis mendeskripsikan secara terperinci terkait permasalahan tersebut kemudian menganalisisnya agar diperoleh pemahaman secara komprehensif. Sementara teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah library resaerch melalui pembedahan terhadap sumber primer karya Hamzah Fansuri, kemudian dikomparasikan dengan referensi lain yang menunjang. Adapun syair-syair Hamzah Fansuri yang penulis gunakan sebagai objek penelitian, penulis membedahnya melalui metode takwil. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa menurut Hamzah Fansuri alam ini diciptakan Tuhan melalui konsep fayḍ dan ibdā?. Alam ini tercipta bukan dari ketiadaan (ibdā?), tapi pancaran dari Dzāt (fayḍ). Ketika Tuhan dalam ketersendirian-Nya, Ia sebagai Dzāt telah bersama dengan Syu?ūn Dzāt atau?ayn Dzāt (keadaan atau ḥāl Dzāt) secara qadīm. Ketika dalam ketersendiriannya, yang dilihat Tuhan hanyalah diri-Nya. Dzāt melihat Diri-Nya Yang Maha Hidup (Ḥayāh), Maha Mengetahui (?Ilm), Maha Berkehendak (Iradah), Maha Menguasai (Qudrah), Maha Berbicara (Kalām), Maha Mendengar (Samī?), dan Maha Melihat (Baṣīr). ?Ayn Dzāt mewujud menjadi sifat-sifat tak terhingga yang tampak secara empiris melalui amr kun. Inilah fase permulaan penciptaan (ibdā?) alam empiris. Kemunculan alam semesta secara berurutan dimulai dari jagat raya, manusia, hewan, tumbuhan, dan segala sesuatu selainnya yang berada dalam potensialitas (a?yan tsābitah) dan menjadi realitas terindera setelah Tuhan mengeluarkan amr kun. Setelah itu, alam semesta berkembang sesuai dengan yang telah terkonsep dalam a?yan tsābitah. Dengan kata lain, alam ini berkembang secara fixed, tidak menyimpang dari a?yan tsābitah
    corecore