1,720,985 research outputs found

    Peran Humas Dinas Pariwisata dalam Mempromosikan Obyek Wisata Wisata Tanjung Bira

    Full text link
    Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) Peran humas Dinas Pariwisata dalam mempromosikan obyek wisata Tanjung Bira di Kabupaten Bulukumba, yaitu: dengan melakukan pelaksanaan program rencana strategis, dengan melakukan berbagai aktivitas promosi melalu media, promosi media event, pelibatan pemerintah, dan menggalang dukungan dari masyarakat. 2) Adapun kendala yang dialami oleh pihak humas dalam melakukan promosi antara lain minimnya ketersediaan dana dan kurangnya sumber daya manusia

    Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Materi Volume Bangun Ruang Menggunakan Peraga Benda Konkret pada Siswa Kelas VI MI Al Bashirah Makassar

    Full text link
    Skripsi ini membahas tentang Peningkatan Pemahaman Konsep Matematika Materi Volume Bangun Ruang Menggunakan Peraga Benda Konkret pada Siswa Kelas VI MI Al Bashirah Makassar dengan rumusan masalah pokok dalam penelitian ini adalah ” Apakah pemahaman konsep matematika siswa kelas VI MI Al Bashirah Makassar untuk materi volume bangun ruang mengalami peningkatan dengan penggunaan media peraga benda asli?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggunaan media peraga benda konkret dapat meningkatkan pemahaman konsep matematika materi volume bangun ruang bagi siswa kelas VI MI Al Bashirah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas (PTK) model Kemmis and MC Taggart dengan melakukan 3 siklus tindakan, yang pada setiap siklus dilakukan melalui tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara tes tertulis yang dilakukan setiap akhir siklus

    Keefektifan Model Debat dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Makassar”

    Full text link
    ABSTRAK Haerul. 2014.”Keefektifan Model Debat dalam Pembelajaran Keterampilan Berbicara Siswa Kelas X SMA Negeri 9 Makassar”. (Dibimbing oleh Zainuddin Taha dan Azis). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mendeskripsikan keefektifan model debat dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas X SMA Negeri 9 Makassar. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan menggunakan desain penelitian The randomized posttest only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 9 Makassar yang berjumlah 296 orang. Jumlah tersebut terbagi ke dalam 8 kelas. Dengan cara random, maka terpilih kelas X2 sebagai kelas eksperimen dan kelas X5 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan, yaitu lembar observasi. Teknik yang digunakan mengumpulkan data adalah teknik penilaian hasil observasi. Data yang diperoleh dianalisis dengan dua cara yaitu secara statistik deskriptif dan statistik inferensial.Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas X SMA Negeri 9 Makassar dengan menerapkan model debat dikategorikan tinggi. Di antara 37 orang siswa kelas eksperimen, terdapat 33 siswa yang memperoleh nilai ≥75 atau 89,2% dan nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 82. Berbeda dengan hasil pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas X melalui pembelajaran diskusi kelompok dikategorikan sedang dan jumlah siswa yang memperoleh nilai ≥75 tidak mencapai kriterian ketuntasan yaitu 85%. Perolehan nilai siswa hanya mencapai 64,9% atau sebanyak 24 siswa dan nilai rata-rata yang diperoleh siswa adalah 76. Model debat efektif diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas X SMA Negeri 9 Makassar. Hal ini tampak pada nilai t hitung: 3,525 > t tabel: 1,993 dengan signifikasi (p) 0,05. Kaidah yang digunakan adalah jika t hitung > ttabel, maka Ha diterima. Kesimpulannya adalah hipotesis dalam penelitian ini yakni model debat efektif diterapkan dalam pembelajaran keterampilan berbicara siswa kelas X SMA Negeri 9 Makassar diterima. ABSRACT HAERUL. 2014. The Effectifities of Debate Model in Learning Speaking Skills of Grade X Students at SMAN 9 Makassar (supervised by Zainuddin Taha and Azis). The study aims at assess and describing the effectivities of debate model in learning speaking skills of grade X students at SMAN 9 Makassar. The study is an experiment research which employes experiment design. The populations of the study were 296 grade X students from 8 classes at SMAN 9 Makassar. Samples fof the study were two classes taken randomly and obtained grade X2 as the experiment class and grade X5 as the control class. The instrument used was observation. Techniques used to collect the data were test and observation. Data obtained were analyzed in two ways, namely descriptive statistics and inferential statistics. The results of the study reveal that learning speaking skills of grade X students at SMAN 9 Makassar by applying debate model was categorized as high. Among 37 students at the experiment class, 33 students obtained the score ≥ 75 or 89,2% with the mean 82. In contrast with the result of speaking skills of grade X students by applying group discussion, it was categorized as medium and students who obtained the score ≥ 75 did not achieve the criteria of complete which was 85%. The students only achieved 64,9% or only 24 students with the mean 76. The debate model is effective to be applied in learning speaking skills proved by tcount: 3,525 > ttable: 1,993 with the level of significant (p) 0,05. The convention used was tcount>ttable so Ha was accepted. The conclusion of the study is the hypothesis of the study, which is debate model is effective to be applied in learning speaking skills of grade X students at SMAN 9 Makassar

