1,721,546 research outputs found
The Sarawak ‘tar’ for hadrah performance
This work was conducted using the PicoScope signal extraction procedure, which revealed remarkable insights regarding the belian wood and its application in Sarawak traditional ‘tar’ instrument. The ‘tar’ is a small drum made of wood and attached with goat skin. A hadrah performance is done with the sound of the blow of the ‘tar’ and reciting poems praising Allah and the Prophet Muhammad by a group of players called the hadrah group. The ‘tar’ from belian wood had the highest pitch at 180 Hz i.e., F3# compared with the ‘tar’ from menggeris wood, which had the pitch D3# and A2 that also highlighted their importance in the Western scale. The overtones are not integer multiples of the fundamental frequency except for second and third overtones from ‘tar’ C (F2/F0 = 3 and F3/F0 = 4). Using Adobe Audition for Time Frequency Analysis (TFA) recordings for the ‘tar’, the data collection method provided insightful information. The communal efforts of practitioners, who are frequently grouped together, perpetuate the cultural heritage of hadrah. Essentially, by offering a thorough grasp of the intricate melodic details woven in hadrah’s cultural fabric, this research adds to the genre’s continuing heritage
The Sarawak ‘Tar’ for Hadrah Performance
This work was conducted using the PicoScope signal extraction procedure, which revealed remarkable insights regarding the belian wood and its application in Sarawak traditional ‘tar’ instrument. The ‘tar’ is a small drum made of wood and attached with goat skin. A hadrah performance is done with the sound of the blow of the ‘tar’ and reciting poems praising Allah and the Prophet Muhammad by a group of players called the hadrah group. The ‘tar’ from belian wood had the highest pitch at 180 Hz i.e., F3# compared with the ‘tar’ from menggeris wood, which had the pitch D3# and A2 that also highlighted their importance in the Western scale. The overtones are not integer multiples of the fundamental frequency except for second and third overtones from ‘tar’ C (F2/F0 = 3 and F3/F0 = 4). Using Adobe Audition for Time Frequency Analysis (TFA) recordings for the ‘tar’, the data collection method provided insightful information. The communal efforts of practitioners, who are frequently grouped together, perpetuate the cultural heritage of hadrah. Essentially, by offering a thorough grasp of the intricate melodic details woven in hadrah’s cultural fabric, this research adds to the genre’s continuing heritage
STRATEGI KELOMPOK HADRAH AL-BANJARI YADAAL FATAA DALAM MENGEMBANGKAN HADRAH AL-BANJARI DI YOGYAKARTA
Penelitian ini akan membahas bagaiman seni musik islami dalam
mengembangkan sebuah jenis kesenian islam yakni seni Hadrah Al-Banjari, disini
kami akan membahas sedikit mengenai jenis-jenis musik Hadrah dari mulai sejarah
seni ini hingga kegiatan pengembangan grup Hadrah Al-Banjari hingga viral sampai
sekarang.
Dalam persaingan seni islami dizaman sekarang ada beberapa grup yang
tetap intens dalam pengembangan musik Hadrah Al-Banjari meskipun di xaman
sekarang sudah banyak grup grup musik islam menggunakan alat musik ekektrik,
dalam hal ini kami peneliti mengambil objek kajian penelitian yakni grup Hadrah
Yadaal Fataa dalam hal ini grup ini memiliki jurus jituagar kesenian Hadrah Al-
Banjari tetap eksis di dunia Musik islami, Untuk mempermudah tujuan di atas grup
Hadrah Al-Banjari memiliki trik atau jurus dalam mengahdapi zaman yg baru ini,
adapun jurus itu yakni AGIL yang tereduksi dalam konteks Grup Hadrah Al Banjari
Yadaal Fataa.
