1,721,029 research outputs found

    ANALISA KELULUSHIDUPAN DAN PERTUMBUHAN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus Burchell, 1822) DENGAN PERENDAMAN REKOMBINAN GROWTH HORMONE (rGH) DAN VAKSIN

    Get PDF
    Peningkatan produksi ikan lele secara intensif seringkali mengalami resiko timbulnya penyakit. Pertumbuhan yang lambat menyebabkan lamanya waktu pemeliharaan dan biaya yang dikeluarkan akan semakin besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas pemberian rGH dan vaksin melalui metode perendaman terhadap kelulushidupan dan pertumbuhan benih ikan lele sangkuriang. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan 3 ulangan. Hasil dari kelulushidupan (SR) mempunyai rentang nilai antara 74,67±13,3-87,67±2,51. Hasil dari pertumbuhan spesifik bobot (SGR) mempunyai rentang nilai antara 6,61±0,26-7,53±0,22. Hasil dari rasio konversi pakan (FCR) mempunyai rentang nilai antara 0,69±0,05-0,94±0,07. Hasil dari kelulushidupan setelah uji tantang injeksi bakteri A. Hydrophila dengan dosis 10 4 CFU/mL mempunyai rentang nilai antara 53,33±15,28-83,33±5,77. Perendaman rGH dan vaksin tidak memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap SR ikan lele sangkuriang akan tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kelulushidupan ikan lele sangkuriang setelah di uji tantang. Sementara perendaman rGH dan vaksin memberikan pengaruh yang nyata (P>0,05) terhadap nilai SGR dan FCR ikan lele sangkuriang. Kata kunci: rGH, vaksin, aeromonas hydrophila, lele sangkurian

    PERKEMBANGAN Aeromonas Hydrophila PADA BERBAGAI MEDIA KULTUR

    Get PDF
    Bakteri A. hydrophila merupakan bakteri patogen fakultatif anaerob dan umum ada di setiap perairan. Bersifat oportunistik atau tidak menjadi berbahaya jika dalam kondisi budidaya yang baik, akan tetapi bila kondisi budidaya buruk maka akan dapat menyebabkan kematian massal baik ukuran benih maupun induk dalam waktu yang relatif singkat sehingga mengakibatkan kerugian yang cukup besar. Namun demikian keberadaan bakteri patogen ini pada berbagai media hidup belum teramati dengan baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan A. hydrophila pada berbagai media hidup. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris yang dilakukan dalam tiga tahap penelitian. Tahap pertama adalah pengujian perkembangan A. hydrophila secara in vitro pada berbagai media kultur agar/broth. Tahap kedua adalah pengujian perkembangan A. hydophila pada media budidaya tanpa ada ikan dan tahap ketiga adalah perkembangan A.hydrophila di media budidaya ikan mas (Cyprinus carpio). Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah bahwa fase eksponensial A. hydrophila pada media kultur TSB terjadi pada jam ke-16 hingga jam ke-22 dengan peningkatan jumlah mencapai puncaknya pada jam ke-22 dengan kepadatan bakteri mencapai 1.66x10 cfu/mL. Faktor yangmenyebabkan peningkatan kepadatan A. hydrophila disebabkan adanya nutrien yang ada di media budidaya. Puncak perkembangan/ peningkatan kepadatan A.hydrophila pada media budidaya ikan Mas (Cyprinus carpio) adalah hari ke-8 yakni mencapai 5x10 cfu/mL dan mengakibatkan SR ikan Mas selama masa penelitan hanya 36,67%. Kata kunci: Perkembangan Aeromonas hydrophila, media agar, media budiday