    KETERTARIKAN LALAT BUAH (Batrocera sp) TERHADAP WARNA PERANGKAP PADA PERTANAMAN SEMANGKA

    Full text link
    This study aims to determine the interest of watermelon oriental fruit flies in several trap colors. The study used a randomized block design (RAK), which consisted of 5 treatments and 3 replications. The treatment applied is the use of traps with different colors, namely; traps without color (clear), green, yellow, blue and red. Observations were made on oriental fruit fly populations in two phases of watermelon development, namely the vegetative growth phase (age 15 DAP to 30 DAP) and the generative growth phase (31 DAP to 60 DAP). This study showed that the use of color traps had no significant effect between treatments, but the results showed that in the watermelon vegetative growth phase, the use of red traps attracted more oriental fruit flies, i.e. an average of 65.3 tails compared to traps without color (clear), green yellow and blue. While in the watermelon generative growth phase, the use of green traps attracted more oriental fruit flies, i.e., an average of 95 tails compared to traps without colors (clear), yellow, blue and red.

    Analisis Minat Mahasiswa dalam Berliterasi Sastra melalui Kegiatan Membaca dan Menyimak di Era VUCA

    Full text link
    The era of disruption, which is full of uncertain phenomena, has affected the way people think and act today, including in the context of education. This era was later referred to as the era of volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA). This study aims to analyze the comparative interest of students in literary literacy through reading and listening activities in the VUCA era. The method used in this research is descriptive qualitative method. Research data was collected through the Google Questionnaire instrument which contained statements related to comparisons between students' literary literacy activities through reading and listening activities. The data obtained is then analyzed and interpreted then described. The results of this study indicate that the number of students who are very interested in literature teaching materials in book form, namely 11 people (13.4%), while the number of students who are very interested in literature teaching materials in video form, namely 36 people (43.9%) ). The number of students who were very able to focus on reading literature learning books, namely 20 people (24.4%), while the number of students who were very able to focus on listening to literature learning videos, namely 33 people (40.2%). The number of students who collected information about literature by reading books was 13 people (15.9%), while the number of students who researched information about literature by watching videos was 30 people (36.6%). The number of students who read literature learning books very regularly, namely 7 people (8.5%), while the number of students who very regularly watched literature learning videos, namely 17 people (20.7%). The number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by reading books, namely 8 people (9.8%), while the number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by watching videos, namely 16 people (19.5%). Therefore, it is necessary to carry out a learning transformation and efforts to increase literary literacy through digitizing learning media. Efforts to improve the quality of literary literacy in the VUCA era cannot only be focused on reading activities, but also utilizing listening activities. AbstrakEra disrupsi yang penuh dengan fenomena ketidakpastian telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat saat ini, termasuk dalam konteks pendidikan. Era tersebut kemudian disebut sebagai era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan minat mahasiswa dalam berliterasi sastra melalui kegiatan membaca dan menyimak di era VUCA. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui instrumen google quesioner yang berisi pernyataan-pernyataan terkait perbandingan antara kegiatan berliterasi sastra mahasiswa melalui kegiatan membaca dan menyimak. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diinterpretasi kemudian dideskripsikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk buku, yaitu 11 orang (13,4%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk video, yaitu 36 orang (43,9%). Jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 20 orang (24,4%), sedangkan  jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam menyimak video pembelajaran sastra , yaitu 33 orang (40,2%). Jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan membaca buku, yaitu 13 orang (15,9%), sedangkan jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan menyimak video, yaitu 30 orang (36,6%). Jumlah mahasiswa yang sangat rutin membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 7 orang (8,5%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat rutin menyima video pembelajaran sastra, yaitu 17 orang (20,7%). Jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan membaca buku, yaitu 8 orang (9,8%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan menyimak video, yaitu 16 orang (19,5%). Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah transformasi pembelajaran dan upaya peningkatan literasi sastra melalui digitalisasi media pembelajaran. Upaya peningkatan kualitas literasi sastra di era VUCA, tidak bisa hanya difokuskan melalui kegiatan membaca, tetapi juga memanfaatkan kegiatan menyimak.The era of disruption, which is full of uncertain phenomena, has affected the way people think and act today, including in the context of education. This era was later referred to as the era of volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA). This study aims to analyze the comparative interest of students in literary literacy through reading and listening activities in the VUCA era. The method used in this research is descriptive qualitative method. Research data was collected through the Google Questionnaire instrument which contained statements related to comparisons between students' literary literacy activities through reading and listening activities. The data obtained is then analyzed and interpreted then described. The results of this study indicate that the number of students who are very interested in literature teaching materials in book form, namely 11 people (13.4%), while the number of students who are very interested in literature teaching materials in video form, namely 36 people (43.9%) ). The number of students who were very able to focus on reading literature learning books, namely 20 people (24.4%), while the number of students who were very able to focus on listening to literature learning videos, namely 33 people (40.2%). The number of students who collected information about literature by reading books was 13 people (15.9%), while the number of students who researched information about literature by watching videos was 30 people (36.6%). The number of students who read literature learning books very regularly, namely 7 people (8.5%), while the number of students who very regularly watched literature learning videos, namely 17 people (20.7%). The number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by reading books, namely 8 people (9.8%), while the number of students who strongly agreed to prepare for learning literature by watching videos, namely 16 people (19.5%). Therefore, it is necessary to carry out a learning transformation and efforts to increase literary literacy through digitizing learning media. Efforts to improve the quality of literary literacy in the VUCA era cannot only be focused on reading activities, but also utilizing listening activities. AbstrakEra disrupsi yang penuh dengan fenomena ketidakpastian telah mempengaruhi cara berpikir dan bertindak masyarakat saat ini, termasuk dalam konteks pendidikan. Era tersebut kemudian disebut sebagai era volatility, uncertainty, complexity, dan ambiguity (VUCA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan minat mahasiswa dalam berliterasi sastra melalui kegiatan membaca dan menyimak di era VUCA. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriptif kualitatif. Data penelitian dikumpulkan melalui instrumen google quesioner yang berisi pernyataan-pernyataan terkait perbandingan antara kegiatan berliterasi sastra mahasiswa melalui kegiatan membaca dan menyimak. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis dan diinterpretasi kemudian dideskripsikan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk buku, yaitu 11 orang (13,4%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat tertarik dengan bahan ajar sastra dalam bentuk video, yaitu 36 orang (43,9%). Jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 20 orang (24,4%), sedangkan  jumlah mahasiswa yang sangat mampu memusatkan perhatian dalam menyimak video pembelajaran sastra , yaitu 33 orang (40,2%). Jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan membaca buku, yaitu 13 orang (15,9%), sedangkan jumlah mahasiswa yang menggali informasi tentang sastra dengan menyimak video, yaitu 30 orang (36,6%). Jumlah mahasiswa yang sangat rutin membaca buku pembelajaran sastra, yaitu 7 orang (8,5%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat rutin menyima video pembelajaran sastra, yaitu 17 orang (20,7%). Jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan membaca buku, yaitu 8 orang (9,8%), sedangkan jumlah mahasiswa yang sangat setuju melakukan persiapan pembelajaran sastra dengan menyimak video, yaitu 16 orang (19,5%). Oleh karena itu, perlu dilakukan sebuah transformasi pembelajaran dan upaya peningkatan literasi sastra melalui digitalisasi media pembelajaran. Upaya peningkatan kualitas literasi sastra di era VUCA, tidak bisa hanya difokuskan melalui kegiatan membaca, tetapi juga memanfaatkan kegiatan menyimak