Dalam Penelitian ini Peneliti ingin mendapatkan kajian lebih mendalam
terkait bagaimana grup Hadrah Al – Banjari Yadaal fataa dalam mengembangkan
sayap dan Memperkenalkan musik Hadrah Albanjari Yadaal Fataa. Dalam hal ini
grup Hadrah Yadaal Fataa Juga memiliki Beberapa Faktor penunjang keberhasilan
penyebaran Hadrah Al-Banjari di Yogyakarta, pertama Identitas Nama, kedua Alat,
ketiga instrument hadrah Al-Banjari, keempat Pluralitas, ke lima hadrah Al-Banjari ke
enam Musikologi, ke tujuh Kecintaan terhadap Rasulullah. Kedelapan Penggunaan
Maulid al-Barzanji, Ad-Diba’i, dan Simtud Durar dalam hadrah Al-Banjari.
Kesembilan Pembentukan grup-grup hadrah Al-Banjari yang berbasis di mushalla
maupun masjid, sekolah, pesantren, bahkan karang taruna. Kesepuluh Event, Festival
sholawat
EKSPRESI KESENIAN HADRAH DALAM KERAMIK SENI
ABSTRAK Mahadi, Akbar. 2018. Ekpresi Kesenian Hadrah dalam Keramik Seni. Skripsi, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Ponimin, M.Hum, (II) Lisa Sidyawati, S.Pd, M. Pd. Kata Kunci: kesenian Hadrah, penciptaan, keramik seni. Kesenian Hadrah merupakan salah satu kesenian umat muslim. Masyarakat muslim yakin bahwa kesenian Hadrah memberi dampak yang positif bagi kehidupan bermasyarakat. Keyakinan tersebut menjadi sebuah panutan untuk mengawali sesuatu yang baik. Dengan demikian masyarakat yang meyakini bahwa kesenian Hadrah membawa dampak positif secara tidak langsung mereka telah menerapkan tauladan dari Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan sehari-hari.Tauladan tersebut tercermin melalui syair, musik hingga gerakan ketika memainkan kesenian Hadrah ini. Pengalaman tersebut yang membuat pencipta terinspirasi dan selanjutnya diolah menjadi sebuah ide penciptaan karya seni yakni seni keramik.Sebelumnya penulis mempunyai pengalaman sebagai pelaku kesenian hadrah di tempat tinggal awalnya, proses belajar memainkan alat pada seni hadrah dilakukan oleh penulis dengan harapan bisa mengikuti kesenian hadrah ini sampai benar-benar bisa, akan tetapi hal itu tidak sesuai kemampuan, penulis berlatar belakang tidak intens dalam hal musik, sebagaimana penulis hanya bisa mengikuti melaui kalimat pujian yang ada dalam kesenian hadrah. Pada penciptaan keramik dengan tema kesenian Hadrah ini bermula dari eksplorasi atau menemukan suatu konsep penciptaan yang didalamnya terdapat suatu ide/gagasan, tema, objek penciptaan karya seni, dan kajian karya terdahulu. Hal tersebut sebagai dasar dalam proses penciptaan motif keramik seni. Metode penelitian penciptaan yang dipilih adalah pengembangan metode dari SP Gustami, yaitu eksplorasi, eksperimentasi/improvisasi dan perwujudan. Selanjutnya dilakukan penyusunan sebuah konsep bentuk berupa beberapa eksplorasi bentuk dan dilanjutkan pada tahap proses visualisasi awal, yakni meliputi pembuatan sketsaalternatif dan menentukan sketsa terpilih.Proses selanjutnya yakni pemindahan sketsa pada media keramik, yang digunakan adalah media keramik pembakaran tinggi stoneware. Tahap-tahap dalam pembuatan karya yaitu pembentukan, pengeringan, pembakaran biskuit, pengglasiran dan pembakaran suhu tinggi. Setelah semua proses dilalui dan karya sudah jadi dan menghasilkan delapan buah karya keramik, tahap selanjutnya adalah membuat deskripsi pada setiap karya yang meliputi penjelasan dan makna yang terkandung di dalam setiap karya.Dalam penciptaan karya keramik seni ini, diharapkan dapat memberikan nilai-nilai ajaran Islam yang terkandung didalam syair kepada generasi sekakarang agar bisa meningkatkan keimanan dan melestarikan kebudayaan religi salah satunya kesenian Hadrah. Mahadi, Akbar Maulana. 