1,720,965 research outputs found
Pengaruh Keberadaan Pasar Sungai Lulut Terhadap Kinerja Jalan Martapura Lama KM. 05
Jalan Martapura Lama is an alternative road connecting Banjarmasin, Martapura and Banjarbaru city and it is under the administration of Banjar Regency. The existence of Sungai Lulut Market in Kilometer 05 consistently causing congestion to the area, especially during peak hours. The purpose of this study is to determine the impact of market activities on the performance of Jalan Martapura Lama KM 05 indicated by the degree of saturation (DS) and the value of the level of road service.
The method of primary data collection was by conducting traffic surveys and measuring geometric conditions in the site manually on Tuesday to Thursday, 06-08 February 2018 during the morning rush hour (07.00-08.00 a.m), the noon hour (12.00-14.00 p.m) and afternoon rush hour (16.00 to 18.00 p.m) while the secondary data was obtained from the internet. The calculation refers to Indonesian Highway Capacity Manual (MKJI) 1997.
From the calculation results it can be concluded that the impact of market activities on the performance of Jalan Martapura Lama KM 05 indicated by the degree of saturation (DS) and the value of road level of service with the optimum DS is 0,68 with the value of level of road service is C on Thursday’s afternoon rush hour and the minimum DS is 1.34 with the value of level of road service is F on Wednesday’s morning rush hour. With a total frequency of occurrences and side friction class of 571 frequencies, the maksimum friction is incoming and outgoing vehicles on area alongside roads (EEVs) of 446 occurrences on Tuesday in the morning rush hour
Pengaruh Supeltas Terhadap Tingkat Pelayanan Simpang Jalan Trans Kalimantan-Komplek Griya Permata
The appearanced of the peoples called “Supeltas" (Sukarelawan Pengatur lalulintas=Traffic Regulatory Volunteers) occurs along with the increasing number of queue vehicles that will turn towards the road. Supeltas itself is persons (not official from the government) who manage traffic flow expecting voluntari giffts from people passing through the road. Often, these activities broke the road rules and exacerbate existing congestion. The purpose of this study was to compare the performance of unsignalizes intersections between the existing and non-existent of "Supeltas" it self.
The requirement data needed are the primary data in the form of geometric data, traffic conditions, traffic and environmental conditions data, and secondary data in the form of population and location map. Traffic data collection is done using manual calculation for 2 periods on Tuesday, Wednesday and Thursday at 06.30-08.00 in the morning, noon 12.00-14.00 and afternoon at 16.30-18.30 WITA for each condition of rush hours. The calculation refers to MKJI 1997.
The calculation results obtained by the degree of saturation (DS) without the "Supeltas" amounting to 1,816 and with the provision "Supeltas" of 1,525, this DS value exceeds the IHMC ( Indonesian Highway Manual Capacity) previsions 0,75. It can be concluded that the existence of "Supeltas" made a positive impact to reduce the number of DS where it decreased 16.02%
Perbandingan Perhitungan Luas Tanah Poliban dengan Metode Perhitungan Segitiga dan Metode Perhitungan Koordinat
Bermacam cara untuk melakukan perhitungan luasan bidang tanah, dikombinasikan dengan metode, peralatan dan sumberdaya manusia yang tepat akan menghasilkan perhitungan yang mendekati ukuran aslinya. Penggunaan alat dengan akurasi rendah dalam hal ini adalah peralatan manual menyebabkan data luas lahan yang dihasilkan menjadi kurang akurat. Hal ini menyebabkan kebingungan pada pemilik lahan maupun pemilik lahan disekitarnya. Sehingga perlunya data pembanding antara dua alat ukur berbeda dengan metode berbeda untuk memperkaya data perhitungan luas tersebut.
Pengambilan data dilakukan dengan melakukan pengukuran lapangan dengan dua alat dan dua metode berbeda, dimana hasilnya akan dibandingkan dengan perhitungan resmi yang telah dikeluarkan BPN. Alat dan metodenya adalah Theodolit Digital dengan metode perhitungan Luas Segitiga dan GPS Handhelds dengan metode perhitungan Koordinat.