    PERAN PENDIDIKAN INKLUSIF DALAM PEMBERDAYAAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI KOTA MAKASSAR

    Full text link
    Inclusive education is an approach that aims to ensure access and equity in education for all children, including children with special needs (ABK). However, its implementation at the school level still faces various challenges. This study aims to analyze the role of inclusive education in the empowerment of ABK in Makassar City. Using a descriptive qualitative approach, data were obtained through observation, interviews, and documentation in several inclusion schools. The results of the study show that inclusive education encourages independence, social participation, and to a limited extent supports the academic potential of ABK. Supporting factors include school commitment, parental support, and cross-sector cooperation. The main obstacles are the limited number of accompanying teachers, lack of training, and social stigma. The conclusion of this study emphasizes that inclusive education has the potential as a tool for empowering ABK, but it still requires systemic strengthening and school culture transformation.Pendidikan inklusif merupakan pendekatan yang bertujuan memastikan akses dan keadilan pendidikan bagi semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Namun, pelaksanaannya di tingkat sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan inklusif dalam pemberdayaan ABK di Kota Makassar. Menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada beberapa sekolah inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan inklusif mendorong kemandirian, partisipasi sosial, dan secara terbatas mendukung potensi akademik ABK. Faktor pendukung mencakup komitmen sekolah, dukungan orang tua, dan kerja sama lintas sektor. Hambatan utamanya adalah keterbatasan guru pendamping, minimnya pelatihan, serta stigma sosial. Simpulan penelitian ini menekankan bahwa pendidikan inklusif memiliki potensi sebagai alat pemberdayaan ABK, namun masih memerlukan penguatan sistemik dan transformasi budaya sekolah

    Analysis of Employee Competency Development at the Corporate Headquarters of Makassar Raya Makassar City Market

    Full text link
    In assessing the success of an agency, it can be seen from the human resources that drive the agency itself. The purpose of this study was to determine the development of employee competencies. This study uses descriptive qualitative methods using data collection methods, namely interviews, document review, and observation. The data collection instruments used were interview guidelines, document review guidelines, and observation guidelines as well as data analysis techniques by reducing data presentation, drawing conclusions, and verification. After that test the validity of the data with triangulation techniques. The results of this study indicate that overall employee competency development is in the good category. Regarding employee competency development at the Makassar Raya Regional Makassar Regional Office Corporate Office, reviewed from the Motif, Character, Self-Concept, Knowledge, and Skills aspects, but there are still some indicators that need to be improved to maximize the development of employee competence at the Regional Makassar Regional Office. Makassar Raya
    corecore