2018. Expression of Hadrah in Ceramic Art. Thesis, Art and Design, Faculty of Latter, Universitas Negeri Malang. Advisors: (I) Dr. Ponimin, M. Hum., (II) Lisa Sidyawati, S.Pd, M.Pd. Key Words: Hadrah, creation, ceramic art. Hadrah is one of the arts of Muslims. The Muslim community is convinced that Hadrah has a positive impact on social life. That belief becomes a role model to start something good. Thus the people who believe that the art of Hadrah has a positive impact indirectly they have applied the example of Prophet Muhammad SAW in everyday life. The phrase is reflected through poetry, music to the movement when playing this Hadrah. The experience that makes the creator inspired and then processed into an idea of artwork creation that is ceramic art. Previously the author has experience as an artist of hadrah in his original residence, the process of learning to play a tool on the art of hadrah done by the author in the hope to follow this arts of hadrah until really can, but it does not match the ability, the writer background is not intense in music, as the author can only follow through the sentence of praise that existed in the arts of hadrah. In the creation of ceramics with the theme of Hadrahoriginated from exploration or find a concept of creation in which there is an idea, theme, object creation of artwork, and studies of previous work. It is as a basis in the process of creating ceramic art. The selected research method of creation is the development of methods of SP Gustami, namely exploration, experimentation / improvisation and embodiment. Furthermore, the preparation of a concept form of some form of exploration and continued at the stage of the initial visualization process, which includes making alternative sketches and determine the selected sketches. The next process is the removal of sketches on ceramic media, which is used is a high stoneware burning ceramic medium. Stages in the making of the work is the formation, drying, baking biscuits, grinding and high temperature combustion. After all the process is passed and the work is finished and produces eight pieces of ceramics, the next step is to make a description on each work that includes explanations and meanings contained in each work. In the creation of this ceramic art work, it is expected to provide the values of Islamic teachings contained in the verse to the next generation sekakarang in order to improve faith and preserve religious culture one of Hadrah
MAKNA DAN NILAI SPIRITUAL MUSIK HADRAH PADA KOMUNITAS HADRAH EL-MAQOSHID
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui makna dan nilai spiritual yang terkandung dalam musik hadrah pada komunitas hadrah El-Maqoshid, serta melihat bagaimana komodifikasi hadrah merubah makna dan nilai spiritual pada komunitas hadrah El-Maqoshid. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dalam penelitian ini, informan penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa makna dan nilai spiritual musik hadrah yang ada pada komunitas hadrah El-Maqoshid tidak mengalami perubahan akibat terjadinya komodifikasi. Makna dan nilai spiritual tersebut meliputi ritual pemujaan, sarana bersyiar dan berdakwah, penyampai doa, kekuatan jiwa, sarana hiburan, dan eksistensi religius. Tidak dapat dipungkiri dan secara tidak sadar, komunitas hadrah ElMaqoshid memang melalukan komodifikasi agama khususnya pada musik hadrah. Namun, yang perlu digarisbawahi bahwa komodifikasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dan kesejahteraan anggota El-Maqoshid. Hampir semua keberlangsungan kegiatan El-Maqoshid didukung oleh proses komodifikasi tersebut
Unsur Semiotik dalam Persembahan Hadrah