Luas tanah Politeknik Negeri Banjarmasin yang menjadi patokan sesuai data resmi adalah 65.098 M2. Hasil perhitungan luas dengan menggunakan Metode Perhitungan Segitiga adalah 65.916,533 M2 dengan persentase 101,271 % (+1,271 %); luas dengan Metode Perhitungan Koordinat adalah 64.513,5 M2 dengan persentase 99,116 % (-0,884%)
Perhitungan Simpang Empat Tidak Bersinyal BRI KC Kota Kandangan dengan Metode PKJI 2023
Simpang Empat BRI KC Kandangan yang terletak di Jalan Panglima Batur, Jalan S. Parman, dan Jalan Merah Johansyah merupakan salah satu simpang utama yang menjadi bagian dari jalur Trans Kalimantan. Berdasarkan pengamatan visual, sering terjadi kepadatan lalu lintas pada pagi, siang, dan sore hari akibat lokasinya yang berada di kawasan perkantoran, perbankan, pasar, dan sekolah, sehingga menyebabkan penurunan kecepatan kendaraan dan gangguan arus lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volume lalu lintas, kapasitas simpang, derajat kejenuhan, tundaan, serta tingkat pelayanan Simpang Empat Tidak Bersinyal di Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Data dikumpulkan melalui survei lapangan selama tiga hari pada jam sibuk, dengan metode pengolahan data berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Perhitungan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor geometrik jalan, hambatan samping, dan karakteristik lingkungan simpang. Hasil analisis menunjukkan bahwa volume lalu lintas tertinggi terjadi pada hari Kamis, 16 Mei 2024, pukul 16.45–17.45 WITA sebesar 262,80 SMP/jam, dengan kapasitas simpang sebesar 2.326,587 SMP/jam. Nilai derajat kejenuhan yang diperoleh adalah 0,381, sementara tundaan rata-rata kendaraan sebesar 8,786 detik/kendaraan. Berdasarkan parameter tersebut, tingkat pelayanan simpang dikategorikan dalam kelas B, yang menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas masih dalam batas yang dapat diterima tanpa perlu adanya intervensi rekayasa lalu lintas lebih lanjut.Simpang Empat BRI KC Kandangan yang terletak pada Jalan Panglima Batur, Jalan S. Parman dan Jalan Merah Johansyah, berlokasi di Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu simpang utama yang menjadi bagian dari jalur Trans Kalimantan. Dipilihnya lokasi tersebut karena berdasarkan pengamatan visual sering terjadi kepadatan arus lalu lintas pada pagi, siang dan sore hari, yang disebabkan karena simpang tersebut berada di kawasan perkantoran, perbankan, pasar dan sekolah sehingga berakibat pada penurunan kecepatan berkendara yang mengganggu arus lalu lintas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung nilai volume lalu lintas, kapasitas simpang, derajat kejenuhan, tundaan dan menentukan tingkat pelayanan pada Simpang Empat Tidak Bersinyal pada Jalan Panglima Batur, Kandangan Kota, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Metodologi pengambilan data untuk penelitian ini adalah dengan cara pengambilan in site di lapangan untuk memperoleh data yang diperlukan dan kemudian dikalkulasi sehingga menghasilkan data yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan panduan dari Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) tahun 2023 bagian Bab Kapasitas Simpang.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa volume lalu lintas tertinggi terjadi pada hari Kamis, 16 Mei 2024 pukul 16.45 – 17.45 WITA sebesar 262,80 SMP/jam, dengan kapasitas simpang sebesar 2.326,587 SMP/jam, derajat kejenuhan sebesar 0,381 dan nilai tundaan didapat 8,786 detik/kendaraan dengan kriteria tingkat pelayanan adalah ”B”
Perhitungan Simpang Empat Tidak Bersinyal BRI KC Kota Kandangan dengan Metode PKJI 2023
Simpang Empat BRI KC Kandangan yang terletak di Jalan Panglima Batur, Jalan S. Parman, dan Jalan Merah Johansyah merupakan salah satu simpang utama yang menjadi bagian dari jalur Trans Kalimantan. Berdasarkan pengamatan visual, sering terjadi kepadatan lalu lintas pada pagi, siang, dan sore hari akibat lokasinya yang berada di kawasan perkantoran, perbankan, pasar, dan sekolah, sehingga menyebabkan penurunan kecepatan kendaraan dan gangguan arus lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis volume lalu lintas, kapasitas simpang, derajat kejenuhan, tundaan, serta tingkat pelayanan Simpang Empat Tidak Bersinyal di Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Data