    KAJIAN PEMBERIAN MINYAK CENGKEH PADA KEPADATAN YANG BERBEDA TERHADAP KELULUSHIDUPAN DAN KADAR GLUKOSA DARAH BENIH NILA (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Transportasi benih antar pula umumnya menggunakan pengangkutan jalur udara. Pengangkutan melalui jalur udara memiliki kekurangan yakni biaya sangat besar, namun memiliki keunggulan dari segi waktu yang lebih singkat. Peningkatan jumlah kepadatan benih tanpa mengakibatkan kematian dan stres berlebih akan memberikan keuntungan bagi penjual dan pembeli. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak cengkeh pada kepadatan yang berbeda terhadap kelulushidupan benih dan kadar glukosa darah Nila pasca pengangkutan sehingga diketahui kepadatan terbaik dengan kelulushidupan tertinggi serta tingkat stres terendah akibat pengangkutan. Dosis minyak cengkeh yang digunakan adalah 15ppm pada kepadatan benih Nila 400, 500, dan 600 ekor/L. Hasil penelitian menunjukkan kadar glukosa darah benih Nila setelah pengangkutan menunjukkan nilai terendah pada perlakuan tanpa pemberian minyak cengkeh dengan kepadatan 400 ekor/L yakni sebesar 95,00±29,55 mg/L dan nilai glukosa tertinggi pada perlakuan tanpa pemberian minyak cengkeh dengan kepadatan 600 ekor/L yakni sebesar 280,33±68,24 mg/L. Kelulushidupan terendah pada kepadatan 600 ekor/L tanpa pemberian minyak cengkeh yakni sebesar 80,67±3,17% dan tertinggi pada kepadatan 400 ekor/L. Pemberian minyak cengkeh pada kepadatan yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan dan kadar glukosa darah benih nila setelah pengangkutan. Kepadatan berpengaruh nyata terhadap kelulushidupan benih nila setelah pengangkutan. Pemberian minyak cengkeh dan kepadatan masing-masing sebagai faktor tunggal mampu menekan stres selama kegiatan pengangkutan. Kepadatan 600 ekor/L dengan penambahan minyak cengkeh dapat diaplikasikan dalam pengangkutan benih nila ukuran 2-3 cm dengan jarak tempuh 10 jam. Kata kunci: nila, minyak cengkeh, glukosa darah, pengangkuta

    PENGANTAR PARASIT DAN PENYAKIT IKAN

    Get PDF
    “ BUKU PENGANTAR PARASIT DAN PENYAKIT IKAN” ini berisi informasi meliputi jenis-jenis penyakit yang disebabkan oleh Parasit, Bakteri, Jamur maupun Virus yang menyerang ikan bersirip (Fin Fish). Pada buku ini dijelaskan mengenai jenis organisme penyebab penyakit, gejala klinis yang timbul yang disertai dengan foto dan gambar terjadinya serangan penyakit yang disebabkan oleh serangan parasit, bakteri, jamur maupun virus. Penyakit yang di jelaskan pada buku ini sebagian besar merupakan penyakit pada ikan bersirip (Fin Fish Disease) yang berada pada daerah tropis namun ada beberapa jenis penyakit yang berasal dari iklim subtropis. Penyakit parasiter yang dijelaskan pada buku ini meliputi parasit pada ikan air tawar, Ektoparasit pada ikan laut dan Endoparasit pada ikan air tawar. Penyakit bakterial pada buku ini menjelaskan mengenai seluk beluk dari 16 jenis penyakit bakterial yang sering menjangkiti kultivan budidaya diantaranya adalah vibriosis, Psedomonas, penyakit cacar, penyakit ginjal dan sebagainya, pada buku ini juga dijelaskan menegnai 6 jenis penyakit yang disebabkan oleh jamur. Untuk penyakit virus pada buku ini menjelaskan mengenai 11 jenis virus yang sering menyerang ikan air tawar maupun laut dan diantaranya adalah Nervous Necrosis Virus (VNN), KOI Herpes Virus (KHV), Grouper Iridovirus Disease (GIV) dan sebagainya. Penyakit virus yang dipaparkan pada buku ini merupakan penyakit virus yang sering menimbulkan kerugian yang disebabkan oleh kematian masal yang terjadi

    EFEK LARVASIDA EKSTRAK DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum L.) TERHADAP Aedes aegypti L.