Persembahan hadrah merupakan satu bentuk hiburan masyarakat awam yang masih mendapat sambutan ramai (walaupun sudah banyak berkurangan atau kurang permintaan). Persembahan hadrah ini masih banyak dipersembahkan di majlis kahwin dan juga di majlis keramaian yang lain. Kebiasaannya, hadrah dipersembahkan semasa mengiringi kehadiran pasangan pengantin. Menurut pandangan peribadi Abang Ali (17 November 2015), tradisi hadrah ini wujud di Tanah Arab terlebih dahulu dan disebarkan di Sarawak oleh para pedagang Arab yang datang berdagang di Sarawak. Ada juga yang menyatakan bahawa hadrah wujud dalam kalangan masyarakat kampung tetapi kesahihannya masih diragui. Banyak cerita menarik berkaitan dengan seni hadrah ini, sama ada dalam bentuk kenyataan benar atau pun mitos. Namun semua ini menarik untuk diketahui. Menurut Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad (2006:43), terdapat satu versi persembahan hadrah yang mengatakan bahawa orangorang yang tersesat di dalam hutan terdengar bunyi pukulan gendang. Kumpulan itu telah pergi ke kawasan bunyi gendang tersebut dan mendapati bahawa bunyi pukulan gendang tersebut datangnya dari sebatang pokok. Mereka telah memotong pokok tersebut untuk mengetahui sebab pokok tersebut mengeluarkan bunyi. Setelah memotong pokok itu, didapati bahawa pokok itu kosong di dalamnya. Oleh sebab itu, mereka mendapat ilham untuk membuat gendang hadrah daripada pokok tersebut dan telah dimainkan di sekitar kampung sebagai satu seni persembahan. Terdapat juga pendapat yang mengaitkan asalusul persembahan hadrah ini dengan cerita tentang orang sesat di dalam hutan. Untuk menghilangkan rasa bosan mereka telah mengadakan persembahan hadrah di dalam hutan. Permainan gendang tersebut telah didengari oleh golongan raja di kawasan tersebut lalu mereka dijemput untuk mengadakan persembahan di istana (Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad, 2006). Oleh hal yang demikian, terjadilah asimilasi budaya dalam kalangan masyarakat tempatan dan persembahan hadrah tersebut terus dimainkan dan berkembang dalam majlis kahwin, majlis keramaian dan sebagainya
Strategi dakwah tim Hadrah Syubanul Jannah dalam meningkatkan kecintaan santri tehadap seni musik hadrah: Studi deskriptif tim Hadrah Syubanul Jannah Tasikmalaya Hadrah Syubanul Jannah Tasikmalaya)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran seni musik memiliki daya tarik yang kuat dan dapat mempengaruhi psikis masyarakat, termasuk santri. Meskipun seni musik sering kali dikaitkan dengan konten yang kurang mendidik, penelitian ini berfokus pada bagaimana seni hadrah dapat dijadikan sebagai media dakwah yang efektif untuk meningkatkan kecintaan santri terhadap musik Islami.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendalamistrategi yang digunakan oleh Tim Hadrah Pondok Pesantren KH Zaenal Musthafa Sukamanah dalam meningkatkan kecintaan santri terhadap seni Islam. Penelitian ini juga bertujuan untuk membahas sekilas tentang seni musik hadrah sebagai bagian dari seni musik Islam serta menganalisis pengaruh seni hadrah terhadap kecintaan santri pada seni musik Islam.
Dengan tujuan tersebut, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan metodologi dakwah yang lebih relevan dengan konteks kekinian. Kerangka pemikiran penelitian ini mengacu pada teori strategi dakwah dan konsep hadrah sebagai media penyampaian pesan Islam. Strategi dakwah dipahami sebagai perencanaan rasional untuk mencapai tujuan-tujuan Islam, sedangkan hadrah diartikan sebagai bentuk irama yang dihasilkan oleh bunyi rebana yang dapat membuka jalan masuk ke hati pendengarnya. Dalam konteks ini, penelitian akan meneliti unsur-unsur dakwah dalam seni hadrah serta pendekatan yang digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada santri .
Adapun langkah-langkah penelitian meliputi penentuan lokasi penelitian di Pondok Pesantren KH Zaenal Musthafa Sukamanah, pemilihan paradigma konstruktivisme sebagai cara pandang dalam penelitian, serta penggunaan pendekatan kualitatif untuk menggali data secara mendalam. Peneliti akan melakukan observasi dan wawancara dengan penanggungjawab Hadrah untuk mendapatkan informasi yang relevan mengenai praktik dakwah melalui seni hadrah.