dikumpulkan melalui survei lapangan selama tiga hari pada jam sibuk, dengan metode pengolahan data berdasarkan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023. Perhitungan dilakukan dengan mempertimbangkan faktor geometrik jalan, hambatan samping, dan karakteristik lingkungan simpang. Hasil analisis menunjukkan bahwa volume lalu lintas tertinggi terjadi pada hari Kamis, 16 Mei 2024, pukul 16.45–17.45 WITA sebesar 262,80 SMP/jam, dengan kapasitas simpang sebesar 2.326,587 SMP/jam. Nilai derajat kejenuhan yang diperoleh adalah 0,381, sementara tundaan rata-rata kendaraan sebesar 8,786 detik/kendaraan. Berdasarkan parameter tersebut, tingkat pelayanan simpang dikategorikan dalam kelas B, yang menunjukkan bahwa kondisi lalu lintas masih dalam batas yang dapat diterima tanpa perlu adanya intervensi rekayasa lalu lintas lebih lanjut.Simpang Empat BRI KC Kandangan yang terletak pada Jalan Panglima Batur, Jalan S. Parman dan Jalan Merah Johansyah, berlokasi di Kota Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Provinsi Kalimantan Selatan merupakan salah satu simpang utama yang menjadi bagian dari jalur Trans Kalimantan. Dipilihnya lokasi tersebut karena berdasarkan pengamatan visual sering terjadi kepadatan arus lalu lintas pada pagi, siang dan sore hari, yang disebabkan karena simpang tersebut berada di kawasan perkantoran, perbankan, pasar dan sekolah sehingga berakibat pada penurunan kecepatan berkendara yang mengganggu arus lalu lintas.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghitung nilai volume lalu lintas, kapasitas simpang, derajat kejenuhan, tundaan dan menentukan tingkat pelayanan pada Simpang Empat Tidak Bersinyal pada Jalan Panglima Batur, Kandangan Kota, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Metodologi pengambilan data untuk penelitian ini adalah dengan cara pengambilan in site di lapangan untuk memperoleh data yang diperlukan dan kemudian dikalkulasi sehingga menghasilkan data yang diinginkan. Penelitian ini menggunakan panduan dari Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) tahun 2023 bagian Bab Kapasitas Simpang.
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa volume lalu lintas tertinggi terjadi pada hari Kamis, 16 Mei 2024 pukul 16.45 – 17.45 WITA sebesar 262,80 SMP/jam, dengan kapasitas simpang sebesar 2.326,587 SMP/jam, derajat kejenuhan sebesar 0,381 dan nilai tundaan didapat 8,786 detik/kendaraan dengan kriteria tingkat pelayanan adalah ”B”
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
Appropriate Similarity Measures for Author Cocitation Analysis
We provide a number of new insights into the methodological discussion about author cocitation analysis. We first argue that the use of the Pearson correlation for measuring the similarity between authors’ cocitation profiles is not very satisfactory. We then discuss what kind of similarity measures may be used as an alternative to the Pearson correlation. We consider three similarity measures in particular. One is the well-known cosine. The other two similarity measures have not been used before in the bibliometric literature. Finally, we show by means of an example that our findings have a high practical relevance.information science;Pearson correlation;cosine;similarity measure;author cocitation analysis
Dispelling the Myths Behind First-author Citation Counts
We conducted a full-scale evaluative citation analysis study of scholars in the XML research field to explore just how different from each other author rankings resulting from different citation counting methods actually are, and to demonstrate the capability of emerging data and tools on the Web in supporting more realistic citation counting methods. Our results contest some common arguments for the continued
use of first-author citation counts in the evaluation of scholars, such as high correlations between author rankings by first-author citation counts and other citation
counting methods, and high costs of using more realistic citation counting methods that are not well-supported by the ISI databases. It is argued that increasingly available digital full text research papers make it possible for citation analysis studies to go beyond what the ISI databases have directly supported and to employ more
sophisticated methods
- …
