1,720,986 research outputs found

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Full text link
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Full text link
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Full text link
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis

    Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts

    Full text link
    We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more sophisticated methods

    Author Index

    No full text
    Nao informado

    koamabayili/VECTRON-author-checklist: VECTRON author checklist

    No full text
    We have done our best to complete the author checklist relating to the use of animals in the hut study. Note that the objective for the hut study was to evaluate the IRS treatment applications for residual efficacy against Anopheles mosquitoes, including the local An. coluzzii mosquito population. Cows were only used to attract mosquitoes into the huts and no tests were carried out directly on the cows. The author checklist is intended for use with studies where experiments are carried out on animals, which is why we have had such difficulty in completing this for the hut study, as many of the questions do not relate to how the cows were used

    ANALISIS KELAYAKAN USAHA DAN STRATEGI PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN LELE ( Clarias sp ) DI KABUPATEN BENGKULU UTARA

    Full text link
    Usaha budidaya perikanan air tawar di Kabupaten Bengkulu Utara di dukung oleh potensi sember daya alam yang luas sehinggah di Kabupaten Bengkulu Utara ditetapkan sebagai kawasan minapolitan perikanan air tawar yang terdapat di Kecamatan Padang Jaya. Usaha pembesaran ikan lele di Kabupaten Bengkulu sudah cukup lama di tekuni oleh petani, usaha pembesaran tersebut terdiri dari beberapa sistem budidaya, yang meliputi usaha pembesaran sistem konvensional, semi intensif dan intensif. Namun pada kenyataanya usaha pembesaran ikan lele belum memberikan hasil yang maksimal hal tersebut dapat dilihat dari hasil produksi ikan lele di Bengkulu Utara masih dibawah produksi ikan Nila dan ikan mas. Tujuan penelitian in adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan ekonomis serta strategi pengebangan Usaha Budidaya Ikan lele di Kabupaten Bengkulu Utara. Pupulasi dalam penelitian ini adalah pembudidaya ikan lele di Kabupaten Bengkulu Utara sampel yang diambil 50 orang pembudidaya ikan lele. Variabel yang diamanti kelayakan teknis budidaya dan pendepatan ekonomis dari pembudidaya itu sendiri. Metode pengumpulan yang digunakan adalah metode angket, intervew dan metode dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah analis deskriptif, analisis kelayakan teknis dan ekonomis serta nalisis SWOT. Berdasarkan hasil penelitian budidaya ikan lele sistem semi intensif dan intensifdari segi kelayakan teknis layak untuk diteruskan.Dari hasil perhitungan kelayakan ekonomis usaha budidaya ikan lele didapatkan hasil nilai R/C ratio rata > 1, nilai BEP dan PP untuk dikembangkan. Perumusan strategi budidaya ikan lele di Kabupaten Bengkulu Utara memanfaatkan potensi lahan kolam yang luas dan banyaknya pembudidaya ikan untuk meningkatkan produksi ikan guna memenuhi kebutuhan pasar

    Penggunaan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dengan Teknik Inquiry dalam meningkatkan Motivasi belajar siswa pada pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas II MI Yaspuri Malang

    No full text
    ABSTRAK Proses belajar mengajar merupakan inti dari kegiatan pendidikan di sekolah. Disini guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat besar, disamping sebagai fasilitator dalam pembelajaran, guru juga sebagai pembimbing dan pengarah terhadap peserta didiknya sehingga mejadi manusia yang mempunyai pengetahuan luas baik pengetahuan agama, kecerdasan, kecakapan hidup, keterampilan, budi pekerti luhur dan kepribadian baik dan bisa membangun dirinya untuk lebih baik dari sebelumnya serta memiliki keinginan yang besar dalam pembengunan bangsa. Dalam proses belajar mengajar, salah satu faktor yang sangat mendukung keberhasilan guru dalam melaksanakan pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menguasai dan menerapkan pendekatan atau metode serta teknik pembelajaran yang mampu memunculkan motivasi belajar dalam diri siswa agar proses pembelajaran tidak cenderung monoton dan membosankan. Guru dituntut untuk menguasai berbagai macam pendekatan atau metode serta teknik pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik materi dan siswa. Contoxtual Teaching Learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa yang mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan dan keterampilan siswa dapat diperoleh dari usaha siswa mengkontruksikan sendiri pengetahuan dan keterampilan baru ketika ia belajar. Pembelajaran CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif yakni, konstruktivisme, bertanya (questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (learning komunity), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (autentic assement). Inquiry adalah Pembelajaran yang mempersiapkan situasi bagi anak untuk melakukan eksperimen sendiri; dalam arti luas ingin melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, ingin menggunakan simbul-simbul dan mencari jawaban atas pertanyaan sendiri, menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukan dengan yang ditemukan orang lain. Bahasa Indonesia merupakan pembelajaran yang memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional. Untuk itu didalam memudahkan pembelajaran Bahasa Indonesia diperlukan teknik yang tepat agar agar siswa mampu untuk menerimanya dan mudah berinteraksi dengan lingkungan masyarakat. Adapun fungsi pambelajaran bahasa Indonesia adalah: (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia dalam rangka pelestarian dan pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan berbahasa Indonesia untuk meraih dan mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni, (4) sarana penyebarluasan pemakaian bahasa Indonesia yang baik untuk berbagai keperluan menyangkut berbagai masalah, dan (5) sarana pengembangan penalaran. Disamping itu pembelajaran Bahasa Indonesia selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa, juga untuk meningkatkan kemampuan berpikir, bernalar, dan kemampuan memperluas wawasan. Berdasarkan uraian di atas, maka fokus masalah yang diambil dalam penelitian ini adalah bagaimanakah motivasi belajar siswa setelah penggunaan Pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dengan teknik Inquiry, pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas II MI Yaspuri Malang? Penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan datanya menggunakan metode observasi (pengamatan), Wawancara dan Dokumentasi Dari tiga siklus yang diterapkan, sudah dapat dilihat perkembangan motivasi belajar siswa yang bisa dilihat dari keaktifan dalam mengikuti proses belajarnya. Pada evaluasi terakhir siklus tiga, rata-rata siswa mendapatkan nilai yang bagus. Hal itu terjadi karena dalam diri siswa sudah muncul motivasi untuk selalu semangat dalam belajar. Sesuai dengan hasil penelitian yang telah dilakukan, menunjukan bahwa penggunaan pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dengan teknik Inquiry dapat meningkatkan motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas II MI Yaspuri Malang. Hal tersebut dapat diketahui dari keaktifan siswa dalam pembelajaran serta termotivasinya siswa untuk lebih mengetahui akan sesuatu yang baru berdasarkan dari hasil pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis. Selain bekerja aktif, pendekatan Contextual Teaching Learning (CTL) dengan teknik Inquiry ini juga membantu siswa menghadirkan dunia nyata kedalam kelas dan memotivasi siswa membuat hubungan pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapan didalam kehidupan sehari-hari