Kesimpulan dari penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan bahwa seni hadrah bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga merupakan alat yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai ajaran Islam kepada santri. Melalui strategi yang tepat, seni hadrah dapat meningkatkan kecintaan santri terhadap budaya Islam dan memperkuat identitas keagamaan mereka. Penelitian ini juga diharapkan memberikan wawasan baru bagi para da’i
Unsur Semiotik dalam Persembahan Hadrah
Persembahan hadrah merupakan satu bentuk hiburan masyarakat awam yang masih mendapat sambutan ramai (walaupun sudah banyak berkurangan atau kurang permintaan). Persembahan hadrah ini masih banyak dipersembahkan di majlis kahwin dan juga di majlis keramaian yang lain. Kebiasaannya, hadrah dipersembahkan semasa mengiringi kehadiran pasangan pengantin. Menurut pandangan peribadi Abang Ali (17 November 2015), tradisi hadrah ini wujud di Tanah Arab terlebih dahulu dan disebarkan di Sarawak oleh para pedagang Arab yang datang berdagang di Sarawak. Ada juga yang menyatakan bahawa hadrah wujud dalam kalangan masyarakat kampung tetapi kesahihannya masih diragui. Banyak cerita menarik berkaitan dengan seni hadrah ini, sama ada dalam bentuk kenyataan benar atau pun mitos. Namun semua ini menarik untuk diketahui. Menurut Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad (2006:43), terdapat satu versi persembahan hadrah yang mengatakan bahawa orangorang yang tersesat di dalam hutan terdengar bunyi pukulan gendang. Kumpulan itu telah pergi ke kawasan bunyi gendang tersebut dan mendapati bahawa bunyi pukulan gendang tersebut datangnya dari sebatang pokok. Mereka telah memotong pokok tersebut untuk mengetahui sebab pokok tersebut mengeluarkan bunyi. Setelah memotong pokok itu, didapati bahawa pokok itu kosong di dalamnya. Oleh sebab itu, mereka mendapat ilham untuk membuat gendang hadrah daripada pokok tersebut dan telah dimainkan di sekitar kampung sebagai satu seni persembahan. Terdapat juga pendapat yang mengaitkan asalusul persembahan hadrah ini dengan cerita tentang orang sesat di dalam hutan. Untuk menghilangkan rasa bosan mereka telah mengadakan persembahan hadrah di dalam hutan. Permainan gendang tersebut telah didengari oleh golongan raja di kawasan tersebut lalu mereka dijemput untuk mengadakan persembahan di istana (Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad, 2006). Oleh hal yang demikian, terjadilah asimilasi budaya dalam kalangan masyarakat tempatan dan persembahan hadrah tersebut terus dimainkan dan berkembang dalam majlis kahwin, majlis keramaian dan sebagainya
Unsur Semiotik dalam Persembahan Hadrah
Persembahan hadrah merupakan satu bentuk hiburan masyarakat awam yang masih mendapat sambutan ramai (walaupun sudah banyak berkurangan atau kurang permintaan). Persembahan hadrah ini masih banyak dipersembahkan di majlis kahwin dan juga di majlis keramaian yang lain. Kebiasaannya, hadrah dipersembahkan semasa mengiringi kehadiran pasangan pengantin. Menurut pandangan peribadi Abang Ali (17 November 2015), tradisi hadrah ini wujud di Tanah Arab terlebih dahulu dan disebarkan di Sarawak oleh para pedagang Arab yang datang berdagang di Sarawak. Ada juga yang menyatakan bahawa hadrah wujud dalam kalangan masyarakat kampung tetapi kesahihannya masih diragui. Banyak cerita menarik berkaitan dengan seni hadrah ini, sama ada dalam bentuk kenyataan benar atau pun mitos. Namun semua ini menarik untuk