    Get PDF
    Indriantoro Haditomo, G0006095, 2010. Efek Larvasida Ekstrak Daun Cengkeh (Syzygium aromaticum L.) terhadap Aedes aegypti L., Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta. Tujuan Penelitian : Mengetahui efek larvasida ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum L.) terhadap Aedes aegypti L. Metode Penelitian : Eksperimental laboratorik dengan post test only controlled group design, menggunakan 175 ekor larva Aedes agypti L. instar III, dibagi dalam 7 kelompok (kelompok kontrol negatif, ekstrak 0,025%, ekstrak 0,050%, ekstrak 0.075%, ekstrak 0,100%, ekstrak 0,125% dan ekstrak 0,150%). Teknik pengambilan sampel dengan metode purposive sampling. Larva direndam dalam larutan uji sebanyak 100 ml. Pengamatan dilakukan 24 jam setelah pemberian perlakuan dan dihitung jumlah kematian larva. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dilanjutkan uji Mann-Whitney menggunakan SPSS for Windows Release 17.0 Tingkat kemaknaan p<0,05. Untuk menentukan daya bunuh ekstrak daun cengkeh digunakan analisis Probit.Hasil Penelitian : Persentase jumlah kematian larva 24 jam setelah pemberian perlakuan adalah 0% pada kontrol, 35% pada ekstrak 0,025 %, 63% pada ekstrak 0,050 %, 94 % pada ekstrak 0.075%, sedangkan pada kelompok ekstrak 0,100%, 0,125% dan 0,150% jumlah kematian larva adalah 100%. Diperoleh hasil dengan perbedaan yang signifikan pada beberapa kelompok perlakuan, kecuali antara kelompok ekstrak 0,075%; 0,100%; 0,125% dan 0,150%. Hasil analisis Probit menunjukkan LC50 terletak pada konsentrasi 0,040% dan LC99 pada konsentrasi 0,091%. Simpulan Penelitian : Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun cengkeh memiliki efek larvasida terhadap Aedes aegyti L. Kata kunci : Ekstrak daun cengkeh, larvasida, Aedes aegypti L

    INSIDENSI BAKTERI GENUS VIBRIO PADA LELE DUMBO (Clarias gariepinus) DARI SENTRAL PRODUKSI PROVINSI JAWA TENGAH

    Get PDF
    Genus vibrio merupakan bakteri patogen yang sering menyerang ikan dan udang. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat mengakibatkan kematian ikan, terutama pada fase benih. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tanda-tanda klinis ikan yang terserang vibriosis dan bakteri genus vibrio yang berasosiasi pada ikan lele dumbo yang berasal dari sentral produksi Jawa Tengah. Serta sensitivitas terhadap antibiotik. Sebanyak 26 ikan sampel, ikan lele yang menunjukkan gejala penyakit bakterial diperoleh dari kabupaten Boyolali, Demak dan Kendal. Sebanyak 19 isolat bakteri berhasil diisolasi dari ginjal dan luka ikan lele dumbo pada medium Thiosulfate Citrate Bile Salts Sucrose (TCBS). Berdasarkan performa morfologi dari kesembilanbelas isolat tersebut, maka enam isolat terpilih (isolat LKJT6; LKJT7; LDJT3; LDJT4; LDJT2 dan LBJT9) untuk uji Postulat Koch dan sensitivitas terhadap antibiotik. Hasil Postulat Koch menunjukkan bahwa keenam isolat terpilih mampu mnyebabkan 80 – 100 % ikan uji sakit, akan tetapi hanya satu isolat (LDJT3) yang mengakibatkan kematian 10 % pada ikan uji, sehingga berpotensi sebagai agensia penyebab vibriosis pada ikan lele dumbo. Selanjutnya hasil karakterisasi secara morfologi dan biokimia diperoleh bahwa keenam isolat genus vibrio pada ikan lele dumbo (C. gariepinus ) dari sentral produksi Provinsi Jawa Tengah adalah Vibrio anguillarum (LDJT3; LDJT4 dan LBJT9), Vibrio salmonicida (LDJT2 dan LKJT7), dan Vibrio harveyi (LKJT6). Hasil uji sensitivitas menunjukkan bahwa ketiga genus Vibrio resisten terhadap Tetracycilne, Erythromicine, Chloramphenicol dan Amphiciline. Kata Kunci : Lele dumbo, Vibrio, Postulat Koch, Sensitivita

    Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis

    Get PDF
    The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed

    Variations on the Author

    Get PDF
    “Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship

    Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis

    Get PDF
    We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
    corecore