1,721,193 research outputs found
Menggali potensi kearifan lokal untuk membentuk karakter nusantara dan membangun kesehatan psikologis masyarakat. Surakarta, 8-9 Mei 2015/ Konferensi Nasional Ikatan Psikologi Klinis-HIMPSI
xix, 115 hal.: ilus.; 29 c
KAMPANYE PENGHENTIAN KLITORIDEKTOMI DAN PERAN STRATEGIS HIMPSI
Apabila kata “mutilation” (mutilasi) dimasukkan ke mesin pencari maya, laman-laman yang muncul sangat didominasi oleh “female genital mutilation” (FGM, khitan pada perempuan). Asosiasi antara mutilation dan female genital mutilation memberikan garis bawah bahwa istilah “mutilation” berkonotasi negatif, yakni praktik semacam ini merupakan bentuk kekerasan bahkan penindasan terhadap kaum perempuan. Konotasi sedemikian rupa secara langsung mengena ke Indonesia, karena menurut UNICEF (2005), Indonesia adalah salah satu negara yang banyak mempraktikkan mutilasi genitalia perempuan (MGP). Di samping memerhatikan konsekuensi-konsekuensi psikologis yang merugikan kaum perempuan, fenomena khitan pada perempuan membuka ruang sensitif bagi munculnya penghakiman terhadap komunitas Islam yang merupakan komunitas mayoritas di Indonesia. Makalah ini memuat uraian mengenai MGP serta pertimbangan-pertimbangan strategis tentang peran psikologi yang patut dikelola oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) sebagai agenda kerjanya ke depa
Conference proceeding konferensi nasional dan workshop asosiasi psikologi pendidikan Indonesia : peran pendidikan dalam pembangunan karakter bangsa/ HIMPSI
x, 509 hal.: ilus., tab.; 29 c
Kampanye Penghentian Klitoridektomi dan Peran Strategis HIMPSI
If the word “mutilation” entered in internet search engine, pages appear will be about “female genital mutilation” (FGM). Association about mutilation and female genital mutilation gives a negative connotation to “mutilation” term, that is such harmful practical towards women. This connotation affects Indonesia, as according to UNICEF (2005), Indonesia is one of many countries practicing FGM. Besides considering psichological concequences that will harm women, circumcision phenomenon in women unlocks sensitivity in self-judging towards Islam community as the major community in Indonesia. This paper bring up description about FGM and its strategic consideration about psychologic part taken care by Indonesian Psychology Association (HIMPSI) as its future agenda. </jats:p
PANDANGAN HIMPSI JAWA TENGAH TERHADAP PERUBAHAN BATAS USIA PERKAWINAN (Studi atas Undang-Undang No 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas Undang-Undang No 1 Tahun 1974)
Batas usia perkawinan yang awalnya 16 tahun bagi perempuan menjadi 19 tahun di dalam Undang-Undang perkawinan merupakan upaya pemerintah dalam mencegah terjadinya perkawinan usia dini. Namun, perubahan batas usia tersebut apakah sudah menjadi usia dewasa yang ideal? Bagaimana jika kedewasaan tersebut ditinjau dari psikologi? Apalagi jika dilihat dari dampak usia tersebut. Ini yang menjadikan latar belakang penulisan skripsi ini, karena pentingnya mengetahui usia yang ideal untuk melakukan perkawinan menurut pandangan HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) Jawa Tengah. Pentingnya penelitian ini adalah untuk mengetahui batas usia kedewasaan dalam melaksanakan perkawinan dilihat dari aspek psikologinya berdasarkan pandangan HIMPSI terhadap perubahan Undang-Undang No 1 Tahun 1974 menjadi Undang-Undang No 16 Tahun 2019 tentang batas usia perkawinan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menggambarkan keadaan sebenarnya untuk memperoleh data yang objektif, maka dapat dilakukan penelitian lapangan (field research). Dimana pengumpulan data dilakukan secara langsung turun ke lapangan dengan melakukan pengamatan, wawancara kepada HIMPSI Jawa Tengah. Penulis menggunakan analisis data kualitatif yaitu dengan cara mempelajari data yang terkumpul, memilah-milah data, mencari dan menemukan data yang di pelajari dan kemudian menarik kesimpulan. Hasil Penelitian menunjukan 3 pandangan anggota HIMPSI Jawa Tengah sebagai informan terhadap batas usia dewasa dalam melakukan perkawinan. Dari hasil penelitian 3 anggota HIMPSI Jawa Tengah sependapat bahwa perubahan Undang-Undang batas usia perkawinan merupakan hal yang positif, tetapi idealnya dalam melakukan perkawinan adalah pada usia 21-25 tahun. Karena pada usia tersebut seseorang sudah dianggap dewasa baik secara kesehatan, kognitif, emosional, sosial, pendidikan dan ekonomi. Namun, perubahan tersebut tidak terlepas dari dampak negatif mengingat perkembangan zaman, teknologi dan pergaulan bebas kemungkinan tejadinya peningkatan angka perzinaan. Oleh karena itu, pemerintah harus melakukan sosialisi dan edukasi terhadap masyarkat tentang dampak perkawinan usia dini.
Kata Kunci: Perubahan Undang-Undang, Kedewasaan, Psikolog
<strong>Menghadapi Tantangan Sosial: Mengelola Keterbatasan, Penolakan, dan Konflik dalam Interaksi Sosial</strong> <em>Pra Musyawarah Wilayah IX 2023 Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Sumatera Utara</em>
Menghadapi Tantangan Sosial: Mengelola Keterbatasan, Penolakan, dan Konflik dalam Interaksi Sosial
Pra Musyawarah Wilayah IX 2023 Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Wilayah Sumatera Utara</p
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