diketahui. Menurut Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad (2006:43), terdapat satu versi persembahan hadrah yang mengatakan bahawa orangorang yang tersesat di dalam hutan terdengar bunyi pukulan gendang. Kumpulan itu telah pergi ke kawasan bunyi gendang tersebut dan mendapati bahawa bunyi pukulan gendang tersebut datangnya dari sebatang pokok. Mereka telah memotong pokok tersebut untuk mengetahui sebab pokok tersebut mengeluarkan bunyi. Setelah memotong pokok itu, didapati bahawa pokok itu kosong di dalamnya. Oleh sebab itu, mereka mendapat ilham untuk membuat gendang hadrah daripada pokok tersebut dan telah dimainkan di sekitar kampung sebagai satu seni persembahan. Terdapat juga pendapat yang mengaitkan asalusul persembahan hadrah ini dengan cerita tentang orang sesat di dalam hutan. Untuk menghilangkan rasa bosan mereka telah mengadakan persembahan hadrah di dalam hutan. Permainan gendang tersebut telah didengari oleh golongan raja di kawasan tersebut lalu mereka dijemput untuk mengadakan persembahan di istana (Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad, 2006). Oleh hal yang demikian, terjadilah asimilasi budaya dalam kalangan masyarakat tempatan dan persembahan hadrah tersebut terus dimainkan dan berkembang dalam majlis kahwin, majlis keramaian dan sebagainya
Unsur Semiotik dalam Persembahan Hadrah
Persembahan hadrah merupakan satu bentuk hiburan masyarakat awam yang masih mendapat sambutan ramai (walaupun sudah banyak berkurangan atau kurang permintaan). Persembahan hadrah ini masih banyak dipersembahkan di majlis kahwin dan juga di majlis keramaian yang lain. Kebiasaannya, hadrah dipersembahkan semasa mengiringi kehadiran pasangan pengantin. Menurut pandangan peribadi Abang Ali (17 November 2015), tradisi hadrah ini wujud di Tanah Arab terlebih dahulu dan disebarkan di Sarawak oleh para pedagang Arab yang datang berdagang di Sarawak. Ada juga yang menyatakan bahawa hadrah wujud dalam kalangan masyarakat kampung tetapi kesahihannya masih diragui. Banyak cerita menarik berkaitan dengan seni hadrah ini, sama ada dalam bentuk kenyataan benar atau pun mitos. Namun semua ini menarik untuk diketahui. Menurut Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad (2006:43), terdapat satu versi persembahan hadrah yang mengatakan bahawa orangorang yang tersesat di dalam hutan terdengar bunyi pukulan gendang. Kumpulan itu telah pergi ke kawasan bunyi gendang tersebut dan mendapati bahawa bunyi pukulan gendang tersebut datangnya dari sebatang pokok. Mereka telah memotong pokok tersebut untuk mengetahui sebab pokok tersebut mengeluarkan bunyi. Setelah memotong pokok itu, didapati bahawa pokok itu kosong di dalamnya. Oleh sebab itu, mereka mendapat ilham untuk membuat gendang hadrah daripada pokok tersebut dan telah dimainkan di sekitar kampung sebagai satu seni persembahan. Terdapat juga pendapat yang mengaitkan asalusul persembahan hadrah ini dengan cerita tentang orang sesat di dalam hutan. Untuk menghilangkan rasa bosan mereka telah mengadakan persembahan hadrah di dalam hutan. Permainan gendang tersebut telah didengari oleh golongan raja di kawasan tersebut lalu mereka dijemput untuk mengadakan persembahan di istana (Ahmad Hakimi Khairuddin dan Zahir Ahmad, 2006). Oleh hal yang demikian, terjadilah asimilasi budaya dalam kalangan masyarakat tempatan dan persembahan hadrah tersebut terus dimainkan dan berkembang dalam majlis kahwin, majlis keramaian dan sebagainya
- …