    REKONSTRUKSI PENGATURAN KEWENANGAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA DALAM MENJALANKAN ASAS OTONOMI DI INDONESIA BERBASIS NILAI KESEJAHTERAAN

    Full text link
    Latar belakang penelitian ini adalah tentang Rekonstruksi Pengaturan Kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota Dalam Menjalankan Asas Otonomi Di Indonesia Berbasis Nilai Kesejahteraan. Fokus kajian ini menjadi penting untuk dilakukan penelitian dalam memberikan pemahaman bagi kita semua betapa pentingnya suatu kewenangan yang dimiliki pemerintah kabupaten/kota yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat setempat. Kewenangan merupak hak dan kewajiban yang dimiliki oleh setiap individu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak sehingga kesejahteraan akan tercapai dengan sejahtera maka hidup dalam kehidupan akan jadi Bahagia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, mengidentifikasi, dan menganalisis secara lengkap, rinci, jelas, dan sistematis mengenai: (1) Mengapa pengaturan kewenangan pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan asas otonomi saat ini belum mewujudkan kesejahteraan; (2) Bagaimana kelemahan-kelemahan pengaturan kewenangan pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan asas otonomi di Indonesia; (3) Bagaimana rekonstruksi pengaturan kewenangan pemerintah Kabupaten/Kota dalam menjalankan asas otonomi yang berbasis nilai kesejahteraan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan paradigma Postpositivisme karena penelitian ini dimaksudkan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan pada Positivisme (hukum positif) mengenai pengaturan kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam menjalankan asas otonomi di Indonesia berbasis nilai kesejahteraan, dengan upaya merekonstruksi kewenangan pasal 9 ayat (3) dan pasal 16 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor: 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah berbasis nilai kesejahteraan, dengan pendekatan yuridis normatif sebagai pendekatan utama dengan spesifikasi penelitian ini adalah Penelitian hukum normatif, merupakan penelitian deskriptif yang bersifat preskriptif dimana objek ilmu hukum merupakan koheransi antara norma hukum dan prinsip hukum, antara aturan hukum dan norma hukum, serta antara tingkah laku individu dengan norma hukum. Penelitian bersifat preskriptif dimaksudkan untuk menjawab isu hukum yang diangkat dengan argumentasi, teori, atau konsep baru sebagai preskripsi dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi yaitu kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam menjalankan asas otonomi di Indonesia berdasarkan nilai kesejahteraan. Temuan penelitian ini adalah (1) Secara subtansi pasal 9 ayat (3), dan pasal 16 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor: 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah masih terdapat kelemahan norma hukum baik dalam segi pembuatan dan pengaturan sehingga produk hukum yang di terapkan tidak sesuai dengan harapan. Dari sisi lembaga penegak hukum tidak dapat memberikan sanksi karena dalam Undang- Undang Pemerintahan Daerah tidak pernah mengatur sanksi pidana, akan tetapi selama ini yang ada hanya sanksi perdata dan administrasi. Secara budaya hukum dimana sikap dari masyarakat terhadap hukum dan sistem hukum, serta harapan masyarakat tentang kesejahteraan belum bisa tercapai. Penulis memberikan rekomendasi sebagai berikut: (1) Diperlukan rekontruksi pada Pasal 9 ayat (3) dan Pasal 16 ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor: 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sesuai dengan judul penelitian kami kepada pemerintah dan DPR RI. (2) Pemerintah menjadikan penelitian ini sebagai sumber rujukan sehingga kewenangan dapat dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah daerah dan kesejahteraan masyarakat daerah cepat tercapai.(3) Legislatif menjadikan penelitian ini sebagai evaluasi dan perubahan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor: 9 Tahun 2015 tentang perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor: 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Kata Kunci: Rekonstruksi, Kewenangan, Otonomi Daerah, Kesejahteraa
    corecore